Selain bahasa & lalulintas, pasar merupakan wajah suatu bangsa. Ruwetnya keadaan pasar adalah cerminan ruwetnya kehidupan bangsa. Orang boleh menoleh ke pemerintah - yang sering salah mengambil keputusan - untuk menuntut perbaikan. Tapi nggak perlu jadi pengambil keputusan untuk membuat impian jadi nyata.
Menempatkan pedagang ikan asin bersebelahan dengan toko emas barangkali cukup dalam impian saja, sur. Sebab selain harga yang terjangkau, pembeli juga mempertimbangkan efisiensi waktu. Repotlah ngubek-ubek seluruh pasar untuk cari ikan asin jambal kalau di kios yang itu lagi kehabisan stok jambal. --- gsuryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > orat oret pasar tradisional. > Aku sebagai raja bolu market ku justru ada di pasar tradisional, > dimana pembelinya orang 'kampung' > Dan jujur saja pasar tradisional masa depannya bertambah suram > bukan karena diserbu oleh mal dan super market, melainkan pasar > tradisionalnya sendiri di serbu oleh pedagang lapak kaki lima, > dimana mereka dengan seenaknya menggelar dagangan di gang gang > pasar sehingga yang mau liwat jadi susah, semisal di tahun 90 an > aku bisa menenteng bolu dengan tangan kiri dan kanan, sekarang > aku harus satu tangan dan itu juga dengan jalan miring karena > gang penuh dengan dagangan bh sampai cd, belum gantungan baju. > > Juga sistim pengaturan toko/kios di pasar tradisional di > atur sedemikian rupa sehingga adu harga antar kios menjadi > ajubilah, dimana pemodal kuat lama lama berkuasa, seharusnya > pengaturan kios dilepas tanpa perlu diatur atur, semisal yang mau > jualan ikan asin bersebelahan dengan yang jual emas, jangan > dilarang, jadi pembeli bisa keliling keliling dengan bebas > mencari cari barang dimana yang jualnya tidak di alokasikan di > satu tempat, mengikuti penataan seperti di super market adalah > kekeliruan yang fatal, karena di super market sendiri setiap > beberapa waktu akan dirotasi lokasi barangnya. > > Dan pengelolaan pasar tradisional tidak memandang suku/etnis, > siapa pintar dia eksis, sedang sekarang semua kedodoran karena > dikuasai oleh pedagang kaki lima yang membayar restribusi entah > kesiapa, akibatnya semua rugi termasuk si pedagang lapak dan > tidak pernah ada yang diuntungkan dengan kondisi ini. > > Jadi pasar modern maupun tradisional selama mengikuti aturan baku > ( gang didalam pasar tidak dikuasai oleh lapak ) aku yakin masih > bisa jalan, bisa dilihat di pasar elektronik di Harco lama, > Kenari Jaya dimana tidak ada lapak kaki lima, dan mereka masih > mampu eksis melawan toko toko sejenis yang bermunculan di mal mal > ( denki, best dlsbnya ). > > Sayang aku bukan pengambil keputusan, jadi apa yang aku tulis ini > hanya mimpi semata. Dan yang pasti toko kue ku lama kelamaan > habis karena banyak yang bangkrut, sebab pembeli semakin lebih > suka ke mal/super market. > > sur > http://indolobby.blogspot.com > ----- Original Message ----- > From: "ajegile lu" <[EMAIL PROTECTED]> > > > Bangsa Jepang dan Banga Cina punya filosofi dagang yang > > menyerupai perang. Di Indonesia orang-orang yang makan bangku > > sekolahan itu mau mengharmoniskan dua kubu yang berhadapan di > > "perang" terbuka. > > > > Ironis. Ilmu yang mereka pelajari ternyata tidak cukup untuk > > membuka cara pandang dan hanya berkutat pada lorong yang > > panjang, lurus, tapi sempit. > > > > Lihat, dalam "perang" pasar ini (modern vs tradisional) mereka > > selalu membenturkan pengusaha pasar modern dan pelaku pasar > > tradisional. Siapa pelaku pasar tradisional yang dimaksud? > > Siapa lagi kalau bukan Mas Gino, Uni Linda, Mpok Ncum, Kang > > Dedi dll. yang menggelar dagangannya di kios & emper pasar > > dengan modal yang tidak setanding kapital pengusaha pasar > > modern. > > > > Ibarat sebuah perang, ini jelas perang yang tidak adil; > > sekompi gerilyawan dibiarkan menghadapi kekuatan militer negara > > modern yang didukung sekian batalion dari 3 angkatan. > > > > Kalau betul mau menolong pasar tradisional, maka serendah- > > rendahnya pengusaha pasar modern harus dihadapkan dengan > > direktur PD Pasar. Boleh dengan otorita yang lebih tinggi lagi > > mengingat banyak pasar modern yang permodalannya dari luar > > demarkasi. > > > > Jadi, dalam "perang" ini perubahan kultur seorang direktur > > pasar lebih dibutuhkan. Ia boleh tetap berlaku bak birokrat, > > tapi sering-sering berpikirlah juga sebagai pengusaha. > > > > Sialnya, seorang miliser barusan mengatakan di Indonesia > > ini sepertinya memang sedikit sekali ekonom yg tidak > > neoliberal. Jadi, sekalipun dia menteri atau direktur ya tetap > > saja ekor. > > > > ajeg= > > > > --- Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > http://kompas.com/index.php/read/xml/2008/10/16/20284328/harmonisasi.pasar.moderen.dan.tradisional.tak.mustahil. > > > > > SURABAYA, KAMIS â€" Harmonisasi pasar > > > tradisional dan moderen bukan hal yg mustahil. > > > Untuk mewujudkan perpaduan tersebut dibutuhkan > > > perubahan kultur pelaku pasar tradisional, > > > ketegasan sikap dari pemerintah, dan kemauan > > > dari pengusaha pasar modern untuk merangkul > > > pelaku pasar tradisional. > > > > > > > > > > ------------------------------------ Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
