Mengapa Pengusaha Kerasukan Memborong Dollar ???
                                   
Untuk menjawab topik tulisan ini sebaiknya kita menengok masa krisis
1998 yang lalu, dollar dari Rp1500 ditahun permulaan 1997 mendadak
menjadi Rp20000 diakhir 1998.  Barulah setelah ada bantuan emergency
dari IMF harga dollar secara perlahan bertahap turun lagi hingga
Rp9000 ditahun 2000-an.

Keuntungan dari $1 saja bisa menghasilkan uang Rp18500 hanya dalam
waktu kurang dari 2 tahun.  Tentu saja para pengusaha pandai menilai
puncak Rp20000 tidak akan bertahan lama, rumusnya, setelah naik
mendadak pasti akan turun bertahap, dan pada saat puncaknya inilah
mereka kembali menjual dollarnya dan menyimpan rupiah yang berbunga
tinggi karena saat itu pemerintah membutuhkan dollar sehingga
menaikkan suku bunga bank hingga 60% yang merupakan kenaikan bunga
yang benar2 diluar akal.  Namun kenaikan bunga inipun hanya
berlangsung sekitar 2-4 bulan saja, dan berangsur turun hingga menjadi
25%.

Pada saat harga dollar stabil kita borong, setelah harga dollar naik
sampai puncaknya, kita jual dan rupiahnya kita deposito-kan dengan
bunga yang tinggi, akibatnya kita melipat gandakan keuntungan. 
Pertama kita untung ratusan persen sewaktu harga dollar naik, dan
kembali untung setelah bunga uang rupiah menaik tinggi.

Kalo saja anda memborong dollar pada 2 minggu yang lalu sewaktu masih
seharga Rp8900, bisa gampang menghitung untungnya kalo dollar itu anda
jual lagi sekarang dengan gampang Rp11000 karena pasarannya sekarang
sudah Rp11700.  Anda untung Rp2000 per dollar hanya dalam 2 minggu saja.

Keuntungan berlipat akan terjadi apabila anda tunggu selama beberapa
bulan.  Padahal untuk bisa untung seperti ini dalam dunia usaha adalah
mustahil.  Maka tak mengherankan, para pengusaha tidak mau resiko
meneruskan usahanya, lebih baik semua asset perusahaannya dijual atau
digadaikan dan beli dollar yang tanpa usaha, tanpa kerja, cuma
ongkang2 kaki menjadi makin kaya raya tanpa resiko rugi.  Bahkan tidak
mungkin uang itu cuma balik modal saja, sudah dipastikan dollar akan
melesat tajam keangkasa raya yang tidak terkirakan.

Krisis sekarang lebih serius dari krisis tahun 1998, para pengusaha
masih segar ingatannya kejadian krisis dimasa lalu, para nasabah
kehilangan simpanannya di bank, bahkan banyak bank yang bangkrut
sehingga tidak mungkin membayarkan kembali simpanan nasabahnya yang
dirugikan itu.  Seorang ibu yang baru saja menjual sawahnya untuk
berangkat naik haji, sebesar 7 milyard rupiah disimpannya dulu di Bank
swasta tertentu sebelum dibayarkan kepada panitia keberangkatan haji.
 Tepat pada waktunya uang dibutuhkan, belum lagi 3 bulan, krisis
melanda Indonesia, sang ibu kembali ke bank untuk mengambil
simpanannya.  Namun bank tidak bisa membayarkannya, sang ibu diberi
surat obligasi yang katanya bisa dicairkan 2 tahun lagi, sang ibu
langsung semaput dan digotong oleh anaknya.

Dua tahun setelah masa obligasi itu berakhir, sang ibu kembali
mendatangi bank tsb, ternyata nama banknya sudah berganti, dan bank
yang lama dinyatakan bangkrut dan katanya digabung dengan bank
mandiri.  Hilanglah simpanan si ibu sebanyak Rp7 milyard, batal naik
haji, jadi miskin mendadak.

Inilah pengalaman, pengalaman yang dialami si Ibu bukanlah cerita
baru, terlalu banyak korban2nya untuk diceritakan satu persatu, cuma
satu yang bisa menjadi pesan dari sang korbannya, yaitu, jangan
percaya kepada bank-bank di Indonesia.  Beli dollar dan simpan diluar
negeri atau bank asing.  Pemerintah menjarah uang rakyatnya.

Dizaman Sukarno, nilai uang dipotong, rakyat kembali dirugikan,
dizaman Suharto kedua kalinya terjadi sanering, pemerintah merampok
uang rakyatnya sendiri.

Pemerintah Indonesia sudah sejak zaman Sukarno tidak dipercaya
rakyatnya sendiri, sangat berbeda dengan pemerintah Amerika, rakyat
tidak kuatir membeli bond ataupun obligasi pemerintah Amerika, bahkan
semua negara2 didunia sangat yakin dan percaya sekali kepada stock,
bond, maupun saham2 pemerintah maupun swasta Amerika.

Pengusaha lebih berpengalaman, mereka tahu kapan waktunya memborong
dollar dan kapan waktunya mendepositokannya dalam rupiah, dan kapan
saatnya menarik semuanya itu untuk kembali di investasikannya kedalam
usaha2 baru dengan pegawai2 barunya dengan gaji lebih rendah daripada
sebelumnya.

Sekarang Indonesia dan negara2 Syariah diterpa badai krisis yang luar
biasa.  Bagi Amerika krisis ini sama sekali bukan berarti kehancuran
melainkan berarti dominasi supremasi ekonominya.  Krisis melanda
beberapa perusahaan besar di Amerika menjerumuskan kepada meningkatnya
pengangguran dari 4% menjadi 6%, namun peningkatan ini sama sekali
tidak berarti banyak karena semua penganggur ini dijamin hidupnya oleh
pemerintah.  Adakah pengangguran besar2an yang terjadi di Indonesia
bisa dijamin hidupnya oleh pemerintah ????  Jelas tidak.

Krisis Ekonomi di Amerika mengakibatkan kebiasaan hidup boros dari
rakyatnya jadi direm, biasanya punya uang banyak berlebihan sekarang
hanya diberi tunjangan hidup secukupnya tanpa bisa berlebihan seperti
biasanya.  Akibatnya daya beli rakyat Amerika menurun tapi bukan
berarti kesejahteraan rakyat Amerika menurun.  Justru keadaan inilah
yang mengakibatkan berbagai negara diseluruh dunia yang mengandalkan
exportnya ke Amerika sekarang macet, perusahaan2 di-negara2 berkembang
yang biasanya ekspor ke Amerika sekarang tutup tak sanggup bayar gaji
pegawai, buruh di PHK, jutaan jadi pengangguran tanpa jaminan dari
pemerintahnya.

Mengerikan, mengerikan, mengerikan.......  Tak jelas kapan
berakhirnya, Syariah Biadab akan makin biadab dalam mempertahankan
kehidupan mereka yang biadab sebelumnya itu.  Umatnya sendiri yang
akan jadi korban2 baru.

Ny. Muslim binti Muskitawati.


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke