Mungkin hanya Tan Malaka yang punya tekad demikian, lainnya pulang jadi 
penindas.

  ----- Original Message ----- 
  From: selarasmilis 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, November 04, 2008 3:15 PM
  Subject: [proletar] Cita-cita Revolusi dari Tanah Haarlem


  Tan Malaka pergi ke Belanda untuk sekolah guru. Ia pulang ke Indonesia
  dengan satu tekad: revolusi.

  HAARLEM, 2008. Lautan turis, penuh warna, dan berseri-seri. Para
  pelancong memenuhi kafe di sekitar Grote Markt yang dikelilingi
  bangunan bersejarah. Ada Vleeshal, pasar daging yang kini menjadi
  museum; Grote Kerk atau Sint Bavokerk, gereja terbesar yang menyimpan
  salah satu organ termegah di dunia dan pernah dimainkan Mozart ketika
  berumur 10 tahun; dan tentu saja, gedung City Hall, pusat administrasi
  Kota Haarlem.

  Di Haarlem inilah Ibrahim Datuk Tan Malaka menginjakkan kaki pertama
  kali di Negeri Kincir Angin pada akhir 1913. Tak sulit membayangkan
  bagaimana Ibrahim menjalani kehidupan sehari-hari sebagai siswa
  sekolah guru Rijkweekschool di kota kecil bagian utara Belanda ini.

  Wajah Haarlem tak banyak berubah. Struktur tata kotanya masih seperti
  ketika Perang Dunia Pertama dimulai. Gedung-gedung bersejarah masih
  berdiri, dengan komposisi yang masih sama. Hanya fungsi dari
  bangunan-bangunan tua yang berbeda.

  Tan Malaka tinggal pertama di sebuah rumah pemondokan bersama beberapa
  murid Rijkweekschool di Jalan Nassaulaan, yang sekarang menjadi jalan
  utama yang membatasi bagian kota tua dengan bagian baru yang merupakan
  perluasan Kota Haarlem. Rumah yang dipilih oleh direktur sekolah guru
  PH Van Der Ley itu masih berdiri hingga sekarang. Lantai dasarnya
  menjadi semacam studio pembuatan perlengkapan dapur. Dindingnya
  terdiri dari bata merah. Untuk mencapai sekolah guru, Tan tinggal
  berjalan kaki saja.

  Tapi Tan tak betah di sana. Ia pindah ke Jacobijnestraat, sebuah jalan
  kecil di belakang Grote Markt ini berlapis batu-batu tua yang lebarnya
  tak lebih dari lima meter. Jalan ini biasanya hanya dilalui pengendara
  sepeda.

  Rumah-rumah tua dan kecil yang terlihat seperti berdesak-an di
  pengujung jalan ini adalah tipikal rumah buruh miskin di Haarlem awal
  abad ke-20. "Di sebuah rumah kecil, saya mendiami kamar loteng yang
  sempit dan gelap," demikian tulis Tan dalam memoarnya, Dari Penjara ke
  Penjara. Rumah ini masih berdiri meski ringkih dimakan usia. Tapi
  dengan polesan yang cantik, rumah ini kini sedang berhias menjadi toko
  bunga dan butik nan elegan.

  Berdampingan dengan rumah itu adalah Toko Buku De Vries. Toko buku
  inilah yang menjadi tempat yang disukai Tan selama tinggal di
  Jacobijnestraat. Toko buku yang dulunya menjual buku bekas itu
  sekarang menjual buku baru.

  Loteng sempit yang diceritakan oleh Tan juga masih ada walaupun tak
  bisa dikunjungi karena berbeda kepemilikan dengan toko di bawahnya.
  Dari luar terlihat loteng itu memang sangat kecil dengan ukuran
  jendela yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi.

  Menurut Dian Purnamasari, warga Indonesia yang tinggal di Haarlem,
  Jacobijnestraat dulunya adalah daerah permukiman buruh. Sekarang
  tempat itu merupakan daerah mahal yang akan diubah menjadi salah satu
  daerah chic karena lokasinya yang strategis persis di tengah kota.

  l l l

  Kedatangan Tan Malaka di Belanda disambut aura kemiskinan Haarlem yang
  sedang jatuh-bangun menghadapi depresi ekonomi. Ratusan pabrik
  penyulingan bir gulung tikar. Pabrik tekstil yang sempat menjadi
  tulang punggung kota ini juga bertumbangan. "Belum lama di Belanda,
  sudah terasa konflik antara jasmani dan keadaan," kata Tan dalam
  tulisannya.

  Dalam kondisi seperti itulah, Ibrahim memulai pendidikannya sebagai
  calon guru. Dia harus cepat menyesuaikan diri dengan masyarakat,
  iklim, serta kehidupan yang baru. Tapi yang paling sulit adalah
  mencerna makanan khas Eropa. "Bahan makanannya memang baik dan berzat,
  tapi cara pengolahnya tak keruan," ucapnya.

  Dengan uang saku yang cuma 50 gulden setiap bulan, Tan hanya sanggup
  tinggal bersama keluarga miskin, E.A. Snijder, di Nassaulaan 29-Rood.
  Baru setelah mendapat pinjaman pendidikan 1.500 gulden dari Dana
  Pendidikan dan Studi Hindia belanda (NIOS)-atas bantuan pensiunan
  mayor jenderal A.N.J. Fabius-Ibrahim mendapatkan kamar lebih baik di
  rumah pasangan Gerrit van Der Mij di Jacobijnestraat 7-Rood. Di sini
  Tan, yang dipanggil Ipi oleh kawan-kawannya, menghuni sejak 24 April
  1915 hingga 11 Juli 1916.

  Sayangnya, keturunan keluarga Van Der Mij tak ada lagi. Menurut
  catatan administrasi Haarlem, Van Der Mij meninggal pada 1916, disusul
  wafatnya sang istri pada 1937. Adapun anak mereka satu-satunya,
  Hilbrand Anthonie van Der Mij, meninggal pada 1947 tanpa keturunan.

  Hampir setiap hari Tan bersepeda menuju gedung Rijkweekschool di tepi
  Sungai Spaarne. Jaraknya 10 hingga 15 menit bersepeda. Pada 1915,
  Rijkweekschool pindah ke gedung baru di Leidsevaart, yang persis
  berhadapan dengan kanal kecil-yang bermuara di Sungai Spaarne. Tak
  seperti gedung lama yang diimpit oleh jalan dan tak punya halaman,
  gedung baru di Leidsevaart lebih besar dengan halaman depan yang luas.
  Untuk sampai ke sini setidaknya dibutuhkan waktu hingga 20 menit.

  Perpindahan gedung ini tampaknya jadi kebanggaan Kota Haarlem kala
  itu, sehingga beritanya pun terbit dalam salah satu edisi koran
  Panorama pada 1915. Koran ini memuat foto seluruh siswa
  Rijkweekschool, termasuk Tan.

  l l l

  Semangat Tan menempuh pendidikan sekolah guru ke Belanda tak lepas
  dari campur tangan G.H. Horensma. Dia berhasil meyakinkan Direktur van
  der Ley bahwa Tan pintar dan cerdas. "Pemuda ini banyak bakat dan
  energinya, tingkah lakunya baik sekali, rapi dan gairah belajarnya
  besar," tutur Van Der Ley kepada schoolopziener di Distrik Haarlem.

  Di sekolah, Tan dapat mengatasi masalah pelajaran. Ia berbakat dalam
  ilmu pasti. Ini mengherankan para gurunya, yang berpikiran bahwa orang
  Hindia tak pandai ilmu pasti. Dia justru amat membenci ilmu
  tumbuh-tumbuhan karena harus menghafalnya. "Bencinya lebih besar
  ketimbang benci makan roti dan keju," ujarnya.

  Guru dan teman-temannya mudah menerima Tan yang pandai bergaul
  sekalipun ada kendala bahasa. Dia aktif bermain sepak bola dan main
  biola bersama orkes sekolah. Terkadang dia memamerkan tari-tarian
  Minangkabau kepada teman-temannya.

  Untuk urusan sepak bola, ia dikenal memiliki tendangan yang kencang.
  Tan bergabung dengan klub Vlugheid Wint. Kakinya sering terluka
  lantaran tak bersepatu. Tan juga kerap mengabaikan peringatan
  teman-temannya agar mengenakan jaket tebal pada saat istirahat
  pertandingan. Bahkan dalam kondisi sakit pun, nafsu bermain sepak bola
  Tan tak padam.

  Dengan kualitas makan yang buruk, kamar yang tak sehat, dan tak pernah
  mengenakan jaket tebal, Tan mulai terserang radang paru tepat pada
  musim panas 1915. Sejak itu, dia tak pernah seratus persen sehat. Pada
  awal 1916 kesehatannya mundur lagi sehingga sulit mengikuti pelajaran
  di sekolah. Bahkan ujian pun dilaluinya dalam kondisi ambruk.

  l l l

  Pondokan di Jacobijnestraat adalah tempat berseminya pemahaman politik
  Tan. Dia kerap terlibat diskusi hangat antara teman satu kos, Herman
  Wouters, seorang pengungsi Belgia yang melarikan diri dari serbuan
  Jerman, dan Van der Mij. Dari diskusi itu, Tan tersadar bahwa dunia
  tengah bergolak. Sekonyong-konyong, sebuah kata baru mulai jadi subyek
  misterius bagi Tan Malaka: revolusi.

  Namun dia tak langsung menjadi partisipan aktif, "Politik bagi saya
  adalah terra incognita," ucapnya. Dia lebih banyak mengamati dan
  mendengar sambil ikut-ikutan membaca De Telegraf, surat kabar yang
  anti-Jerman dan Het Volk yang rajin menyerukan pesan antikapitalisme
  dan antiimperialisme. De Telegraf adalah koran langganan Mij. Het Volk
  merupakan media yang selalu dibaca Wouters.

  Tan Malaka tak bisa menghindar dari perkembangan politik dunia. Perang
  yang berkecamuk telah mempengaruhi perkembangan pemikirannya. Selain
  membaca koran-koran "kiri", dia mulai lapar informasi politik. De
  Vries semakin rajin dikunjungi termasuk toko buku lain di ujung
  Jacobijnestraat. Buku karya para filsuf dan pemikir populer pada zaman
  itu menjadi santapannya, seperti Thus Spoke Zarathustra dan Wille zur
  Macht (Will to Power) karya filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Begitu
  pula The French Revolution karya Thomas Carlyle, penulis esai ternama
  Skotlandia. Dari buku ini Tan Malaka mengenal semboyan liberte,
  egalite, fraternite (kemerdekaan, persamaan, persaudaraan).

  "Tiba-tiba saya berada dalam semangat dan paham yang lazim dinamai
  revolusioner," tutur Tan Malaka dalam tulisannya.

  l l l

  Tan meninggalkan Haarlem pada 1916 dan pindah ke Bussum. Jarak
  Haarlem-Bussum dengan kereta api biasa ditempuh selama satu setengah
  jam. Di kawasan Korte Singel, Bussum, dia tinggal bersama keluarga
  Rietze Koopmans. Rumah keluarga Koopmans masih berdiri hingga kini dan
  tetap sama seperti ketika Tan tinggal di sana hingga Mei 1918.

  Rumah bercat putih gading dengan struktur kayu itu dikelilingi pohon
  rimbun. Penghuninya yang sekarang baru setahun menempati rumah yang
  sangat asri itu. Mereka pun antusias ketika mengetahui rumahnya dulu
  ditempati seorang tokoh nasional Indonesia. Sayangnya, pasangan ini
  menolak menyebut nama. Menurut mereka, setidaknya ada empat keluarga
  yang menghuni rumah itu sebelumnya.

  Kepindahan ke Bussum membuat Tan Malaka lagi-lagi tersadar, hidup tak
  sekadar penjajah dan terjajah. Di kota ini dia menemukan pola hidup
  borjuis yang berjurang luas dengan proletar. Dia merasakan perbedaan
  yang mencolok antara gaya hidup mewah Koopmans dan keluarga Van der
  Mij yang proletar.

  Revolusi Komunis yang meledak di Rusia pada Oktober 1917 juga memberi
  keyakinan pada Tan bahwa dunia sedang beralih ke sosialisme. Berbagai
  gagasan baru tentang bagaimana seharusnya bangsa Indonesia dibangun
  berseliweran dalam benak Tan.

  Lalu datanglah tawaran dari Suwardi Surjaningrat alias Ki Hadjar
  Dewantara agar dia mewakili Indische Vereeniging dalam kongres pemuda
  Indonesia dan pelajar Indologie di Deventer, Belanda. Di forum inilah,
  untuk pertama kali, Tan membeberkan gagasan, yang selama ini
  bersemayam dalam pikirannya, secara terbuka.

  Berikutnya Tan tinggal di Gooilandscheweg, kawasan borjuis yang awet 
  hingga kini. Ketika Tempo berkunjung, rumah itu sepi. Penghuninya
  sedang tak di tempat. Tetangga kanan-kiri berjauhan. Tan menulis,
  daerah Gooilandscheweg memang daerah borjuis, dipenuhi rumah
  peristirahatan nan cantik yang jaraknya berjauhan.

  Di rumah ini Tan mulai putus asa karena tak lulus ujian untuk izin
  mengajar sebagai guru di Belanda. Padahal dia harus mulai bekerja agar
  bisa membayar utangnya kepada NIOS. Pada saat yang sama, dia semakin
  aktif mengunjungi rapat-rapat Indie Weerbaar (Pertahanan untuk
  Hindia), yang sering diadakan Himpunan Hindia.

  Sebagai pelajar dari bangsa terjajah, Tan Malaka akhirnya merasa sudah
  saatnya ada revolusi di Indonesia agar terlepas dari penjajahan dan
  mulai membangun sistem sosialisme. Setelah gagal mendapatkan izin
  mengajar namun mendapat banyak pelajaran penting tentang politik
  selama enam tahun, Tan memutuskan pulang ke Indonesia pada 1919.

  Tan pulang hanya dengan satu cita-cita: mengubah nasib bangsa
  Indonesia. Sayangnya, karena cita-cita ini jugalah Ibrahim harus
  kembali lagi ke Belanda pada 1922. Kali ini bukan sebagai pelajar,
  melainkan buangan politik.

  
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127962.id.html



   

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke