Melihat luapan kegembiraan sebagian orang Indonesia (termasuk presidennya) atas
kemenangan Obama menimbulkan tanya: apakah harapan meluap-luap seperti itu juga
terjadi di Kenya sana?
Kenapa sebagian orang Indonesia itu merasa lebih memiliki Obama dibanding
masyarakat Kenya yang DNA-nya mengalir di tubuh presiden baru AS?
Kalau harus menghubung-hubungkan diri dengan kepresidenan Obama, paling baik
adalah Indonesia tidak melupakan jatidirinya sebagai pelopor Gerakan Non-Blok.
Dalam hal ini, posisi Indonesia dalam meluapkan harapan terhadap pemimpin eks
Blok Kanan itu didasarkan pada Dasa-Sila Bandung. Khususnya menyangkut
sepakterjang AS di Afghanistan & Irak.
Janji Obama untuk menarik pasukannya dari Irak itu bagus. Tapi itu baru janji
kampanye. Janji dalam upaya meraih suara kaum ibu Amerika yang putra-putrinya
dipaksa Bush menyongsong maut di tanah orang. Semakin cepat janji itu
dilaksanakan, semakin baik bagi keluarga anak-anak muda AS yang menyabung nyawa
itu.
Namun bagi dunia, Obama menarik pasukan saja belum cukup, karena serangan Bush
ke Afghanistan dan Irak samasekali tidak beralasan. Rakyat Afghanistan dibantai
dengan tujuan mencari Osama Bin Laden yang dituduh menjadi dalang peristiwa 11
September 2001. Padahal kita tahu keterlibatan Osama dalam peristiwa itu belum
dibuktikan lewat pengadilan.
Begitu juga serbuan militer ke Irak dengan tujuan mencari senjata pemusnah
massal (WMD). Serbuan ini tidak mendapat restu dari ratusan negara anggota PBB.
Bahkan 3 dari 5 pemegang hak veto di Dewan Keamanan (Cina, Rusia, Prancis)
menolak serbuan militer tanpa alasan tsb. Tapi lagi-lagi Bush tidak peduli
suara mayoritas. Akibatnya korban sipil berjatuhan dan senjata yang dicari
tetap tak ada di sana.
Kegilaan Bush mengobarkan perang dengan mengorbankan nyawa ribuan tentara AS
dan ratusanribu nyawa manusia lainnya, harus dinyatakan sebagai kejahatan
terhadap kemanusiaan.
Persoalan besarnya adalah, cukup beranikah Obama menyeret Bush sebagai penjahat
perang & penjahat kemanusiaan? Kalau Obama berhasil menyeret Bush ke
pengadilan, bolehlah dia dianggap membawa berkah bagi dunia.
Di wilayah inilah seharusnya Indonesia berdiri. Mempertahankan jatidirinya
sebagai pencetus lahirnya Dasasila Bandung yang dibuat untuk mendasari hubungan
antarnegara, antarbangsa, antarmanusia, yang lebih harmonis.
Kalau Obama hanya menarik pasukannya dari Irak, maka Indonesia harus mengajak
dunia untuk memandang itu sebagai urusan dalam negeri AS semata. Urusan Gedung
Putih menyelamatkan muda-mudinya dari kematian akibat berperang di negeri
orang.
Indonesia harus kembali mengambil perannya di dunia. Mengingatkan penduduk bumi
bahwa akal budi manusia sudah berkembang sebegini jauh. Peradaban sedewasa ini
mestinya membawa dunia semakin realistis. Obama adalah presiden pertama yang
dinantikan rakyat Amerika untuk menangani persoalan mereka selama ratusan
tahun; perseteruan antara kulit putih dan kulit berwarna.
Jadi, biarkan Obama bekerja untuk rakyatnya dulu. Berguna untuk rakyat Amerika
dulu. Jangan recoki dia dengan segala tetek-bengek yang tak ada urusannya
dengan kesejahteraan rakyat Amerika. Sadarilah bahwa tugas Obama begitu berat
untuk memenuhi tuntutan change we need dari rakyatnya. Syukurilah bahwa Obama
mendengar tuntutan rakyat Amerika. "Yes we can," timpal Obama.
Dunia, khususnya Indonesia, tidak perlu ikut-ikutan mengajukan tuntutan dan
berharap mendapat perlakuan yang sama dari presiden baru Amerika. Toh
masing-masing negara punya presidennya sendiri-sendiri. Tuntut dan berharaplah
kepada presiden masing-masing.
Sangat ironis kalau Indonesia, sebagai pencetus Dasasila, presidennya cuma bisa
mengingatkan bahwa Obama pernah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Indonesia -
sesuatu yang semua orang belum lupa. "Dia mengetahui dan memahami rakyat
Indonesia dan budaya Indonesia secara baik," kata SBY seolah pengalaman masa
kecil Obama bakal membawa manfaat besar bagi Indonesia.
Malu dikitlah sama saudara-saudara di Kenya - yang mungkin belum melupakan
Indonesia adalah pandu Asia-Afrika.
Malu dikitlah sama diri sendiri yang lupa jatidiri.
------------------------------------
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/