Sekedar informasi:

pencopet di Amsterdam dan yang orang-orang yang suka bikin onar
diberbagai kota dinegeri Belanda seperti Gouda itu biasanya anak muda
yang berasal dari Maroko..

http://islamineurope.blogspot.com/2008/04/amsterdam-violent-youth-gang-arrested.html
 

--- In [email protected], Mira Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> [Cerpen]  Awas Copet!!!                                        
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> De Dappermarkt di lihat dari Mauritskade 
> Sumber foto: http://nl.wikipedia.org/wiki/Dappermarkt
> 
> Pada hari Senin lalu, waktu telah menunjukan jam setengah
> empat petang. Kurasakan cuaca hari itu cukup cerah dan ceria buat
> musim gugur di Amsterdam. Biasanya seusai kerja aku langsung pulang
kerumah, namun kali ini aku berencana akan mampir ke
> rumah temanku untuk sekedar kongkow-kongkow sembari minum kopi. Dan,
> tempat tinggal temanku itu pun tak jauh dari Dappermarkt. 
>  
> Dappermarkt,
> yang artinya Pasar Berani, di kenal sejak tahun 1910 sebagai salah satu
> pasar terbesar setelah Albert Cuypmarkt, Ten Katemarkt dan Lindenmarkt.
> 
> 
> Pengunjung Dappermarkt rupanya semakin meningkat dari kalangan
> rakyat Belanda karena memang dianggap pasarnya merakyat di
lingkungan sekitar lokasi di jalan Dapper - Amsterdam Timur.  Jadi tak
heran kalau pasar Dapper tersebut mendapat penghargaan 2 tahun
berturut-turut sebagai pasar terpopuler di Belanda.
> 
> Barang-barang
> dagangannya yang ditawarkan buat kebutuhan se-hari-hari itu memang
di jual dengan
> harga "murah-meriah-meledak". Maksudnya barang-barang yang dijual itu
> selain harganya murah dan bervariasi, juga dijamin produknya
berkualitas. Bagi para konsumen berpendapatan
> rendah pun menganggap Dappermarkt jadi pasar favorit untuk belanja
kebutuhan hidup sehari-harinya. 
> 
> Dappermarkt
> di kenal pula menyediakan barang-barang dagangan bermerk alias
bertaraf internasional.  Misalnya gaun malam yang chic, pakaian untuk
anak-anak yang lucu-lucu, sepatu, tas
> dan sampai celdalnya pun tak kalah hip-nya dengan barang-barang yang
dijual
> di pusat pertokoan di P.C. Hoofstraat maupun di Kalverstraat. 
> 
> Dari pakaian yang model hip al'a muslim sampai
> model pakaian modern bisa dapat dibeli di Dappermarkt. Belum lagi
kalau ada
> konsumen yang ingin beli kebutuhan dapurnya, seperti panci,
> penggorengan serta alat-alat dapur lainnya dengan kualitas yang lumayan
> bagus. 
> 
> Sayuran, buah-buahan serta beragam daging atau ikannya yang
> segar menarik perhatian para konsumen berpenghasilan
> rendah, apalagi bila ingin membeli barang-barang kebutuhan anak-anaknya.
> Selain harganya lebih murah, mulai dari pakaian, celana,
> jaket, sepatu, kaos kaki sampai mainan anak-anak persediaannya paling
> lengkap serta pula bervariasi modelnya. Maka banyaklah Ibu-Ibu membawa
> anak-anaknya mengunjungi Dappermarkt untuk membeli kebutuhan
> anak-anaknya. 
> 
> Suasana
> pasarnya
> pun selalu meriah serta tercermin ceria, yang lokasinya berada di
sepanjang
> jalan Dapper antara batasan Wijttenbachstraat dan Mauritskade. Di sana
> terpajang rumbai-rumbai aneka warna dengan memakai lampu-lampu beraneka
> warna. Diantara pajangan dan rumbai-rumbai itu terselip pula sebuah
> bentangan spanduk peringatan "Awas Copet!, perhatikan tas
> atau dompet anda, jangan sampai hilang".
> 
> Beberapa petugas keamanan
> pun berlalu-lalang di sepanjang jalan pasar "Dapper".
> Sehingga para konsumen, yang berdatangan dari berbagai luar kota
> Amsterdam, merasa aman, nyaman dan sahaja. 
> 
> Serasa
> bagaikan
> suasana pesta jalananlah! Dan, yang paling berkesan buat para
pengunjung pasar
> ialah suasana keramah-tamahan dari para pedagangnya itu, yang memiliki
> keuniekan tersendiri sebagai ciri khas pasar Dapper yaitu baik para
konsumennya maupun para pedagangnya berasal dari beragam bangsa dengan
> semangat internasionalisme. 
> 
> Cuma
> jangan bingung, kalau melihat "made in" barang-barang dagangannya itu
> kebanyakan dari China, selain itu juga produknya dari Inggris, Italy,
> Spanyol, Turky, Marokko, India, Pakistan.
> Singkat kata, Dappermarkt yang berarti Pasar Berani itu mampu menunjukan
> kesan suasana kehidupan "multiculturalisme" alias internasionalis
berciri khas
> Amsterdam. 
> 
> Penduduk Belanda menyebutnya sebagai suasana "Het Kleuren
> Rijk" (kekayaan warna). Yang maksudnya adalah kehidupan bertoleransi
antar
> bangsa penduduk di Belanda yang nyatanya dihuni oleh barbagai macam
perbedaan bangsa
> dengan beragam bahasa dan warna kulitnya. 
> 
> Akhirnya
> aku memutuskan berjalan-jalan sembari menuntun sepedaku menyusuri
> sepanjang jalan pasar "Dapper", yang terkenal itu. Melalui Dappermarkt
> tentunya akan lebih singkat waktunya buatku untuk menuju
> arah rumah temanku, yang lokasinya di sekitar daerah Amsterdam Timur.
> Aku mulai berjalan dari arah Mauritskade menuju arah Wijttenbachstraat,
> yang tasku kugantungkan di stang stir sepeda sebelah kanan. Sedangkan
> aku berjalan disebelah kiri sepedaku, sambil tangan kananku memegang
> stang sebelah kanan. Dengan santai dan rasa nyamannya aku berjalan
> menyusuri jalanan Dappermarkt sembari arah mataku melihat ke bentangan
> pajangan barang dagangan di bagian kiri maupun sebelah kanannya. Ketika
> aku sedang melihat serta memperhatikan tenda disebelah kanan, aku
> terhenyak sejenak karena terpancang pada yang menjual jas-jas untuk
> musim dingin. Kemudian aku berhenti sejenak untuk melihat model jasnya,
> lalu aku mulai menghampiri serta mendekati tenda tersebut. Mulailah aku
> memperhatikan dan menyimaki pajangan berbagai model jasnya. Lalu,
> kemudian dengan asyiknya aku meneliti ukuran jas serta warna yang
> kupikir pas dengan seleraku. 
> 
> Tiba-tiba
> seorang Ibu setengah tua menyapaku untuk supaya aku menggeser sepedaku
> karena dianggap menghalangi ruangan tempat tumpukan jas di atas meja
> panjang. Aku tertegun sejenak sembari cepat menggeserkan sepedaku itu.
> Namun tanpa kusadari rupanya tangan kananku pun yang ketika sedang
> memegang stang stir kanan sepedanya, ternyata sudah beralih ke tumpukan
> jas-jas tersebut. lalu aku cepat melihat kembali ke arah stang stir
> sepeda sebelah kanan yang rupanya tasku tak lagi bergantung di stang 
> kanan sepedaku. 
> 
> Aku
> menjadi panik serta langsung berseru keras: "mana tasku!!!" "Tasku
> hilang di copet!!!" Sementara beberapa pembeli, yang sedang asyik
> memilih jas-jas itu mengalihkan perhatiannya ke arahku serta
> kelihatan terkejut dan turut panik pula. Salah satu pedagangnya pun
> turut menyibukan dirinya yang langsung menghampiriku sambil berseru:
> "taruhlah sepedamu di disini dan cepat lah kejar pencopetnya!!!" Aku
> langsung melepaskan sepedaku, lalu berlari menuju jalan pasar ke arah
> Wijttenbachstraat, sedangkan sesama kolega pedagang lainnya turut
> berlari menuju arah berlawanan dari jalan pasar. 
> 
> Beberapa
> meter
> kemudian kulihat dua orang dari keamanan sedang berjalan menuju
> ke arahku. Tapi aku tak peduli serta terus berjalan cepat hampir
> setengah berlari ke arah pencopetnya. Sementara aku masih tetap
> berteriak keras ke si pencopetnya di sepanjang Dappermarkt, dengan
> tenangnya ke dua agen tersebut menghadangku untuk supaya aku berhenti
> mengejar pencopet tasku. Terpaksa aku berhenti sejenak, yang kemudian
> salah satu dari petugas keamanan itu mulai mengajukan
> pertanyaan-pertanyaan sambil mengeluarkan buku catatan kecil: "Ada apa
> gerangan, kau kehilangan tasmu? Dimana kau kehilangan tasnya? Apa kau
> tahu identitas pencopetnya? Warna apa tasmu dan apa saja barang-barang
> yang ada di dalamnya?"  Mendengar pertanyaan petugas keamanan yang
> bertubi-tubi itu, aku semakin merasa panik dan terganggu karena aku
> tidak bisa lagi mengejar pencopetnya, yang memang tak kuketahui
> identitas sang pencopet itu.
> 
> Kurasakan
> situasi kepanikanku sudah mulai agak mereda. Walau pun rasa amarahku
pada ke dua
> agen polisi tersebut belumlah sirna, sejenak aku memandang kesalah satu
> polisi agen, yang terus sibuk mengajukan banyak pertanyaan, lalu
polisi agen lainnya menegurku dengan ramah: "Ok..sekarang kau
> tunjukan kami dulu dimana kau kehilangan tasmu?  Dan rupanya kau tak
> tahu pula identitas si pencopetnya...". 
> 
> Aku mengangukkan kepalaku sambil berjalan cepat menuju tempat
> sepedaku, yang sedang diamankan oleh si penjual jas. Aku menunjuk
> ke arah tenda penjual jas tersebut, dan sementara itu salah satu
> penjualnya menghampiriku dan memberikan sepeda ke aku. 
> 
> 
> 
> Lagi-lagi aku musti menjawab urutan pertanyaan-pertanyaan itu, yang
> lantaran dianggap penting dengan hilangnya tasku di pasar "Dapper" itu.
> Sembari menjawab urutan pertanyaannya itu, aku melirik pula kearah
> kertas kecil polisi agen yang kulihat hanyalah ada tulisan urutan nomor
> urut dan kasus kehilangan barang. Di daftar catatan tersebut, rupanya
> kasusku itu ada di urutan ke 8. Selebihnya tak ada catatan-catatan
singkat
> lainnya yang sehubungan dengan rentetan jawaban dari sang korban
> kecopetan. 
> 
> Secara sepontan aku memprotes cara kerja polisi itu. "Untuk apa aku
menjawab
> pertanyaaan-pertanyaanmu kalau kau tidak catat dalam buku kecilmu
> itu? Bukankah itu hanya membuang waktu saja?" tanyaku dengan wajah
yang serius campur kesal.
> 
> "Tentunya informasi jawabanmu sangat penting buat kami, karena kami
dari kantor kepolisian Linnaeusstraat
> dan kau sekarang ini langsung saja melapor ke kantor polisi terdekat
> rumahmu". 
> 
> Aku segera pergi meninggalkan ke dua agen polisi itu, menggenjot
sepedaku ke arah kantor polisi yang lokasinya tak jauh dari
> rumahku. Sesampainya aku di kantor polisi tersebut, aku hanya diberi
saran
> supaya langsung cepat pulang kerumah untuk menelpon guna memblokade
> jaringan telepon genggam. Karena didalam tasku yang dicopet itu antara
> lain ada telepon genggam dan dokumen kertas laporan kerjaku.
Selanjutnya bapak keamanan tersebut menyampaikan pesannya agar aku
kembali ke kantor polisi untuk memberi laporan kecopetan.
> 
> Semua
> rencanaku di hari ini gagal total, dengan lesu aku menggejot sepedaku
> menuju arah rumah, sedih rasanya kecopetan, dasar copet sialan,
> bukannya nyopet orang kaya, malahan nyopet sesama proletar juga, payah!
> 
> 
> MiRa - Amsterdam, 20 November 2008
> 
> 
> 
> 
> Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click:
http://www.progind.net/   
> http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke