Seorang sales bahan baku kue datang kerumah menawarkan produk barunya, dan seperti biasa selain menawarkan produk juga mencari informasi mengenai kondisi produksi di tempatku.
Dan seperti biasa pula aku jawab bulan ini masih sepi karena masih bulan Hapit, alias bulan kejepit karena pesta sangat berkurang, dan nanti awal bulan depan ( Desember ) produksi seharusnya kembali normal, dia bertanya bagaimana dengan krisis ekonomi saat ini, sambil bercerita pe ha ka sekian sekian orang. Aku hanya bilang, aku tidak peduli dengan segala cerita tersebut, pe ha ka ada dan tidak untuk masyarakat kecil sudah tidak ada pengaruhnya, selama musim pernikahan mau tidak mau harus ada pesta pernikahan dan selama ada pesta pernikahan maka produksi kue ku akan laku. Masyarakat kecil di kampung kampung akan tetap melakukan aktivitas rutin nya tanpa peduli dengan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, apalagi krisis ekonomi dunia, sulit untuk dicerna oleh mereka. Yang jelas pernikahan tidak mungkin ditunda sampai krisis berlalu. Membuat sebuah pesta pernikahan dikampung bisa dibilang biayanya sangat kecil dibandingkan oleh orang kota, dengan modal kisaran 5 sd 10 juta sudah bisa membuat pesta pernikahan ala kadarnya. Dan perhitungannya pun sederhana, beras sekian kilo, daging sekian kilo, rempah rempah sekian rupiah, ditotal tidak sampai 3 Juta rupiah untuk persediaan komsumsi, tentunya dengan makanan alakadarnya. Sedang sisanya untuk pakaian dan peralatan ( kursi dan tenda ), bila ada uang berlebih sekitaran 1 sd 2 Juta rupiah maka bisa mengundang organ tunggal, bila masih berlebih malah bisa mengundang penyanyi ala Kampung yang biaya nya sekitaran 1/2 sd1 Juta Rp. Sedang untuk yang diistilahkan snack/kue/dodol biasanya didapat dari sumbangan baik dari kerabat dekat maupun tetangga, termasuk tamu undangan yang tanpa sungkan membawa kue sebagai ganti amplop, dengan cara ini maka pesta pernikahan bisa berlangsung dengan cukup meriah. Dan tidak berbeda jauh bila mengadakan pesta khitanan total biaya umumnya dibawah 10 Juta rupiah, malah sampai ada yang cukup dengan 5 Juta rupiah sudah bisa mengadakan pesta. Semua ini tentunya tidak akan diperhatikan oleh para ahli ekonomi papan atas yang sudah terbiasa menghitung dengan jumlah nol yang berpanjang panjang, demikian juga dengan para pengusaha kelas kakap yang notabene memiliki karyawan bisa ber ribu ribu, tak akan terpikirkan bahwa karyawannya yang dinamakan buruh yang sudah memberi tenaga seadanya yang ternyata bisa meliwati hidup dengan ala kadarnya. Sales bahan baku kue bercerita bahwa pabrik kue anu gulung tikar, karena pasaran sepi, aku bilang bukan karena pasaran sepi, kebetulan dia masuk dengan modal besar ( minimal 2 Milyar Rp ) sedang market yang dicari kelas menengah bawah, hasilnya tentu saja tidak akan tahan lama karena pembeli selain bosan juga pabrikan tersebut sulit memahami marketnya, dia bisa dibilang baru bisa melakukan Sell In sedang Sell Out nya tidak jelas, akibatnya ketika pembeli bosan pabrikan bingung. Tidak sedikit pengusaha kelas kakap yang masuk ke bidang usaha kue dengan hasil akhir tidak jelas juntrungannya, aku tahu ada satu pabrikan kue dengan peralatan mesin sampai 1 Milyar Rp, dan dibantu modal kerja 1 Milyar Rp hasilnya bangkrut, demikian juga ada yang sampai turun modal diatas 2 Milyar, dimana pada awalnya produksi langsung melejit sehingga tanpa perhitungan menambah mesin lagi, karena dianggap kerja shift kurang optimal, dan setelah beberapa waktu berlalu omzet terus menerus turun, alasan krisis memang menjadi solusi, tanpa pernah memahami market sebenarnya, lha bagaimana bisa memahami market sebenarnya sedang kebiasaannya sebelumnya sebagai pengusaha yang sudah biasa dengan eksport dan import. Bagaimana bisa memahami ada sebuah pesta pernikahan yang berbiaya dibawah 10 Juta rupiah. Sales bahan baku kue bertanya lagi bagaimana dampak dengan pe ha ka ?, aku hanya bilang ada dan tiada pe ha ka, masyarakat kecil di Indonesia sudah dipaksa harus bisa survive dengan apa adanya, memang bisa saja satu karyawan yang kena pe ha ka bisa membawa akibat 5 sd 10 orang lainnya menjadi susah, seperti bila sebuah pabrik dengan karyawan 1000 orang tutup, maka minimal ada warung tegal, pemilik tempat kost, warung pinggir jalan, ojek, angkot dan beberapa lainnya akan kena dampak, dan hal ini tidak bisa tidak sangat berpengaruh kesemuanya, sedang dilain pihak tidak lah mungkin 1000 orang tersebut menjadi pengangguran semua, minimal dari sekian banyak akan tetap berusaha untuk survive baik dengan menjadi pedagang dadakan di pinggir jalan, kerja serabutan, dan kembali ke kampung halamannya, dan semua kehidupan kembali menjadi seperti sedia kala sebelum ada pabrik tersebut. Wiraswata kelas bawah bisa dibilang selain bermodal murah meriah juga tidak memerlukan skil yang rumit rumit, semisal dengan membeli kelapa muda 2 butir, sekilo gula, es batu, vanila, sudah bisa berjualan es kelapa muda ( gelas dan baskom plus pikulan sebagai mesin/alat ), semua tidak sampai satu juta Rp, tinggal di teruskan dengan jenis sate kerang, mainan plastik anak anak, dan beberapa jenis usaha lagi, yang memang modalnya dibawah 1 juta Rp, diatas tersebut memakai gerobak dorong ( untuk gerobak dorongnya sekitaran 1 sd 2 Juta Rp ), seperti tukang mie, nasi goreng dan sejenisnya. Bagi yang suka berbelanja ke pasar tradisional, tentunya tidak akan sadar bahwa di emperan pasar ada yang berjualan cabai merah dalam bentuk gundukan kecil, dan berjumlah kurang lebih 5 gundukan, dengan harga satu gundukan yang bervariasi dari 2000 Rp sd 5000 Rp, bila di hitung dengan ilmu ekonomi kelas nobel tentunya tidak akan pernah bisa diolah dengan akal lagi, lha berapa banyak gundukan yang membelinya ?, bila seorang ibu rumah tangga membeli satu gundukan cabai tersebut, maka bisa dipastikan minimal bisa bertahan untuk 2 hari, ( cabai termasuk produk unik, karena masyarakat kita suka dengan pedas ), dan berapa banyak ibu ibu membeli cabai setiap harinya ?, yang jelas penjual cabai dengan gundukan kecil eksistensinya diakui yang menandakan usaha cabainya bisa menopang hidup, belum lagi dengan tomat yang tentunya bukan dari jenis tomat import. Para pedagang tersebut tentunya tidak akan pernah bercita cita menjadi pedagang kelas emperan, dan dilain pihak mereka juga sadar bahwa perut harus di isi dengan hasil jerih keringat sendiri, dan salah satu pilihan adalah berjualan ala kadarnya, karena memang modalnya pun ala kadarnya, dan akan berhenti jualan bilamana ada penghasilan yang lebih baik, dan salah satunya adalah menjadi pekerja. Sales bahan baku kue kembali bertanya, jadi krisis ekonomi Indonesia tidak menyulitkan masyarakat bawah ?, aku kembali bilang bahwa masyarakat bawah sejak krisis 97/98 sudah terkena krisis pincang kiri dan kanan, pincang karena dengan krisis 97/98 masih ada yang diuntungkan terutama hasil eksports pertanian/perkebunan ( dari kurs ) sedang yang dirugikan pekerja yang kena pe ha ka, sekarang memang berbeda dimana bisa dibilang semua kena, dan yang jelas masyarakat yang tinggal di P Jawa dampaknya tidak seberat yang diluar jawa, karena yang tinggal di P Jawa sudah pernah kena dan masih terasa sampai sekarang akibatnya, dengan kondisi seperti ini masyarakat kecil di P Jawa sudah lebih mampu mengatasinya, sekarang tinggal Pemerintah apakah mampu melanjutkan proyek padat karya apa tidak, tanpa dibantu proyek tersebut maka perputaran uang dimasyarakat kecil lama lama habis diambil ke atas. ( aku sok tahu menjawab demikian ). Sales bahan baku kue kembali meyakinkan dirinya dengan bertanya ' jadi usaha kue ku tidak akan mengalami hal hal yang tidak diingingkan ? , aku jawab selama masih ada pesta pernikahan dan khitanan, maka aku optimis usaha ku masih bisa berjalan, lha pembelinya memang mereka koq, apa iya pernikahan bisa distop karena tidak ada biaya ?......... sur. ------------------------------------ Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
