http://www.mediaindonesia.com/print.php?ar_id=45669


        
      22 2008 00:01 WIB

      Keengganan Daerah Melaporkan Korupsi


      JIKA di masa Orde Baru korupsi bersifat sentralistis, di era reformasi 
ini, otonomi daerah justru tersesat dalam desentralisasi korupsi. Akibatnya, 
pejabat daerah berbondong-bondong dibawa ke persidangan dengan tuduhan menjarah 
uang rakyat. Sebagian mereka sudah menghuni bui di berbagai wilayah Tanah Air. 

      Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, pemberantasan korupsi empat 
tahun terakhir ini semakin menemukan momentumnya. Keluarnya Instruksi Presiden 
No 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi dan penegasan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono memimpin langsung pemberantasan korupsi menambah 
amunisi bagi penegak hukum. 

      Meski denyut pemberantasan korupsi kian bergema, evaluasi Menteri Negara 
Pemberdayaan Aparatur Negara Taufik Effendy membuat kita geleng kepala. 
Ternyata pemberantasan korupsi belum menjadi kegemaran baru pejabat publik. 
Taufik menyebutkan partisipasi pemerintah daerah dalam pemberantasan korupsi 
masih rendah. Tingkat pelaporan kasus korupsi oleh pemerintah daerah pada 2007 
baru mencapai 42% dari semua instansi yang wajib melaporkan. Jumlah itu masih 
jauh dari harapan sekalipun meningkat jika dibandingkan dengan 2006 (33,5%) dan 
2005 yang hanya 15,7%. 

      Rendahnya partisipasi pemerintah daerah memberantas korupsi bisa menjadi 
indikator masih adanya perselingkuhan di kalangan elite daerah. DPRD yang 
semestinya menjadi representasi rakyat dengan tugas mengawasi eksekutif justru 
muncul sebagai kekuatan baru yang menggerakkan mesin korupsi. Anggota DPRD 
menjadi aktor intelektual menggasak uang rakyat dengan menyelinapkan 
pasal-pasal haram ke peraturan daerah. Akibatnya korupsi menjadi legal, sah, 
dan halal. 

      Kita ingatkan bahwa kebiasaan bersekongkol menjarah uang rakyat dalam 
kemasan mentereng berupa peraturan daerah itu harus dihentikan. Soal waktu 
saja, semua praktik busuk pasti terungkap, bahkan ketika para pejabat sudah 
purnabakti. 

      Dengan banyaknya anggaran negara mengalir ke daerah, pemerintah daerah 
harus menempelkan telinga ke jantung dan hati masyarakat. Dengan demikian, 
mereka paham denyut kemiskinan rakyat akibat korupsi yang telah merapuhkan 
hampir seluruh sel vital negara. 

      Kemiskinan akibat korupsi harus menjadi inspirasi bagi setiap pemerintah 
daerah dalam mengabdi. Dengan visi itu, mereka menjadi ujung tombak 
pemberantasan korupsi. Pejabat daerah jangan merasa tercemar bila melaporkan 
korupsi yang marak di daerah mereka. Malah, dengan semakin banyak melaporkan 
praktik korupsi di daerahnya, pejabat daerah telah menolong diri mereka 
sekaligus rakyat dan daerah mereka. 

      Pejabat daerah harus menggiatkan partisipasi publik untuk mengawasi 
jalannya pemerintahan dan birokrasi tanpa perlu bersikap apriori. Bila berusaha 
menyembunyikan praktik korupsi karena beranggapan dengan cara itu terkesan 
bersih, pejabat yang demikian justru sebenarnya tengah melangkah menuju pintu 
penjara. 

      Pemerintah daerah memiliki perangkat pengawas yang mestinya ampuh seperti 
badan pengawas daerah atau inspektorat daerah. Hanya, selama ini instrumen 
tersebut lebih dikesankan sebagai tempat buangan. Seharusnya lembaga itu 
diberdayakan dengan sumber daya manusia berkualitas sehingga mampu melakukan 
audit kinerja, audit keuangan, ataupun audit khusus. 

      Jika pemerintah daerah giat melaporkan praktik korupsi di daerah mereka, 
bandul paradigma pun bergeser dari pemberantasan korupsi menjadi pencegahan 
korupsi. Kita mulai berpikir menyelamatkan negara, bukan rajin menjebloskan 
koruptor ke bui. 


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke