Perjalanan Panjang
Menuju Islam, Seorang Muslim Amerika








    
            





 



Cetak |  Kirim | 
RSS Thursday, 27/11/2008 15:42 WIB  

Perjalanan menuju Islam adalah perjalanan
yang cukup panjang bagi Fred, seorang Muslim Amerika. Ia pernah mempelajari
berbagai keyakinan, mulai dari Yudaisme, Kristen sampai akhirnya ia menjadi
seorang atheis, karena agama-agama yang ia pelajari tidak memuaskan hatinya. 

Agama-agama itu tidak
menjawab keinginannya sebagai agama yang ia anggap cukup masuk akal, agama yang
menjelaskan seluruh aspek kehidupan, agama yang mengajarkan kepekaan.
Agama-agama yang ia pelajari, Yudaisme dan Kristen saling tuding bahwa agama
lain di luar agama itu, salah. 

Suatu hari, ketika
Fred berkunjung ke perpustakaan umum di
  Columbus , Ohio secara
tak sengaja ia melihat sebuah buku bertuliskan 'The Holy Qur'an'. "Saya
tidak tahu menahu tentang Qur'an, saya bahkan cuma tahu sedikit tentang
Islam-saya tahu pasti, Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan dan
terorisme," aku Fred pada situs WhyIslam. 

Tapi Fred tetap
membaca-baca 'buku' itu dan ia merasa bahasa dalam 'buku' tersebut ketinggalan 
zaman
dan sulit dipahami. "Butuh belajar untuk memahaminya. Oleh sebab itu saya
membeli al-Qu'an di sebuah toko buku dan mulai mempelajari 'buku' yang aneh
itu," ujar Fred. 

Membaca al-Quran,
membuat Fred terkjut sekaligus makin tertarik untuk untuk mempelajarinya.
Terkejut, karena di dalam 'buku' tersebut terdapat 114 surat yang menurut Fred 
tidak ada yang baru.
Surat-surat itu, ujar Fred, merupakan pernyataan kembali dan penyederhanaan
dari isi Kitab Perjanjian Lama dan Kita Perjanjian Baru. 

"Buku ini, al-Quran,
adalah penyaringan bagian-bagian yang penting dari kedua kitab perjanjian
itu," kata Fred. 

Dan yang membuat Fred
makin tertarik dengan al-Qur'an, antara lain ayat-ayat yang menceritakan
tentang penciptaan dunia oleh Allah swt dan kasih sayangNya pada umat manusia. 

Al-Qur'an membuat
Fred ingin tahu lebih banyak tentang agama Islam. Ia tercengang saat mengetahui
bahwa di AS ada sekitar tujuh sampai sepuluh juta Muslim. Dan ia makin
tercengang bahwa Muslim di AS, laki-laki dan perempuan adalah orang-orang bisa
seperti dirinya. Bukan orang-orang teroris, suka memukul perempuan dan tidak
toleran terhadap cara pandang orang lain, seperti yang ia dengar selama ini. 

Pekerjaan Fred
membuatnya sering bepergian. Dalam setiap perjalanannya, Fred terus belajar 
tentang
Islam. Ia berkunjung ke masjid-masjid di Columbus, Ohio, berdialog dengan
tokoh-tokoh Islam di Sacramento, California, mengunjungi festival-festival
Islam di Portland, Oregon atau makan bersama dengan Muslim di Tucson, Arizona. 

"Saya menemukan
bahwa komunitas Muslim adalah komunitas yang hangat, perhatian dan mau berbagi
apapun yang mereka punya dengan saya, tanpa melontarkan
pertanyaan-pertanya an," tukas Fred. 

Dua tahun kemudian,
Fred merasa Islam-lah agama yang tepat untuknya. Ia pun mulai mencari informasi
tentang syarat-syarat menjadi seorang Muslim. Dan syaratnya bagi Fred ternyata
cukup mudah. 

"Saya cuma
diminta untuk mengucapkan bahwa 'Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad
adalah utusan Allah," cerita Fred mengenang kembali awal ia menjadi seorang
Muslim. 

Fred belajar salat
dengan beberapa Muslim. Dari sana ia tahu, salat
 lima waktu
sehari merupakan kesempatan bagi setiap Muslim untuk meninggalkan sejenak
urusan dunia dan meluangkan waktu untuk berdialog langsung dengan Allah swt. 

Fred juga belajar
bahwa terorisme ada di mana saja, baik agama atau kelompok politik. Di Irlandia
Utara, ada kelompok Kristen Protestan dan Katolik yang mengatasnamakan agama
untuk melakukan tindak kekerasan, di AS ada kelompok-kelompok kulit putih yang
melakukan tindakan sama atas nama supremasi kulit putih dan ada kelompok
Kristen ultrakonservatif, di Afrika Selatan ada kelompok kulit putih yang
menerapkan apartheid, dan masih banyak lagi kelompok lainnya. 

Terkait perempuan,
Fred mengakui bahwa al-Qur'an dengan jelas mengatakan bahwa di mata Allah swt
tidak ada perbedaan gender. Jika pun masih ada diskriminasi antara laki-laki
dan perempuan di beberapa negara Muslim, itu tidak lebih hanya pengaruh budaya
dan bukan ajaran Islam. 

Tentang Yesus, Fred
mengatakan bahwa banyak non-Muslim yang kagum dengan al-Qur'an karena al-Qur'an
berbicara tentang Yesus dan Maryam dengan sangat hormat. Tapi Islam hanya
mengakui Yesus sebagai salah seorang Nabi yang diberi mukjizat oleh Allah swt,
Islam tidak memandang Yesus sebagai Tuhan. 

"Intinya, Islam
adalah perluasan dari Yudaisme dan Kristen, Islam menghormati penganut kedua
keyakinan itu. Qur'an mempertegas apa yang disinggung dalam kitab perjanjian
lama dan baru serta Injil, tapi dilengkapi dengan bukti-bukti yang kuat. Qur'an
berisi hal-hal yang konsisten," papar Fred. (ln/whyislam) 

   







      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke