> Jusfiq Hadjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ada sebuah hal yang tidak disadari menyalahi > sekularisme: pendidikan agama yang > diselenggarakan dan dibiayi oleh negara. > Agama adalah urusan pribadi warganegara > dan negara nggak ada urusan untuk ikut campur. > Diselenggarakannnya dan dibiayainya pendidikan > agama oleh negara itu bertentangan dengan > sekularisme. Negara kudu berhenti mengurus dan > membiayai IAIN.. > --------------- >
Hal inilah sumber utama kehancuran negara RI ini, membiayai sebuah proyek agama Islam yang begitu mahal tetapi tidak pernah ada payback balik yang bisa menjadi pemasukan kepada kas negara !!! Bayanginlah 85% pembayar pajak adalah non-pribumi dan non-Islam, sedangkan sisanya 13% berasal dari perusahaan2 besar Amerika, Jepang dan Eropah. Hanya 2% saja uang pajak yang berasal pribumi Islam dimana termasuk disini adalah Bakri Brother, Keluarga Cendana dll. Bahkan katanya naik haji itu hanya syah bagi yang mampu, tapi kenyataannya semua jemaah haji dibebaskan dari segala bentuk pajak atas keputusan menteri agama nomor sekian.....! Bagaimana mungkin kondisi seperti ini bisa mampu memutar roda pemerintahan tanpa ditunjang oleh bantuan luar negeri ??? Hal seperti ini juga menghancurkan dunia pendidikan yang ternyata 75% guru2 yang diangkat jadi pegawai negeri adalah guru agama Islam, akibatnya hasil kemampuan murid sangat rendah tetapi biaya negara yang dikeluarkan sangat besar. Agama Islam menjadi mata pelajaran wajib dalam setiap pendidikan disekolah negeri dan swasta dimana hal ini merupakan pemborosan yang sama sekali tidak menghasilkan apapun yang bisa menunjang kebutuhan pegawai dari para investor asing. Keadaan ini makin lama makin parah, karena jumlah IAIN lebih banyak daripada Universitas, setiap tahun lulus sarjana2 IAIN baru sebanyak puluhan ribu tanpa penampungan tempat kerja yang sesuai dengan kemampuan jurusannya. Celakanya, lulusan IAIN ini meskipun bergelar doktor sekalipun tidak laku untuk bekerja sebagai tenaga pengajar disemua negara2 Islam seperti di Arab Saudia, Kuwait, Iran dll karena ajaran Islamnya dianggap menyeleweng bukan akidah Islam yang aseli. Apakah enggak keblinger tuh kita memproduksi doktor2 lulusan IAIN ber-juta2 tanpa bisa dipekerjakan bukan saja oleh pemerintah juga oleh institusi2 Islam yang ada didunia ini. Hingga saat ini, Indonesia memiliki jutaan doktor lulusan IAIN yang pengangguran yang setiap harinya berdemonstrasi meminta pemerintah mengangkat mereka menjadi tenaga guru tetap sebagai pegawai negeri. Lebih celaka lagi, ternyata lulusan doktor2 IAIN ini tak satupun mampu menonjol menjadi pemimpin Islam di Indonesia, kenyataannya semua pemimpin2 Islam di Indonesia yang menononjol justru tidak punya gelar apapun selain cukup bergelar Habib, Kiayi, Buya, dan Uztad yang kesemuanya ini tidak perlu sekolah cukup diwariskan secara turun temurun. Contohnya Habib Rizieq, Buya Sobri Lubis, Uztad AA Gym, dan juga kiyai2 langitan gelap. Mau kemana negara kita ini dibawa ??? Dinegara manapun diseluruh dunia bisa eksist dari pajak rakyat yang ditariknya, sedangkan di Indonesia yang mayoritas Islam tidak bayar pajak, bahkan kiyai Puji yang baru saja menikahi gadis cilik, ternyata juga tidak bayar pajak padahal beliau katanya mau mendidik kepada isteri mudanya untuk mengelola usahanya nanti diwariskan setelah kiyai puji ini sudah tua. Katanya akan dilatih menjadi usahawan yang jempolan yaitu jempolan menggelapkan pajak, dan sama sekali tidak perlu bayar pajak. Mana pernah ada orang kaya diseluruh dunia bisa berbuat seperti kiyai puji yang mereklamekan dirinya kawin dengan anak dibawah umur disertai menyumbang rakyat sebesar katanya hingga 1 milyard rupiah tanpa dibuktikan pembayaran pajaknya bahkan tidak dikejar petugas pajak dan tetap merasa aman dari tagihan pajak. Bandingkan dengan si Aseng Kho keturunan Cina yang ulet yang cuma jualan mainan anak2 made in China di kaki lima yang setiap harisnya sibuk dikejar pajak, mulai dari pajak jalanan, pajak jawara, pajak DKI, pajak penjualan, pajak penghasilan, bahkan diwaktu lebaran tetap dipaksa membayar zakat meskipun dia bukan beragama Islam dan tetap menyembah Toapekongnya dirumah yang katanya membawa banyak rezeki. Padahal orang2 seperti si Aseng inilah sokoguru yang membiayai negara RI untuk tetap berputarnya roda pemerintahan. Orang2 seperti si Aseng inilah yang dibebankan untuk membayar ongkos guru2 agama Islam meskipun si Aseng enggak pernah percaya Allah. Orang2 seperti si Aseng inilah yang membiayai pembangunan mesjid maupun yang menanggung beban gaji pegawai2 departement Agama. Betul, dunia Islam di Indonesia juga menghasilkan milyardan rupiah dari ONH, namun uang ini tidak masuk pembukuan pemasukan negara. Juga MUI menghasilkan ratusan milyard rupiah hingga triliunan rupiah dari stiker halal semua pabrik makanan dan semua pabrik2 yang bukan manakan. Tapi kesemuanya ini bukan menjadi uang pemasukan negara melainkan di-bagi2kan kepada semua pejabat2 negara sebagai bonus yang pada waktunya bisa berubah menjadi tuduhan penggelapan uang negara yang akhirnya dituduh korupsi hingga dipenjara sebagai koruptor seperti yang dialami oleh bekas menteri agama yang lalu. Mengerikan, benar2 mengerikan kondisi negara ini. Rakyat tetap tertindas, umat agama2 minoritas sudah diperas malah kepercayaan merekapun diganggu gugat agar bisa masuk Islam sehingga menambah jumlah sumbangan yang sudah tak terukur ini. Kalo saja rakyat RI ini membayar pajak seperti di Amerika, saya jamin bahwa setiap penganggur tak perlu kuatir lagi karena negara mampu menjamin kehidupan penganggur, menjamin orang2 tua, orang2 jompo, orang2 cacat dan juga menjamin sekolah gratis dari sd hingga sarjana muda. Kalo dibandingkan dengan jumlah penduduknya, maka Amerika yang berjumlah 270 juta jiwa dibandingkan dengan Indonesia yang berjumlah 230 juta jiwa, maka semua yang saya katakan diatas akan memastikan bahwa Indonesia akan menjadi negara makmur yang sama seperti Amerika asal dikelola dengan benar, adil dan tidak melakukan diskriminasi agama dimana muslim dibebaskan pajak sedangkan non-muslimnya dibebani pajak hingga tak bisa maju, yaitu kedua-duanya jadi tidak bisa maju. Kalo yang non-muslim tidak bisa maju karena dibebani pajak yang terlalu besar, sebaliknya yang muslim juga tidak bisa maju karena pemborosan biaya tetek bengek keimanannya sehingga tidak bisa memanfaatkan untuk aktivitas2 yang produktiv. Ny. Muslim binti Muskitawati. ------------------------------------ Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
