Sudah ada film tentang nabi Muhammad yang dibintangi oleh Anthony Queen, 
produksi Hollywood.

  ----- Original Message ----- 
  From: ayub yahya 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, December 07, 2008 8:55 AM
  Subject: Re: [proletar] Kehidupan Yesus di Mata Sutradara Muslim Iran


  Bagaimana seandainya nanti juga akan ada film yang bercerita tentang nabi 
muhammad saw... misal judulnya : Kehidupan Muhammad di Mata Kristen Belanda
  Kira-kira ummat muslim bisa ga yaa menerimanya ?!
  Kalo seandainya bisa menerima ... it's okay.
  Tapi kalo tidak.... makin ramai dunia ini dengan hujan bom oleh para teroris
  Bisakah ummat islam berdialog dengan logika ?! ... mengingat ajaran mereka 
tuh penuh doktrin... ummat muslim tidak boleh berpikir, mutlak harus percaya 
bhw muhammad adalah rasul.. sementara ini ajaran2 muhammad makin dicurigai, 
ajaran yang memusuhi yahudi dan orang kafir.

  AY

  --- On Sun, 12/7/08, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
  Subject: [proletar] Kehidupan Yesus di Mata Sutradara Muslim Iran
  To: [EMAIL PROTECTED]
  Date: Sunday, December 7, 2008, 4:40 PM

  http://www.republik a.co.id/berita/ 184.html

  Kehidupan Yesus di Mata Sutradara Muslim Iran

  By Republika Contributor

  Kamis, 17 Juli 2008 pukul 17:41:00 

  "Ini Yesus," kata seorang pria.

  Yesus, yang ditunjuk pun duduk di samping kawannya, Nader Talebzadeh. Nader 
ialah sutradara Iran yang saat ini membesut film "Jesus Spirit of God", film 
terbaru bertema kisah hidup Isa Al Masih dalam versi Islam. Tokoh yang oleh 
umat Nasrani dipercaya sebagai messiah, anak Tuhan yang disiksa kaum Judah dan 
pengabar kedatangan Muhammad sebagai utusan terakhir, diperankan oleh Ahmad 
Soleimani-Nia, pria yang dipanggil Yesus tadi, ketika sang sutradara 
mengenalkan aktor utamanya kepada publik

  "Saya berdoa untuk umat Kristiani. Mereka salah memahami. Suatu hari, mereka 
akan menyadari kebenaran cerita yang sesungguhnya, " ujar Nader saat 
diwawancarai oleh Los Angeles Times, April silam. Kini film Nader telah 
mengikuti seleksi di beberapa festival film Internasional dan dipasarkan secara 
meluas.

  Untuk menggarap film Jesus Spirit, Nader mengaku mengambil acuan dari naskah 
Al Qur'an dan ajaran Barnabas-yang oleh banyak pelajar Barat dianggap sekedar 
dongeng fabel era pertengahan. Premis yang diusung dalam film ini bisa ditebak, 
Yesus ialah penyebar kasih sayang dengan mukjizat keajaiban, tapi tidak mati 
disalib dan tidak bangkit dari kematian. Nader memang ingin memberi pesan, jika 
Kristen, kepercayaan yang dianut lebih dari 2 milyar umat dan inti dari 
mayoritas filosofi barat ialah berdasar hal yang salah.

  Nader yang tumbuh di Iran saat pemerintahan Shah Mohammed Reza Pahlevi 
menuturkan jika di tahun 1970 dirinya hijrah ke Amerika dan menimba ilmu di 
American University, Washington, DC dan Colombia University, New York. Ia 
mengaku menyaksikan momen-momen protes anti perang terhadap Vietnam dan 
mundurnya Richard Nixon, di Negara Paman Sam tersebut

  Saat itu Iran masih menjadi sekutu Amerika. Status berubah di tahun 1979, 
ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini memimpin revolusi Islam dan menempatkan 
ulama di pucuk pimpinan serta sempat menyandera 52 warga Amerika selama 444 
hari.

  "Saya kembali ke Iran dengan perasaan bahwa ada salah paham yang besar dari 
Barat tentang negara saya. Iran dipropaganda hitam,"ujar Nader

  "Jika ada satu hal yang ingin saya lakukan dalam hidup ialah membuat film 
ini," ungkap sutradara yang memenangkan penghargaan Dialog Antar Kepercayaan di 
Religion Today Film Festival, Italia, 2007 silam. "Saya tidak berkata Yesus 
tidak disalib. Tuhan yang melakukan. Itu semua ada di Al Qur'an. Film ini 
dibuat dengan keyakinan. Saya mencoba membuatnya seindah yang saya bisa," 
imbuhnya

  Ia sendiri berharap jika film 35-milimeter besutannya mampu memulai dialog 
antar agama. "Kita harus bergabung bersama dalam dunia informasi serba cepat, 
tidak untuk memberi pemahaman distorsi. Kita harus berkata, 'Sudahkah anda 
melihat pintu ini untuk mengetahui kebenaran tentang Yesus," ujar Nader

  Beberapa warga Amerika telah 'mengintip' melalui pintu Nader. Film tersebut 
telah diputar empat kali di depan publik Amerika dan baru-baru ini diseleksi 
untuk mengikuti Festival Film Philadelphia, AS. Ia mengatakan jika sebenarnya 
banyak orang yang menerima dengan pikiran terbuka dan bahkan tergelitik dengan 
pertanyaan sejarah dan agama yang ditimbulkan 

  Jesus Spirit ini nyaris dibuat selama sepuluh tahun. Ia keluar saat 
perdebatan keras retorika antara Washington dan Tehran dan pemisahan antara 
Islam dan Barat yang telah menghasilkan situs-situs online jihad, bermacam 
rekaman apokalipse di DVD, editorial kartun Nabi Muhammad, saw, dan terakhir 
rekaman Osama bin Laden yang menantang Pope Benedict XVI untuk "perang salib 
baru" melawan Islam.

  Sejak dulu agama memang menjadi inti dari ketegangan antara Timur dan Barat. 
Kondisi tersebut diperparah dengan perang budaya yang lebih luas ketika simbol 
dan teks suci diserang dan dimanipulasi dalam internet, film dan TV kabel,. 
Film Belanda terbaru yang diproduksi golongan sayap kanan misalnya, 
membandingkan Al Qur'an dengan "Mein Kampf" milik Adolf Hitler. Film tersebut 
menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan. Sebagai balasan, blogger asal 
Saudi memposting video yang menunjukkan jika Injil dapat dimaknai sebagai 
dokument strategi perang

  Nader pun memahami jika Yesus versi filmnya berada di wilayah yang rentan dan 
sensitif. Seorang blogger Kristen dengan marah menuliskan jika banyak kesalahan 
dalam pemahaman sang sutradara akan Yesus dan Kekristenan. "Itu hanyalah salah 
satu propaganda Setan yang tidak memang tidak memiliki tujuan nyata dalam 
hidup,"

  Durasi asli serial sepanjang 1000 menit ini diedit dalam format DVD kasar 
seharga $5 perkepingnya, dan TV Iran siap menyiarkan. Menyajikan tokoh Isa 
sebagai nabi yang menyampaikan ajaran agama, bergerak dalam cahaya lembut dan 
senandung khudus ditengah hiruk-pikuk kaum Bani Israil.

  Narasi dan dialog yang disajikan berdasarkan ajaran Islam dan Injil Barnabas, 
kitab terakhir-yang menurut sutradara-disembuny ikan oleh otoritas gereja agar 
tidak mengganggu stabilitas iman umat Kristen. 

  Banyak pelajar mempercayai jika gospel atau ajaran Kristen,( tidak termasuk 
karya kanonik di awal Gereja Katholik) yang ditulis beberapa abad kemudian 
ialah turunan dari Barnabas. Kitab tersebut memang beririsan dengan 
cerita-cerita Mathius, Markus, Lukas, Yohannes namun tidak menulis keberadaan 
Yesus sebagai anak Tuhan.

  Cerita Barnabas beresonansi dengan kaum Muslim yang mempercayai ajaran Al 
Qur'an jika, Isa lahir dari perawan, bukan Tuhan melainkan salah satu dari lima 
rasul besar.

  Dalam film tersebut Nader juga menunjukkan jika Yesus bangkit menuju Surga 
sebelum prajurit Romawi mendatangi. Judas, salah satu murid Yesus yang 
berkhianat berubah mirip sang guru dan dialah yang disalib. Berdasar 
kepercayaan Islam, Yesus saat ini hidup dan akan kembali untuk mengalahkan 
iblis.

  "Barnabas ialah mata rantai yang hilang, dan dunia masih belum siap untuk 
menerimanya kembali. Itu ialah bagian teks yang harus kita lihat dan kaji 
pula," kata Nader,

  Nia Sang "Yesus"

  Dia ialah Muslim Iran yang sangat mirip dengan imej Yesus versi Hollywood 
bahkan versi Renaisan. Ahmad Soleimani-Nia telah memerani tokoh Yesus selama 
tujuh tahun, memelihara rambut dan janggutnya tetap panjang

  Melihat raut mukanya, Nia-begitu aktor utama ini kerap disapa-sangat mirip 
bintang rock tahun 1970-an. Dia tidak pernah berakting sebelumnya, namun 
kulitnya yang terang dan sudut wajahnya yang tajam bercampur dengan ciri Timur 
Tengah, mampu menggabungkan estetika Barat dan spirtualitas Timur

  Dalam kehidupan nyata, Nia tinggal di Tehran. Dia dulu adalah anggota tentara 
angkatan darat Iran dan menjadi ahli besi dalam Badan Energi Atom Iran, yang 
dituduh pemerintah Bush kedok bagi pengadaan senjata. Itu merupakan fakta ironi 
bagi masyarakat barat khususnya Amerika Serikat

  Fakta ini mungkin mengganggu beberapa warga Amerika, terutama dari sayap 
kanan. Namun sepertinya tidak akan semengganggu pesan yang disampaikan oleh 
film itu sendiri, yaitu Yesus tidak disalib dan tidak bangkit dari kematian.

  "Saya tidak pernah ingat mengapa saya begitu terlibat dengan peran ini," kata 
Nia, pria yang lahir di bagian barat Iran dekat wilayah Kurdistan Irak. "Itu 
bermula ketika saya masih kecil, usia 7 atau 8 tahun. Saya melihat lukisan 
Leonardo da Vinci 'Last Supper' dan saya diidentikkan dengan Yesus. Dia selalu 
bersama saya sejak itu. Dalam lingkungan saya, dengan rambut panjang dan 
jenggot tebal, saya dianggap sebagai Yesus," tuturnya.

  Nader si sutradara sendiri sempat melontarkan canda ketika ia tengah mencari 
pemeran utama namun tak kunjung mendapatkan. Menemukan Nia ternyata berawal 
dari ketidaksengajaan. Menurut Nader, suatu hari, asistennya menunjuk Nia yang 
sedang melintas di sebuah jalan dan berteriak. "Aku temukan Yesus mu!"./itz

  [Non-text portions of this message have been removed]











  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke