Soal pandangan obyektif sebetulnya cukup lumrah di Indonesia. Kalau tidak, mana 
mungkin Indonesia - terutama muslimnya - mencegah Piagam Jakarta masuk dalam 
Pancasila. Sayangnya kecerdasan intelektual & emosional itu (aqli & naqli) 
tidak dirawat dengan baik sehingga Indonesia sekarang seolah tidak punya 
kecerdasan apa-apa - bisanya cuma ternganga melihat bangsa lain yang sepertinya 
lebih cerdas dari bangsa Indonesia. 

Padahal, penulisnya sendiri (Sdr. Luth) menemukan kenyataan bahwa seorang rabbi 
dari bangsa yang dia bilang penuh kehangatan dan humoris itu mengaku koleksi 
leluconnya kalah jauh dibanding Gus Dur yang adalah bangsa Indonesia; ungkapan 
“more jewish than me” berkonotasi Gus Dur (Indonesia) 'lebih cerdas' dari si 
rabbi (Israel). Ini adalah sebutir kenyataan yang seharusnya bisa menghindarkan 
si penulis dari kecerobohan mencemooh bangsa Indonesia - terutama umat Islamnya 
- dengan ungkapan: "kebodohan yang tak tertanggulangi". 

Okelah orang Israel itu cerdas-cerdas menurut dia. Tapi jelas tingkat 
kecerdasan mereka tidak pernah bisa membedakan mana yang orang bersenjata 
(umumnya lelaki dewasa) dan mana yang perempuan serta anak-anak tak bersenjata 
(sipil). Sementara, pembantaian di Gaza hari ini bukan yang pertama, Israel 
juga membantai di Jenin (2002) serta Sabra & Shatila (1982). Lalu apa ukuran 
kecerdasan untuk bangsa yang mencari jarum dengan membakar gudang jerami? 

Laporan perjalanan itu kelihatannya dibikin dengan semangat melucu kok. Lihat 
saja si penulis bisa sangat memahami sikap petugas imigrasi Israel (mestinya 
tak bersenjata) yang serius, tegas, bahkan keras. Sebaliknya, timbul hasrat dia 
untuk meledak ketika tentara Yordania (pasti bersenjata) tersenyum 
mempersilakannya lewat tanpa harus mengucap passwords. 

--- iwamardi <iwama...@...> wrote:

> Untuk  mendapatkan pandangan yang obiektif tentang sesuatu,
> kita butuh mengetahui pandangan pandangan yang bermacam
> macam. Dibawah adalah salah satu cukilan pandang dari
> seseorang , yang lain dari biasanya di Indonesia.
> 
> 
> 
> 
> Jum’at, 02 Januari 2009
> Dari Luthfie Asyaukanie untuk Israel
> Keterpesonaan Luthfie pada Israel
> Beberapa Catatan dari Israel
> 
> Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal
> berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota
> Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel
> Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang
> Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman
> seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan
> orang-orangnya.
> 
> Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel
> mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang
> informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak
> terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di
> benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak
> Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira).
> Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan
> sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari
> sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa
> orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan
> cenderung bersahabat.
> 
> Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi
> mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang
> Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh
> dibandingkan Gus Dur yang katanya “more jewish than me.”
> Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku
> serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang
> persaingan orang Yahudi dan orang Cina.
> 
> Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari
> cerita tentang Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini
> tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab: hangat,
> humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian
> memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang
> membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang
> Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos
> yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya
> jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan
> kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah
> bisa menandingi Israel.
> Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan
> sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang
> laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang Israel yang
> saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa
> sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah
> orang-orang Yahudi.
> 
> Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang
> Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan,
> diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai,
> semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka senang
> sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa
> Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya
> ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel.
> Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab,
> di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi
> lainnya.
> 
> Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat
> cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang
> bermukim di Israel. Dengan menguasai bahasa Arab,
> orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk
> menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak
> mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena
> bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak
> dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang
> Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar
> dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa
> Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.
> 
> Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras,
> benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi.
> Mereka memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di
> tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus serius
> dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang
> diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.
> 
> Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan
> kantor2 imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel
> dibangun dari sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun
> merdeka, negeri ini menjadi sebuah surga di Timur Tengah.
> Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti avenues di New
> York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya pada
> Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang
> terbaik di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang
> terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di sepanjang
> jalan.
> 
> Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka,
> bukan karena ada memori holocaust yang membuat mereka
> terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang berdaulat, tapi
> karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap ciptaan
> Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka
> tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka
> bangun dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan
> di Israel, saya teringat sajak Iqbal:
> 
> Engkau ciptakan gulita
> Aku ciptakan pelita
> Engkau ciptakan tanah
> Aku ciptakan gerabah
> 
> Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya’kub) adalah
> satu-satunya Nabi yang berani menantang Tuhan untuk
> bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama Israel
> (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan) disematkan
> kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel
> menang telak bergulat dengan Tuhan.
> 
> Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang
> mereka sulap dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga.
> Bahwa mereka punya alasan historis untuk melakukan itu, itu
> adalah hal lain. Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict
> Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih
> banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah
> komunitas. Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah
> melakukan itu dengan baik.
> Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore
> membisiki saya: “orang-orang Arab itu mau enaknya saja.
> Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga
> oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di
> negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?” Problem
> besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak
> bisa menerima “two state solution,” meski itu adalah
> satu-satunya pilihan yang realistik sampai sekarang. Jika
> saja orag-orang Palestina dulu mau menerima klausul itu,
> mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak akan ada
> terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak
> akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi
> orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa
> dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel, orang-orang
> Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.
> 
> Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua
> Jerussalem, tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di
> sana. Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya
> bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada persis di
> tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah Abang
> lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu
> saja, sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang
> membentuknya seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia
> seperti Istanbul di Turki atau Muenster di Jerman yang mini
> namun memancarkan keindahan dari kontur tanahnya. Kota Tua
> Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan sama
> sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.
> 
> Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota
> Tua dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat
> kecil yang sama sekali tak menarik itu begitu besar
> gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan pertikaian ribuan
> tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak
> ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua
> hanyalah sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di
> atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin
> al-Ayyubi, Richard the Lion Heart, the Templer, dan para
> penziarah Eropa yang berbulan-bulan menyabung nyawa hanya
> untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib. Agama
> memang tidak masuk akal.
> 
> Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah
> bagian dari Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan
> sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian
> dari Israel. “Dulu,” katanya, “ada tembok tinggi yang
> membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat. Persis
> seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem
> menjadi satu kembali.” Yang membuat saya tertegun bukan
> cerita itu, tapi pemandangan kontras beda antara Jerussalem
> Timur dan Jerussalem Barat dilihat dari ketinggian..
> Jerussalem Timur gersang dan kerontang, Jerussalem Barat
> hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian besar
> Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang
> Yahudi.
> 
> Saya protes kepada Guide itu, “Mengapa itu bisa terjadi,
> mengapa pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?”
> Dengan senyum sambil melontarkan sepatah dua patah bahasa
> Arab, ibu cantik itu menjelaskan: “ya akhi ya habibi,
> kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada
> urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan
> Arab adalah, yang pertama suka sekali menanam banyak jenis
> pohon di taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah
> yang bisa kita pandang dari sini, mengapa Jerussalem Barat
> hijau dan Jerussalem Timur gersang.” Dough! Saya jadi
> ingat Bernard Lewis: “What went wrong?”
> 
> Ada banyak pertanyaan “what went wrong” setiap kali
> saya menyusuri tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota
> Tua dibagi kepada empat perkampungan (quarter): Muslim,
> Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian ini sudah ada sejak
> zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi
> sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong
> yang cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan
> Kristen dan Armenia. Tibalah saya masuk ke perkampungan
> Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap,
> tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak
> sedap terasa menusuk.
> 
> Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter
> Muslim, tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana,
> saya hampir tertipu soal pengembalian uang. Saya sadar,
> quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga
> punya hasrat menipu.
> 
> Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada
> di perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan
> al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah
> kebodohan umat Islam yang tak tertanggulangi, yang berasal
> dari sebuah teologi abad kegelapan. You know what? Saya
> dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di
> tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan
> dan tak ada penjagaan sama sekali.
> 
> Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga
> berseragam tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit
> seorang syeikh berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap
> penziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama yang mereka
> ajukan: “enta Muslim (apakah kamu Muslim)?” Jika Anda
> jawab ya, ada pertanyaan kedua: “iqra al-fatihah (tolong
> baca al-fatihah).” Kalau hafal Anda lulus, dan bisa masuk,
> kalau tidak jangan harap bisa masuk.
> 
> Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung
> nyerocos saja dengan bahasa Arab, yang membuat mereka
> tersenyum, “kaffi, kaffi, ba’rif enta muslim (cukup,
> cukup, saya tahu Anda Muslim).” Saya ingin meledak
> menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim
> mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah
> turisme dan bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi
> dan Kristen rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak
> keberatan jika semua pengunjung, tanpa kecuali, boleh
> mendatangi rumah-rumah suci mereka.
> 
> Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan
> senang dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga
> tak ada gunanya). Akibat screening yang begitu keras, hanya
> sedikit orang yang berminat masuk Haram al-Syarif. Ketika
> saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak
> penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan
> seluruh latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya
> dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah tuhan ini begitu sepi
> dari pengunjung.
> 
> Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena
> orang-orang non-Muslim haram masuk wilayah mesjid. Bahkan
> orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai membaca al-Fatihah
> tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu menganggap
> non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah
> Allah.
> Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali
> ke tembok ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak
> bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan yang tak masuk
> akal.
> 
> Luthfi Assyaukani (orang Paramadina Mulia Jakarta) yang
> menganggap teks Al-Qur’an mengalami copy editing oleh para
> sahabat. Ungkapan untuk meragukan kemurnian Al-Qur’an ini
> disiarkan lewat internet JIL, islamlib.com: “Saya
> cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah
> kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian
> mengalami berbagai proses copy-editing oleh para sahabat,
> tabi'in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan
> kekuasaan.” (Islamlib.com --Merenungkan Sejarah Alquran,
> Oleh: Luthfi Assyaukanie Tanggal dimuat: 17/11/2003). 






      

------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke