--- In [email protected], Crea†ure First
<creature...@...> wrote:

Cerita masa lalu dari dalam negeri , pemberontak islam di sikat TNI
nih....berapa nyawa orang islam yang hilang ditangan TNI tuh...
 
"Kamis (29/5), Letjen (Purn) Kemal Idris bercerita, TNI dulu sangat
dekat dengan rakyat karena TNI menganggap dirinya bagian dari rakyat dan
berjuang untuk kepentingan rakyat. "Kita mengajak rakyat untuk
menghadapi DI/TII dan PRRI/Permesta," kata mantan Panglima Kostrad yang
sebelumnya menjadi Komandan Brigade VII Siliwangi saat penumpasan DI/
TII di Jawa Barat.
Senada dengan Kemal Idris, Letjen (Purn) Solihin GP mengatakan, TNI
tidak akan bisa menjalankan tugasnya kalau tidak berintegrasi dengan
masyarakat. Ia juga menceritakan bagaimana masyarakat bersama tentara
melakukan Operasi Pagar Betis sehingga pemberontakan Kartosuwirjo dapat
ditumpas setelah berjalan kurang lebih tiga belas tahun (1949-1962).
Operasi kontragerilya, kata Solihin, pada intinya adalah memisahkan
pasukan dari rakyat.
Mantan Kepala Staf Umum TNI Letjen Suaidi Marasabessy mengatakan,
pemberontakan DI/TII dan PRRI/Permesta sama metodenya dengan
pemberontakan GAM yang menggunakan perlawanan bersenjata dengan gerilya.
Perbedaan dengan pemberontakan separatis yang lain, GAM banyak
menyertakan perjuangan diplomasi untuk menarik simpati internasional.
Tujuannya, internasionalisasi konflik yang menginginkan institusi
internasional terlibat.
Untuk itu, TNI harus dapat memetakan kekuatan GAM dan rakyat secara
spesifik. Di sinilah inti perlawanan terhadap gerilya. Operasi ini
dilakukan dengan operasi intelijen, termasuk di dalamnya operasi
penggalangan, yaitu bagaimana mendekati rakyat dan mempengaruhi pikiran
dan emosi rakyat agar berpihak kepada NKRI.
Dalam kasus DI/TII, rakyat menjadi antipati terhadap DI/TII yang setahun
sebelum selesai ditumpas mulai menculik, membunuh, dan menyiksa
masyarakat. Menurut mantan Panglima Kodam VII/Wirabuana ini, GAM telah
menunjukkan modus operandi yang sama sehingga secara militer GAM sudah
bisa dibilang lemah karena menyimpang dari doktrin perang gerilya yang
harus dekat dengan rakyat.
Suaidi Marasabessy cukup optimistis dengan operasi militer di Aceh saat
ini karena berbeda dengan DOM. Operasi saat ini sudah ada payung
hukumnya sehingga ada aturan yang jelas, siapa yang bertanggung jawab
dan apa saja hak rakyat.
Suaidi Marasabessy mengatakan, sejak tahun 1982, TNI telah mengadopsi
berbagai doktrin Divisi Siliwangi menjadi doktrin TNI. Hal ini dilakukan
karena keberhasilan prajurit Siliwangi dalam berbagai aksi penumpasan
pemberontak karena kedekatannya kepada rakyat. "Namanya doktrin
Kuterimbat," kata Suaidi Marasabessy mengenai Doktrin Kujang Teritorial
Intelijen Kombat.
ISI doktrin ini di antaranya Adu Bako. Praktiknya, adu bako adalah saat
seorang prajurit memberikan satu batang pada orang lain, untuk pada kali
berikutnya dia dapat sepuluh batang dalam bentuk rokok atau informasi.
Doktrin lain adalah menembak di ujung laras, yaitu peluru itu tepat kena
musuh dan tidak menyimpang kena rakyat. Doktrin ketiga, menyerang
bertubi-tubi, sekali kontak jangan lepaskan, kejar terus. Ada juga
istilah tepas batur, yaitu bermalam di teras rumah rakyat dan tidak
mengelompok sendiri.
"Saya ingat bagaimana orang Makassar kaget waktu ada tentara dari Jawa
menjadi imam di masjid," kata pengamat militer Salim Said. Kehadiran
Panglima Komando Pemulihan Keamanan Sulawesi Selatan Kolonel R Sudirman
merupakan sosok Muslim yang taat cukup berhasil membantah opini yang
disebarkan DI/TII. Saat itu, Kahar Muzakar mengampanyekan bahwa pasukan
yang diperanginya adalah Tentara Djawa Komunis (TDK).
Rakyat Sulawesi Selatan menganggap lawannya sebagai si kafir dari Jawa.
Padahal, menurut hasil penelitian Barbara Sillars Harvey, intelektual
dari Cornell University, DI/TII di Sulawesi Selatan dimulai sebagai
suatu perselisihan tentang status militer dan tuntutan keadilan. Para
gerilyawan Sulawesi Selatan yang ikut perang kemerdekaan tidak diterima
masuk ke dalam TNI karena dianggap tidak memenuhi syarat, seperti
pendidikan formal. Kahar Muzakar sebagai perwira paling senior menjadi
pemimpin para pejuang ini dalam Kesatuan Gerilja Sulawesi Selatan
(KGSS).
Menurut buku Barbara yang berjudul Pemberontakan Kahar Muzakkar dari
Tradisi ke Di/TII, foto kopi surat-menyurat antara Kahar dan komandan
Darul Islam di Jawa Barat, Sekarmadji Kartosuwirjo, menjadi bukti
pengangkatan Kahar sebagai Panglima Divisi IV Tentara Islam Indonesia
(TII). Ideologi islam diambil Kahar tidak karena latar belakang agama
semata, tetapi juga pertimbangan dukungan bangsawan yang banyak berjuang
saat itu. Walau sempat menjalin kontak dengan PKI, Kahar memilih untuk
mendasarkan perjuangan pada Islam. Banyaknya bangsawan yang ikut
berjuang.
Penumpasan dimulai akhir tahun 1952. Jumlah pasukan saat itu meningkat
menjadi 19 batalyon, 12 di antaranya dari Jawa, bandingkan dengan tahun
1951, di mana hanya ada tujuh batalyon TNI di Sulawesi Selatan. Bulan
September 1952, operasi Halilintar digelar. Bersamaan dengan semakin
banyaknya putra daerah memegang berbagai jabatan strategis, dan tindakan
DI/TII yang banyak membakar rumah dan kekerasan kepada rakyat, DI/TII
mulai kehilangan pengaruhnya tahun 1962. Akhirnya, Kahar Muzakar
ditembak mati di dekat Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara, 3 Februari
1965.
Dalam biografinya, Nasution menyebutkan angka total 9.321 orang
pemerintah pusat meninggal dalam pertempuran memberantas PRRI. Sementara
3.944 hilang di pihak pemerintah pusat dan 22.174 tewas di pihak
pemberontak.
Biografi Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan oleh Julius Pour
menceritakan cukup rinci bagaimana operasi itu dilakukan.
Ditaksir, PRRI/Permesta memiliki kekuatan 10.000-15.000 orang tersebar
di wilayah Sulawesi dan Sumatera. Kendala utama pemerintah pusat adalah
kesulitan logistik.
Untuk mengecoh pemberontak, AH Nasution mengirim kawat bertuliskan
pengiriman satu batalyon, padahal yang dikirim hanya satu kompi RPKAD di
bawah Letda LB Moerdani. Dalam pertempuran di luar Pematangsiantar,
tewasnya Kopral Sihombing menjadi simbol bahwa perang itu bukan perang
Sumatera lawan Jawa.
Hanya dua bulan setelah proklamasi PRRI 15 Februari 1949, pemerintah
akhirnya menjalankan Operasi 17 Agustus, dengan Kolonel A Yani sebagai
komandan. Pasukan Infanteri dari Divisi Diponegoro dan Brawijaya serta
pasukan Pendarat dari KKO TNI AL dikerahkan. Operasi 17 Agustus ini
menggunakan enam kapal perang, 19 kapal pengangkut, 6.500 personel
militer, termasuk satu batalyon pasukan KKO TNI AL. TNI AU mengerahkan
25 pesawat C-47 Dakota, enam pesawat pemburu P-51 Mustang, delapan
pengebom B-25 Mitchell, dan enam pesawat AT-16 Harvard. Serangan dimulai
pukul 00.00 tanggal 17 April 1958. Operasi sempat diduga bocor. Namun, A
Yani memutuskan operasi harus jalan terus.
Tembakan salvo KRI Gadjah Mada pukul 04.00 tanggal 17 April membuka
pertempuran. Ribuan bambu runcing di landasan udara serta barisan
pertahanan mortir di sepanjang pantai serta perbukitan di sekeliling
kota telah menunggu. Pemberontak mencoba lari ke perbukitan Bukittingi.
Selanjutnya, salah seorang pemimpin PRRI Achmad Husein membangun
markasnya ke Solok. Tujuh belas hari setelah operasi di mulai, sudah
tidak ada perlawanan PRRI yang berarti di seluruh Sumatera."
 
 
---------- Forwarded message ----------
From: tawangalun tawanga...@...
Date: 2009/1/9
Subject: [islamkristen] Re: "justifikasi" Israel ngabisin orang Islam
To: [email protected]

 

Yahudi itu kan proaktif gak usah diperintah kitabnya wae wis do
mbunuhi.
Coba ketika mereka th 1948 mereka ngesuk Palestina berapa nyawa yang
sudah hilang,Sabra dan satila berapa.

Shalom,
Tawangalun.

- In [email protected], "Rahman Ikhwansyah"

nyawa.iblis@ wrote:
>
> bayangkan kalau misalnya kitab suci yahudi mengatakan : "halal
membunuh
> muslim. Muslim musuh yahudi, dan jangan pernah mengambil teman
dengan muslim
> apalagi mengangkat pimpinan dari muslim" dan ayat ayat tersebut di
abadikan
> turun temurun sehingga orang yahudi akan terus berupaya bagaimana
> memusnahkan muslim. kemudian, yahudi tersebut misalnya dengan enteng
> mengatakan, agama yahudi adalah agama yang damai. bagaimana perasaan
orang
> islam ???....
>



> On Fri, Jan 9, 2009 at 8:28 AM, item abu itemabu@ wrote:
>
> > *Following are excerpts from speeches by Arab Islamic
leaders
> > expressing solidarity with Gaza, which aired on Al-Manar and Al-
Aqsa TV,
> > December 3 and 5, 2008. Sheik Himam Sa'id, Supreme Guide of the
Muslim
> > Brotherhood in Jordan: *
> >
> > *Oh noble Gaza, raise your head high. You have made the Muslims
raise
> > their heads high. And you, people of Hebron - you are now waging a
war
> > against the Jews. You are well-versed in this. We saw how, on a
day in 1929,
> > you slaughtered the Jews in Hebron. Today, slaughter them on the
land of
> > Hebron. Kill them in Palestine. Arise, oh people of Palestine, all
the
> > people of Palestine - arise in defense of your Al-Aqsa Mosque,
arise in
> > defense of Nablus and Hebron. Arise and face the [PA] Preventive
Security
> > forces. Fear them not, for they are rabbits. They are wolves, so
fear them
> > not, oh lions.*
> >
> >
> > Kalo nurutin logika Islam sih, ocehan kayak gini udah ngasih
justifikasi
> > buat Israel ngabisin orang Islam di seluruh dunia.
> >
> > Tp ada logika Islam lainnya yg bilang cuma orang Islam aje yg
boleh
> > ngebunuhin orang lain, orang lain kagak boleh ngebunuh orang
Islam.
> >
> > Itulah indahnya Islam, bukan? Hehehe....
> >
> > Ga ada koq orang Islam yg ngebantah logika Islam yg gw kemukakan
ini,
> > berarti emang kayak gitu tuh logika Islam yg benar.
> >
> >
> >
>




Messages in this topic (3) Reply (via web post) | Start a new topic

Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls

MARKETPLACE



>From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

--- End forwarded message ---



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke