Eksploitasi Hamas atas Penduduk Sipil Sebagai Tameng Hidup

Studi ini mempelajari bahwa Hamas dan organisasi teroris lainnya di 
Jalur Gaza secara ekstensif memanfaatkan penduduk sipil Palestina 
sebagai tameng hidup. Hal ini menggambarkan bahwa organisasi teroris 
membangun infrastuktur militer besar di Jalur Gaza, termasuk tempat 
penyimpanan roket besar dan misil yang digunakan untuk menjadikan 
penduduk Israel di bagian selatan sebagai sasaran (sejak tahun 2001-
2008 lebih dari 8.000 roket dan misil telah ditembakkan pada kawasan 
pemukiman Israel). Infrastruktur militer teroris disembunyikan di 
dalam dan berada di sekitar rumah penduduk serta menyebar di lokasi 
sekitar Jalur Gaza, tempat yang diperkirakan ditinggali lebih dari 
1.4 juta orang, yang merupakan salah satu kawasan pemukiman yang 
padat di dunia. 

Diperkirakan, terus menerusnya penggunaan penduduk sipil sebagai 
tameng hidup bertujuan untuk mengurangi kelemahan Hamas dan 
organisasi teroris Palestina lainnya dengan diperolehnya kesempatan 
mendapatkan sejenis imunitas dari aktifitas antiterorisme IDF, 
karena mereka sadar bahwa Israel sedapat mungkin akan menghindari 
jatuhnya korban penduduk sipil. Hal ini juga bermaksud memungkinkan 
Hamas dan organisasi teroris lainnya mendapat keuntungan propaganda 
politik dari pertempuran karena segenap hati dan segenap pikiran 
menyatakan Israel sebagai pelaksana operasi terhadap penduduk yang 
tidak bersalah ini. Doktrin organisasi teroris yang menggunakan 
tameng hidup diprakarsai oleh taktik Hizbullah di Libanon dan 
melalui pelajaran yang mereka terima dari kampanye para teroris, 
yang mulai mereka gunakan terhadap Israel sejak tahun 2000.



Hari ini Hamas dan organisasi teroris lainnya memiliki sebanyak kira-
kira 20.000 mata-mata bersenjata di Jalur Gaza dengan berbagai jenis 
keterampilan.  Mereka memiliki senjata ringan, senjata anti-tank, 
perlengkapan ledak yang sangat kuat, roket dan misil. Infrastruktur 
militer mereka terletak di lokasi penduduk (dengan kota Gaza sebagai 
urat nadi) dan delapan kamp pengungsi yang padat penduduk di 
sepanjang Jalur Gaza.

Hamas dan organisasi teroris lainnya meniru dan mengembangkan 
doktrin perang Hizbullah, yang didasarkan atas eksploitasi penduduk 
sipil sebagai tameng hidup. Mereka menggunakannya pada kondisi unik 
di arena Gaza, yang secara topografi lebih mudah dibandingkan dengan 
yang berada di selatan Libanon. Menggunakan penduduk sipil sebagai 
tameng hidup adalah kejahatan perang, pelanggaran mutlak atas hukum 
konflik bersenjata dan kejahatan terhadap hak asasi manusia. Roket 
dan misil yang secara rutin ditembakkan dari kawasan berpenduduk 
padat serta berdekatan dengan tempat-tempat dan fasilitias umum 
(termasuk institusi pendidikan dan mesjid) memerlukan perlindungan 
khusus dari Konvensi PBB. Dalam skenario serangan ke Jalur Gaza, 
organisasi teroris akan menggunakan setting penduduk dan kamp 
pengungsi sebagai tempat utama peluncuran senjata mereka. 



Studi ini (rampung selama minggu pertama Operasi Cast Lead) 
menunjukkan banyak contoh bagaimana penduduk sipil digunakan sebagai 
tameng hidup selama teroris menyerang Israel dan perang terhadap 
Israel. Contoh-contoh ini berdasarkan pengalaman yang dikumpulkan 
Israel dalam melawan terorisme di Jalur Gaza, termasuk minggu 
pertama pelaksanaan Operasi. Penemuan yang ditemukan adalah sebagai 
berikut :

  

i. Personil militer dan keamanan, fasilitas-fasilitas dan instalasi 
terletak di dalam konsentrasi penduduk yang padat (termasuk rumah 
tinggal dan bangunan umum seperti sekolah, mesjid dan rumah sakit) : 
Infrastruktur militer secara besar-besaran diserang oleh IDF dalam 
Operasi Cast Lead, termasuk mata-mata teroris, senjata dan fasilitas 
serta instalasi mereka : markas besar, basis, kantor, gudang 
penyimpanan senjata, terowongan, jaringan bawah tanah, mesin-mesin, 
bengkel dan ruang bawah tanah. Membangun infrastruktur militer dalam 
pemukiman padat penduduk dapat menyebabkan "kecelakaan kerja" dan 
menjadikannya ujung tombak dalam pertempuran saat tentara Israel 
melaksanakan aktivitas antiterorisme atau saat ada konflik kekerasan 
internal di Palestina.

 

ii. Roket dan misil ditembakkan pada pusat-pusat pemukiman  dari 
dalam maupun daerah yang dekat dengan tempat tinggal penduduk dan 
kadang kala dari sekolah atau mesjid. Pasukan peluncur roket dengan 
sengaja menempatkan peluncurnya dekat rumah-rumah untuk menyamarkan 
situasi dan melindungi diri dari IDF. Serangan yang dilakukan oleh 
teroris sering mengganggu kehidupan sehari-hari penduduk Palestina 
dan juga membahayakan mereka. Seringkali roket meledak saat sedang 
disiapkan dan dalam beberapa kasus roket Kassam buatan rumahan (yang 
kualitas teknisnya rendah) jatuh di Jalur Gaza, bukan di Israel, 
menewaskan dan melukai penduduk sipil setempat.



iii. Teroris melawan IDF dari dalam tempat pemukiman dan fasilitas 
umum, dan membawa ambulans untuk mengevakuasi mata-mata teroris dari 
medan pertempuran : Dalam Operasi Cast Lead, mata-mata teroris 
memanfaatkan pengungsi dalam fasilitas umum seperti rumah sakit, 
sekolah dan mesjid. Pada Operasi IDF yang dilaksanakan beberapa 
tahun ini, termasuk Operasi Hot Winter di bulan Maret 2008 dan 
Operasi Autumn Clouds di bulan Oktober 2006, IDF seringkali 
berhadapan dengan mata-mata teroris yang menyerang dari dalam rumah 
penduduk. Mereka adalah para pendukung, termasuk kaum perempuan dan 
anak-anak, yang berpatroli dan menjalankan misi intelijen. Dalam 
beberapa kasus mata-mata teroris berpakaian sipil, menjadikannya 
sulit dikenali antara teroris yang menyamar dan penduduk sipil asli. 
Selama Operasi Hot Winter IDF menemukan senjata yang disembunyikan 
di sebuah mesjid di kamp pengungsi Jabaliya. Selama pertempuran di 
pemukiman Al-Zeitun di tahun 2004, para teroris menggunakan ambulans 
UNRWA untuk mengevakuasi seorang Palestina yang terluka dan para 
mata-mata teroris. Semua ini merupakan pelanggaran mutlak atas hukum 
perang dan eksploitasi  dari perlindungan khusus yang dimiliki 
tempat-tempat ibadah, instalasi medik dan kendaraan.



iv. Penduduk sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dengan sengaja 
digunakan sebagai tameng hidup untuk melindungi mata-mata teroris 
yang rumahnya takut diserang oleh IDF : Selama Operasi Cast Lead dan 
di banyak contoh di waktu lampau, organsisasi teroris telah 
mengeksploitasi peringatan IDF pada warga sipil untuk mengevakuasi 
tempat tinggalnya sebelum serangan, dengan mengirimkan anak-anak dan 
pemuda ke lokasi-lokasi yang dimaksud, menyadari bahwa IDF tidak 
akan dengan sengaja menyerang penduduk sipil. Perdana Menteri Hamas 
Ismail Haniya dan banyak pemimpin Hamas lainnya (seperti misalya 
Nizar Rayyan, yang tewas pada Operasi Cast Lead) telah sesumbar 
tentang penggunaan taktik tameng hidup mereka.



v. Teroris mengadakan pelatihan militer, latihan dan demonstasi 
pertempuran, penting untuk meningkatkan kemampuan tempur mereka dan 
meningkatkan moral, di tengah konsentrasi penduduk (di mana teroris 
merasa lebih aman daripada berada dalam situasi yang seharusnya). 
Mereka membahayakan kehidupan penduduk sipil, mengacaukan rutinitas 
sehari-hari, mengakibatkan berbagai kecelakaan kerja (penembakan 
random, ledakan) dan juga aktivitas antiterorisme IDF. Penduduk Gaza 
telah beberapa kali menyatakan permohonan pada organisasi teroris 
untuk menghentikan aktivitas ini, namun tidak berhasil. Latihan dan 
demo pertempuran meningkat dalam 6 bulan masa tenang sebelum Operasi 
Cast Lead.



vi. Perempuan dan anak-anak digunakan sebagai tameng hidup: 
Organisasi teroris mengirim 200 wanita untuk menyelamatkan belasan 
mata-mata dari mesjid Nasser di Beit Hanoun sebelah utara Jalur Gaza 
dalam aksi IDF di bulan November 2006. Para teroris berbaur dengan 
para wanita, memanfaatkan kenyataan bahwa IDF tidak akan menembak 
sembarangan pada kelompok wanita, dan melarikan diri dari daerah 
pertempuran. Dan lagi, selama pertempuran dengan IDF,  beberapa 
waktu yang lalu di Jalur Gaza, IDF seringkali menemukan para teroris 
menembaki mereka ketika mereka dikelilingi oleh anak-anak dan orang 
dewasa, terkadang atas inisiatif mereka dan kadang atas aba-aba para 
teroris (kejadian ini terdokumentasi dan tersaji di bagian belakang 
artikel ini). Wanita dan anak-anak juga digunakan dalam operasi-
operasi logistik untuk melaksanakan serangan para teroris 
(mengumpulkan informasi, menyelundupkan senjata, serangan-serangan 
bom bunuh diri dll). Taktik-taktik tersebut kemungkinan digunakan 
kembali selama operasi Cast Lead



Penduduk sipil jalur Gaza membayar harga tinggi dengan terjadinya 
kecelakaan perorangan dan kematian (studi ini mendokumentasikan 
tingginya korban akibat aktivitas teroris) dan gangguan pada 
kegiatan sehari-hari. Di luar isu penggunaan penduduk sebagai tameng 
hidup, seluruh populasi Gaza membayar mahal karena kebijakan Hamas, 
karena setelah Hamas mengambil alih Jalur Gaza di bulan Juni tahun 
2007, menjadikan lebih dari 1,4 juta penduduk Gaza sandera atas 
ideologi Islam radikal dan strategi menjadikan mereka sebagai pihak 
yang membantunya. Hamas menyeret mereka ke dalam perang tanpa akhir 
dengan Israel, konfrontasi dengan Otoritas Palestina pimpinan 
Mahmoud Abbas, penurunan hubungan dengan Mesir dan negara Arab 
lainnya, dan isolasi dari komunitas Internasional. 

Kontradiksi dasar antara kebutuhan penduduk dan kebijakan Hamas 
diperlihatkan secara jelas dengan penyerangan oleh Hamas dan 
kelompok teroris lainnya pada perbatasan antara Jalur Gaza dan 
Israel, yang merupakan jalur hidup untuk penduduk Gaza, dan karena 
berbagai kesulitan yang timbul oleh Operasi Hamas. Walaupun secara 
bertahun-tahun Hamas mencoba mengaburkan situasi Jalur Gaza sebagai 
krisis kemanusiaan dan bahkan "Holocaust", dengan melakukan serangan 
teror menyerang Israel yang menyediakan kebutuhan dasar penduduk 
Gaza. Selama bertahun tahun perbatasan Kerem Shalom, Sufa, Karni, 
Nahal Oz dan Erez, yang merupakan jalur utama untuk suplai kebutuhan 
vital dan bahan bakar, telah diserang oleh roket, misil dan 
percobaan serangan bom bunuh diri yang membawa banyak korban. 
Penembakan roket dan misil ini meningkat selama perjanjian gencatan 
senjata masih berlangsung.  Sebagai tambahan, organisasi teroris ini 
telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka menargetkan pembangkit 
listrik Ashkelon, yang menyediakan 65% listrik Jalur Gaza. 



Di masa lalu, penggunaan penduduk sebagai tameng hidup oleh Hamas 
dan terus menerusnya pengabaian kebutuhan hidup penduduknya telah 
menuai kritikan tajam dari penduduk Jalur Gaza (walaupun Hamas 
berusaha meminimalkannya melalui media yang dikuasainya), dan juga 
Otoritas Palestina dan Mesir.  Hamas mengacuhkan kritik internal dan 
eksternal, menolak untuk mengubah kebijakannya dan semakin sering 
memanfaatkan kekurangan, kemiskinan dan penderitaan di Jalur Gaza 
sebagai bahan kampanye media untuk menyerang Israel, Mesir dan 
Otoritas Palestina. 

Selama operasi Cast Lead, yang dimulai pada 27 Desember 2008, IDF 
telah melaksanakan serangan presisi pada infrastruktur militer yang 
dibangun ditengah-tengah penduduk sipil. Serangan udara Israel dari 
udara dan laut terhadap Hamas (dan organisasi teroris lainnya) yang 
terletak di antara pemukiman penduduk dapat diterima menurut hukum 
Internasional. Hal tersebut diambil karena Negara Israel perlu 
memberikan rasa aman pada penduduknya dan menjamin kesejahteraan dan 
kebutuhan dasar kehidupan dan keamanan sejalan dengan prinsip 
pertempuran bersenjata. Untuk delapan tahun rakyat Israel telah 
dihujani roket dan mortar, dan juga berbagai bentuk terorisme, 
semuanya berasal dari Hamas dan berbagai organisasi teror yang 
mengontrol Jalur Gaza dan beroperasi dari dalamnya.

Hamas dan berbagai organisasi teroris lainnya, untuk kepentingan 
mereka, menjalankan kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan 
dengan secara sengaja dan sembarangan menembakkan serangkaian roket 
pada target penduduk sipil serta menyebabkan teror yang menyedihkan, 
kematian dan kehancuran dengan pemanfaatan penduduk sipil di Jalur 
Gaza sebagai tameng hidup. Semua ini merupakan pelanggaran atas 
prinsip dasar yang membedakan antara pejuang dan non-pejuang, yang 
merupakan batu penjuru hukum perang bersenjata. Terserah pada 
komunitas internasional untuk menghadapi organisasi teroris dan 
negara-negara yang mensponsori serta mendukung mereka (khususnya 
Iran dan Suriah) sesuai dengan seluruh perlengkapan politik serta 
hukum yang mereka miliki untuk menyelesaikannya. 

Penulisan studi ini dimulai pada pertengahan bulan 2008 dan 
dirampungkan pada akhir minggu pertama Operation Cast Lead, dengan 
diawalinya serangan darat IDF ke Jalur Gaza. Analisa pemanfaatan 
penduduk sipil sebagai tameng hidup dan banyak contoh lainnya yang 
telah disebutkan adalah berdasarkan pengalaman Israel bertempur 
menghadapi Hamas dan organisasi teroris lainnya yang menguasai dan 
beroperasi di Jalur Gaza. Juga tercatat beberapa contoh dari minggu 
pertama Operasi Cast Lead, yang tentu saja perlu dilengkapi saat 
operasi di Jalur Gaza ini berakhir.

sumber: http://jakarta.mfa.gov.il



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke