>wawan <[email protected]> wrote:
>opini saya, teori hawking persis dengan dialektika
>materi...bahwa
terbentuknya alam semesta karena
>uncaused dan unconditional probability
nih gw copas ... tapi bukan ttg terbentuknya alam semesta
tapi ttg awal kehidupan..
kita intip percobaan Spallanzani ama si Louis Pasteur
A. Percobaan Spallanzani
Labu I :
- diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15oC
- selama beberapa menit dan dibiarkan tetap terbuka.
Labu II :
- diisi 70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat kemudian disumbat gabus.
- Pada daerah pertemuan antara gabus dengan mulut labu diolesi
paraffin cair agar rapat benar.
trus.. labu dipanaskan... lalu labu I dan II didinginkan.
Setelah dingin keduanya diletakkan di tempat terbuka yang bebas
dari gangguan hewan dan orang.
Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap
keadaan air kaldu pada kedua labu tersebut.
Hasil percobaannya sbb :
Labu I :
- air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya menjadi bertambah keruh
dan baunya menjadi tidak enak ( amis banget ).
Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung mikroba.
Labu II :
- air kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, jadi tetap jernih seperti
semula, baunya juga tetap (gak amis) dan tidak mengandung mikroba.
Tetapi, apabila labu ini dibiarkan terbuka lebih lama lagi, ternyata juga
banyak mengandung mikroba, airnya berubah menjadi lebih keruh
serta baunya tidak enak (amis dan busuk).
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Spallanzani menyimpulkan :
Bahwa mikroba yang ada didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu
(benda mati), tetapi berasal dari kehidupan diudara ( langit ??).
Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi mikroba dari
udara ke dalam air kaldu tersebut.
B) Percobaan L. Pasteur
Dalam menjawab keraguannya terhadap paham abiogenesis.
Pasteur melaksanakan percobaan untuk menyempurnakan percobaan
Spallanzani.
Dalam percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu dengan alat labu.
Percobaan Pasteur selengkapnya adalah sbb :
Langkah I :
- Labu disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat dengan gabus.
- Celah antara gabus dengan mulut labu diolesi dengan paraffin cair.
- Setelah itu pada gabus tersebut dipasang pipa kaca berbentuk leher angsa.
- Lalu, labu dipanaskan atau disterilkan.
Langkah II :
- Selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan ditempat yang aman.
- Setelah beberapa hari, keadaan air kaldu diamati.
- Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak mengandung mikroorganisme.
Langkah III :
- Labu yang air kaldu didalamnya tetap jernih dimiringkan sampai air kaldu
didalamnya mengalir kepermukaan pipa hingga bersentuhan dengan udara.
- Setelah itu labu diletakkan kembali pada tempat yang aman selama bbrp hari.
- Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi.
Ternyata air kaldu di labu jadi busuk dan banyak mengandung mikroorganisme.
Melalui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme
yang terdapat dalam air kaldu pasti akan mati kan ?!.
Disamping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa
kaca berbentuk leher angsa.
Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan
mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher.
Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan
di udara (langit ??) untuk masuk kedalam labu.
Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi.
Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan
ruangan dalam labu. Tapiii..mikroorganisme yang masuk bersama udara akan
mati pada saat pemanasan air kaldu.
Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai ke permukan pipa, air kaldu itu
akan bersentuhan dengan udara bebas.
Disini terjadilah kontaminasi mikroorganisme.
Ketika labu dikembalikan keposisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut
terbawa masuk....sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu
air kaldu menjadi keruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tsb.
Dengan demikian terbuktilah ketidak benaran paham Abiogenesis atau generation
spontanea, yang menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang
terjadi secara spontan.
Berdasarkan hasil percobaan Spallanzani dan Pasteur tersebut, maka tumbanglah
paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori baru tentang asal usul makhluk
hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis.
Teori itu menyatakan :
1. Omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal dari telur.
2. Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan
3. Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal dari makhluk
hidup sebelumnya.
Walaupun Louis Pasteur dengan percobaannya telah berhasil menumbangkan
paham Abiogenesis atau generation spontanea dan sekaligus mengukuhkan
paham Biogenesis, belum berarti bahwa masalah bagaimana terbentuknya
makhluk hidup yang pertama kali terjawab.
Untuk direnungkan,
Pengakuan Evolusionis Alexander Oparin: “Asal-usul sel masih menjadi teka-teki.”
Tantangan untuk menjelaskan asal usul kehidupan merupakan sumber krisis
terbesar yang dihadapi teori evolusi.
Alasannya, molekul-molekul organik sangat kompleks dan pembentukannya
tidak mungkin dapat diterangkan sebagai suatu kebetulan.
Selain itu, telah terbukti bahwa sel organik mustahil terbentuk secara
kebetulan.
Evolusionis dihadapkan pada pertanyaan tentang asal usul kehidupan pada
perempat kedua abad ke-20.
Pakar terkemuka teori evolusi molekuler, evolusionis Rusia, Alexander I.
Oparin,
menuliskan dalam bukunya “The Origin of Life” yang terbit pada tahun 1936:
“Sayangnya, asal usul sel masih menjadi pertanyaan, yang merupakan titik
tergelap dari teori evolusi yang utuh.”
Jeffrey Bada: “Kemunculan kehidupan di bumi adalah masalah terbesar yang
belum terpecahkan.”
Sejak Oparin, banyak evolusionis telah melakukan penelitian dan pengamatan
untuk membuktikan bahwa sebuah sel dapat terbentuk secara ke-betulan.
Akan tetapi, setiap upaya hanya memperjelas desain sel yang kompleks
sehingga semakin menggugurkan hipotesis mereka.
Profesor Klaus Dose, kepala Institut Biokimia di Universitas Johannes
Gutenberg, menyatakan:
Percobaan tentang asal usul kehidupan di bidang kimia dan evolusi molekuler
selama lebih dari 30 tahun, menghasilkan persepsi yang lebih baik tentang
kompleksitas asal usul kehidupan di bumi ini, dan bukannya memberikan
jawaban yang mereka harapkan.
Saat ini, semua diskusi mengenai teori-teori dasar dan penelitian di bidang ini
berakhir dengan kebuntuan atau pengakuan atas ketidaktahuan. 2
Jeffrey Bada dari Institut San Diego Scripps memperjelas ketidakberdayaan
evolusionis terhadap kebuntuan ini :
“Kini, saat meninggalkan abad ke-20, kita masih menghadapi masalah terbesar
yang belum terpecahkan sejak awal abad ke-20 :
" Bagaimana kehidupan muncul di muka bumi”
Orang religius dengan sigap akan menjawab :
" Awal kehidupan ya dari Alloh"....
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/