Wan,

Sukarno memang mengutib Lenin dan  juga dari beberbagai sumber, termasuk kalau 
tak keliru dari Hitler juga (bisa dilihat dalam salam salah satu pembelaannya 
di depan pengadilan tahun  1930-an., Soekarno mengembangkan pikirannya karena 
rajin membaca dan juga mengetahui bahasa asing (Belanda, Inggris, Jerman dan 
Perancis), tanpa pernah ke luarnegeri. Jadi rajin membaca banyak pengetahuan.

Kalau Soekarno sekolahnya cuma di pesantren mana bisa berkembang pengetuannya 
dengan bahasa Arab. Pengetahuan ilmu sosial di Arab tidak berkembang, karena 
yang diputar-putar dan diaduk ialah itu-itu saja. Bisa lihat kemajuan sekarang 
di sekolah-sekolah demikian di Indonesia,  

Sukarno mengutib ucapan atau tulisan Hitler di Mein Kampf, karena literarnya 
ada dan di ITB pada zaman tahun 1920-30 disitu terdapat pusat gerakan Nazisme 
Indonesia, lupa saya namanya organisasi dalam bahasa Belanada.

Salam

  
  ----- Original Message ----- 
  From: wawan 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, September 21, 2010 8:36 AM
  Subject: [proletar] merdeka...???


    
  kalau nggak salah ada kata-kata penting dari VI Lenin dari artikel "On the
  significance of militant materialism"

  kata-kata ini sepertinya juga diikuti oleh soekarno

  kira-kira/tafsiran bebasnya bunyinya sbb:

  "menggunakan kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan itu mudah, tapi lebih 
sulit
  adalah apa yang akan dilakukan setelah mengambil alih kekuasaan"

  ini kira-kira artinya anda semua ngomongin merdeka..
  free dogma katanya...

  tapi anda semua itu nggak punya tujuan jelas setelah merdeka mau apa???

  saya punya pemikiran yang jelas base on tujuan...

  orang mungkin bilang saya menuhankan ilmu pengetahuan dan teknologi...

  ya memang...

  karena punya tujuan jelas...

  bahwasanya indonesia itu bukan negara yang kaya betul (lihat data sumber daya
  alam indonesia di cia world book)

  saya pernah menghitungnya, dan pernah saya posting di milis proletar

  lalu...kalau seluruh kekayaan alam indonesia itu dibagi 230 juta penduduk ya
  hasilnya cuman sedikit...

  lalu semestinya disadari bahwa 230 juta penduduk inilah yang seharusnya 
menjadi
  power indonesia...

  kalau 230 juta penduduk ini tolol semua, ya kacau

  tapi kalau 230 juta penduduk ini berilmu pengetahuan dan teknologi, maka 
ekonomi
  indonesia bisa meningkat dari ekonomi komoditas menjadi ekonomi hi-value

  ekonomi hi-value adalah ekonomi yang memproduksi barang siap jadi, yang sudah
  melalui proses pengolahan teknologi...dan sudah bukan ekonomi berbasis supply
  barang mentah/komoditi.

  untuk memajukan sains dan teknologi...ya indonesia jangan dijadikan negara
  religius...

  maju mundurnya negara itu bukan seperti kata orang islam yang rata-rata tolol,
  yang mengira bahwa kalau rakyanya berbuat baik maka tuhan memberikan
  ridho...kalau rakyatnya berbuat bathil maka dihukum tuhan...

  ini jelas pemikiran takhyul orang islam tolol

  suatu negeri itu maju dan tidaknya tergantung dari kualitas kecerdasan
  rakyatnya....

  disini tidak ada hubungannya dengan agama/religion sama sekali...

  dan justru agamalah yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan 
teknologi
  ...



  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke