'Tuhan' kursus Dialektika terhadap GW Hegel

+++

Ini uraian saya yang ke- xxx, 
tentang bagaimana tuhan belajar cara berpikir dialektika terhadap GW Hegel, 
seorang filsuf jenius dari jerman


Per Logika, yang disebut being/eksistensi/keberadaan adalah sesuatu yang bisa 
diindera

Dalam menjelaskan kepada anak kecil-pun, pikiran anak dikonstruksi dengan 
obyek-obyek material alam

Pengenalan itu tidak mungkin dari proses negasi, namun dari proses 
being/eksistensi/keberadaan terlebih dahulu

Anda tidak mungkin mengajarkan kepada anak
dengan methodologi berikut:

Mama: "baby, ini tidak ada penggaris"

lha penggaris itu sendiri obyek/eksisten/keberadaan

yang bisa dilakukan adalah mengajarkan kepada anak sbb:

Mama: "baby, ini adalah penggaris"

Baby mengidentifikasi obyek penggaris dan masuk dalam logikanya.

Ketika mama menanyakan
"baby, dimana penggaris?"

baby tidak melihatnya

disini bisa ditarik kesimpulan dan jawaban 
baby: "Penggaris tidak ada"

Jadi proses negasi pasti berasal dari being/keberadaan/eksistensi yang 
mendahuluinya
Yang bisa dinegasi adalah suatu eksistensi/keberadaan yang mendahuluinya

Tidak mungkin ada negasi tanpa ada keberadaan yang mendahuluinya
atau
kalau mau dilacak, maka keberadaan obyek/eksistensi obyek adalah ibu 
kandung/yang melahirkan dari proses negasinya

Untuk itu, jelas sudah bahwasanya Tuhan tidak hanya bermain dadu dan suka 
melemparkannya sembarangan,
tuhan ternyata juga senang bermain dialektika

tidak mungkin tuhan menyuruh utusannya yang ke 25 mengatakan

"tuhan adalah esa dan tidak diperanakan"

tanpa ada klaim dari utusannya yang ke 24 yang mengklaim

"akulah anak tuhan"

ini artinya....

tanpa didahului klaim "akulah anak tuhan" maka tidak akan muncul negasinya 
"tuhan tidak diperanakan"

artinya...menurut kehendak tuhan, maka tuhan menakdirkan utusannya yang ke 24 
klaim dirinya sebagai "anak tuhan"
dan juga menurut kehendak tuhan, maka tuhan menakdirkan utusannya yang ke 25 
melakukan koreksi terhadap takdirnya yang salah pada utusannya yang ke 24

lihat juga preposisi berikut

1. Allah Maha Sempurna
2. Sempurna ini diambil kesimpulan dari utusannya yang ke 25, artinya dari 
utusannya yang pertama sampai ke 24 maka tuhan melakukan kesalahan, sehingga 
harus disempurnakan oleh utusannya yang ke 25

Preposisi 1, atau preposisi Tuhan maha sempurna artinya gugur apabila evaluasi 
dilakukan pada utusannya yang pertama sampai dengan yang ke 24

begitulah kalau tuhan baru belajar dialektikanya GW Hegel...

Catatan:
Surat Al-Ikhlas yang diturunkannya kepada utusannya yang ke 25, kalau 
dianalisis dengan 'history matery' tampak jelas merupakan sebuah negasi dari 
konsep Trinitas yang dibawa oleh utusannya yang ke 24.


+++
Sub Judul:
Apa manfaat belajar Marxisme?

Saya dilahirkan dalam keluarga Islam yang cukup taat. Per ideology, Islam di 
Indonesia sudah banyak tercampur dengan ideology Hindu kuno, sehingga 
per-ajaran, sebenarnya Islam Indonesia tidak terlalu berbahaya. Permasalahannya 
bagi saya adalah, ketika kecil, keluarga saya menanamkan bahwa ilmu adalah yang 
terpenting, untuk itu, ketika saya ber-world view islam, sebenarnya untuk 
sekedar hidup, maka tidak menjadi masalah yang cukup serius, namun Islam 
sendiri adalah terdefinisi sebagai kepercayaan dan agama, dan permasalahan 
utama bagi saya saat ini adalah Islam tidak mampu menjelaskan secara realitas 
tentang alam raya yang luas. Secara ajaran, maka perspektive Islam adalah 
perspektive sempit terhadap cara pandang dunia. Islam lahir di abad ke 6, 
sehingga per ideologis maka kita memberangkatkan perspektive kita berawal dari 
abad ke 6, dan tradisi arab. Islam tidak mampu menganalisa gejala alam,selain 
dikatakan sebagai berawal dari Tuhan, islam tidak bisa menganalisis gejala 
ekonomi, gejala politik, hukum perubahan, dan lain sebagainya.

Disinilah pentingnya Marxisme, ...Marxisme adalah ilmu dasar, ilmu paling 
mendasar, ia didasarkan pada fisika sebagai fundament ilmu pengetahuan, ia 
didasarkan kepada natural sains sebagai cara pandang alam dunia yang luas dan 
universal, dan dari pemandangan marxisme yang mendasar ini maka anda akan dapat 
melakukan analisa berbagai gejala seperti agama, politik, ekonomi dan lain 
sebagainya.

Per ajaran, agama mengkonsepsikan bahwasanya manusia secara primer adalah 
mahluk tuhan
Per ajaran, marxisme mengkonsepsikan bahwasanya manusia secara primer adalah 
mahluk alam, akibat manusia mahluk alam, maka manusia mempunyai kebutuhan untuk 
makan, sehingga kebutuhan makanlah yang primer.

Mana yang benar dan realistis?

Bisakah manusia tanpa tuhan bisa hidup?
Jawabnya: bisa
Premis: Di dunia ini ada orang yang bertuhan dan ada yang tidak bertuhan

Bisakah manusia tanpa makan bisa hidup?
Jawabnya: tidak bisa
Premis: Di dunia ini semua orang butuh makan

Jadi marxisme-lah yang secara kenyataan/kasunyatan benar. Dalam menganalisa 
gejala primer manusia, maka marxismelah yang benar.
Dari kebenaran analisa gejala primer ini, maka anda bisa menganalisa 
gejala-gejala sekunder atau tertier manusia seperti agama, politik, budaya dan 
ekonomi.

Jadi dalam struktur ideologi marxisme, maka secara primer manusia adalah mahluk 
ekonomi/butuh makan, dan agama, politik, budaya, merupakan gejala lanjutan atau 
gejala yang muncul/timbul akibat gejala primer, atau secara struktur, masalah 
seni, budaya, ekonomi, terletak di struktur atas, sedangkan kebutuhan 
materi/makanan merupakan struktur mendasar.

Jadi ketika anda menggunakan marxisme sebagai alat analisa, maka anda akan 
mendapatkan seluruh gambaran gejala-gejala sekunder yang muncul, atau ketika 
anda berperspektive marxisme, maka anda akan mampu menjelaskan apa itu politik, 
apa itu ekonomi, apa itu agama, apa itu budaya, anda akan dapatkan gambaran 
lengkap tentang manusia dan alam raya, karena marxisme mempelajari dari hakekat 
ilmu dasar/primer yaitu materi, dan kemudian mempelajari gejala sekundernya 
atau gejala-gejala akibat yang ditimbulkan dari gejala primer materi sebagai 
gejala sebab utama.

Gejala pikiran, politik, ekonomi, budaya, tak lepas dari hukum-hukum 
fisika/hukum alam, 

jelasnya adalah:

saya bisa hidup tanpa agama islam,
tapi saya tidak bisa beragama islam tanpa hidup....

jadi mana lebih penting? mana yang primer?

beragama dulu atau hidup dulu?

catatan:
orang islam sendiri mengatakan bahwa agama islam adalah bajunya hidup, artinya 
juga bahwa agama hanyalah sebagai baju, artinya kalau hanya sebagai baju maka 
anda juga boleh tanpa baju dan tentu boleh juga mengganti baju.

+++
Sub Judul:
Revolusi hidup


Kini sudah jelaslah bahwa dengan analisa marxisme, maka kita bersperspektive 
budaya dan agama sebagai sub-struktur-budaya, budaya dan agama hanyalah cara 
kerja atau mekanisme manusia dalam hidup saja. Budaya dan agama merupakan 
BAGIAN dari cara manusia untuk hidup. Tanpa ada manusia hidup, maka tidak ada 
budaya dan agama manusia. Budaya dan agama merupakan cara manusia ADAPTASI 
dengan alamnya saja. Disini yang primer adalah alam semesta, dan gejala 
susulannya atau gejala yang ditimbulkannya adalah budaya dan agama.

Disini nampak jelas bahwa agama islam merupakan budaya dan cara adaptasi bangsa 
arab dalam adaptasi dengan alam geografis arab
Agama hindu dan buddha nampak jelas merupakan budaya dan cara adaptasi orang 
india dengan alam geografisnya

Namun budaya itu juga berubah sesuai dengan pengetahuan manusia yang juga 
berubah dan lebih mendalam dalam memahami hakekat cara kerja alam semesta.

Disini marxisme mampu menganalisa bahwa agama yang menjadi sub-struktur budaya, 
yang mana budaya adalah merupakan proses adaptasi manusia dengan alam, maka 
agama dan budaya bisa direvolusi atau cara adaptasi manusia dengan alamnya bisa 
dirubah, diefisienkan, dicari mekanisme yang paling jitu dan tepat, demikian 
terus menerus sesuai perkembangan zaman.

Saya kira, kemajuan ekonomi Tiongkok per oktober 2010, tak lepas dari pengaruh 
revolusi budaya yang dilakukan oleh pemimpin Mao, revolusi budaya tepatnya 
mampu mendudukan masalah atau memberikan gambaran yang tepat bagi orang 
Tiongkok terhadap alam semestanya. Dengan analisa marxisme, maka jelaslah sudah 
bahwa yang real dan primer maka manusia adalah mahluk ekonomi, dan bukan mahluk 
religius. Manusia sebagai mahluk spiritual itu bisa dibangun apabila kebutuhan 
primernya sebagai manusia telah tercukupi terlebih dahulu. 

Saya kira, kebangkitan negeri Tiongkok per oktober 2010, akibat mereka mampu 
melakukan usaha yang fokus terhadap kebutuhan primer manusia, mereka mampu 
melakukan simplifikasi terhadap gejala-gejala sekunder dan hampir mengabaikan 
gejala-gejala sekunder (sebagai contoh: manusia sebagai mahluk spiritual), 
sehingga perhatiannya yang penuh terhadap gejala primer (ekonomi), itu mampu 
menjadi realitas.

Kita di Indonesia hanya bisa menyaksikan hegemony negeri tiongkok per oktober 
2010, dan tidak melakukan analisis mengapa mereka bisa bangkit seperti itu. 
Saya kira manusia mempunyai fokus dalam hidupnya, ketika manusia di Indonesia 
fokus terhadap budaya, dan terutama peninggalan Soekarno dianggap sebagai 
ajimat sakti, yaitu pancasila, dimana pancasila merupakan hasil Soekarno 
melakukan analisis budaya indonesia, dan inilah tepatnya apa yang dilakukan 
oleh Soekarno, dia memilih meletakan ideologi yang per prinsipil adalah 
melanjutkan tradisi kuno kerajaan-kerajaan Indonesia, jadi Pancasila boleh 
disebut sebagai 5 pasal ajimat sakti yang ditarik oleh Soekarno dari analisis 
budaya BANGSA Indonesia, dari sini artinya Soekarno memilih meletakan ideologi 
yang mewariskan budaya/mekanisme kerajaan wilayah Indonesia kuno untuk 
DILESTARIKAN oleh manusia Indonesia masa depan.

Disini permasalahan utama adalah, Soekarno memilih mewariskan 
budaya/melanjutkan budaya, sedangkan analisis saya adalah, ketua Mao di 
Tiongkok dan juga VI Lenin di Soviet memilih memangkas dan merevolusi budaya, 
budaya diefisienkan, budaya dirubah sesuai perkembangan zaman.

Jadi per kata-kata Soekarno memang benar, revolusi adalah menjebol dan 
membangun, tapi apa yang dijebol?
Apakah hanya bertujuan mengganti kekuasan saja? Jelas ini bukan hal yang 
prinsipiil atau fundamental

namun mestinya yang dijebol dan dibangun ulang itu adalah budaya/mekanisme 
manusia dalam hidup, jadi disini nampak jelas suatu KONTRADIKSI seorang 
Soekarno dimana dia mengatakan REVOLUSI, di sisi lain dia MEMILIH MELESTARIKAN 
budaya Indonesia (baca saja tentang PANCASILA, menurut PENGAKUAN seorang 
Soekarno, Pancasila merupakan suatu kesimpulan yang ditarik dari budaya leluhur 
bangsa Indonesia), dan tidak melakukan PEMBAHARUAN/PERUBAHAN budaya bangsa 
Indonesia. Selanjutnya disini nampak jelas, apabila Soekarno berbicara 
Revolusi, di sisi lain dia sendiri memilih MENERUSKAN dan tidak MENGGANTI 
SYSTEM BUDAYA, so ini suatu ironi kontradiksi yang pilu. 

Jadi nampak jelas, ketika saya mencoba evaluasi terhadap apa yang ketua Mao 
lakukan, dan VI Lenin lakukan,  bahwa PILIHAN itu adalah MENERUSKAN YANG TELAH 
ADA atau MENERUSKAN BUDAYA LELUHUR, atau MENGGANTI/MERUBAH SYSTEM yang ada....

ini suatu hal yang prinsipiil, dan REVOLUSI lebih tepat sebagai 
pembaharuan/penggantian/perubahan/merevisi system, dan bukan MENERUSKAN system 
secara dogmatis.
Jadi secara prinsipiil juga benar bahwa revolusi atau perubahan system memang 
harus dilakukan terus menerus/permanent karena zaman juga berubah, 
dan memang seorang REVOLUSIONER itu hendaknya orang yang MENCARI jalan sendiri 
dan bukan orang YANG MENERUSKAN SYSTEM WARISAN BUDAYA LELUHUR yang telah ada.

jadi jelaslah sudah, apabila dikocok ulang terhadap ideologinya soekarno, dan 
apabila saya ditanya?

siapakah saya?

yang primer dan yang terutama adalah, saya harus menjadi seorang marxis 
terlebih dahulu, karena pengetahuan marxis adalah pengetahuan general tentang 
alam semesta secara universal, marxisme mampu menjelaskan apa itu politik, apa 
itu agama, apa itu pancasila sebagai konten budaya lokal.

setelah itu baru, saya seorang nasionalis atau pancasilais, dan setelah itu 
baru saya, kalaupun boleh disebut beragama islam.

jadi secara urutan adalah
- Marxisme/Natural Sains.
- Nasionalisme
- Agama

disini saya meletakan cara berpikir deduktif, atau marxisme adalah skup luas 
alam semesta, lalu menyempit kepada konten lokal pancasilais, dan sebenarnya 
agama tidak saya butuhkan.

Disini saya kira Soekarno dan rata-rata manusia Indonesia melakukan suatu 
fundament pemikiran yang persis terbalik, Soekarno pernah menawarkan pancasila 
sebagai ideologi universal....namun Pancasila sendiri adalah gejala sekunder 
dan bukan gejala primer....

ayuh kita lihat...

Apakah manusia tanpa pancasila bisa hidup?
Jawabnya: tentu bisa dan banyak jumlahnya malahan....

Apakah manusia tanpa kebutuhan makan bisa hidup?
Jawabnya: tentu tidak bisa...

artinya, kita juga bisa berpancasila setelah kebutuhan yang primer telah 
terpenuhi. Artinya kita bisa berpancasila dan beragama dengan baik setelah 
gejala primer terpenuhi.

Kita bisa menjadi mahluk pancasila dan mahluk agama, APABILA kita telah menjadi 
mahluk marxisme/Natural Sains.

jadi...berpancasila dan beragama tanpa bermarxisme, maka anda akan terjebak 
kedalam wawasan sempit, wawasan konten lokal, wawasan sebuah budaya kuno yang 
berasal dari wilayah yang disebut sebagai wilayah Indonesia. Jadi beragama 
islam hanya akan melihat alam semesta dari perspektive islam, berpancasila 
hanya akan mengakibatkan memandang alam semesta dari perspektive budaya 
metafisik kerajaan kuno yang saat ini wilayahnya disebut sebagai Indonesia, 
namun ber-natural-sains, anda akan mampu melihat mekanisme alam raya bekerja 
secara riil dan universal.

Jadi Soekarno mengenalkan kita 3 protokol, yaitu Nasionalisme, agama, marxisme. 
Apabila kita mau melanjutkan protokolnya Soekarno, maka yang dibutuhkan adalah 
kita menempatkannya saja dengan tepat....

konstektualnya adalah sebagai berikut

Yang Pertama, saya adalah mahluk ALAM SEMESTA (Marxisme/Natural Sains)
Yang Kedua, saya adalah manusia yang tinggal di wilayah Indonesia, untuk itu 
konten/identitas lokalnya adalah Pancasila
Yang Ketiga, saya mungkin tinggal di jawa, sunda, sulawesi, sumatra, maka akan 
mempunyai konten lokal yang lebih menyempit lagi.

Jadi identitas GENERAL atau PROTOKOL GENERAL saya adalah MARXISME/Natural 
Sains, setelah itu saya punya protokol lokal yang disebut Pancasila.
Ketika saya berkomunikasi dengan manusia luar negeri, maka saya menggunakan 
protokol GENERAL alam semesta, pasti kompatibel...

dan Pancasila secara spesifik adalah protokol untuk komunikasi dengan manusia 
lokal yang disebut sebagai manusia berpikiran pancasila saja, dan budaya jawa 
secara spesifik adalah CARA ORANG JAWA dalam ADAPTASI dengan alam semestanya.

Disini dalam ilmu komputer, Microsoft dan IBM mengembangkan protokol LAN (Local 
Area Network) yang disebut sebagai Netbeui dan Netbios, namun Internet 
mempunyai protokol general yang disebut sebagai TCP/IP. Protokol LAN, bisa 
dijalankan diatas protokol GENERAL yang disebut sebagai TCP/IP.

Jadi setelah Soekarno jatuh, memang tidak banyak orang mengerti tentang 
materialisme/marxisme. Banyak orang bisa berbicara a,b,c,d,e tentang Pancasila, 
namun tidak mengerti permasalahan atau tidak mengerti lokasi Pancasila itu 
dimana, tidak mengerti apa itu budaya jawa, apa itu budaya sunda.

Jadi orang yang bisa berbicara banyak tentang Pancasila, menganggap Pancasila 
sebagai identitas primer, jelas ini pemikiran yang salah,
Pancasila tepatnya adalah gejala sekunder, atau gejala lanjutan YANG TIMBUL 
AKIBAT dari budaya/cara adaptasi manusia kuno yang menempati/mendiami suatu 
wilayah yang saat ini disebut sebagai wilayah Indonesia.

+++
Sub judul:
Permasalahan utama: Agama dan Pancasila sebagai jimat.

Manusia Indonesia memang suka bermain kultus. Agama dan Pancasila yang 
merupakan gejala sekunder-pun dianggap sebagai jimat yang jegler....turun dari 
langit.
Agama dan Pancasila-pun dianggap sebagai wangsit...dan memang hobby orang 
Indonesia itu berwangsit ria.

tapi saya telah membaca tentang Materialisme/natural sains, dan setelah membaca 
ini saya mengerti bagaimana mekanisme/cara kerja alam semesta secara 
umum/GENERAL.

Setelah itu baru saya akan melakukan selidik terhadap budaya/konten lokal.

Saya tidak akan mengatakan bahwa Agama dan Pancasila sebagai jimat tersakti, 
karena keduanya adalah gejala sekunder dari sebuah produk lokal, dimana Islam 
per perspektive marxisme merupakan budaya/konten lokal arab, dan Pancasila 
merupakan budaya/konten lokal bangsa Indonesia.

+++
Sub judul:
Tentang metafisik

Metafisik merupakan bahan diskusi lama semenjak para filsuf yunani kuno seperti 
Scorates.
Permasalahan utama dari metafisik ini adalah, ia tidak dapat 
diketahui/diselidiki CARA KERJANYA oleh manusia.

Jadi metafisik ini seperti dongeng, dia bukan reality, yang real dan bisa 
diselidiki oleh manusia hanyalah fisikal/material world.

Fisikal/materi/partikel ini secara real bisa diselidiki CARA KERJA-nya oleh 
manusia, sehingga dari PENGETAHUAN CARA KERJA physical/partikel ini manusia 
lebih mempunyai pengetahuan yang lebih mendalam terhadap alam semesta, dan 
manusia bisa melakukan inovasi-inovasi produksi dalam konteks manusia sebagai 
mahluk ekonomi.

Kalaupun saya boleh mengutip Prof. Hawking, maka para MATERIALIS/FISIKA ini 
yang akan menang dalam berkompetisi, mereka BEKERJA, penuh perhatian dalam hal 
menyelidiki BAGAIMANA ALAM SEMESTA BEKERJA SECARA REAL. Fisika adalah ilmu 
fundamental yang RIIL/KENYATAAN.

Sedangkan para penikmat takhyul duduk saja, mereka tidak bekerja, tidak ingin 
mengetahui secara RIIL tentang BAGAIMANA ALAM SEMESTA ini bekerja.Mereka 
terjebak kedalam pengetahuan metafisik, yang menjawab bahwa segala sumber 
hakekat permasalahan utama alam semesta berasal dari gejala tunggal 
SUPERNATURAL.

Jelas permasalahannya bahwa SUPERNATURAL/metafisik merupakan suatu jawaban YANG 
TIDAK BISA DIKETAHUI MEKANISME KERJANYA.

+++
Sub Judul:
Apa fungsi Materialisme/Natural Sains dan apa masalahnya...

Saya telah berusaha menunjukan dengan tepat, kepada ilmu apa anda akan 
mengetahui dan memahami tentang alam semesta, tentu tepatnya kepada NATURAL 
SAINS. Permasalahan adalah NATURAL SAINS tidak berbicara masalah moral, 

so...

sebaiknya pemahaman Natural Sains sebagai World View ini berada pada 
pemimpin-pemimpin bangsa saja, karena kalau world view ini berada di tangan 
orang yang salah, maka memang akibatnya bisa fatal.

Disini saya ingin menunjukan sesuai dengan porsinya...

apabila anda ingin mengetahui tentang cara kerja alam semesta, maka pelajarilah 
NATURAL SAINS.
dengan mengetahui cara kerja natural sains maka anda akan mengerti apa yang 
diinginkan, misal ingin membawa Indonesia unggul secara ekonomi (dan bukan 
secara SPIRITUAL), maka anda akan mengerti langkah-langkah sesuai dengan 
hal-hal yang telah saya tulis....

tapi kita belajar sejarah, Natural Sains sebagai world view pernah 
mengakibatkan perang dunia kedua, dimana Joseph Stalin dan Adolf Hitler 
bertempur, masing-masing ingin menjadi bangsa unggulan.

so...saya ingin mengatakan...

per analisa saya, Joseph Stalin dan Adolf Hitler itu mengerti tentang bagaimana 
alam raya bekerja, sehingga ide-ide mereka juga ide-ide gila tanpa moral.

Tapi disini saya hendak menulis tentang ketepatan/kejituan petunjuk tentang 
alam raya...saya tidak sedang berbicara masalah moral...

sehingga yang dilakukan oleh Charles Darwin memang tepat, ia tidak segera 
menerbitkan pemikirannya tentang evolusi...

Evolusi harus ditempatkan di ranah yang tepat, atau misal saya ditanya...
mana konsep kerja alam semesta yang riil dan benar? maka saya jawab NATURAL 
SAINS/Evolusi/Materialisme/Fisikalisme

tapi orang tidak harus benar untuk hidup....orang hidup mungkin hanya butuh 
kebahagiaan....bahagia belum tentu harus benar....
dan juga benar belum tentu bahagia...(keputusan saya thd pengkristianan anak 
saya adalah keputusan yang bertujuan agar dirinya bahagia dan tidak perlu ia 
mengerti tentang hakekat kerja alam semesta)

maka anda boleh memilih ...

mencari kebahagiaan?
mencari kebenaran?
atau mencari keduanya?

ini semua pilihan....

disini saya menulis dengan penuh kesadaran, saya sedang menulis dalam 
ranah/wilayah apa....

namun para Charlatan (penjual konsep), jelas bukan merupakan orang yang sadar, 
mereka tidak pernah tahu mereka sedang berbicara dalam masalah apa....

(Para Charlatan jelas otaknya penuh korsleting pemikiran, pikirannya campur 
aduk, mereka tidak mampu mengurutkan domain pemikiran, mereka tidak cerdas 
dalam menyusun struktural pikiran-mana yang fundament-mana yang sekunder, 
mereka tidak mampu memilah-milah pemikiran....)

disini tepatnya saya akan memilah/memisahkan tentang BENAR dan BAIK

yang BENAR (per definisi logika-->'logika digunakan untuk mencari kebenaran dan 
bukan kebaikan' dan empirical) adalah konsep NATURAL SAINS.
yang BAIK adalah konsep SUPERNATURAL. (meski konsep supernatural tidak menjamin 
manusia untuk menjadi baik)

so selanjutnya silakan bagi yang ingin menyebarkan agama, tapi hendaknya tahu 
tujuan menyebarkan agama itu untuk apa, dan bisa mengatasi masalah yang timbul 
karenanya...

Sekian....
















 
 



  




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke