Refleksi : Pidato SBY biasanya dimulai dengan "asalam alaikum wabarakutu ", lain dari itu tidak menarik sebab tidak ada isinya untuk dijadikan pedoman bagi masyarakat dan juga membuat pendengar tidur teristimewa di DPR, Bahkan media cetak pun tidak entusias untuk mengungkapkan pidatonya, barangkali lebih menarik bila presiden menyanyi akan mungkin sekali mendapat banyak perhatian publik untuk mendengar suaranya yang merdu dan indah.
Pidato demikian mempunyai anggaran sebanyak Rp 1,9 miliar, tentu saja sudah keterlaluan. Bukankah biasanya untuk para petinggi seperti presiden atau perdana menteri dipekerjakan tenaga khusus untuk menulis pidato? Kalau tak keliru dalam bahasa orang seberang lautan disebut "speech writer"? Kalau tiap kali presiden mau pidato tentang sesuatu masalah minta saja mahasiswa dari jurusan atau pelajar SMA untuk menulis pidatonya, pasti akan jauh lebih murah. Sebahagian uang yang didapat bisa dipakai untuk memperbaiki sekolah atau untuk membeli buku-buku buat keperluan perpustakaan sekolah atau fakultas yang menulis pidato. Murah dan menambah faedah bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tentu saja kemajuan negeri. Tetapi kalau ada perusahaan istimewa untuk menulis pidato presiden, seperti ada perushaan gelap yang khusus menulis thesis master atau PhD itu adalah masalah lain yang dapat dimengerti bahwa mahal harganya. http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/10/06/870611/busyet-anggaran-naskah-pidato-sby-rp19-m/ 06/10/2010 - 12:59 Busyet! Anggaran Naskah Pidato SBY Rp1,9 M Abdullah Mubarok INILAH.COM, Jakarta - Naskah pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak murah. Mau tahu anggarannya? Sekitar Rp1,9 miliar. Dalam dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) 2011, di pos anggaran Pelaksaanaan Acara/KeÂprotokolan Mensesneg, KetaÂtauÂsahaan dan Kearsipan di LingÂkungan Setneg point 014, 015, 019 dicantumkan anggaran penyusunan pidato kenegaraan Presiden Yudhoyono sebesar Rp1,473 miliar. Setneg juga mengalokasikan anggaran khusus untuk kurikulum naskah pidato di pos anggaran penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan SDM. Total anggaran sekitar Rp1,9 miliar. Angka itu bisa dibilang fantastis. Sebab, pekerjaan membuat naskah pidato Presiden SBY sudah melekat kepada staf-staf ahli Presiden. Jadi, untuk apa duit Rp1,9 miliar dicanangkan? Menurut Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Yuna Farhan, penyusunan pidato Presiden tidak perlu sebesar itu. Dewan Perwakilan Rakyat perlu mengkritisi. Tidak perlu boros-boros membuat naskah pidato presiden jika isinya tidak bisa ditangkap jelas oleh rakyat. Tidak perlu mahal-mahal apabila pidato presiden isinya curahan hati (curhat) "Setiap sen yang keluar harus diukur dari kinerjanya. Saya kira jumlah itu keterlaluan," ujarnya. Jangan sampai negara membayar dobel untuk sebuah naskah pidato presiden, yang sebenarnya sudah bagian dari pekerjaan staf ahli. Ingat! jika pemerintah berbasis kinerja, setiap sen yang keluar harus diukur dari kinerja. [bar] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
