Latar belakang konflik politik SBY vs RMS

Sewaktu pemilu parlemen Belanda di tahun 2006, Partai Buruh (PvdA) telah 
kehilangan sejumlah kursi, pemilihnya ada yang bergeser ke Partai Sosialis 
(SP), 
pada pemilu tahun 2010 ini partai sayap kanan Kristen Demokrat (CDA) dan Partai 
Liberal (VVD) juga mengalami kehilangan kursi pindah ke Partai Geert Wilders 
yang bernama PVV.

Kini barisan massa beraliran ultra-kanan telah menyatu, karena kemenangan dari 
dukungan suara sebanyak 76 kursi dalam kabinet partai pemerintahan baru, yaitu 
CDA, VVD, PVV. Akhirnya menjadi jelaslah, bahwa proses pergeseran dan 
pergesekan 
antara ketiga kekuatan aliran tradisional itu, tercermin pula di kalangan 
golongan etnis di Belanda, dimana peranannya sebagai pendukung loyalis golongan 
Ultra Kanan.

Lalu, sampai sejauh manakah golongan etnis Maluku, Indo Belanda dan golongan 
“non-muslim tapi non-kulit putih” seperti golongan Veteran eks KNIL dan 
golongan 
etnis Suriname turut berperan sebagai pendukung kepentingan politik PVV Geert 
Wilders?

PVV dan RMS

Seperti kisah suksesnya populis Ultra kanan Pim Fortuyn (Driehuis, 19 februari 
1948 - Hilversum 6 mei 2002), lalu kini sosok Geert Wilders telah berhasil juga 
untuk menempati peranan tokoh sentral populisme berhaluan ultra kanan di negeri 
Belanda, yang digambarkan sebagai figur fasis, rasis, “provinsial”, xenophobi 
dan “liberal berdarah murni”.

Pandangan dia, menurut salah satu ilmuwan politik, Meindert Fennema (UVA), 
benar-benar ekstrim, radikal kanan, dan anti Islam, yang sama dengan gerakan 
ultra kanan dari Jean Marie Le Pen (Front Nationale, Perancis), Filip de Winter 
(Vlaamse Belang, Belgia).

Bahkan kampanye politik Wilders dianggap ‘mengganggu’ kestabilan politik di 
Eropa, serta jauh melampaui batas hukum negaranya. Wilders sendiri menyebut 
dirinya baru-baru ini sebagai sosok “pejuang untuk kebebasan Belanda”, sebelum 
itu ia menggambarkan dirinya sebagai “demokrat sejati”.

Ada seorang pengamat internet yang selama masa pemilu 2010 berlangsung telah 
menyatakan bahwa PVV tampaknya menjadi populer di komunitas masyarakat Maluku. 
Dalam sebuah jejak pendapat di website ‘Buka Mulu.nl’, telah menunjukan lebih 
dari 50% pengunjung website tersebut memilih PVV, mungkin tidak sepenuhnya 
sebagai angka representatif tetapi dapat menjadi indikasi bahwa PVV didukung 
oleh mayoritas etnis Maluku di Belanda.

Pada bulan September 2009, koran Belanda NRC Handelsblad mempublikasikan hasil 
penelitian tentang profil pemilih PVV. a.l.:
1. di dalam pendukung PVV sendiri terjadi polarisasi dalam menanggapi isu-isu 
program agenda politiknya.
2. pemilih PVV banyak didapat dari suara-suara yang kecewa dengan pemerintahan 
koalisi di bawah pimpinan Balkenende saat ini.
3. PVV pemilih berpikir lebih negatif tentang imigran karena pengalaman 
buruknya 
dengan kelompok etnis non kulit putih.
Selain itu, PVV banyak mendapat dukungan dari kaum laki-laki, dari golongan 
berpendidikan rendah, dan kaum pengangguran. Para pemilih PVV ini juga dinilai 
lebih memiliki kesadaran politik bila dibandingkan dengan rata-rata penduduk di 
Belanda yang a-politis.

Sehubungan dengan sikap pemerintah kabinet Balkenende, peneliti Masyarakat 
Maluku di Belanda, Justus Veenman dan Trees Tunjanan, menyimpulkan  bahwa 
banyak 
kekecewaan masyarakat Maluku ini terhadap kabinet Balkenende, terutama 
kebijakan 
dalam negerinya.

PVV juga menilai bila pemilihnya rata-rata berfikiran negatif dan anti orang 
Maroko, itu adalah merupakan kesempatan emas bagi Geert Wilders untuk 
memanfaatkan momentum ketegangan sosial antar golongan imigran, yang pernah 
terjadi di beberapa kota di Belanda.

Misalnya  pertikaian antara golongan remaja Maroko dan Maluku, kemudian 
berlanjut ke konflik sosial sampai pada kasus pembakaran gereja Maluku di 
Hoogeveen dan di Nijverdal, tentunya menjadi kelanjutan berita spektakuler di 
media cetak, elektronik maupun televisi. Keresahan di kalangan masyarakat 
Maluku 
semakin meningkat, misalnya di Culemborg, tapi juga terjadi di Utrecht, Gouda 
dan Assen. Geert Wilders adalah satu satunya politikus yang turut aktip di 
Twitter dalam menanggapi kerusuhan antara remaja Maluku dan Maroko di  awal 
tahun ini di Culemborg.

Kedua peneliti Belanda itu melihat status sosial ekonomi yang rendah dari 
golongan etnis Maluku sebagai penjelasan golongan paria di Belanda. Pemerintah 
dinilai berperan kurang baik dalam menangani persoalan proses integrasi 
masyarakat pendatang di Belanda. Kasus ini terbukti dari hasil penelitiannya, 
bahwa masyarakat Maluku tidak berprestasi tinggi dalam pendidikan Belanda, skor 
mereka di bawah kelompok-kelompok imigran lainnya. Peneliti Justus Veenman dan 
T. Tunjanan mencatat bahwa ada “stagnasi proses integrasi” dari generasi ke 3 
di 
golongan masyarakat Maluku di Belanda.

Kedua peneliti itu juga menunjukan bahwa latar belakang lambatnya perkembangan 
etnis Maluku ini dimulai sejak kedatangan mereka di Belanda  di awal tahun lima 
puluhan. semua itu akibat Undang-undang “Remigrasi” yang menstimulasi dan 
mengarahkan untuk kembali ke Tanah Airnya. Kenyataan ini mengejutkan banyak 
pihak di masyarakat umum di Belanda maupun golongan etnis Maluku sendiri. Para 
peneliti terkejut melihat sangat minimal perhatian pemerintah terhadap dampak 
dari pengaruh kebijakan “Integrasi”, yang sangat merugikan sehingga sekarang 
terlihatlah bukti keterbelakangan tingkat pendidikan golongan remaja etnis 
Maluku.

G.Wilders vs F. Habibie

Ditambah lagi kekecewaan golongan etnis Maluku terhadap kebijakan luar negeri 
Belanda di Indonesia dalam menangani persoalan pelanggaran HAM. Kekecewaan ini 
terutama ditujukan pada sikap politik Menteri Luar negeri Verhagen yang 
sehubungan dengan kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Pernyataan dubes F. Habibie melalui koran Belanda menjadi bola panas di Den 
Haag, yang isinya antara lain: “Mungkin para pemilih partainya Wilders 
menderita 
Xenophobie”, rupanya berhasil memancing reaksi kemarahan Geert Wilders bersama 
massa pendukung loyalisnya. Segera figur populis ini yang sedang naik daun itu, 
memberi komando kepada Menlu Verhagen untuk menegur dubes Indonesia. Dalam hal 
ini pengujian kekuatan pengaruh politik Ultra Kanan Geert Wilders terbukti 
berhasil membangkitkan jiwa “patriotisme” di dalam negerinya.

Bagi pribadi Geert Wilders, panutan “Nasional Patriotisme” adalah obat mujarab 
untuk memperkuat front persatuan dan memelihara pengaruh lingkungan masyarakat 
di Belanda, dan menjaga nilai-nilai warisan budaya serta keyakinan sakral  pada 
zaman kejayaan Kolonialisme Belanda. Panutan ini yang di terapkan dan di 
promosikan di dalam negerinya itu, dianggap layak menguak impian cita-cita 
“tanah air” West Papua, dimana pihak pemerintahan Belanda pernah menjanjikan 
akan dihibahkan kedaulatannya kepada golongan eks veteran KNIL dan Indo Belanda.

Impian cita-cita “Tanah Air” itu rupanya dilatarbelakangi pula oleh peristiwa 
sejarah kehidupan Kakek, Nenek bersama Ibunya Geert Wilders. Kakeknya yang 
bernama John Ording, di tahun 1933 menjabat sebagai wakil Inspektur untuk 
Pengawasan Keuangan di Surabaya, dan setahun kemudian ia dipecat secara “tidak 
Hormat”, lalu meninggal dunia pada tahun 1942 di Sukabumi. Sedangkan Neneknya 
bernama Johanna Ording adalah keturunan Yahudi-Belanda meninggal tahun 1946 di 
Kosentrasi Kamp Jepang. Selama bermukim di Hindia Belanda nasib hidup keluarga 
Ibunya diasingkan dan ditelantarkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda. Maka 
tak 
mengherankan bila progam Wilders, nyatanya sangat berguna bagi orang-orang yang 
antara lain:
- Menginginkan pengembalian uang pajak cicilan rumah bagi para pemilik rumah
- Menginginkan peningkatan perawatan untuk orang tua
- Mengkampanyekan anti Islam
- Mengkampanyekan kebebasan berpendapat tanpa batas
- Menginginkan adanya peningkatan budaya, identitas dan tradisi Belanda
- Merealisasi peningkatan hidup bangsa Belanda asli sebagai bagian dari 
masyarakat bangsa Aria

Riwayat “haat en liefde relatie”  alias hubungan cinta tapi benci antara 
Indonesia dan Belanda nampaknya terganggu lagi dalam kepentingan ekonominya. 
Padahal sejak lahirnya sistem Orde Baru, pemerintah Belanda selalu 
“menganak-emaskan” kepentingan Indonesia (Soeharto), dulu Belanda menjadi salah 
satu donornya melalui IGGI, Inter Governmental Group of Indonesia.

Banyak kasus-kasus pelanggaran HAM berat sejak peristiwa berdarah 1965/1966 
sampai pada kasus pendudukan Militer Indonesia di Timor Timur mendapat 
perhatian 
besar dari masyarakat Belanda melalui LSM yang memperjuangkan Hak Asasi 
Manusia. 
Akan tetapi kekuatan LSM HAM Belanda tersebut tak mampu mematahkan kekuatan 
“Haat en Liefde relatie” antar bekas negara penjajah dan negara yang pernah di 
jajah itu. Mengingat peranan LSM HAM berfungsi untuk ‘menina bobokan’ 
kasus-kasus keresahan akibat tindakan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pihak 
rejim Militer Diktator Indonesia, dibawah pimpinan Soeharto.

Pernyataan Dubes Indonesia itu, mungkin jadi godaan yang besar bagi Wilders si 
penebus dosa kakek-neneknya dari pihak Ibu. Atau mungkin hanya rasa dendam 
kesumat Wilders pribadi, dengan misi ekstrimnya itu karena akibat efek dari 
keterasingan identitasnya, tapi juga seperti berakar jiwa panutan dari kakeknya 
sebagai salah satu pengikut NSB (Nationaal Socialistische Beweging) di 
Indonesia.

NSB adalah organisasi massa yang dibentuk tahun 1931 di Belanda. Namun kemudian 
dalam perkembangannya, NSB membentuk dirinya sebagai partai dibawah kekuasaan 
rejim Fasis Hitler. Pada tahun 1937 NSB sebagai gerakan Fasis di Hindia Belanda 
mengalami jaman keemasannya, dengan jumlah sebanyak 5000 anggota. Seperti pula 
Wilders nyatakan dalam wawancaranya di NRC Handelsblad: “Sudah saatnya untuk 
menunjukkan kepemimpinan, kemudian mengoreksi kesalahan sejarah.”

Lalu apakah catatan perlawatan tahun 2008 Geert Wilders bersama delegasi 
Parlemen Belanda ke Israel dan Timur Tengah itu, dimana ia pada kunjungannya di 
Saudi Arabia menyimpulkan bahwa “kunjungan politik yang tak tepat ke negara 
Islam sebagai negara terbelakang, barbar dan fasis” , bisa dijadikan “koreksi 
kesalahan sejarah”, bila selama dalam perjalanannya diapun berulang kali 
mengajukan pertanyaan tentang “tindakan Indonesia” terhadap West Papua?

Mungkin cukup beralasan pula bagi duta besar F. Habibie, yang mengatakan dalam 
sebuah wawancara di koran Het Financieel Dagblad bahwa kunjungan kenegaraan 
pada 
bulan Oktober presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhyono ke Belanda sangat 
diragukan seandainya Partainya Wilders masuk ke dalam kabinet baru di Belanda.

MiRa - Amsterdam, 10 Oktober 2010

Sumber: http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/p/esai.html

http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/

http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke