http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/10/11/58916/papua-yang-terlupakan


Papua yang Terlupakan
Banjarmasinpost.co.id - Senin, 11 Oktober 2010 |

RABU (6/10) rakyat Amerika melalui Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham 
Clinton menyampaikan rasa keprihatinan dan simpati atas bencana banjir bandang 
di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. 

Apa pun bentuknya, ucapan simpati yang dilayangkan dalam bentuk surat itu sudah 
selayaknya mendapat apresiasi, mengingat lokasi bencana yang berada jauh di 
bagian timur Indonesia itu sangat terpencil.

Saking terpencilnya, bencana besar itu nyaris luput dari perhatian media. 
Berita mengenai banjir bandang di Wasior mulai ramai di media nasional satu 
hari setelah kejadian. Padahal dari sisi besarnya peristiwa dan banyaknya 
jumlah korban, bencana itu tak kalah dengan gempa di Padang setahun lalu.

Hingga kemarin dinyatakan jumlah korban tewas 102 jiwa, korban yang berhasil 
dievakuasi dari Teluk Wondama 1.994 jiwa. Sebanyak 1.859 jiwa dievakuasi ke 
Manokwari Ibukota Papua Barat dan 135 jiwa dievakuasi ke Nabire. Selain itu 117 
orang dinyatakan hilang, 14 ditemukan dalam keadaan luka-luka, 535 luka ringan, 
185 luka berat.

Apresiasi terhadap ucapan simpati dari rakyat Amerika bisa lebih besar lagi 
mengingat 13 wakil rakyat yang duduk di kursi DPR justru melanjutkan rencana 
keberangkatan studi banding ke Amerika Serikat. 

Perhatian Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono terhadap bencana di Wasior juga 
terlihat masih mengecewakan. Setelah ditunggu-tunggu dan menuai banyak kritik, 
akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait bencana di Wasior Jumat (8/10). 
Tapi tetap saja terlambat.

Lagi-lagi, reaksi terhadap banjir bandang di Wasior membuktikan Papua masih 
menjadi daerah yang terlupakan bagi sebagian saudara-saudara setanah air mereka 
di daerah lain. Sejak bergabung dengan NKRI pada 1969, Papua nyaris tak 
tersentuh pembangunan.

Hingga 2010, nyaris belum ada jalan raya yang menghubungkan antarkabupaten di 
Papua dan Papua Barat. Ini berarti jalan raya ke daerah-daerah yang lebih kecil 
hampir tak ada. Transportasi hanya bisa ditempuh dengan jalur udara, laut dan 
sungai. Kenyataan ini semakin menyakitkan bagi masyarakat Papua, mengingat di 
tanah mereka terdapat tambang emas yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di 
dunia. Selain emas, Papua juga sangat kaya akan sumber energi gas alam dan yang 
lebih besar lagi adalah kekayaan hutannya.

Selama ini rakyat Papua hanya bisa menahan rasa iri ketika melihat kemajuan 
provinsi lain yang sudah jauh meninggalkan mereka. Saudara kita di Papua yang 
sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan hanya bisa 'numpang' 
menikmati kemewahan di daerah lain lewat tayangan sinetron dan acara televisi 
setiap hari.

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Penderitaan warga Wasior terasa makin 
menyayat hati ketika mulai muncul dugaan banjir bandang disebabkan oleh 
pembalakan liar yang rata- rata dilakukan oleh pengusaha dari luar daerah. 
Selama ini banyak orang dari luar daerah yang menikmati kekayaan Papua tanpa 
peduli terhadap nasib warga sekitar.

Inikah balasan bagi kesetiaan terhadap NKRI yang masih diikrarkan oleh sebagian 
besar warga Papua? Sampai kapan mereka akan bertahan jika terus menerus hanya 
dijadikan saksi atas kemajuan daerah lain dan pengerukan kekayaan alam mereka?

Semoga sikap pemerintah dan anggota dewan yang terkesan melupakan Papua tak 
diikuti oleh sebagain rakyat Indonesia. Uluran tangan dalam bentuk apapun untuk 
membantu saudara kita di Papua akan menjadi bukti bahwa masih ada 
saudara-saudara se Tanah Air yang ikut merasakan penderitaan mereka. Kita tentu 
tak akan rela jika saudara kita di Papua menatap kita seperti kita menatap 
tentara penjajah Belanda ketika Indonesia belum merdeka. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke