Nih saya kutip..
--
Mi Instan dan Korban Bencana Alam
OPINI
Philip Ayus
| 11 Oktober 2010 | 19:15
446
16
2 dari 2 Kompasianer menilai Aktual.
Pagi ini, seluruh jagad dunia maya di Indonesia dikejutkan dengan berita
ditariknya semua produk mi instan buatan Indonesia yang dijual di Taiwan.
Konon, petugas pengawas makanan di sana menemukan bahwa sampel mi instan buatan
pabrik tertentu di Indonesia mengandung zat-zat kimia yang dilarang karena
membahayakan kesehatan konsumen.
Tak lama kemudian, muncul klarifikasi yang rancu dari perwakilan perusahaan
produsen mi instan tersebut, yang menyatakan bahwa produk yang disita merupakan
produk yang tidak untuk diperjualbelikan di Taiwan. Pernyataan ini jelas
menambah rasa khawatir konsumen di Indonesia, karena jika diambil kesimpulan
sederhana, berarti perusahaan tersebut memproduksi pula makanan yang tidak
memenuhi standar, namun tidak diekspor (ke Taiwan). Jika produk non-standar
tersebut tidak diekspor (ke Taiwan), maka penalaran umum yang muncul adalah:
produk itu dijual di dalam pasar dalam negeri. Alamak!
Sebenarnya, isu "racun" dalam mi instan sudah bergulir sejak lama. Beberapa
teman menyarankan agar membuang air hasil rebusan pertama sebelum mengkonsumsi
mi instan, dengan tujuan membuang zat-zat beracun yang mungkin ada di dalamnya.
Namun, seorang narasumber dari produsen mi instan justru menyatakan bahwa air
rebusan pertama itulah yang mengandung banyak gizi, jadi jangan percaya dengan
isu tersebut. Siapa yang benar, kita semua tidak tahu secara pasti, namun yang
jelas, produk tersebut disita di Taiwan dengan alasan membahayakan kesehatan.
Mungkin standar nilai gizi dan bahan-bahan yang diperbolehkan di tiap negara
berbeda, itulah sebabnya penulis mendapati produk-produk impor biasanya
bertuliskan "hanya untuk dijual di Indonesia." Yang menjadi pertanyaan di benak
sebagian besar masyarakat kita saat ini barangkali adalah, "Seberapa tinggikah
standar Badan Pengawas Obat dan Makanan terhadap konten dari mi instan yang
beredar di Indonesia?"
Penulis bukanlah penggila mi instan, namun demi alasan efisiensi dan ekonomi,
mi instan pun menjadi pilihan untuk dikonsumsi, meski tidak tiap hari.
Kebetulan beberapa hari sebelum kasus ini muncul, penulis sendiri pernah
memikirkan tentang dampak konsumsi mi instan yang teratur terhadap kesehatan
jangka panjang. Angan penulis melayang ke berbagai belahan nusantara yang
sedang terkena bencana, yang biasanya mendapat sumbangan makanan dan salah
satunya adalah produk mi instan.
Mereka, para korban bencana alam itu, mau tidak mau harus mengkonsumsi mi
instan karena itulah pilihan realistis (mungkin) satu-satunya yang ada di
hadapan mereka. Dalam kondisi darurat di lingkungan yang serba porak-poranda,
tentu untuk menyiapkan makanan yang dimasak dengan bumbu dapur akan dibutuhkan
waktu dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karenanya, produk makanan instan
(salah satunya mi) menjadi alternatif utama.
Semoga apa yang terjadi di Taiwan hanyalah sebuah "trik bisnis" untuk
menjatuhkan produk mi instan yang disita tersebut, sebagaimana pendapat
beberapa orang. BPOM selaku lembaga yang dipercaya untuk masalah pengawasan
obat dan makanan sebaiknya segera memberikan pemaparan publik mengenai hal ini,
sehingga masyarakat mendapat kejelasan informasi. Jangan sampai para dermawan
urung menyumbang Wasior, misalnya, karena takut sumbangannya dibelikan "racun"
berupa mi instan, kemudian dibagikan kepada para penduduk yang sedang menderita
di sana.
--- In [email protected], a.wid...@... wrote:
>
> Taiwan menarik peredaran indomie karena mengandung zat pengawet kosmetik yg
> berbahaya bagi kesehatan bila dimakan...tapi di indon ada sertifikat halalnya
> lho...gimana tuh, halal tapi beracun...?
>
> --------------
> STOP Konsumsi Mie Instant! Setelah Departemen Kesehatan Taiwan Merazia Masal
> Mie Instant Buatan Indonesia
>
> Berita cukup menghebohkan, bahkan teman-teman bilang juga sangat memalukan,
> setelah hari ini di televisi diberitakan kalau mie instan produksi Indonesia
> dilarang dikonsumsi karena terbukti mengandung zat pengawet yang seharusnya
> digunakan untuk bahan kosmetik dan kecantikan.
>
> Zat pengawet yang ditemukan banyak terdapat dalam kecap manis dan bumbu. Jika
> dikonsumsi akan merusak pencernaan terutama ginjal.
>
> âKalau dikonsumsi, yang kena nanti pencernaan dan ginjal. Tolong
> infomasikan kepada teman-teman ya,â ujar Vincent Kwee, dalam penyampaian
> informasinya kepada para buruh di Taiwan sore tadi.
>
> Selain produk mie instan, pihak Departemen Kesehatan juga menyita produk
> kecap manis yang diduga berada dibawah satu naungan pabrik pemroduksi.
> Penyitaan dilakukan langsung dari toko-toko Indonesia yang memang menjual
> produk buatan Indonesia khususnya mie instant dan kebutuhan para tenaga kerja.
>
> Pemeriksaan belum dilakukan menyeluruh ke toko Indonesia di daerah, baru toko
> Indonesia yang berada di kota Taipei saja.(Kompasiana,9/10/10):
>
> http://m.kompasiana.com/?act=r&id=284212
>
>
> Indomi lover:
> ââhttp://video.ak.fbcdn.net/cfs-ak-snc4/69895/546/447609842887_37839.mp4
> video indomie mengandung kosmetik. Sangat berbahaya.
>
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/