Refleksi : Kalau radikalisme ancaman nyata, maka pertanyaannya ialah mengapa  
mereka ditoleransi dan dipupuk oleh SBY dan konco-koncoya?

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=72499:wapres-boediono-radikalisme-ancaman-nyata&catid=3:nasional&Itemid=128


      Wapres Boediono : Radikalisme Ancaman Nyata        
      Jakarta, (Analisa)


      Wakil Presiden Boediono mengatakan, radikalisme merupakan ancaman nyata 
yang dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

      "Radikalisme merupakan ancaman riil yang bisa menceraiberaikan 
sendi-sendi kehidupan masyarakat," katanya saat memberikan sambutan pada 
Pembukaan "Global Peace Leadership Conference" di Jakarta, Sabtu.

      Ia mengatakan, selama ini manusia memahami dirinya secara sempit, bahkan 
tidak jarang manusia sering mengkotak-kotakkan dirinya berdasarkan ras, warna 
kulit, bahasa, agama, kepercayaan, serta kebiasaan maupun pikirannya. 

      "Sayangnya, perbedaan-perbedaan tersebut malah kerapkali menjadi awal 
konflik dan pertentangan antarumat manusia, sesama ciptaan Sang Khalik," ujar 
Boediono. Wapres menambahkan, dalam catatan sejarah peradaban manusia menurut 
tertoreh banyak sekali ketololan dan kepicikan. Padahal, manusia pasti 
mempunyai satu ciri dan karakteristik yang tidak mungkin diubah. Itu adalah 
karunia Tuhan yang dibawa sejak lahir.

      "Apakah kulit kita coklat, kuning, putih, hitam itu bukanlah sebuah 
pilihan. Apakah kita lahir dari orangtua Muslim, Kristen, Hindu atau 
kepercayaan lain, bukan kehendak kita," tutur Boediono.

      Namun, hingga kini manusia masih terjerat dalam pemahaman sempit. Di 
banyak negara, kata Boediono, masalah rasisme atau pertentangan antaragama 
masih menjadi persoalan mendasar, bahkan berbuah kekerasan.

      "Kita mulai belajar memahami kemanusian secara hakiki untuk menyadari 
betapa indahnya perbedaan beragama dan keberagaman. Seharusnya, bumi kita 
menjadi taman sari peradaban yang indah dan serasi," ungkap Wapres.

      Pada kesempatan itu, Boediono berharap adanya kesetaraan dan penghormatan 
terhadap individu, dan segala aspek kehidupan lebih mementingkan nilai-nilai 
universal berasaskan demokrasi dan hak asasi manusia yang meletakkan 
individu-individu pada sebuah kesetaraan lahir dan batin.

      "Meskipun Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Namun melalui 
sila pertama, Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Jika kita 
meninggalkan prinsip-prinsip dasar maka keberadaan negara Indonesia sebagai 
negara satu kesatuan dipastikan akan menuju kehancuran," kara Wapres.

      Kegiatan Global Peace Leadership Conference dihadiri Ketua PBNU KH Agiel 
Siradj, Ketua penyelenggara Slamet Efendi Yusuf, Dr HYun Jin Moon Chairman 
GPFF, serta 100 peserta dari 17 negara dan 200 peserta dari dalam negeri. (Ant) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke