Harga Diri ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
PM Vladimir Putin, pernah marah kepada Michael Dell, pemilik perusahaan komputer bermerek Dell dari Amerika, gara-garanya sangat sepele, yaitu Michael Dell membagi-bagikan komputer buatan Amerika Serikat ke sekolah-sekolah yang ada di Russia. Ketika itu PM Putin pesannya kira-kira mengatakan sebagai berikut "apa dikira orang Russia tidak bisa membuat komputer sendiri?" Kata-kata PM Putin itu dimulai dari kata berikut: "We don't need help. We are not invalids. We don't have limited mental capacity." Sedangkan di Indonesia saya tahu ada proyek dari USAID yang membagi-bagikan komputer dan juga akses internet serta training Internet, maka bangsa Indonesia merunduk-runduk bak lele yang sudah lama nggak pernah makan tahi...jadi ketika ada tahi dari Amerika jatuh, maka lele itu segera membuka mulutnya lebar-lebar untuk mencaploki tahi-tahi yang jatuh dari Amerika. Saya cukup tahu bagaimana karakter orang-orang Russia, karena saya berkeluarga dengan orang Russia. Saya juga tahu betul bahwasanya orang-orang Russia juga tidak terlalu mudah 'dibeli' dengan uang. Sejak awal, oleh para pendirinya, negeri Russia disetting sebagai negeri sains atau ilmu pengetahuan, lihat saja tulisan-tulisan VI Lenin dan Leon Trotsky yang menyatakan rakyat kita lebih senang meneliti sesuatu daripada mencari uang. Atau perbandingkan saja kata-kata para founding fathers, misal Thomas Jefferson di Amerika, berapa banyak Jefferson menyinggung pentingnya ilmu pengetahuan? Sedangkan di Russia, dari Plekhanov, Dietgen, Lev Trotsky, VI Lenin, anda akan banyak sekali temukan tulisan mereka tentang pentingnya ilmu pengetahuan khususnya Natural Sains. Jadi memang secara kultural sudah berbeda, orang terhormat di Russia adalah orang yang berilmu pengetahuan tinggi, jago main catur, dan juga orang kuat, perempuan Russia menyukai pria yang kuat dan berkarakter, sedangkan di Indonesia, orang yang dihormati adalah orang yang paling pandai membual kepercayaan/charlatan agama. Lihat saja para pemuka agama banyak yang punya massa, disegani, dan dijadikan panutan banyak orang. Saya kira puncak dari mahalnya harga diri Russian adalah ketika memenangkan WW 2 melawan Adolf Hitler...dan tentunya penanaman karakter Stalin ketika mengambil keputusan terhadap anaknya, yaitu Letnan Jacob...jawaban Stalin merupakan jawaban yang saya tahu menjadi jawaban paling mahal terhadap harga diri negeri Russia. "Tidak pantas seorang letnan ditukar dengan seorang jenderal" inilah jawaban Stalin ketika mengetahui anaknya Jacob yang berpangkat Letnan telah tertawan di kamp konsentrasi Nazi Jerman, dan Adolf Hitler meminta ditukar dengan jenderal Paulus yang disuruhnya bunuh diri, ditawarinya naik pangkat menjadi jenderal penuh, namun tetap saja jenderal paulus memilih menyerahkan diri. Dan harga diri seorang pemimpin berkarakter seperti Stalin bisa kita lihat, dia pada akhirnya memilih melepaskan jenderal Paulus, meski anaknya sendiri Letnan Jacob telah mati di kamp konsentrasi Nazi Jerman. Jadi anda tahu bagaimana karakter Stalin? Stalin yang dikenal begitu kejam ternyata sama sekali tidak membunuh jenderal Paulus, padahal kalau mengikuti pikiran orang-orang bermental tempe kayak rata-rata orang Indonesia, pastilah kalau seorang ayah yang anaknya ditawan dan juga mempunyai tawanan, maka kalau anaknya dibunuh lawan, maka si ayah ini akan balas dendam membunuh tawanannya. Jadi, kalau mau menganalisis siapa Stalin, saya berani bertaruh Stalin bukan seorang pendendam, apabila dia seorang pendendam maka jelaslah sudah dia akan membunuh jenderal Paulus karena anaknya Jacob telah mati di kamp konsentrasi Nazi Jerman. Jadi Stalin membunuh banyak orang yang rata-rata berada di kamp kerja paksa di gulag siberia karena JELAS SEKALI bukan alasan pribadi, Komunisme tidak mengenal kepemilikan harta pribadi, dan juga tidak mengenal harta warisan, jadi Stalin mengambil keputusan itu jelas karena demi KEPENTINGAN NEGARANYA, dan jauh dari sifat kepentingan pribadinya. Saya kira hanya orang-orang bodoh Indonesia yang rata-rata memang mentalnya tempe dan matanya picek selain banyak keracunan agama yang nggak bisa menganalisa siapa sebenarnya Stalin ini. Jadi dalam kacamata banyak orang, yang dilihat adalah kejahatan Stalin saja, tapi tidak menganalisa mengapa semua itu bisa terjadi dan siapa yang diuntungkan dari apa yang dilakukan oleh Stalin. Dari sini bisa dianalisis lebih lanjut mengapa komando Adolf Hitler tidak dipatuhi oleh jenderal Paulus, sedangkan Joseph Stalin dibela jutaan rakyat Russia yang akhirnya memenangkan perang 'harga diri' antara Nazi Jerman dan Bolsyewik Russia. Tidak main-main, di tahun 2009, gereja orthodox Russia mengusulkan memberikan gelar "santo" kepada Joseph Stalin, dan dalam survey siapa tokoh Russia paling dihormati, Stalin sempat menempati ranking 1, dan baru turun rankingnya setelah stasiun televisi Russia meminta agar memberikan suara kepada yang lain. Kiranya, Joseph Stalin-lah yang menanamkan karakter Russia sebagai bangsa terhormat dan penuh harga diri, sedangkan VI Lenin dan Trotsky yang menanamkan karakter rakyat Russia untuk bersains. Selanjutnya memang Russia secara militer boleh dikatakan sebagai negeri terkuat, karena memang secara kultural rakyat Russia menyukai kekuatan. +++ Di Indonesia saya melihat Soekarno, Tan Malaka, PKI, Masyumi lebih asyik berpolitik daripada menyusun visi seperti pemimpin-pemimpin negeri Russia. Dari membaca tulisan-tulisan orang besar yang penuh kontroversi seperti Adolf Hitler, Joseph Stalin, VI Lenin, saya semakin mengerti bagaimana mereka berpikir dan mulai memahami mengapa mereka penuh kontroversi. Mereka adalah seorang pemimpin-pemimpin besar yang berani MENGAMBIL KEPUTUSAN dan BERANI MENERIMA RESIKO-RESIKO terhadap KEPUTUSANNYA, dan yang menarik, mereka rata-rata melakukannya tidak dengan alasan PERSONAL. Sekejam-kejamnya Adolf Hitler, ia melakukan holocaust demi negaranya, dan juga banyaknya jatuh korban kerja paksa di gulag siberia oleh Stalin, semua bertujuan jelas....demi masa depan negaranya...dan jauh dari kepentingan personal. Disini saya tidak melihat urgensinya mengapa Soekarno sampai membunuh Tan Malaka dan juga saudara Musso? Apa yang ditakuti Soekarno kepada dua orang ini? Saya kira, masih banyak tindakan-tindakan pemimpin Indonesia yang dilandasi oleh kepentingan-kepentingan personal dan bukan dilandasi oleh suatu kepentingan negara, baik itu dilakukan dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY saat ini. +++ Sub Judul: Peta Kehidupan Kiranya saya melihat bahwasanya rata-rata orang hidup mencari petunjuk atau peta kehidupan, agar arah hidupnya benar. Namun kiranya banyak orang menggunakan peta buatan arab saudi yang disusun secara personal subyektif oleh seorang nabi yang omongannya penuh dengan hal-hal absurd, konyol, tidak bisa dibuktikan. Sedangkan visi dari seorang pemimpin VI Lenin memberikan peta kehidupan yang lebih jelas, bahwasanya petunjuk kehidupan diletakannya kepada natural sains. Jelas ini peta yang obyektife, yang diterima oleh banyak orang, dan merupakan gambaran yang jelas, nyata, dan benar (karena terbuktikan) Saya kira, masalah peta kehidupan ini bukanlah hal sepele buat saya,misal saya akan pergi ke suatu tempat, petunjuknya salah, pasti saya kesasar-sasar, selain itu jelas membuang-buang waktu, membuang-buang energi, dan banyak hal-hal yang tidak efisien lainnya. Jelas sudah kiranya orang Indonesia bakalan banyak yang tidak tahu buat apa mereka hidup, karena dari petunjuknya saja rata-rata sudah mengambil jalan yang salah. Masalah Weltanschauung ini bagi saya sangatlah penting, karena ini pola pikir, dari pola pikir/software otak kita ini akan memberikan instruksi kepada hardware tubuh kita dan membentuk perilaku keseharian kita, membentuk budaya kita, membentuk tata-cara bertindak kita. Kalau pola pikirnya/weltanschauungnya salah ya tentu hidupnya jadi sia-sia dan tidak banyak bermanfaat. Adolf Hitler sendiri dalam bukunya "Mein Kampf" juga menuliskan tentang pentingnya sebuah weltanschauung bagi rakyat jerman.... dan memang seperti "tikus kecebur comberan" dengan Soekarno...yang malah membuat weltanschauung di sila pertamanya "Ketuhanan Yang Maha Esa", padahal semestinya dia sebagai pemimpin besar sudah selayaknya membaca "Mein Kampf" ataupun "Materialisme dan Empiriokritisme", atau mungkin saja Soekarno kebanyakan ngentot jadi malah mengabaikan buku-buku penting yang ditulis oleh orang-orang besar. +++ Sub Judul: Tan Malaka dan Pan Islamisme Tan Malaka menulis Madilog atau Materialisme Dialektika Logika. Masalahnya saya tidak begitu yakin Tan Malaka mengerti apa yang ditulisnya. Dalam kacamata saya, Tan Malaka dan Soekarno hampir mirip, mereka mencoba campur adukan ideologi. Soekarno jelas mencoba mencampur adukan ideologi Nasionalisme, Agama, Marxisme. Sedangkan Tan Malaka mencoba menggabungkan marxisme dan islam. Saya kira keduanya tidak detil membaca tentang Materialisme/Fisikalisme Saya kira mereka berdua mengira marxisme seperti agama. Saat ini kita tahu bahwasanya agama terdefinisi sebagai kepercayaan, dan agama menjadi sub-struktur budaya. Artinya kalau agama adalah sub-struktur budaya maka bisa disinkretiskan, atau dicampuradukan, misal tradisi hindu dan islam menjadi kejawen. Tapi masalahnya marxisme punya landasan dasar yang kuat (yang kemungkinan besar tidak dimengerti oleh Soekarno dan Tan Malaka) landasan dasar marxisme adalah Materialisme/Fisikalisme... lha ya bagaimana fisikalisme kok dicampur agama dan budaya? Disinilah letak kesalahan para founding fathers yang saya lihat rata-rata kurang memahami apa itu materialisme. Jelasnya Materialisme atau Fisikalisme adalah hukum alam yang nggak bisa disinkretiskan. Yang namanya gravitasi di Zimbabwe, di Haiti, di Papua ya tetap ada... Yang namanya e=mc2 + al-baqarah masak mau menjadi e=mc3 Para founding fathers ini setidaknya ada dua kemungkinan... -kemungkinan pertama mereka sinting kalau mau mensinkretiskan materialisme dan budaya -kemungkinan kedua mereka tidak tuntas membaca basic argumen marxisme yang berusaha menjelaskan segala gejala alam semesta dari hulu (natural sains) sampai ke hilir (komunisme, budaya, politik, seni) saya berharap...dan analisis saya mengatakan kemungkinan yang kedua, artinya para founding fathers saya kira banyak membaca tentang 'Das Kapital' , 'History Materi', dan juga ' Komunis Manifesto', tapi saya kira mereka mengabaikan "Duhring, Dialectic of Nature, ataupun Materialism and Empiriocriticism" dimana judul yang terakhir menunjukan kejeniusan pemimpin Russia, Vladimir Ilyich Lenin. *** Catatan: Saya jelas mengkritik keras para founding fathers, dan saya siap menerima adu debat dari siapa saja, terutama tentang materialisme, karena ini masalah weltanschauung/world view/landasan berpikir Weltanschauung bukan masalah sepele, karena weltanschauung-lah yang membentuk perilaku manusia. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
