Refleksi : Kalau presiden adalah pengsponsor Laskar Jahat, maka tentu saja menteri-menteri pun tidak berbeda jauh. Mereka adalah burung sama bulu. Jadi apa yang bisa diharapkan dari NKRI? hehehe
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=27044 2010-10-18 Kerukunan Agama Memburuk Rapor Merah Menteri Agama KIB II [JAKARTA] Kinerja Menteri (Menag) Agama Suryadharma Ali dinilai sangat rendah menjelang setahun Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Menag dinilai telah gagal menjaga dan membina kerukunan antarumat beragama. Bahkan dalam menyelesaikan persoalan di antara umat, Menang cenderung tidak menempatkan diri sebagai menteri untuk semua rakyat Indonesia, tetapi lebih kepada satu kelompok agama. "Kinerja Menteri Agama Suryadharma Ali pantasnya diberi nilai 4. Tidak hanya rapor merah, tetapi bila perlu direshuffle saja. Penggantinya ke depan jangan yang dari parpol lagi, karena seperti Menag sekarang memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingan pribadi sebagai ketua PPP," tegas Ketua Setara Institut Hendardi kepada SP di Jakarta, Senin (18/10). Politisi senior PDI-P, Prof Hamka Haq juga memberikan nilai 4 bagi kinerja Menag Suryadharma Ali. Menurutnya, Menag mendapatkan nilai merah karena tidak menempatkan diri sebagai negarawan. Menang cenderung memilih dan membela kelompok tertentu, sehingga memberi peluang penganiayaan kepada kelompok lain. Misalnya, Menag mengeluarkan pernyataan bahwa Ahmadiyah harus dibubarkan seolah melegitimasi tindakan kekerasan kelompok lain terhadap Ahmadiyah selama ini. Selain itu, pimpinan Baitul Muslimin Indonesia ini mengatakan, sepanjang kepemimpinan Suryadharma Ali, Kemenag seakan telah menjadi kementerian haji. Sepanjang setahun ini yang diurus Menang hanyalah haji. Tidak dimunculkan bagaimana membangun kebersamaan, kerukunan, memberikan pendidikan kepada umat, serta memberdayakan lembaga keagamaan lintas agama. "Atau membuat kurikulum yang berwawasan nasional supaya jangan ada kurikulum penjajahan seperti di pesantren yang memerangi orang kafir," katanya. Senada dengan itu, Rumadi dari The Institute Wahid mengatakan, Suryadharma Ali tidak punya cukup kredibilitas soal visi pluralisme agama. Inilah yang membuatnya seringkali memanfaatkan posisi Menag untuk kepentingan partainya. Begitu pula dalam menyelesaikan persoalan agama, Menag selalu membawa ideologi partainya. Sebenarnya, kata Rumadi, sekalipun menteri berlatar belakang parpol, jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bisa mengontrol dan tegas, perilaku menteri seperti itu tidak akan terjadi. "Yang terjadi selama ini SBY membiarkan Menteri Agama melakukan apapun. Kalau memang tidak mampu mengontrol, maka SBY harus mengambil menteri yang bukan dari parpol," ujarnya. Keberagaman Terkait dengan itu, peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ardian Sopa meminta pemerintah lebih tegas dan melindungi warga negara dari konflik menyangkut keberagaman. "Saat ini banyak pembela keberagaman atau kelompok masyarakat moderat agak mengambil jarak. Salah satu penyebabnya adalah teror yang kerap diarahkan kepada mereka," ujarnya. Karena itu, pemerintah yang harus aktif melindungi seluruh masyarakat, termasuk yang berpikiran moderat. Pemerintah harus menjamin keberadaan para pembela keberagaman. Sedangkan dari sisi kelompok moderat jangan terlalu takut untuk bersuara karena kebebasan berpendapat dijamin oleh negara. "Pemerintah seharusnya bisa menjadi perantara, sehingga semuanya bisa berjalan bersama-sama. Hal yang terjadi selama ini adalah tidak dirasakannya kehadiran pemerintah," ujar Ardian. Secara terpisah, aktivis Forum Solidaritas untuk Kebebasan Umat Beragama Sereida Tambunan mengharapkan, tokoh masyarakat dan pimpinan nasional lebih banyak menyuarakan bahwa keberagaman adalah kekuatan. Untuk tokoh masyarakat, sosialisasi minimal dilakukan kepada basisnya masing-masing."Saat ini tidak semua melakukan hal yang sama, sehingga persepsi yang berbeda akhirnya didapat di masyarakat. Itu juga karena pemimpin nasional tidak tegas untuk menyampaikan tentang keberagaman ke masyarakat hingga level terendah," tegasnya. Oleh karena itu, sambung Sereida, pihaknya sangat berharap agar semua tokoh-tokoh masyarakat maupun nasional mau menyampaikan bahwa keberagaman adalah kekuatan dan kekayaan. Sementara, pemerintah harus tegas agar peristiwa konflik di masyarakat tidak berulang. Sementara itu, tokoh masyarakat Salahuddin Wahid menuturkan, Indonesia harus mengambil ilham dan pelajaran dari peristiwa penyelamatan pekerja tambang di Cile. Hal yang terjadi, yakni saling bekerja sama, saling mendukung, serta saling menyemangati saat menghadapi kesulitan. "Tidak mendahulukan diri masing-masing. Kita juga sedang menghadapi masalah bersama, jadi harus bekerja sama. Perbedaan agama atau ras tidak boleh menjadi alasan untuk tidak bekerja sama," ungkapnya yang akrab disapa Gus Solah. Ancaman Radikalisme Sebelumnya, Wakil Presiden Boediono mengatakan, radikalisme merupakan ancaman nyata yang dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara Indonesia. "Radikalisme merupakan ancaman riil yang bisa menceraiberaikan sendi-sendi kehidupan masyarakat," katanya saat memberikan sambutan pada Pembukaan "Global Peace Leadership Conference" di Jakarta, akhir pekan lalu. Ia mengatakan, selama ini manusia memahami dirinya secara sempit, bahkan tidak jarang manusia sering mengkotak-kotakkan dirinya berdasarkan ras, warna kulit, bahasa, agama, kepercayaan, serta kebiasaan maupun pikirannya. "Sayangnya, perbedaan-perbedaan tersebut malah kerapkali menjadi awal konflik dan pertentangan antarumat manusia, sesama ciptaan Sang Khalik," ujar Boediono. Wapres menambahkan, dalam catatan sejarah peradaban manusia menurut tertoreh banyak sekali ketololan dan kepicikan. Padahal, manusia pasti mempunyai satu ciri dan karakteristik yang tidak mungkin diubah. Itu adalah karunia Tuhan yang dibawa sejak lahir. "Apakah kulit kita coklat, kuning, putih, hitam itu bukanlah sebuah pilihan. Apakah kita lahir dari orangtua Muslim, Kristen, Hindu atau kepercayaan lain, bukan kehendak kita," tutur Boediono. Namun, hingga kini manusia masih terjerat dalam pemahaman sempit. Di banyak negara, kata Boediono, masalah rasisme atau pertentangan antaragama masih menjadi persoalan mendasar, bahkan berbuah kekerasan. "Kita mulai belajar memahami kemanusian secara hakiki untuk menyadari betapa indahnya perbedaan beragama dan keberagaman. Seharusnya, bumi kita menjadi taman sari peradaban yang indah dan serasi," ungkap Wapres. Pada kesempatan itu, Boediono berharap adanya kesetaraan dan penghormatan terhadap individu, dan segala aspek kehidupan lebih mementingkan nilai-nilai universal berasaskan demokrasi dan hak asasi manusia yang meletakkan individu-individu pada sebuah kesetaraan lahir dan batin. "Meskipun Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Namun melalui sila pertama, Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Jika kita meninggalkan prinsip-prinsip dasar maka keberadaan negara Indonesia sebagai negara satu kesatuan dipastikan akan menuju kehancuran," kata Wapres. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
