Refleksi : Salahnya ialah bukan kepentingan rakyat yang akan dinomorsatukan, tetapi kepentingan bisnessnya, contoh Lumpur Lapindo. Tetapi, kalau dilihat dari segi makna Negara Kleptokratik Republik Indonesia (NKRI), tentu saja bagi kaum kleptorkrat tidak ada salahnya.
http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=27034 010-10-18 Ical Capres 2014, Apa yang Salah? Oleh : Zainal Bintang Dipertajam oleh hasil survei Lingkaran Survey Indonesia (LSI) yang dirilis 14 Oktober 2010 di semua media, isu pencapresan kontan merebak. Berbagai reaksi tokoh parpol maupun pengamat politik bermunculan dalam tataran normatif : pro kontra. Menarik dicermati adalah keriuhan yang terjadi di internal Partai Golkar. Masuk akal, jika elite beringin bergembira ria, karena dikatakan sebagai parpol yang berpotensi memenangi Pemilu 2014 dan akan bersaing ketat dengan partai Demokrat. Sejak Golkar dipimpin Aburizal Bakrie (Ical) sebagai Ketua Umum hasil Mubes VIII di Pekanbaru Oktober 2009, Golkar tidak henti-hentinya dilanda berbagai tuduhan negatif, terutama kepada Ical terkait sepak terjang grup bisnisnya, apakah itu kasus lumpur Lapindo atau pengemplangan pajak. Namun, sempat mengejutkan ketika Menkeu Sri Mulyani terpental ke Amerika Serikat dan Ical mendapat jabatan Ketua Harian Setgab Koalisi (gabungan enam parpol pendukung SBY-Boediono). Teropong politik mulai bergeser, mengintip lebih jauh ke dasar bumi yang gelap. Tentang apakah ada komitmen "khusus" antara SBY dan Ical, dan hanya mereka berdua yang tahu. ?Aneh bin ajaib, tanpa jabatan formal di eksekutif, Ical diperhitungkan.Golkar seharusnya bisa "berselancar" di gelombang ini. Ical Capres? Kurang dari dua puluh empat jam keluarnya rilis LSI, Partai Golkar menggelar jumpa pers. Pernyataan LSI yang menyebutkan Ical masih bisa dipoles, sedangkan SBY sudah mentok (optimum), dijawab dengan rencana penetapan Ical sebagai Capres 2014 pada Rapimnas I Golkar yang digelar tanggal 17-20 Oktober di Jakarta. Sebagai parpol, pada tempatnya jika Golkar memainkan instrumen dan melodi politik dalam setiap degup jantungnya. Mengajukan Ical sebagai capres Partai Golkar 2014 tidak ada yang salah. Sesuai dengan fatsun politik, Ketua Umum selalu mendapat tempat teratas dalam setiap perhelatan politik. Ketua Umum adalah simbol kehormatan organisasi. Itu konsekuensi logis. Salah satu faktor kegagalan Jusuf Kalla sebagai Capres 2009 karena keputusan untuk maju sebagai capres baru diproses empat bulan sebelum Pilpres 2009. Selain itu, ada faktor tarik menarik yang sangat kuat diantara elite Golkar, yang merembes ke daerah. Juga karena Jusuf Kalla sendiri terdeteksi pada awalnya hanya mau jadi wapresnya SBY saja. Rapimnas Partai Golkar yang dihadiri ratusan pengurus dari pusat, tingkat satu dan dua seluruh Indonesia, dihadapkan kepada jalan bercabang dua. Apakah akan menetapkan Ical pada momentum sekarang dengan segala plus minus, ataukah belum juga ada plus minusnya. Antara Etika dan Pragmatisme Peserta Rapimnas perlu merenung dalam-dalam. Jika harus menempuh jalan etika dan fatsun organisasi, maka penetapan Ical sebagai Capres 2014 harus diputuskan saat ini. Tersedia cukup waktu hampir empat tahun untuk melakukan segala daya upaya pencitraan sang calon di semua lini. Konsolidasi kader, ideologi dan program perlu tancap gas. Seharusnya keluarga besar Golkar menggunakan momen ini untuk menampilkan prilaku Golkar Baru. Mengikis budaya transaksional dan saudara kembarnya yang bernama pragmatisme, karena perilaku yang tidak terpuji itu dalam jangka panjang merugikan diri sendiri. Pengalaman mencatat, dua capres Golkar sebelumnya gagal karena kesalahan penghayatan antara dimensi etika dan dimensi pragmatisme. Politik yang harus diusung Golkar Baru adalah politik kebangsaan, sesuai mottonya : Suara Golkar, Suara Rakyat! Mengedepankan asas perjuangan untuk rakyat secara sungguh-sungguh, maka di dalamnya melekat kesediaan berkorban. Artinya, mengorbankan keinginan pribadi demi tercapainya keinginan organisasi yang tersirat dalam motto di atas. Bilamana keluarga besar Golkar kompak menyatukan suara dalam Rapimnas untuk menetapkan capresnya, hal itu bukan hanya bermanfaat bagi pencitraan Golkar, tapi Golkar juga tampil terdepan, memimpin peperangan, melawan virus pragmatisme yang berakar dalam budaya transaksional, yang merebak mengancam nilai-nilai budaya bangsa yang terangkum dengan nyata di dalam semua sila Pancasila. Terlepas dengan segala kekurangannya, di era Soeharto, pola konsistensi mengusung satu nama capres dari awal dan dielus sampai terpilih, dapat dipertimbangkan dari sisi, betapa bermanfaatnya kekompakan dan kesatuan pandang yang dibina dari awal. Membiarkan nama capres melayang-layang di langit politik, yang terkadang mendung dan terkadang cerah, hanya akan menyuburkan spekulasi dan calo politik. Saatnya keluarga besar Golkar Baru menyatukan barisan menghadap ke depan, cara ini akan menutup rapat-rapat bibit friksi internal yang selama ini ternyata hanya merugikan Golkar, bahkan menyeret Golkar ke lembah kekalahan. Penulis adalah Tokoh Senior Partai Golkar [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
