http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/21/176615/70/13/Lapak-lapak-Kekecewaan
Lapak-lapak Kekecewaan Kamis, 21 Oktober 2010 00:00 WIB SETAHUN pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Boediono ditandai demonstrasi masif di banyak kota di Indonesia. Masif, karena kekecewaan yang mewujud dalam bentuk unjuk rasa merebak sampai ke kota-kota kabupaten. Satu tahun pemerintahan SBY periode kedua, terlepas dari perdebatan elite tentang indikator kinerja, hadir dengan akumulasi perkara yang menumpuk sehingga menggelorakan ketidakpuasan. Perkara lama dan perkara baru tumpuk-menumpuk. Supaya tidak menambah kerumitan debat, mari kita bersepakat dalam satu indikator saja. Yaitu, hasil berbagai survei yang seragam bahwa tingkat apresiasi terhadap kinerja pemerintah turun drastis. Apresiasi adalah sikap spontan publik terhadap apa yang tangible. Mereka tidak perlu repot-repot mencari angka-angka untuk menjelaskan apa yang dirasakan. Di sinilah letak perkara besar dengan pemerintahan sekarang. Antara retorika dan implementasi tidak nyambung. Retorika yang bagus-bagus dan sangat bijaksana berbenturan sangat diametral dengan fakta yang hidup dan dirasakan publik sehari-hari. Ada jarak yang semakin menyingkirkan publik dari proses dan substansi pemerintahan. Pemerintahan dipraktikkan sebagai pembahasan agenda oleh segelintir elite dan berhamba pada interest group yang sangat sedikit itu. Ya partai, ya DPR, ya birokrasi. Kekecewaan publik yang kemudian menjelma menjadi revolusi, dari pengalaman sejarah, terjadi karena terlalu sedikit orang menikmati keuntungan dari penderitaan terlalu banyak orang dalam proses bernegara. Bibit-bibit itu mulai hadir dalam demonstrasi yang merebak pada setiap momentum. Adalah paradoksal ketika SBY yang sangat dikenal dengan politik pencitraan, memimpin pemerintahan yang semakin merosot kadar apresiasi publik. Berarti ada yang salah. Karena itu haruslah fokus pada upaya mempersempit apa yang diomongkan dengan apa yang dibuat dan dirasakan manfaatnya. Pemerintahan saat ini hanya memiliki satu-satunya good guy pada diri SBY. Yang lain tidak jahat, tetapi belum menjadi icon yang memperkuat harapan. Logika-logika manipulatif yang berlindung di balik jargon kepentingan umum, demi hukum, misalnya, harus juga dipahami publik bahwa itu benar adanya. Ketika logika itu meruncing pada kekecewaan, berarti ada yang salah dan ada yang berbohong. Mayoritas publik tidak menginginkan pemerintahan ini dijatuhkan di luar mekanisme pemilu. Tetapi pesan yang semakin nyaring adalah persempit jarak antara harapan dan kenyataan. Masarakat yang menderita karena proses penyelesaian perkara apa saja di tangan negara, tidak boleh diperlakukan sebagai pengemis keadilan. Orang yang menggelar lapak-lapak kekecewaan dalam demonstrasi, kemarin, adalah wakil dari banyak sekali warga yang secara tidak adil dirugikan. Ini salah satu yang memelorotkan apresiasi publik. Masih ada 4 tahun untuk membuktikan bahwa SBY memang bisa. Semoga tahun depan momentum tahun kedua pemerintahan diisi dengan apresiasi publik yang semakin demonstratif. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
