KSA bukan negara nDeboost namun berusaha objektif
Pernah dalam perjalanan dari Dahran ke Rastanura, sepanjang perjalanan
terlihat flat-flat kosong ga berpenghuni. Mentor nDeboost bilangnya
"karena
ga ada fisibelity study" (sambil ketawa). Pemerintah KSA menyediakan
tempat
(gratis)  kepada warganya yang nomad namun ga diterima. Disamping
ga bisa pelihara kambing-unta di dalam flat, juga khewan peliharaannya
ga bisa bebarengan diangkut kekamar pakai lift.

Seperti yang pernah disampaikan, saat di musim haji banyak sekali
pendatang,
ntah dari mana-mana. Termasuk pengemis. Pernah nDeboost kasih buah-
buahan segar kepada seorang pengemis (bawa anak), langsung dibuangnya.
Dipagi hari, sepanjang jalan dari pemondokan ke Masjidil haram, banyak
penjual "sarapan pagi" berbahasa Jawa. Juga di Arafah dan di Mudzalifah.
Rujak cingur atau gado-gado bisa didapat. Warga negara negara mana
mereka ini? Hanya merekakah?

Sekarang bagaimana di negaranya nDeboost?
Tiap setelah Idul Fitri, bbrp pemerintahan kota-kota besar merazia
  "pendatang haram".

--- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote:
>
>
http://www.tempointeraktif.com/hg/wartahaji_kisah/2010/10/15/brk,2010101\
5-284946,id.html
>
>
> Menengok Kehidupan Kaum Miskin Arab Saudi di Musim Haji
> Jum'at, 15 Oktober 2010 | 13:42 WIB
> Besar Kecil Normal
>
> Kehidupan kaum miskin warga Arab Saudi. (arabnews.com)
>
> TEMPO Interaktif, Mekah - Meskipun mendorong peziarah tua dan orang
sakit dengan kursi roda bukan pekerjaan yang menarik, beberapa orang
Arab Saudi di Mekah menjalankannya sebagai cara untuk bertahan hidup.
Pekerjaan tersebut dilakukan dengan penuh kejujuran untuk menghidupi
mereka dan keluarganya.
>
> Berlokasi di kolong jembatan Misfala di kawasan pusat Kota Mekah,
kelompok kecil warga miskin Arab Saudi itu memberi jasa kepada para
peziarah lansia yang akan ke Masjidil Haram. Menggunakan furnitur usang,
mereka tidur di bawah jembatan, tempat untuk melakukan berbagai kegiatan
layaknya di dalam rumah mulai dari berganti pakaian hingga meminum dari
dispenser. Untuk mandi dan uang hajat, mereka menggunakan kamar mandi
Masjid Grand.
>
> Saad Hussein, 38 tahun, seorang pria Saudi mengatakan ia sudah tinggal
di bawah jembatan ini selama tiga tahun. "Saya terpaksa tinggal di sini,
di bawah jembatan ini, karena saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan.
Kualifikasi yang saya miliki adalah sertifikat sekolah dasar,"katanya.
>
> Ia mengaku lebih suka tinggal dan bekerja seperti ini dari pada hanya
menganggur dan tidak peduli bagaimana orang melihat kehidupannya.
>
> "Dulu saya malu untuk melakukan hal ini, tapi itu lebih baik dari pada
mencuri. Saya telah melihat banyak orang Saudi seperti saya. Kita hidup
bersama di bawah jembatan pada malam hari dan mencari nafkah di siang
hari," katanya.
>
> Menjalani hidup di bawah jembatan seperti ini sangat sulit. Ia tidak
mendapatkan banyak uang dan jarang mendapat upah 100 riyal atau sekitar
Rp 300 ribu dalam sehari.
>
> Muhammad Al-Araaj, 49 tahun, yang memiliki tiga anak, tinggal di
sebuah rumah tua dekat jembatan dan harus membayar sewa sebesar 1,200
riyal per bulan. "Saya tidak bisa menemukan pekerjaan yang layak dan
memutuskan untuk membeli kursi roda dan mencari nafkah seperti ini,"
kata Al-Araaj.
>
> "Aku melayani peziarah tua dan pengunjung lansia. Karena saya tidak
bisa mendapat banyak uang dan pendapatan tidak stabil, saya harus
bekerja siang dan malam agar bisa cukup menghidupi keluarga saya dan
membayar sewa," katanya.
>
> Untuk bisa maksimal melakoni pekerjaannya, hidup Al-Araaj di bawah
jembatan jauh dari keluarganya. "Aku mengunjungi keluarga dan anak-anak
seminggu sekali. Semua orang yang hidup di bawah jembatan ini punya
cerita sedih. Mereka semua memiliki keluarga untuk mendukung," katanya.
>
> Al-Araaj mengaku hanya mendapatkan penghasilan sebesar 40 hingga 50
riyal sehari dalam hari normal. Sedangkan selama musim haji seperti
sekarang ini ia bisa meraup 250 hingga 400 riyal per harinya.
>
> Begitupun dengan kehidupan Khaled Al-Jeddawi, 40 tahun. Lelaki yang
belum menikah ini sebenarnya memiliki ijazah sekolah yang cukup tinggi
tetapi dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga terpaksa
memutuskan untuk hidup di bawah jembatan Al-Misfala.
>
> "Kadang-kadang kami mengantar peziarah tidak dibayar karena mereka
tidak punya cukup uang. Tapi ini tidak apa-apa, cukup jika mereka
mendoakan kita," ungkapnya.
>
> Menurut dia, hidup di bawah jembatan secara bersama-sama menjadikan
seperti keluarga. "Kami makan dan hidup bersama. Kami juga memiliki
aturan. Siapapun yang tertangkap berbuat curang, misalnya mengambil
barang jemaah haji maka akan ditendang keluar dari lingkungan ini,"
katanya.
>
> Ali Aman, 44 tahun, warga Saudi lainnya mendatangi Departemen Sosial
untuk mendaftar agar mendapat bantuan kesejahteraan. Namun, ia tidak
memenuhi syarat untuk memperoleh bantuan.
>
> "Pada usia seperti saya ini, saya dianggap masih mempunyai beberapa
pilihan dan kesempatan hingga akhirnya saya membeli sebuah kursi roda
seharga 400 riyal. Saya sudah melakukan pekerjaan ini selama tiga tahun
sampai sekarang," katanya.
>
> Aman lalu membayangkan ia bisa memutar arah jarum jam agar bisa
belajar sampai perguruan tinggi supaya bisa mendapatkan gelar dan
pekerjaan yang layak.
>
> ARABNEWS l BASUKI RAHMAT
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke