Recent Posts            Total Kontroversial QuranMari Kita 
ganti kata Muslim dengan non muslim!Naskah Quranic SANA’A (Bagian 2)WHAT IF 
They Burned A Koran And Nobody see it?HANCURNYA SIFAT KEILAHIAN QUR’AN
                Blogroll
        100 BUKU ISLAM DR. BOUTROS1000 Kesalahan QURAN30 DAYS INTERNATIONALARAB 
WORLD MINISTRIESBUKTI SAKSIDOWNLOAD ARAB BIBLEDOWNLOAD ARAB BIBLE 
MP3DULADIFAITHFREEDOMPEDIAGEERT WILDERSIRSHAD MANJIKABAR SUKACITAKESALAHAN 
QURANKONTRADIKSI ALKITABKONTRADIKSI ALKITAB-Sarapanpagi.orgMENGENAL 
MUHAMMADMUSLIM HARUS TAHUPUTRA HAMASRELIGIOUS PERSECUTIONSSATE MUSLIMTANYA 
JAWAB ALKITABVIDEO GEGERKAN ISLAM
Archives                October 2010September 2010August 2010
                        Top Posts                       Bagaimana Jika Qur'an 
Bukan Wahyu Tuhan?VIDEO TEMUAN MANUSKRIP QURAN GEGERKAN ISLAMTotal 
Kontroversial Quran            HANCURNYA SIFAT 
KEILAHIAN QUR’ANhttp://secretofquran.wordpress.com/


                                                Oleh: Sujit Das
“Menghormati  iman orang-orang 
percaya yang tulus seharusnya tidak menyebabkan  investigasi yang 
dilakukan para ahli sejarah dilarang atau  dibelokkan….Seseorang harus 
mempertahankan hak-hak metodologi dasar  sejarah.”
- Maxime Rodhinson, 1981; p. 57
(Photo Source: Wikipedia, 2009)

Foto salah satu perkamen Sana’a Qur’an dari Gerd R Puin’s, memperlihatkan 
lapisan revisi yang dilakukan terhadap Quran
Seringkali  orang-orang Muslim 
mengatakan bahwa baik Perjanjian Lama maupun  Perjanjian Baru telah 
dikorupsi dan diubah secara serius. Mereka  katakan, supaya sebuah Kitab
 Suci bisa dikatakan sebagai otoritatif,  maka ia harus dipelihara tetap
 tanpa perubahan sama sekali, dan menunjuk  pada Qur’an mereka sebagai 
kitab suci yang diwahyukan kata demi kata  dan surat demi surat kepada 
Muhamamad oleh Allah. Quran mengklaim,  “Tidak boleh ada perubahan dalam
 firman-firman Allah” (10:64), dan  ”Tidak ada yang bisa merubah 
kata-kata (dan peraturan) Allah” (6:34).
Tetapi  betapa anehnya ‘doktrin 
pembatalan’ ini, dimana wahyu-wahyu yang datang  kemudian membatalkan 
wahyu-wahyu terdahulu, sebagaimana Quran (2:106)  menegaskan, 
”Wahyu-wahyu…..Kami membatalkan/mencabut atau menyebabkan  untuk 
dilupakan.” Juga, sebuah Hadis (6:558) dari Sahih Bukhari  menegaskan 
bahwa Muhammad melupakan banyak ayat. Disamping itu, Sunaan ibn Majah (3:
 1944) mencatat  bahwa setelah kematian Muhammad, sejumlah wahyu dimakan
 oleh seekor  kambing. Bagaimana kata-kata Ilahi bisa dimakan, diubah, 
dibatalkan atau  dihapuskan, meskipun ada klaim dari Allah dalam Sura 
10:64 dan 6:43?
Tidakkah  semua klaim-klaim dari Allah 
ini berkontradiksi dengan diriNya sendiri?  Tetapi ajaibnya; kenyataan 
ini sama sekali tidak mengganggu pemikiran  orang-orang Muslim. 
Barangkali, jika kita bisa menghadirkan Quran lain  yang “otentik”, dan 
yang berbeda dengan bentuk standar Quran yang ada  saat ini, maka Muslim
 akan mulai menggunakan logika mereka.
Kebenaran  yang sangat menghancurkan 
adalah bahwa sejumlah besar naskah-naskah  kuno, berasal dari abad 
pertama Hijrah ditemukan di Mesjid Agung di  Sana’a (Yaman), yang secara
 signifikan berbeda dengan Quran standar yang  ada sekarang. Sistem 
penanggalan dengan menggunakan Carbon meyakini  bahwa naskah-naskah 
Quran ini tidak dibuat oleh lawan-lawan keagamaan.  Disamping itu, 
naskah-naskah Quran ini ditemukan oleh orang-orang Muslim  sendiri, 
bukan oleh orang-orang kafir.
Barangkali inilah peristiwa yang paling memalukan dalam sejarah Islam yang 
sudah berlangsung selama 14 Abad.
Mesjid  Agung Sana’a adalah salah satu 
Mesjid tertua dalam sejarah Islam.  Gedung ini dibangun pada tahun 6 
Hijrah ketika Muhammad mempercayakan  salah seorang dari teman-temannya 
untuk membangun sebuah Mesjid di  Yaman, yang diperluas dan diperbesar 
oleh para pemimpin Islam dari masa  ke masa.
Pada  tahun 1972, ketika berlangsung 
restorasi Mesjid Agung ini (hujan deras  menyebabkan dinding bagian 
Barat Mesjid ini rubuh), para tukang yang  bekerja dalam sebuah ruangan 
mahkota diantara struktur bagian dalam dan  atap bagian luar, menemukan 
sebuah kuburan yang menakjubkan, yang pada  saat itu, karena 
ketidaktahuan mereka, mereka tidak menyadari apa yang  ada di situ. 
Biasanya mesjid tidak mengakomodasi kuburan, dan situs ini  juga tidak 
berisi batu nisan, tidak ada sisa-sisa tubuh/tulang manusia  dan juga 
tidak ada barang-barang peninggalan dari pemakaman. Tak ada  benda lain 
di dalamnya kecuali perkamen tua dan dokumen-dokumen surat  yang 
jumlahnya sangat banyak. Juga di dalamnya ditemukan buku-buku yang  
sudah rusak dan halaman-halaman teks individual dalam bahasa Arab, yang 
 sudah lebur menjadi satu oleh karena hujan dan kelembaban selama lebih 
 dari seribu tahun.
(Sumber foto: Dreibholz, 1999, p. 23)


Sejumlah  fragmen-fragmen perkamen Qur’anik dalam               
                                                     kondisi ketika 
mereka ditemukan
Para  tukang yang tidak mengerti itu 
kemudian mengumpulkan naskah-naskah  tersebut, memasukkannya dengan 
sembrono ke dalam 20 karung kentang, dan  meletakkannya pada tangga di 
salah satu menara Mesjid, dimana  naskah-naskah itu pun kemudian dikunci
 di situ. Naskah-naskah itu akan  kembali dilupakan, jika bukan karena 
Qadhi Isma’il al-Akwa, Presiden  Otoritas Barang-Barang Antik Yaman, 
yang di kemudian hari menyadari  pentingnya penemuan itu. Al-Akwa 
mencari pertolongan dari dunia  Internasional untuk menguji dan 
mengawetkan fragmen-fragmen itu, sebab  tidak ada seorang pun sarjana di
 negaranya yang sanggup mengerjakan  penemuan yang sangat kaya seperti 
ini. Pada tahun 1997, ia menerima  kunjungan dari seorang sarjana Jerman
 non-Muslim. Orang ini lalu  membujuk pemerintah Jerman untuk 
mengorganisir dan menjalankan sebuah  proyek restorasi.
Segera  setelah proyek itu dimulai, 
menjadi jelaslah bahwa “kuburan kertas” itu  adalah sebuah tempat untuk 
menyimpan puluhan ribu fragmen-fragmen dari  hampir seribu naskah-naskah
 kuno Quran, kitab suci Muslim. Otoritas  Muslim pada masa-masa awal 
Islam menganjurkan agar kopian-kopian Quran  yang telah rusak 
disingkirkan dari peredaran dan hanya mengijinkan  edisi-edisi kitab 
suci yang masih baik untuk dipakai. Juga tempat yang  aman seperti itu 
dibutuhkan untuk melindungi kitab-kitab itu dari  kebakaran atau 
kehancuran jika para penyerang datang, dan di sinilah  kemudian muncul 
ide untuk menyimpannya di sebuah ‘kuburan’ dalam Mesjid  Agung di 
Sana’a, yang pada waktu itu merupakan tempat untuk mempelajari  Quran. 
Hal ini sudah berlangsung sejak abad pertama Hijrah.
Restorasi  naskah-naskah itu diorganisir
 dan diawasi oleh Gerd R. Puin dari  Saarland University, di Jerman. 
Puin adalah seorang spesialis terkemuka  dalam bidang kaligrafi Arabik 
(studi mengenai tulisan tangan indah dan  artistik), dan merupakan 
seorang paleografi (studi mengenai  dokumen-dokumen dan tulisan kuno) 
Qur’anik. Selama sepuluh tahun ia  secara ekstensif menguji 
fragmen-fragmen perkamen yang berharga itu.  Tahun 1985, rekannya H. C. 
Graf V. Bothmer bergabung dengannya.
Tes-tes  Carbon-14 menunjukkan bahwa 
sejumlah perkamen itu berasal dari tahun  645-690 AD. Tahun pembuatan 
mereka yang sebenarnya bisa jadi lebih dini  lagi, karena C-14 
memperkirakan tahun kematian dari sebuah organisme  (perkamen adalah 
kulit binatang), dan proses itu hingga penulisan akhir  pada perkamen 
mencakup waktu yang tidak bisa diketahui. Tanggal  penulisan kaligrafi 
menunjukkan tahun 710-715 AD. Beberapa perkamen  kelihatannya berasal 
dari abad ke tujuh dan ke sembilan, dan karena itu  bisa disebut sebagai
 Qur’an tertua yang ada saat ini.
Pada  tahun 1984, Rumah Naskah (Dar al 
Makhtutat) didirikan di dekat Mesjid  Agung, sebagai bagian dari proyek 
kerjasama antara otoritas Yaman dan  Jerman. Sebuah usaha keras yang 
sangat besar dimulai untuk merestorasi  fragmen-fragmen Qur’anik. Antara
 tahun 1983 dan 1996, kira-kira 15.000  dari 40.000 halaman telah 
selesai direstorasi, khususnya 12.000  fragmen-fragmen pada perkamen dan
 naskah-naskah yang berasal dari abad  ke tujuh dan sembilan.
(Sumber Foto: Dreibholz, 1999. p. 22)


Perpustakaan  Dar al-Makhtutat dimana disimpan              
                                          Naskah-Naskah dan katalog yang
 baru ditemukan
Hingga  saat ini, hanya ada tiga kopian 
kuno Qur’an yang ditemukan. Yang  pertama disimpan di Perpustakaan 
Inggris di London, berasal dari akhir  abad ke tujuh dan dianggap 
sebagai yang paling tua. Tetapi naskah-naskah  Sana’a bahkan usianya 
lebih tua. Lebih dari itu, naskah-naskah ini  ditulis dengan huruf yang 
aslinya berasal dari Hijaz – wilayah Arabia  dimana Nabi Muhammad hidup,
 yang membuatnya tidak hanya sebagai naskah  tertua yang berhasil 
selamat, tetapi kopian otentik Qur’an yang paling  tua. Arabik Hijazi 
adalah tulisan (Mekkah atau Medinah), dan Qur’an  mula-mula ditulis 
dengan huruf ini. Meskipun potongan-potongan ini  berasal dari Qur’an 
paling awal yang pernah ada, mereka juga merupakan  palimpsests 
(naskah-naskah dengan tulisan asli yang telah dipakai  ulang).
Gaya  tulisan tangan yang indah dan 
artistik dan jarang dipakai menjadi hal  yang menarik perhatian Puin dan
 temannya Bothmer, tetapi hal yang lebih  mengejutkan lagi menanti 
mereka. Ketika naskah Qur’an ini  diperbandingkan dengan naskah Qur’an 
standard yang ada saat ini, kedua  orang ini menjadi terheran-heran. 
Teks-teks kuno yang ditemukan ini  sangat berbeda dengan naskah yang ada
 sekarang, dan hal ini benar-benar  mengganggu. Di sini terdapat 
ayat-ayat yang disusun secara tidak  konvensional, variasi-variasi 
tekstual yang sedikit namun signifikan,  ortografi (pengejaan) yang 
berbeda dan perbedaan pada pembubuhan  (dekorasi) artistik.
Hal  ini benar-benar menghantam 
keyakinan orang-orang Muslim ortodoks bahwa  Qur’an yang ada hari ini 
dapat dikatakan sebagai Firman Allah yang  “sempurna, kekal sepanjang 
masa dan tidak berubah.” Dengan penemuan  naskah ini berarti Qur’an 
telah didistorsi, dinodai, direvisi,  dimodifikasi dan dikoreksi, dan 
perubahan tekstual secara murni telah  terjadi selama bertahun-tahun 
oleh tangan-tangan manusia.
Aura  kesakralan disekeliling Kitab Suci
 Islam ini, yang masih utuh selama  lebih dari 14 abad lamanya, menjadi 
hilang dengan penemuan yang  mencengangkan ini, dan keyakinan inti dari 
semilyar lebih orang-orang  Muslim yang meyakini bahwa Qur’an itu kekal,
 firman Allah yang tidak  bisa berubah sekarang tampak jelas hanya 
sebagai sebuah kebohongan  besar. Bukan hanya itu; klaim Qur’anik bahwa 
tak ada orang yang bisa  merubah firman-firman Allah juga merupakan 
sebuah kepalsuan. Qur’an  seharusnya merupakan sebuah, jika kita 
meminjam kata-kata dari Guillaume  (1978, p. 74), yang paling suci dari 
semua yang suci. Ia tidak boleh  ada di bawah kitab yang lain, tetapi 
selalu berada di atasnya, orang tak  boleh minum atau merokok ketika 
kitab ini dibacakan dengan keras, dan  ia harus didengarkan di dalam 
keheningan. Ini adalah Kitab yang  merupakan jimat melawan penyakit dan 
bencana.” Orang-orang Muslim  menyebut Quran sebagai “Ibu dari semua 
Kitab” dan meyakini tak ada kitab  atau wahyu lainnya yang bisa 
diperbandingkan dengan Qur’an (Caner &  Caner, 2002. p.84). Tetapi 
sekarang, dengan penemuan ini, semua  keyakinan itu menjadi lenyap. 
Hasil akhir dari seluruh perjuangan Islam  selama empat belas abad 
sekarang menjadi nol besar.
Tidak  hanya itu, banyak naskah 
memperlihatkan tanda-tanda dimana  naskah-naskah itu menggunakan tulisan
 asli yang telah dipakai ulang.  Misalnya, ayat-ayat yang sangat jelas 
ditulis di atas ayat-ayat lain  yang sudah dihapus. Tentu saja ayat-ayat
 yang ada di bawah tulisan yang  ada sekarang sulit untuk dibaca secara 
visual, tetapi  peralatan-peralatan modern seperti fotografi ultraviolet
 dapat  memperlihatkan dengan jelas tulisan-tulisan itu. Dipercaya bahwa
  naskah-naskah Sana’a bukan hanya satu-satunya varian, tetapi sebelum  
itu, teks Qur’anik telah dimodifikasikan dan ditulis ulang pada kertas  
yang sama. Hal ini berarti, klaim Allah (Sura 56: 77-78; 85:21-22) bahwa
  teks asli telah disimpan di surga pada lembaran-lembaran emas, yang 
tak  bisa disentuh oleh siapa pun kecuali para malaikat, hanyalah sebuah
  cerita dongeng.
Setelah  mempelajari dengan seksama 
naskah-naskah ini, Puin sampai pada  kesimpulan bahwa teks ini 
sesungguhnya sebuah teks yang telah  dikembangkan, dan bukannya firman 
Allah sebagaimana yang diwahyukan  secara menyeluruh kepada Muhammad 
(Warraq, 2002, p. 109). Dengan  perasaan tergetar ia berkata, ”Begitu
  banyak Muslim yang memiliki keyakinan ini, bahwa segala sesuatu  
diantara kedua penutup Qur’an adalah firman Allah yang tak bisa dirubah.
  Mereka senang mengutip karya tekstual yang memperlihatkan bahwa 
Alkitab  memiliki sebuah sejarah dan bukan sesuatu yang diturunkan 
langsung dari  langit, bahwa hingga saat ini Qur’an berada di luar 
perdebatan.  Satu-satunya cara untuk meruntuhkan dinding ini adalah 
dengan  membuktikan bahwa Qur’an pun memiliki catatan sejarah. 
Fragmen-fragmen  Sana’a akan membantu kita melakukan hal ini.”
Puin bahkan menyimpulkan (mengutip Taher, 2000), ”Tak
  ada satu pun karya tunggal yang tetap tanpa perubahan selama  
berabad-abad. Termasuk kisah-kisah yang ditulis sebelum nabi Muhammad  
memulai pelayanannya dan yang kemudian setelah itu ditulis ulang.”
Selama melakukan riset mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Puin (Lester, 
1999), ”Mereka
  (otoritas Yaman ingin agar hal ini tidak digembar-gemborkan,  
sebagaimana yang juga kami lakukan, meski dengan alasan yang berbeda.  
Mereka tak ingin menarik perhatian pada kenyataan bahwa ada orang-orang 
 Jerman dan lainnya yang melakukan studi terhadap Qur’an. Mereka tidak  
mau mengumumkannya kepada publik, bahwa ada pekerjaan seperti ini yang  
sedang dilakukan, oleh karena posisi Islam adalah bahwa semua hal yang  
perlu dikatakan mengenai sejarah Qur’an telah dikatakan seribu tahun  
lalu.”
Pada  kenyataannya, Puin dan rekannya 
Bothmer mengetahui untuk beberapa saat  ketika mereka melakukan studi 
mereka, bahwa Qur’an sendiri adalah sebuah  teks yang terus berkembang, 
namun dengan bijaksana mereka memahami  implikasi yang mungkin dari 
penemuan-penemuan mereka dan karena itu  mereka tetap berdiam diri. Jika
 otoritas Yaman mengetahui penemuan ini,  sangat besar kemungkinan 
mereka akan menolak kedua orang ini untuk  memperoleh akses lebih jauh. 
Inilah yang dimaksudkan oleh Puin sebagai “alasan-alasan lain.” Karena itu 
keduanya tetap diam, dan kedua sarjana ini dapat tetap meneruskan riset mereka.
Penemuan  Puin juga mengkonfirmasi 
asumsi Wansbrough mengenai teks Qur’anik. Pada  tahun 1970an, Wansbrough
 menyimpulkan bahwa Qur’an berkembang secara  bertahap pada abad ketujuh
 dan kedelapan, setelah periode panjang dari  transmisi oral, dan 
sekte-sekte yang berbeda biasanya berdebat dengan  keras satu sama lain 
mengenai wahyu-wahyu mana yang asli. Alasan bahwa  tidak ada sumber 
materi dari permulaan Islam yang pernah selamat adalah  karena ia memang
 tidak pernah ada. Pada kenyataannya, Puin mengakui  bahwa ia ‘membaca 
ulang karya Wansbrough ketika ia menganalisa fragmen-fragmen Yaman itu (Warraq, 
2002. p. 122).
Teori  Puin lainnya yang radikal adalah 
bahwa sumber-sumber pra-Islamik telah  memasuki Qur’an. Argumentasinya 
adalah bahwa ada dua suku yang disebut,  As-Sahab-ar-Rass (Para sahabat 
dari Sumur) dan As-Sahab-al-Aiqa (Para  Sahabat dari Semak-semak 
Berduri) yang bukan merupakan bagian dari  tradisi Arab, dan orang-orang
 pada masa Muhammad tentu saja tidak  mengenal mereka. Ia juga tidak 
setuju pandangan yang mengatakan bahwa  Qur’an ditulis dalam bahasa Arab
 yang paling murni. Kata “Qur’an” itu  sendiri aslinya berasal dari luar
 Arab. Kontras dengan keyakinan populer  Muslim, ia mengatakan bahwa 
arti dari “Qur’an” bukanlah pembacaan atau  pengajian. Sebenarnya kata 
“Qur’an” menurutnya berasal dari bahasa  Aramaik, “Qariyun”, artinya 
sebuah leksionari bagian-bagian kitab suci  yang ditetapkan untuk dibaca
 dalam ibadah ilahi. Qur’an kebanyakan  berisi cerita-cerita Alkitab 
tetapi dalam bentuk yang lebih pendek dan  merupakan “sebuah ringkasan 
dari Alkitab untuk dibaca dalam ibadah.”
Bothmer  secara seksama telah mengambil 
lebih dari tiga puluh lima ribu  gambar-gambar mikro film dari 
fragmen-fragmen itu pada tahun 1997 dan  membawa gambar-gambar itu ke 
Jerman (Warraq, 2002, p.109). Artinya bahwa  saat ini Bothmer, Puin dan 
para sarjana lainnya pada akhirnya akan  memiliki sebuah kesempatan 
untuk meneliti kembali dengan lebih cermat  teks-teks itu dan 
mempublikasikan penemuan-penemuan mereka dengan bebas.
Puin  tertarik untuk menulis sebuah buku
 mengenai hal ini pada masa depan,  tetapi ia telah menulis beberapa 
tulisan-tulisan pendek mengenai  penemuan mereka di berbagai macam 
majalah ilmiah, dimana ia  memperlihatkan beberapa penyimpangan antara 
Qur’an kuno dan Qur’an  standar sebagaimana yang ada saat ini (Mengutip 
Warraq, 2002, p.739-44)
Ketika  membuktikan bahwa Qur’an sama 
sekali bukan kitab yang bisa dianggap  suci, Puin menulis, ”Pendapat 
saya adalah bahwa Qur’an sejenis teks-teks  gado-gado dimana tidak 
semuanya dimengerti pada masa Muhammad. Banyak  dari teks-teks ini 
bahkan usianya seratus tahun lebih tua daripada Islam  itu sendiri. 
Klaim-klaim Qur’an untuk dirinya sendiri adalah bahwa ia  merupakan 
sesuatu yang jelas (mubeen). Tetapi (kontras dengan keyakinan  populer) 
jika anda mengamatinya, anda akan menemukan bahwa seperlima  dari 
kalimatnya sama sekali tidak mempunyai makna…faktanya adalah  seperlima 
dari teks Qur’anik sama sekali tidak bersifat komprehensif.  Jika Qur’an
 itu tidak komprehensif, bahkan jika ia sendiri tidak bisa  dimengerti 
dalam bahasa Arab, maka ia juga tak bisa diterjemahkan ke  dalam bahasa 
apa pun. Itulah sebabnya mengapa Muslim merasa takut.  Meskipun 
berulang-ulang Qur’an mengklaim bahwa ia adalah sesuatu yang  jelas, 
tetapi nyatanya di situ terdapat banyak sekali kontradiksi yang  sangat 
serius. Sesuatu pasti telah terjadi.
Penemuan  yang luar biasa dari Puin 
sangat menarik perhatian Andrew Rippin,  seorang Profesor bidang studi 
agama dan seorang ahli terkemuka dalam  bidang studi Qur’an. Rippin 
(dikutip dari Warraq, 2002, p.110)  menyimpulkan,  ”Pengaruh dari 
naskah-naskah Yaman masih bisa dirasakan.  Pembacaan-pembacaan mereka 
yang bervariasi dan susunan ayat-ayat  semuanya sangat signifikan. Semua
 orang setuju dengan hal ini.  Naskah-naskah ini memperlihatkan bahwa 
sejarah awal teks Qur’anik lebih  dari sekedar sebuah pertanyaan terbuka
 sebagaimana yang diduga banyak  orang. Teks itu kurang stabil dan 
karena itu otoritasnya sedikit,  daripada yang selalu diklaim.”
Observasi  Rippin benar-benar luar 
biasa. Selama periode Kalifah mula-mula, Islam  bertumbuh sebagai 
gerakan politik dan bukan sebagai sebuah gerakan  keagamaan. Sebuah buku
 seperti Qur’an dibutuhkan untuk menjaga agar  orang-orang Muslim tetap 
bersatu. Qur’an seperti sebuah ‘simbol status’  dari Islam, yang jika 
bukan karena buku ini maka Islam akan mati bahkan  pada masa Muhammad. 
Qur’an itu murni buatan manusia.
Beberapa  hal yang bersifat ilahi 
dilekatkan pada Qur’an supaya ia bisa  memberikan perintah yang bisa 
dihormati, sebab ia tidak memiliki kuasa  dari dirinya sendiri. Inilah 
caranya, bagaimana ketika mengakui  klaim-klaim dari Qur’an sebagai 
ungkapan langsung dari Yang Ilahi, para  manipulator mula-mula telah 
menyingkirkan semua kritik, yang kemungkinan  akan mengeksposnya. Dalam 
Sura 5:101 dan 5:102 Qur’an sendiri melarang  kritik. Kita tidak tahu 
saat kebutaan religius secara perlahan muncul,  tetapi tanpa ragu, 
Muslim mula-mula setelah Muhammad sebenarnya lebih  liberal dibandingkan
 dengan generasi yang kita lihat saat ini.  Otentisitas dari banyak ayat
 telah dipertanyakan sendiri oleh  orang-orang Muslim mula-mula. Banyak 
Kharijit, yang merupakan  pengikut-pengikut Ali dalam sejarah Islam 
mula-mula, menemukan Sura yang  menceritakan cerita yang tidak sopan 
mengenai Yusuf, sebuah kisah  erotis yang tidak mungkin merupakan bagian
 dari Qur’an (dikutip dari  Warraq, 1998, p.17)
Warraq  (1998, p. 14) memiliki pandangan
 yang sama dengan Rippin, ”Para sarjana  Muslim pada tahun-tahun awal 
Islam jauh lebih fleksibel dengan posisi  mereka, menyadari bahwa 
bagian-bagian Qur’an telah hilang, diselewengkan  dan bahwa ada ribuan 
perbedaan yang menyebabkan tidak mungkin bisa  berbicara mengenai 
Qur’an.”
Ada  bukti lainnya bahwa pesan-pesan 
Qur’anik telah diubah pada masa-masa  awal Islam dan tidak ada lagi yang
 eksis yang disebut “Qur’an”. Tulisan  dari beberapa ayat Qur’anik 
menghiasi Mesjid Dome of Rock di Yerusalem,  yang barangkali merupakan 
monumen Islamik pertama dam merupakan sebuah  pencapaian artistik mayor,
 dibangun tahun 691 AD (Whelan, 1998, pp  1-14). Tulisan-tulisan ini 
secara signifikan berbeda dari teks standar  yang ada saat ini (Warraq, 
2000, p. 34)
Mingana (mengutip Warraq, 1998. p.80) mengeluhkan, ”Pertanyaan paling penting 
dalam mempelajari Qur’an adalah otoritasnya yang tidak boleh ditantang.”
  Inilah satu-satunya alasan; investigasi kritikal mengenai teks Qur’an 
 adalah sebuah studi yang masih belum dewasa. Sebagaimana dikatakan oleh
  Rippin (1991, p. ix) yang mengeluhkan, ”Seringkali  saya menemukan
 individu-individu yang mempelajari Islam dengan latar  belakang studi 
sejarah Alkitab Ibrani atau Kekristenan mula-mula, dan  yang 
mengekspresikan keterkejutan pada kurangnya pemikiran kritis yang  
muncul dalam teksbook-teksbook pendahuluan Islam. Gagasan bahwa “Islam  
dilahirkan dalam terang sejarah yang jelas” kelihatannya masih merupakan
  anggapan dari banyak penulis besar mengenai teks-teks seperti itu.” Cook dan 
Crone (1977, p. 18) menyimpulkan,”[Qur’an]
  sangat kurang dalam keseluruhan struktur, seringkali tidak jelas dan  
tidak merupakan sebuah rangkaian; sementara isinya asal-asalan dan  
materi-materi yang dibahas berbeda, serta melakukan  
pengulangan-pengulangan di seluruh pasal dengan versi yang berbeda-beda.
  Dengan dasar ini, bisa diperdebatkan bahwa kitab ini adalah produk 
dari  sebuah keterlambatan dan pengeditan materi yang tidak sempurna 
dari  sebuah tradisi-tradisi yang bersifat plural.” Crone (mengutip Warraq, 
1998, p. 33) juga menuliskan, ”Qur’an telah menurunkan banyak sekali informasi 
palsu.”
Tetapi dalam kaitan dengan Alkitab, kita menemukan perbedaan, sebagaimana yang 
diobservasi oleh Rodinson (1980, p. viii),”[Untuk
  Alkitab] sikap ilmiah dimulai dengan keputusan untuk menerima sesuatu 
 sebagai fakta hanya jika sumber itu telah dibuktikan sebagai sesuatu  
yang dapat dipercaya.”  Orang-orang Muslim secara salah 
mengintepretasikan kejujuran  orang-orang Kristen yang memperlihatkan 
sejumlah pembacaan Alkitab yang  bervariasi sebagai kelemahan (Ali &
 Spencer; 2003. p. 76-9).
Orang-orang  Kristen, seperti halnya 
orang-orang Hindu, ingin melihat Kitab Suci  mereka melalui sudut 
pandang ilmiah dan sejarah. Ketika naskah-naskah  tua Alkitab, 
perkamen-perkamen atau naskah-naskah Hindu ditemukan, para  sarjana 
Kristen dan Hindu hampir-hampir saling memanjat bahu  masing-masing agar
 bisa terlebih dahulu mendapatkan akses kepada  teks-teks itu. 
Penemuan-penemuan seperti ini membuat mereka merasa  sangat tertarik. 
Tetapi sayangnya, tidak ada hasrat seperti itu dalam  Islam. Kristen dan
 Hindu sangat berkeinginan untuk melihat lebih banyak  lagi hal-hal yang
 bisa disingkapkan mengenai kitab suci mereka,  sementara Muslim 
menolaknya, bahkan seringkali dengan determinasi yang  kuat. Kontras ini
 benar-benar sebuah pukulan. Sementara baik iman Hindu  dan Kristen 
secara kuat didukung oleh bukti-bukti arkeologis dan  historis, sejauh 
ini tidak ada satu pun eksplorasi arkeologis yang  diijinkan untuk 
dilakukan di Mekkah dan Medinah, dan tidak ada  kemungkinan untuk 
melakukannya di masa yang akan datang (Peters, 1986.  p. 72-4).
Kritikan  Muslim terhadap Qur’an sangat 
jarang dan hampir-hampir tidak pernah ada  sebagaimana yang dikeluhkan 
oleh Sina (2008, p. 6), ”Orang-orang Muslim pada dasarnya tidak punya 
kapabilitas untuk mempertanyakan Islam.”
 Baru-baru ini saja website-website para mantan Muslim yang melakukan  
sejumlah karya yang luar biasa mengenai hal ini. Tentu saja, orang-orang
  yang telah mengalami pencerahan seperti mereka akan berhasil  
membebaskan saudara-saudari Muslim mereka dari penjara Islamik. Jika  
tidak, apa pun kritikan yang dilakukan terhadap Qur’an, semuanya akan  
dilakukan oleh para sarjana Kristen. Tetapi orang-orang Muslim  
seharusnya tidak menganggap kritik dari orang Kristen sebagai sebuah  
tanda oposisi religius. Para sarjana Kristen telah melakukan lebih  
banyak lagi kritikan terhadap agama mereka sendiri daripada terhadap  
Islam (Sproul & Saleeb, 2003. p. 17; Spencer, 2007, p. 1).
Tetapi  sekali penemuan-penemuan Sana’a 
dipublikasikan secara detil, Islam  tidak akan pernah sama lagi 
sebagaimana ia ada selama empat belas abad  ini. Islam pasti akan 
mengambil sebuah posisi yang asing. Banyak Muslim  akan menunjukkan 
keraguan terhadap kesakralan Qur’anik dan konsep yang  sangat “romantis”
 dari Qur’an secara perlahan akan lenyap dan sebuah  perkembangan yang 
sangat menarik akan bisa diobservasi. Pertanyaan  pertama yang akan 
muncul di pikiran mereka adalah – versi yang mana yang  paling superior.
 Tetapi kemudian, tidak mungkin memilih sebuah versi  Qur’an dan menolak
 versi yang lain berdasarkan pilihan. Sebab keyakinan  Muslim juga 
menegaskan bahwa siapa saja yang menolak bahkan satu ayat  pun dari 
Qur’an, sebenarnya mereka telah menolak seluruh pewahyuan. Ini  adalah 
sebuah kemustahilan logis dan karena riset ilmiah telah  meneriakkan 
kebenaran; banyak Muslim akan mencari jalan keluar dari hal  yang tidak 
masuk akal ini dan akan mencoba membebaskan diri mereka dari  penindasan
 tirani yang hidup di sebuah agama yang palsu.
Ketika  mendiskusikan apatisme Muslim 
terhadap sains, hukum logika dan hukum  alam, Jaki (mengutip Spencer, 
2002, p. 127) menulis, ”Apa  yang terjadi dalam dunia Muslim hari 
ini adalah sebuah konfrontasi,  bukan antara Tuhan dan Iblis…tetapi 
antara satu Tuhan yang sangat  spesifik dan ilmu pengetahuan yang 
merupakan sebuah antagonis yang  sangat spesifik dari Tuhan itu, yaitu 
Allah dari Qur’an, yang merupakan  oknum yang sepenuhnya mendominasi 
intelektual.” Penemuan  Sana’a hanya akan menambahkan bahan bakar 
untuk api itu. Hari ini dunia  Muslim dikelilingi dengan frustasi. Islam
 seharusnya menjadi wahyu  terakhir dan orang-orang Muslim seharusnya 
menjadi “Manusia terbaik”,  tetapi kenyataannya benar-benar 
bertentangan. Bangsa-bangsa Muslim  adalah bangsa-bangsa yang paling 
miskin di dunia (Ohmyrus, 2006, p.  128). Saatnya akan tiba ketika 
otoritas keagamaan akan ditanya oleh  orang-orang Muslim kebanyakan, dan
 mereka akan dituntut untuk  menyangkali kritikan-kritikan secara logis,
 ilmiah dan masuk akal, bukan  dengan kekuatan brutal atau melalui 
Fatwa. Sebagaimana yang ditulis  oleh Parvez Manzoor, ”Cepat  atau 
lambat [kami orang-orang Muslim] harus mendekati Qur’an dari  
asumsi-asumsi metodologikal dan parameter-parameter yang secara radikal 
 merupakan hal yang asing dengan hal-hal yang telah disucikan oleh  
tradisi kami” (Warraq, 2002, p. 123).
Tetapi  naskah-naskah Sana’a juga akan 
memprovokasi pertanyaan lainnya. Jika  Qur’an adalah sebuah kebohongan, 
bagaimana kebohongan ini bisa bertahan  selama berabad-abad? Alasannya 
adalah bahwa Keilahian yang ditempelkan  pada Qur’an bukan hanya sebuah 
“Kebohongan Yang Kecil”, tetapi “Sebuah  Kebohongan Yang Besar.” 
Kebohongan-kebohongan yang besar adalah sesuatu  yang sangat ampuh, dan 
ia selalu memiliki sebuah efek psikologis  terhadap para pendengar. 
Semakin besar kebohongan, semakin ia bisa  dipercayai. Adolf Hitler 
menulis dalam Mein Kamph (1925), ”Massa yang besar dari sebuah bangsa akan 
menjadi korban oleh sebuah kebohongan besar daripada oleh sebuah kebohongan 
kecil.”
  Kebohongan besar sangat meyakinkan karena ia akan menutupi pikiran  
sehat pendengar, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sina (2008, p. 179),  
orang-orang biasa tidak akan berani untuk menceritakan sebuah kebohongan
  besar sebab ia berpikir bahwa hal itu tidak akan dipercayai dan ia 
akan  menjadi bahan olok-olok. Karena tidak ada seorang pun yang pernah 
 menceritakan sebuah kebohongan dalam hidupnya, kebohongan-kebohongan  
kecil seringkali cepat atau lambat akan bisa dideteksi. Tetapi  
kebohongan-kebohongan besar benar-benar aneh karena ia seringkali  
membuat para pendengar menjadi kehilangan akal. Ketika kebohongan itu  
sangat besar (seumpama raksasa), orang-orang kebanyakan akan  
bertanya-tanya bagaimana seseorang memiliki keberanian, yaitu dengan  
lancang mengatakan hal seperti itu.
Kebohongan besar selalu mengejakan keajaiban dalam politik. George Orwill 
(mengutip Sina, 2008, p. 179) berkata, ”Bahasa
  politik….didisain untuk membuat kebohongan terdengar sebagai sesuatu  
yang jujur dan pembunuhan dapat dihargai dan membuat angin terlihat  
sebagai sesuatu yang padat.”  Hari ini, ketika sifat keilahian 
Qur’an disebarkan oleh naskah-naskah  Sana’a, maka natur spiritual Islam
 juga diekspos. Islam tak lebih dari  sebuah gerakan politik Arab. Sifat
 keilahian ditempelkan pada Qur’an,  ketika orang-orang Arab mulai 
menduduki bangsa-bangsa di sekeliling  mereka dan Islam dipaksakan oleh 
mereka dengan kekerasan. Orang-orang  Arab tidak hanya memaksakan Islam 
pada bangsa-bangsa lain tetapi juga  memaksakan keyakinan irasional dari
 keilahian Qur’anik ini kepada  pemikiran-pemikiran para korban mereka, 
sehingga ketika orang-orang Arab  telah pergi, orang-orang yang telah 
ditaklukkan tidak bisa keluar dari  mental perbudakan ini dan kembali 
kepada iman mereka yang asli. Ini  adalah sebuah keahlian politik yang 
langka. Banyak sahabat-sahabat  Muhammad dengan jelas mengetahui bahwa 
Qur’an adalah sebuah kepalsuan,  tetapi mereka tetap tinggal bersama 
dengan nabi mereka untuk bisa  memperoleh barang rampasan dan menikmati 
para wanita. Kita semua tahu,  setelah kematian Muhammad, beberapa suku 
Arab kembali kepada keyakinan  mereka sebelumnya dan penyembahan berhala
 pun kembali mekar.
Menyebabkan  banyak Muslim menjadi syok;
 studi modern dalam bidang Psikologi telah  memperlihatkan kebenaran 
bahwa Muhammad adalah seorang yang suka  memaksa, seorang pria gila yang
 menderita Kelainan Personalitas  Narsisistik (Narcissistic Personality 
Disorder). Narsisistik adalah  orang-orang yang diserap oleh dirinya 
sendiri dan secara patologis  merupakan para pembohong. Artinya, apakah 
mereka tidak menyadari  kebohongan mereka atau merasa sepenuhnya benar 
dan merasa mudah  berbohong pada orang lain. Kondisi mental mereka 
sedemikian rupa  sehingga jarang ada orang yang bahkan memiliki 
kapasitas untuk  mempercayai kebohongan mereka sendiri (Vaknin, 1999, p.
 24).
Dan  ya, Adolf Hitler, yang mengetahui 
kekuatan dari sebuah kebohongan besar  dan telah menyesatkan jutaan 
orang Jerman, juga dikenal sebagai seorang  Narsisis. Hari ini Hitler 
adalah figur sejarah yang paling dibenci di  Jerman. Seperti sebuah ilmu
 matematika, pastilah Muhammad juga akan  memperoleh nasib yang sama. 
Tetapi kita benar-benar tidak tahu, berapa  juta orang akan mati sebelum
 kita bisa menaruh Muhammad di keranjang  sampah dengan Allahnya, Quran 
dan Islam bersama-sama. Bagi Hitler, ini  adalah Sosialisme Nasionalis 
(nama lain untuk Naziisme), dan bagi  Muhammad ini adalah Islam. Tetapi 
pada dasarnya, keduanya adalah dua  sisi koin yang sama-seorang 
manipulator yang sukses.
Sina (2008, p. iv, 260) memberikan komentar, ”Islam
  seumpama sebuah rumah kartu, dipelihara oleh kebohongan-kebohongan.  
Yang diperlukan adalah menghancurkannya dengan memberikan tantangan  
kepada salah satu dari kebohongan-kebohongan yang membuatnya tetap  
berdiri seperti sekarang. Islam adalah sebuah bangunan yang tinggi,  
didirikan di atas pasir; satu kali saja anda mengekspos pondasinya, maka
  pasir itu akan tergerus dan gedung besar ini akan jatuh karena berat  
yang ditanggungnya” dan lagi ”Islam  berdiri di atas tanah yang
 rapuh. Ia hanya berisi kebohongan. Kita  hanya perlu mengekspos 
kebohongan-kebohongan dan bangunan raksasa dari  teror dan penipuan ini 
untuk meruntuhkannya.”
Mari kita lihat, sekali aura kesakralan Qur’an lenyap, kebohongan-kebohongan 
lain apa yang akan diekspos?
Pertama;  jika ada dua atau lebih dari 
dua versi Qur’an, maka akan ada jumlah  Allah yang sama. Jadi, jika 
hanya ada dua Qur’an yang otentik, apakah  Islam masih bisa dianggap 
sebagai agama monoteisme? Bagaimana  memastikannya, Allah mana yang 
memberikan sebuah versi Qur’an? Jika  hanya ada satu Allah, maka Qur’an 
mana yang otentik?
Kedua; jika kita masih percaya bahwa sebuah Qur’an adalah otentik, maka 
bagaimana Allah mengijinkan Qur’an lainnya tetap ada?
Ketiga,  apakah masih bisa dianggap 
benar bahwa Qur’an (Sura 10:64) yang berkata  bahwa firman-firman Allah 
tidak akan berubah-ini benar-benar pencapaian  yang sangat hebat? Jika 
ya, sekarang apa lagi yang akan dilakukan oleh  lebih dari sebuah 
Qur’an? Jika tidak, bagaimana wahyu palsu seperti ini  dicatat dalam 
Qur’an? Apakah Setan yang menaruhnya?
Terakhir,  Bukhari (4.52.233) mencatat 
”Orang-orang tidak beriman tidak akan  pernah memahami tanda-tanda dan 
wahyu-wahyu kami.” Tetapi kita bisa  saksikan, untuk memahami Qur’an 
Sana’a, otoritas Yaman mengundang para  sarjana Jerman karena tak ada 
seorang pun di Yaman yang sanggup  mengungkapkan penemuan besar seperti 
ini.
Tidak heran jika Sina (2008) menyimpulkan, ”Tak peduli bagaimana anda memandang 
Islam, ia tetap akan terlihat sebagai sebuah agama kebodohan.”
Orang-orang  Muslim telah menjual jiwa 
mereka kepada Muhammad, tetapi bisakah mereka  secara logis membersihkan
 keraguan-keraguan di atas? Episode Sana’a  telah menempatkan mereka 
pada sebuah posisi yang canggung, bahwa bahkan  alasan yang 
berputar-putar atau absurditas logika tak akan bisa menolong  mereka. 
Bukankah inilah saatnya bagi orang-orang Muslim yang bijaksana  untuk 
memikirkan ulang iman mereka? Daripada berusaha keras untuk  memberikan 
alasan terhadap keraguan-keraguan di atas, bukankah lebih  bijaksana 
untuk setuju bahwa satu milyar lebih orang-orang Muslim telah  dibodohi 
oleh seorang pemaksa vulgar yang bernama Nabi Muhammad?  Bukankah ini 
saatnya bagi orang-orang Muslim untuk mencari kebenaran?  Sebagaimana 
penulis puisi Thomas Gray (dikutip dari Sagan, 1997, p. 12)  
menulis,”….kapankah ketidaktahuan merupakan sebuah kebahagiaan, yaitu  
ketika kebodohan dianggap sebagai hikmat.”
Untuk  melindungi Qur’an dari penghinaan
 lebih jauh, otoritas Yaman telah  menghalangi Puin dan Bothmer mengkaji
 lebih jauh naskah-naskah itu.  Kenyataannya, saat ini mereka tidak 
mengijinkan siapa pun melihat  naskah-naskah itu kecuali fragmen-fragmen
 non-Qur’anik yang dengan  sangat hati-hati telah diseleksi terlebih 
dahulu, yang bisa dilihat di  lantai dasar Perpustakaan Dar 
al-Makhtutat. Tetapi hal ini sia-sia.  Burung sudah keluar dari 
sangkarnya dan tak ada gunanya menutup pintu  sekarang. Lebih dari 
35.000 mikrofilm saat ini sudah ada di luar Yaman  sebelum otoritas 
Yaman mengetahuinya dan beberapa duplikat juga sudah  dibuat. Pihak 
otoritas Yaman yakin bahwa saat ini, di beberapa lokasi  yang tidak 
diketahui di Jerman, sekelompok ahli tanpa henti meneliti  
mikrofilm-mikrofilm itu, dan Puin membakar cukup minyak untuk penerangan
  malam dalam usaha menyelesaikan bukunya, yang, sekali dipublikasikan, 
 akan memalu paku lainnya pada peti jenazah Islam. Islam hari ini  
benar-benar dalam bahaya.
Tentu  saja, dengan menyadari runtuhnya 
keilahian di depan mata mereka, banyak  orang-orang Muslim merasa 
terganggu dan merasa diserang. Para  fundamentalis tidak akan menerima 
karya Puin dan Bothmer yang sebenarnya  mereka kerjakan dengan 
obyektifitas akademik, tetapi mereka akan  melihatnya sebagai sebuah 
serangan yang disengaja terhadap integritas  teks Qur’anik (Taher, 
2000). Secara natural, kedua sarjana Jerman ini  akan berada di garis 
depan menghadapi kemarahan mereka. Puin takut  dengan kekerasan yang 
akan dilakukan oleh orang-orang Muslim ortodoks  karena teorinya yang 
mereka anggap sebagai “hujatan”, yang ia katakan  bahwa hal itu tidak 
bisa ia anggap sebagai hal yang enteng. Dengan  mengingat apa yang 
terjadi pada Salman Rushdie, ia menulis, ”Kesimpulan-kesimpulan  
saya telah menyebabkan reaksi kemarahan dari orang-orang Muslim  
ortodoks. Mereka katakan bahwa saya bukan sarjana yang bisa membuat  
sebuah pernyataan mengenai naskah-naskah ini.”  Jika pandangan Puin
 diambil dan diserukan melalui media, dan jika tidak  banyak Muslim yang
 menanggapinya secara rasional, maka semua neraka  akan terlepas. Akan 
ada sejumlah respon permusuhan dan kerusuhan dan  akan menyebabkan 
banyak kematian dan kehancuran, mungkin akan ada fatwa  lainnya dari 
Khomeini dan tentu saja sejumlah ancaman dari Bin Laden  kita yang 
sangat suka dengan kamera, serta dari saudara-saudara  ideologisnya. 
Tetapi bisakah mereka menghentikan tersebarnya kebenaran?
UNESCO  telah menunjukkan ketertarikan 
yang murni terhadap naskah-naskah Sana’a  sejak program the Memory of 
the World dimulai. Pada tahun 1995,  Organisasi ini juga memproduksi 
sebuah CD-ROM dalam bahasa Arabik,  Inggris dan Perancis yang 
mengilustrasikan sejarah dari pengoleksian  materi Qur’anik dan 
non-Qur’anik. CD-ROM berisi 651 gambar dari 302  fragmen-fragmen 
Qur’anik, indeks dengan tulisan, bingkai, dan  sebagainya, juga sebuah 
introduksi umum untuk koleksi-koleksi  naskah-naskah Yaman dan sebuah 
deskripsi singkat mengenai perkembangan  kaligrafi Arabik (Abid, 1997).
Ursula  Dreibholz, seorang ahli 
pemeliharaan (pengawetan) yang bekerja untuk  proyek Sana’a selama 
delapan tahun sebagai kepala konservator merasa  sangat frustasi melihat
 kekurang perdulian otoritas Yaman untuk  melindungi naskah-naskah itu 
dengan menggunakan teknologi modern (1983,  pp. 30-8). Apakah 
perlengkapan keamanan sudah benar, dan apakah  perhatian yang diberikan 
terhadap naskah-naskah itu sudah memadai untuk  mencegah kerusakan lebih
 jauh (1996, pp 131-45). Kenyataannya, Dreibholz  (1999, pp 21-5) 
mengatakan, bahwa ia sangat peduli untuk menciptakan  sebuah sistem 
penyimpanan permanen yang aman dan dapat dipercaya untuk  menyimpan 
naskah-naskah ini. Juga, penyimpanan yang buruk akan sulit  melindungi 
naskah-naskah itu dari serangga dan air. Yang paling penting  lagi, 
masalah utama adalah kurangnya pencegahan dari kebakaran atau  sistem 
deteksi, dengan mengingat bahwa dalam sejarah banyak  
perpustakaan-perpustakaan penting yang hancur oleh karena kebakaran.  
Otoritas Yaman mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang untuk  
memasang sistem perlindungan dari kebakaran. Ia benar-benar tidak  
mengerti alasan sebenarnya dibelakang sikap apatis otoritas Yaman.
Di  sini, para fundamentalis Muslim bisa
 melihat sebuah tali perak di  awan-awan. Tak seorang pun tahu kapan 
sebuah kebakaran yang  menghancurkan akan terjadi secara ‘insidentil’ 
dan menghancurkan semua  naskah-naskah Qur’anik itu, yang akan 
menyebabkan naskah-naskah itu  terbakar. Di balik semuanya, untuk 
menyelamatkan Islam, Qur’an harus  diselamatkan, dan untuk itu 
orang-orang Muslim akan melangkah lebih jauh  lagi. Jika perlu, mereka 
sendiri akan membakar Qur’an untuk  menyelamatkannya dari 
analisa-analisa logis. Kesetiaan mereka kepada  kebodohan sedemikian 
tinggi. Barangkali, otoritas Yaman tidak mau  memasang sistem pencegah 
kebakaran adalah sebuah persiapan awal untuk  sebuah tindakan seperti 
itu di masa depan. Jangan pernah menganggap  remeh kapasitas destruktif 
dari orang-orang fanatik tak berotak.
 Referensi
 Jurnal:
Abid,   Abdelaziz (1997); “Memory       of the World”: Preserving Our 
Documentary Heritage. Museum International, Vol. 49, No. 1, January 1997 issue. 
Blackwell         Publishers, Oxford.Dreibholz,   Ursula (1983); A treasure     
  of early Islamic manuscripts on parchment. Significance of the find     and 
its conservation treatment.         AIC Preprints of papers presented at the 
11th annual meeting in         Baltimore, Maryland, 25-29 May 1983. Washington, 
DC.Dreibholz,  Ursula (1996); The      Treatment of Early Islamic Manuscript 
Fragments on Parchment in The Conservation and    Preservation of Islamic 
Manuscripts,    Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, LondonDreibholz,         
Ursula (1999); Preserving       a treasure: the Sana’a manuscripts.     Museum 
International. Islamic collections. Vol. LI, No. 3, July 1999    issue. 
Blackwell Publishers. Oxford.Whelan,     Estelle (1998); Forgotten       
Witness: Evidence       for the Early Codification of the Qur’an.       
Published in The Journal of America Oriental
 Society. January to    March Issue, 1998. University of Michigan. USA.
 Bibliografi:
Ali,    Daniel & Spencer, Robert (2003); Inside         Islam: A guide for 
Catholics.   Ascension Press. Pennsylvania.Caner     E. M; Caner E.F (2002); 
Unveiling       Islam. Kregel   Publications. Grand Rapids. U.S.ACook,  
Michael; Crone, Patricia (1977); Hagarism:      The making of the Islamic 
world.        Cambridge.(Dr)  Vaknin, Sam (1999); Malignant   Self Love: 
Narcissism Revisited.        Narcissus Publications, Skopje. Czech 
Republic.(Ed.)    Warraq, Ibn (1998); The         origins of the Koran: Classic 
Essays on Islam’s holy book.      Prometheus Books. NY.(Ed.)      Warraq, Ibn 
(2000); The         Quest for Historical Muhammad.  Prometheus books. NY.(Ed.)  
    Warraq, Ibn (2002); What        the Koran really says – Language, Text and 
Commentary.  Prometheus books. NY.Guillaume,         Alfred (1978); Islam.   
Harmondsworth.Mein      Kampf; a 1939 English translation by Houghton Mifflin 
and edited of     verbosity. Reynal & HitchcockOhmyrus    (2006); The Left and  
  Islam: Tweedledum and Tweedledee in Beyond Jihad: Critical 
        voices from the inside by       Shienbaum, Kim and Hasan, Jamal. 
Academia Press, LLC, Bethesda.Peters,  F.E (1986); Jerusalem and       Mecca: 
The topology of the Holy City in the near east.  NYRippin,       Andrew (1991): 
Muslims:         their religious beliefs and practices. London.Rodhinson,       
 Maxime (1980); Muhammad (Original in French, translated to English by Anne 
Carter). The New     Press. NYRodhinson,     Maxime (1981); A Critical       
Survey of Modern Studies on Muhammad in Studies on Islam ed. M. Swartz. Oxford 
University Press, USASagan,      Karl (1997); The        Demon-Haunted World. 
Science as a Candle in the Dark.   Ballantine Books. The Random House 
Publishing group. NY.Sina,   Ali (2008); Understanding       Muhammad, A 
Psychobiography.    Felibri.comSpencer,     Robert (2002); Islam    Unveiled: 
Disturbing questions about the world’s fastest growing        faith. Encounter 
Books.         San Francisco.Spencer,  Robert (2007); Religion         of 
Peace? Why Christianity is and Islam isn’t.  Regnery
 Publishing, Inc. Washington DC.Sproul  R. C & Saleeb, Abdul (2003); The        
dark side of Islam.     Crossway Books (a division of Good News Publishers). 
Wheaton.   Illinois.
Sumber Internet:
Taher,  Abul (2000): Querying the Koran. The Guardian. Guardian News and        
Media Limited. Published on 8th August, 2000. URL: 
http://www.guardian.co.uk/Archive/Article/0,4273,4048586,00.html (Last accessed 
3rd June / 2009)Sina,        Ali (2008): Probing     Islam. An internet based   
     debate between J. A Ghamidi, K. Zaheer and Ali Sina, FFI. URL: 
http://www.news.faithfreedom.org/downloads/probing-islam.pdf (Last accessed 7th 
February / 2008).Lester,         Toby (1999); What Is the Koran? Atlantic 
Monthly January 1999 issue.    URL: http://www.theatlantic.com/doc/199901/koran 
(Last accessed 3rd June / 2009).Wikipedia      (2009); Gerd R. Puin, URL: 
http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special:Cite&page=Gerd_R._Puin&id=287605376
                                                                                
        
FREE E-BOOKS
        
                Jawaban 111 KONTRADIKSI ALKITAB Perjanjian Lama         
                Jawaban 155 KONTRADIKSI ALKITAB Perjanjian Baru         
                101 Penjelasan tentang TUDUHAN KONTRADIKSI dalam ALKITAB        
        
                Perang Suci - Oleh Abd Al Masih         
                Secrets Behind Burqa - Oleh Rosemary Sookhdeo           
                Donasi Untuk Allah Membersihkan Nurani          
                Ilusi Negara Islam - Editor Gus Dur             
                Mutiara Dari Surga - 1          
                The Truth About Muhammad - by Robert Spencer            
                Tuduhan-Ahmed-Deedat-Terhadap-Alkitab oleh Zakaria Boutros      
        
                Islam Reviewed oleh M. Ali              
                The Hidden Life of Prophet Muhammad By Dr. A.A. Ahmed           
                Rahasia Jalan Yang Lurus                
                Benarkah Muhammad Sempurna Secara Fisik oleh Ali Sina           
                Inilah Ismael (Here Comes Ishmael) oleh Faisal Malick           
                Hidup Dari Ujung Tombakku (Living by the Point of My Spear) 
oleh Zaki Ameen             
                Akar Terror Islam oleh Abul Kasem               
                Membedah Asal Usul Quran (The Origins of the Koran) oleh Ibnu 
Warraq            
                SON of HAMAS oleh Mosab Hassan Yousef           
                Mengapa Wanita Berpaling Kepada Islam oleh Rosemary Sookhdeo    
        
                Kerudung Yang Terkoyak          
                Why I'm Not Muslim oleh Ibnu Waraq              
                Achievement and Heritage of Muhammad oleh: Zaky Rawdat          
                Sejarah Ka'bah Yang Tak Pernah Diceritakan              
                Sang Putera dan Sang Bulan oleh Curt Fletemier          
                Yahudi Menggenggam Dunia oleh William G. Carr           
                Ismail Saudaraku oleh Umar Tariqas              
                Mengapa Kami Meninggalkan Islam oleh Susan Crimp dan Joel 
Richardson            
                Siapakah Allah Ini              
                Islam diakhir Zaman oleh Ellis Skolfield                
                Islamic Invasion oleh Robert Morey              
                Ismael Akan Diberkati oleh: Ahmad Agyei         
                Mesias yang Dinantikan Islam oleh Joel Richardson               
                The Secret of Qur'an oleh Don Richardson                
                Yesus dan Muhammad oleh Mark Gabriel PhD                
                Christ Muhammad and I oleh Mohammed Ghazoli             
                Kebenaran Tentang Muhammad              
                Beriman Tanpa Takut oleh Irshad Manji           
        ARTICLES
        
                Muslim Pop - Oleh Matt Edwards          
                JAWABAN atas hadiah BMW dari PERTANYAAN INSAN L MOKOGINTA       
        
                Batalkan Hari Membakar Quran - Oleh Jochen Katz         
                60 Juta Dollar Untuk Kepala Pendeta Boutros             
                Pilih Mana - Puasa Islami Atau Puasa Kristen            
                Seperti apa Kitab Zabur dan Injil Barnabas              
                Heboh Film Iran - Tiru film Yesus Nabi Muhammad Diperankan 
Aktor Film           
                Heboh Film YESUS Buatan Iran            
                Donasi Untuk Allah Membersihkan Nurani          
                Arsip Gambar Muhammad           
                Wahyu Mana Yang Asli            
                Quran Diinterview               
                Birahi Sexual Nabi Muhammad             
                MENGENAL ISLAM          
                A Letter To Gaza - Oleh Nonie Darwis            
                FQR 6 - Injil Kristus Yang Tanpa Salah          
                Klaim Islam - Setiap Orang Dilahirkan Sebagai Muslim            
                FQR 4 - Nama dan Atribut Kristus Dalam Quran            
                FQR 5 - Perawan Maria - Sebuah Tanda Dari Allah - Ayatollah 
Sejati              
                FRQ 3 - Kehendak Tuhan Adalah Supaya Setiap Orang Bisa 
Diselamatkan             
                FQR 1 - Apakah Anda Tahu Tentang Hikmat Kristus         
                FQR 2 - Orang Yang Dilahirkan Dari Roh Adalah roh               
                Hari Semua Orang Menggambar Muhammad            
                DAFTAR MUSLIM yang Meninggalkan Islam           
                Pengesahan  Mutilasi di Amerika         
                Hilal-Bin-Sahar- Dewa Bulan Sabit               
                Islam-Bukan-Agama-bahasa-Indonesia              
                Menyusui-Pria-Dewasa by Zakharia Boutros                
                Keunikan-Alkitab-Dibandingkan-Kitab-Suci-Lainnya                
                Alkitab-Atau-Alquran-Yang-Dipalsukan            
                Muhammad-Tidak-Buta-Huruf               
                Tipu-Muslihat-Dalam-Islam               
                Ayat-Yang-Dipalsukan-Dlm-Quran          
                Islam-Tidak-Bisa-Membedakan-NAJIS dan DOSA              
                Islam-Tidak-Menyembah-Tuhan-Yang-Sama-Dengan-Tuhannya-Nabi by 
Duladi            
                Kebohongan-Isra-Miraj           
                Arab-Adalah-Kota-Neraka         
                Nabi Muhammad Birahi-Kepada-Bayi-Sodomi         
                
Perkawinan-Islam-dan-Penghalalan-Pelacuran-sbg-Lampr-dr-buku-kehidupan-rahasia-nabi-Muhammad
            
                Teror-Dari-Mulut-Muhammad-Sendiri               
                ALEXANDER AGUNG, SI KAFIR NABI ISLAM            
                Fenomena Murtad Dlm 20 Thn Terakhir             
                Jibril as - Ahli Menyamar               
                Kemana Mencari Keselamatan              
                Apa Yang Terjadi Ketika Seseorang Meninggalkan Islam            
                Tagiyya - Berbohong Ala Islam Oleh Zakaria Boutros              
                Panggilan Dari Minaret          
                Pemimpin Muslim UK - Islam Bukanlah Agama Damai         
                Konflik GAZA berakar pada SYARIAH               
                Mari, bicara Fatwa Haram                
                Marilah kita memikirkan kembail soal Burqa!             
                Hubungan Islam-Machiavelli              
                Apa yang Sama yang Dimiliki Oleh para Rabbi di Harrow dengan 
Para Rabbi di Medinah              
                Kesalahan Lia Eden sama dengan kesalahan Nabi Muhammad          
                Digantung di Iran Karena Murtad         
                Pandangan Islam mengenai Neraka         
                Anak Ketua Hamas Murtad         
                Ibn Mas'ud, Saksi Ketidak-beresan Quran         
                Contoh Moral Kenabian Muhammad Untuk Abad Kini          
                Islam - Berperang Dalam Dirinya Sendiri         
                Penjajahan Wanita Dalam Islam           
        TESTIMONIES
        
                Supremasi Terang Atas Kuasa Kegelapan - Oleh Alhajji Aliyu      
        
                KEBOHONGAN PARA WANITA SAUDI ARABIA             
                Kesaksian Seorang Pemurtad Yang Difatwa Hukuman Mati            
                Kesaksian Hamran Ambrie         
                Kesaksian Bassam                
                Kesaksian Pertobatan seorang Irak-KETEMU-YESUS          
                Tak-Terbuktinya-Alkitab-Telah-Dipalsukan oleh Zakaria Boutros   
        
                Islam-Adalah-Ajaran-Sesat by Duladi             
                Kerudung Yang Terkoyak          
                Arifin Zaelani - Alasan Saya Meninggalkan Islam         
                Kesaksian Saya Meninggalkan Islam               
                Kesaksian Dr. Mark Gabriel yang Mengejutkan             
                Mengapa Kami Meninggalkan Islam         
                Ali Sina - Dari Beriman Menuju Pencerahan               
                Duladi - Mengapa Saya Benci Islam               
                Islam Sejati            
        QUESTION & ANSWERS
        
                ISLAM  BERTANYA KRISTEN MENJAWAB by Paulus M            
                Pilih Mana - Puasa Islami Atau Puasa Kristen            
                Apa Yang Al Quran Instruksikan Muslim Lakukan Terhadap 
Non-Muslim               
                Tanggapan tulisan Muhammad dalam Perjanjian Lama                
                Hari Semua Orang Menggambar Muhammad            
                MENGRITISI PEMIKIRAN DR YAHYA WALONI            
                Sumber-penulisan-alquran by Zakharia Boutros            
                Tuduhan-Ahmed-Deedat-Terhadap-Alkitab oleh Zakaria Boutros      
        
                Tanggapan-Terhadap-Combat-Kit-Ahmed-Deedat              
                TIDAK ADA JALAN KEMBALI         
                Tanggapan atas Combat-Kit2 Ahmed Deedat         
                Seri-Pelajaran-Alkitab-Amazing-Facts            
                Masakan Allah Kok Punya ’Anak Allah’            
                Bagaimana Menilai Sebuah Kitabullah             
                Tuhan Alkitab Sama Dengan Allah SWT             
                Wahyu Terkini Jadi Pengukur Wahyu Terdahulu             
                Injil Digugat Karena Ahmad              
                Bukankah Alkitab Itu Korup              
                Tuhan Sendiri Tidak Tahu Bahwa Ia Trinitas              




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke