Recent Posts Total Kontroversial QuranMari Kita
ganti kata Muslim dengan non muslim!Naskah Quranic SANA’A (Bagian 2)WHAT IF
They Burned A Koran And Nobody see it?HANCURNYA SIFAT KEILAHIAN QUR’AN
Blogroll
100 BUKU ISLAM DR. BOUTROS1000 Kesalahan QURAN30 DAYS INTERNATIONALARAB
WORLD MINISTRIESBUKTI SAKSIDOWNLOAD ARAB BIBLEDOWNLOAD ARAB BIBLE
MP3DULADIFAITHFREEDOMPEDIAGEERT WILDERSIRSHAD MANJIKABAR SUKACITAKESALAHAN
QURANKONTRADIKSI ALKITABKONTRADIKSI ALKITAB-Sarapanpagi.orgMENGENAL
MUHAMMADMUSLIM HARUS TAHUPUTRA HAMASRELIGIOUS PERSECUTIONSSATE MUSLIMTANYA
JAWAB ALKITABVIDEO GEGERKAN ISLAM
Archives October 2010September 2010August 2010
Top Posts Bagaimana Jika Qur'an
Bukan Wahyu Tuhan?VIDEO TEMUAN MANUSKRIP QURAN GEGERKAN ISLAMTotal
Kontroversial Quran HANCURNYA SIFAT
KEILAHIAN QUR’ANhttp://secretofquran.wordpress.com/
Oleh: Sujit Das
“Menghormati iman orang-orang
percaya yang tulus seharusnya tidak menyebabkan investigasi yang
dilakukan para ahli sejarah dilarang atau dibelokkan….Seseorang harus
mempertahankan hak-hak metodologi dasar sejarah.”
- Maxime Rodhinson, 1981; p. 57
(Photo Source: Wikipedia, 2009)
Foto salah satu perkamen Sana’a Qur’an dari Gerd R Puin’s, memperlihatkan
lapisan revisi yang dilakukan terhadap Quran
Seringkali orang-orang Muslim
mengatakan bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru telah
dikorupsi dan diubah secara serius. Mereka katakan, supaya sebuah Kitab
Suci bisa dikatakan sebagai otoritatif, maka ia harus dipelihara tetap
tanpa perubahan sama sekali, dan menunjuk pada Qur’an mereka sebagai
kitab suci yang diwahyukan kata demi kata dan surat demi surat kepada
Muhamamad oleh Allah. Quran mengklaim, “Tidak boleh ada perubahan dalam
firman-firman Allah” (10:64), dan ”Tidak ada yang bisa merubah
kata-kata (dan peraturan) Allah” (6:34).
Tetapi betapa anehnya ‘doktrin
pembatalan’ ini, dimana wahyu-wahyu yang datang kemudian membatalkan
wahyu-wahyu terdahulu, sebagaimana Quran (2:106) menegaskan,
”Wahyu-wahyu…..Kami membatalkan/mencabut atau menyebabkan untuk
dilupakan.” Juga, sebuah Hadis (6:558) dari Sahih Bukhari menegaskan
bahwa Muhammad melupakan banyak ayat. Disamping itu, Sunaan ibn Majah (3:
1944) mencatat bahwa setelah kematian Muhammad, sejumlah wahyu dimakan
oleh seekor kambing. Bagaimana kata-kata Ilahi bisa dimakan, diubah,
dibatalkan atau dihapuskan, meskipun ada klaim dari Allah dalam Sura
10:64 dan 6:43?
Tidakkah semua klaim-klaim dari Allah
ini berkontradiksi dengan diriNya sendiri? Tetapi ajaibnya; kenyataan
ini sama sekali tidak mengganggu pemikiran orang-orang Muslim.
Barangkali, jika kita bisa menghadirkan Quran lain yang “otentik”, dan
yang berbeda dengan bentuk standar Quran yang ada saat ini, maka Muslim
akan mulai menggunakan logika mereka.
Kebenaran yang sangat menghancurkan
adalah bahwa sejumlah besar naskah-naskah kuno, berasal dari abad
pertama Hijrah ditemukan di Mesjid Agung di Sana’a (Yaman), yang secara
signifikan berbeda dengan Quran standar yang ada sekarang. Sistem
penanggalan dengan menggunakan Carbon meyakini bahwa naskah-naskah
Quran ini tidak dibuat oleh lawan-lawan keagamaan. Disamping itu,
naskah-naskah Quran ini ditemukan oleh orang-orang Muslim sendiri,
bukan oleh orang-orang kafir.
Barangkali inilah peristiwa yang paling memalukan dalam sejarah Islam yang
sudah berlangsung selama 14 Abad.
Mesjid Agung Sana’a adalah salah satu
Mesjid tertua dalam sejarah Islam. Gedung ini dibangun pada tahun 6
Hijrah ketika Muhammad mempercayakan salah seorang dari teman-temannya
untuk membangun sebuah Mesjid di Yaman, yang diperluas dan diperbesar
oleh para pemimpin Islam dari masa ke masa.
Pada tahun 1972, ketika berlangsung
restorasi Mesjid Agung ini (hujan deras menyebabkan dinding bagian
Barat Mesjid ini rubuh), para tukang yang bekerja dalam sebuah ruangan
mahkota diantara struktur bagian dalam dan atap bagian luar, menemukan
sebuah kuburan yang menakjubkan, yang pada saat itu, karena
ketidaktahuan mereka, mereka tidak menyadari apa yang ada di situ.
Biasanya mesjid tidak mengakomodasi kuburan, dan situs ini juga tidak
berisi batu nisan, tidak ada sisa-sisa tubuh/tulang manusia dan juga
tidak ada barang-barang peninggalan dari pemakaman. Tak ada benda lain
di dalamnya kecuali perkamen tua dan dokumen-dokumen surat yang
jumlahnya sangat banyak. Juga di dalamnya ditemukan buku-buku yang
sudah rusak dan halaman-halaman teks individual dalam bahasa Arab, yang
sudah lebur menjadi satu oleh karena hujan dan kelembaban selama lebih
dari seribu tahun.
(Sumber foto: Dreibholz, 1999, p. 23)
Sejumlah fragmen-fragmen perkamen Qur’anik dalam
kondisi ketika
mereka ditemukan
Para tukang yang tidak mengerti itu
kemudian mengumpulkan naskah-naskah tersebut, memasukkannya dengan
sembrono ke dalam 20 karung kentang, dan meletakkannya pada tangga di
salah satu menara Mesjid, dimana naskah-naskah itu pun kemudian dikunci
di situ. Naskah-naskah itu akan kembali dilupakan, jika bukan karena
Qadhi Isma’il al-Akwa, Presiden Otoritas Barang-Barang Antik Yaman,
yang di kemudian hari menyadari pentingnya penemuan itu. Al-Akwa
mencari pertolongan dari dunia Internasional untuk menguji dan
mengawetkan fragmen-fragmen itu, sebab tidak ada seorang pun sarjana di
negaranya yang sanggup mengerjakan penemuan yang sangat kaya seperti
ini. Pada tahun 1997, ia menerima kunjungan dari seorang sarjana Jerman
non-Muslim. Orang ini lalu membujuk pemerintah Jerman untuk
mengorganisir dan menjalankan sebuah proyek restorasi.
Segera setelah proyek itu dimulai,
menjadi jelaslah bahwa “kuburan kertas” itu adalah sebuah tempat untuk
menyimpan puluhan ribu fragmen-fragmen dari hampir seribu naskah-naskah
kuno Quran, kitab suci Muslim. Otoritas Muslim pada masa-masa awal
Islam menganjurkan agar kopian-kopian Quran yang telah rusak
disingkirkan dari peredaran dan hanya mengijinkan edisi-edisi kitab
suci yang masih baik untuk dipakai. Juga tempat yang aman seperti itu
dibutuhkan untuk melindungi kitab-kitab itu dari kebakaran atau
kehancuran jika para penyerang datang, dan di sinilah kemudian muncul
ide untuk menyimpannya di sebuah ‘kuburan’ dalam Mesjid Agung di
Sana’a, yang pada waktu itu merupakan tempat untuk mempelajari Quran.
Hal ini sudah berlangsung sejak abad pertama Hijrah.
Restorasi naskah-naskah itu diorganisir
dan diawasi oleh Gerd R. Puin dari Saarland University, di Jerman.
Puin adalah seorang spesialis terkemuka dalam bidang kaligrafi Arabik
(studi mengenai tulisan tangan indah dan artistik), dan merupakan
seorang paleografi (studi mengenai dokumen-dokumen dan tulisan kuno)
Qur’anik. Selama sepuluh tahun ia secara ekstensif menguji
fragmen-fragmen perkamen yang berharga itu. Tahun 1985, rekannya H. C.
Graf V. Bothmer bergabung dengannya.
Tes-tes Carbon-14 menunjukkan bahwa
sejumlah perkamen itu berasal dari tahun 645-690 AD. Tahun pembuatan
mereka yang sebenarnya bisa jadi lebih dini lagi, karena C-14
memperkirakan tahun kematian dari sebuah organisme (perkamen adalah
kulit binatang), dan proses itu hingga penulisan akhir pada perkamen
mencakup waktu yang tidak bisa diketahui. Tanggal penulisan kaligrafi
menunjukkan tahun 710-715 AD. Beberapa perkamen kelihatannya berasal
dari abad ke tujuh dan ke sembilan, dan karena itu bisa disebut sebagai
Qur’an tertua yang ada saat ini.
Pada tahun 1984, Rumah Naskah (Dar al
Makhtutat) didirikan di dekat Mesjid Agung, sebagai bagian dari proyek
kerjasama antara otoritas Yaman dan Jerman. Sebuah usaha keras yang
sangat besar dimulai untuk merestorasi fragmen-fragmen Qur’anik. Antara
tahun 1983 dan 1996, kira-kira 15.000 dari 40.000 halaman telah
selesai direstorasi, khususnya 12.000 fragmen-fragmen pada perkamen dan
naskah-naskah yang berasal dari abad ke tujuh dan sembilan.
(Sumber Foto: Dreibholz, 1999. p. 22)
Perpustakaan Dar al-Makhtutat dimana disimpan
Naskah-Naskah dan katalog yang
baru ditemukan
Hingga saat ini, hanya ada tiga kopian
kuno Qur’an yang ditemukan. Yang pertama disimpan di Perpustakaan
Inggris di London, berasal dari akhir abad ke tujuh dan dianggap
sebagai yang paling tua. Tetapi naskah-naskah Sana’a bahkan usianya
lebih tua. Lebih dari itu, naskah-naskah ini ditulis dengan huruf yang
aslinya berasal dari Hijaz – wilayah Arabia dimana Nabi Muhammad hidup,
yang membuatnya tidak hanya sebagai naskah tertua yang berhasil
selamat, tetapi kopian otentik Qur’an yang paling tua. Arabik Hijazi
adalah tulisan (Mekkah atau Medinah), dan Qur’an mula-mula ditulis
dengan huruf ini. Meskipun potongan-potongan ini berasal dari Qur’an
paling awal yang pernah ada, mereka juga merupakan palimpsests
(naskah-naskah dengan tulisan asli yang telah dipakai ulang).
Gaya tulisan tangan yang indah dan
artistik dan jarang dipakai menjadi hal yang menarik perhatian Puin dan
temannya Bothmer, tetapi hal yang lebih mengejutkan lagi menanti
mereka. Ketika naskah Qur’an ini diperbandingkan dengan naskah Qur’an
standard yang ada saat ini, kedua orang ini menjadi terheran-heran.
Teks-teks kuno yang ditemukan ini sangat berbeda dengan naskah yang ada
sekarang, dan hal ini benar-benar mengganggu. Di sini terdapat
ayat-ayat yang disusun secara tidak konvensional, variasi-variasi
tekstual yang sedikit namun signifikan, ortografi (pengejaan) yang
berbeda dan perbedaan pada pembubuhan (dekorasi) artistik.
Hal ini benar-benar menghantam
keyakinan orang-orang Muslim ortodoks bahwa Qur’an yang ada hari ini
dapat dikatakan sebagai Firman Allah yang “sempurna, kekal sepanjang
masa dan tidak berubah.” Dengan penemuan naskah ini berarti Qur’an
telah didistorsi, dinodai, direvisi, dimodifikasi dan dikoreksi, dan
perubahan tekstual secara murni telah terjadi selama bertahun-tahun
oleh tangan-tangan manusia.
Aura kesakralan disekeliling Kitab Suci
Islam ini, yang masih utuh selama lebih dari 14 abad lamanya, menjadi
hilang dengan penemuan yang mencengangkan ini, dan keyakinan inti dari
semilyar lebih orang-orang Muslim yang meyakini bahwa Qur’an itu kekal,
firman Allah yang tidak bisa berubah sekarang tampak jelas hanya
sebagai sebuah kebohongan besar. Bukan hanya itu; klaim Qur’anik bahwa
tak ada orang yang bisa merubah firman-firman Allah juga merupakan
sebuah kepalsuan. Qur’an seharusnya merupakan sebuah, jika kita
meminjam kata-kata dari Guillaume (1978, p. 74), yang paling suci dari
semua yang suci. Ia tidak boleh ada di bawah kitab yang lain, tetapi
selalu berada di atasnya, orang tak boleh minum atau merokok ketika
kitab ini dibacakan dengan keras, dan ia harus didengarkan di dalam
keheningan. Ini adalah Kitab yang merupakan jimat melawan penyakit dan
bencana.” Orang-orang Muslim menyebut Quran sebagai “Ibu dari semua
Kitab” dan meyakini tak ada kitab atau wahyu lainnya yang bisa
diperbandingkan dengan Qur’an (Caner & Caner, 2002. p.84). Tetapi
sekarang, dengan penemuan ini, semua keyakinan itu menjadi lenyap.
Hasil akhir dari seluruh perjuangan Islam selama empat belas abad
sekarang menjadi nol besar.
Tidak hanya itu, banyak naskah
memperlihatkan tanda-tanda dimana naskah-naskah itu menggunakan tulisan
asli yang telah dipakai ulang. Misalnya, ayat-ayat yang sangat jelas
ditulis di atas ayat-ayat lain yang sudah dihapus. Tentu saja ayat-ayat
yang ada di bawah tulisan yang ada sekarang sulit untuk dibaca secara
visual, tetapi peralatan-peralatan modern seperti fotografi ultraviolet
dapat memperlihatkan dengan jelas tulisan-tulisan itu. Dipercaya bahwa
naskah-naskah Sana’a bukan hanya satu-satunya varian, tetapi sebelum
itu, teks Qur’anik telah dimodifikasikan dan ditulis ulang pada kertas
yang sama. Hal ini berarti, klaim Allah (Sura 56: 77-78; 85:21-22) bahwa
teks asli telah disimpan di surga pada lembaran-lembaran emas, yang
tak bisa disentuh oleh siapa pun kecuali para malaikat, hanyalah sebuah
cerita dongeng.
Setelah mempelajari dengan seksama
naskah-naskah ini, Puin sampai pada kesimpulan bahwa teks ini
sesungguhnya sebuah teks yang telah dikembangkan, dan bukannya firman
Allah sebagaimana yang diwahyukan secara menyeluruh kepada Muhammad
(Warraq, 2002, p. 109). Dengan perasaan tergetar ia berkata, ”Begitu
banyak Muslim yang memiliki keyakinan ini, bahwa segala sesuatu
diantara kedua penutup Qur’an adalah firman Allah yang tak bisa dirubah.
Mereka senang mengutip karya tekstual yang memperlihatkan bahwa
Alkitab memiliki sebuah sejarah dan bukan sesuatu yang diturunkan
langsung dari langit, bahwa hingga saat ini Qur’an berada di luar
perdebatan. Satu-satunya cara untuk meruntuhkan dinding ini adalah
dengan membuktikan bahwa Qur’an pun memiliki catatan sejarah.
Fragmen-fragmen Sana’a akan membantu kita melakukan hal ini.”
Puin bahkan menyimpulkan (mengutip Taher, 2000), ”Tak
ada satu pun karya tunggal yang tetap tanpa perubahan selama
berabad-abad. Termasuk kisah-kisah yang ditulis sebelum nabi Muhammad
memulai pelayanannya dan yang kemudian setelah itu ditulis ulang.”
Selama melakukan riset mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Puin (Lester,
1999), ”Mereka
(otoritas Yaman ingin agar hal ini tidak digembar-gemborkan,
sebagaimana yang juga kami lakukan, meski dengan alasan yang berbeda.
Mereka tak ingin menarik perhatian pada kenyataan bahwa ada orang-orang
Jerman dan lainnya yang melakukan studi terhadap Qur’an. Mereka tidak
mau mengumumkannya kepada publik, bahwa ada pekerjaan seperti ini yang
sedang dilakukan, oleh karena posisi Islam adalah bahwa semua hal yang
perlu dikatakan mengenai sejarah Qur’an telah dikatakan seribu tahun
lalu.”
Pada kenyataannya, Puin dan rekannya
Bothmer mengetahui untuk beberapa saat ketika mereka melakukan studi
mereka, bahwa Qur’an sendiri adalah sebuah teks yang terus berkembang,
namun dengan bijaksana mereka memahami implikasi yang mungkin dari
penemuan-penemuan mereka dan karena itu mereka tetap berdiam diri. Jika
otoritas Yaman mengetahui penemuan ini, sangat besar kemungkinan
mereka akan menolak kedua orang ini untuk memperoleh akses lebih jauh.
Inilah yang dimaksudkan oleh Puin sebagai “alasan-alasan lain.” Karena itu
keduanya tetap diam, dan kedua sarjana ini dapat tetap meneruskan riset mereka.
Penemuan Puin juga mengkonfirmasi
asumsi Wansbrough mengenai teks Qur’anik. Pada tahun 1970an, Wansbrough
menyimpulkan bahwa Qur’an berkembang secara bertahap pada abad ketujuh
dan kedelapan, setelah periode panjang dari transmisi oral, dan
sekte-sekte yang berbeda biasanya berdebat dengan keras satu sama lain
mengenai wahyu-wahyu mana yang asli. Alasan bahwa tidak ada sumber
materi dari permulaan Islam yang pernah selamat adalah karena ia memang
tidak pernah ada. Pada kenyataannya, Puin mengakui bahwa ia ‘membaca
ulang karya Wansbrough ketika ia menganalisa fragmen-fragmen Yaman itu (Warraq,
2002. p. 122).
Teori Puin lainnya yang radikal adalah
bahwa sumber-sumber pra-Islamik telah memasuki Qur’an. Argumentasinya
adalah bahwa ada dua suku yang disebut, As-Sahab-ar-Rass (Para sahabat
dari Sumur) dan As-Sahab-al-Aiqa (Para Sahabat dari Semak-semak
Berduri) yang bukan merupakan bagian dari tradisi Arab, dan orang-orang
pada masa Muhammad tentu saja tidak mengenal mereka. Ia juga tidak
setuju pandangan yang mengatakan bahwa Qur’an ditulis dalam bahasa Arab
yang paling murni. Kata “Qur’an” itu sendiri aslinya berasal dari luar
Arab. Kontras dengan keyakinan populer Muslim, ia mengatakan bahwa
arti dari “Qur’an” bukanlah pembacaan atau pengajian. Sebenarnya kata
“Qur’an” menurutnya berasal dari bahasa Aramaik, “Qariyun”, artinya
sebuah leksionari bagian-bagian kitab suci yang ditetapkan untuk dibaca
dalam ibadah ilahi. Qur’an kebanyakan berisi cerita-cerita Alkitab
tetapi dalam bentuk yang lebih pendek dan merupakan “sebuah ringkasan
dari Alkitab untuk dibaca dalam ibadah.”
Bothmer secara seksama telah mengambil
lebih dari tiga puluh lima ribu gambar-gambar mikro film dari
fragmen-fragmen itu pada tahun 1997 dan membawa gambar-gambar itu ke
Jerman (Warraq, 2002, p.109). Artinya bahwa saat ini Bothmer, Puin dan
para sarjana lainnya pada akhirnya akan memiliki sebuah kesempatan
untuk meneliti kembali dengan lebih cermat teks-teks itu dan
mempublikasikan penemuan-penemuan mereka dengan bebas.
Puin tertarik untuk menulis sebuah buku
mengenai hal ini pada masa depan, tetapi ia telah menulis beberapa
tulisan-tulisan pendek mengenai penemuan mereka di berbagai macam
majalah ilmiah, dimana ia memperlihatkan beberapa penyimpangan antara
Qur’an kuno dan Qur’an standar sebagaimana yang ada saat ini (Mengutip
Warraq, 2002, p.739-44)
Ketika membuktikan bahwa Qur’an sama
sekali bukan kitab yang bisa dianggap suci, Puin menulis, ”Pendapat
saya adalah bahwa Qur’an sejenis teks-teks gado-gado dimana tidak
semuanya dimengerti pada masa Muhammad. Banyak dari teks-teks ini
bahkan usianya seratus tahun lebih tua daripada Islam itu sendiri.
Klaim-klaim Qur’an untuk dirinya sendiri adalah bahwa ia merupakan
sesuatu yang jelas (mubeen). Tetapi (kontras dengan keyakinan populer)
jika anda mengamatinya, anda akan menemukan bahwa seperlima dari
kalimatnya sama sekali tidak mempunyai makna…faktanya adalah seperlima
dari teks Qur’anik sama sekali tidak bersifat komprehensif. Jika Qur’an
itu tidak komprehensif, bahkan jika ia sendiri tidak bisa dimengerti
dalam bahasa Arab, maka ia juga tak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa
apa pun. Itulah sebabnya mengapa Muslim merasa takut. Meskipun
berulang-ulang Qur’an mengklaim bahwa ia adalah sesuatu yang jelas,
tetapi nyatanya di situ terdapat banyak sekali kontradiksi yang sangat
serius. Sesuatu pasti telah terjadi.
Penemuan yang luar biasa dari Puin
sangat menarik perhatian Andrew Rippin, seorang Profesor bidang studi
agama dan seorang ahli terkemuka dalam bidang studi Qur’an. Rippin
(dikutip dari Warraq, 2002, p.110) menyimpulkan, ”Pengaruh dari
naskah-naskah Yaman masih bisa dirasakan. Pembacaan-pembacaan mereka
yang bervariasi dan susunan ayat-ayat semuanya sangat signifikan. Semua
orang setuju dengan hal ini. Naskah-naskah ini memperlihatkan bahwa
sejarah awal teks Qur’anik lebih dari sekedar sebuah pertanyaan terbuka
sebagaimana yang diduga banyak orang. Teks itu kurang stabil dan
karena itu otoritasnya sedikit, daripada yang selalu diklaim.”
Observasi Rippin benar-benar luar
biasa. Selama periode Kalifah mula-mula, Islam bertumbuh sebagai
gerakan politik dan bukan sebagai sebuah gerakan keagamaan. Sebuah buku
seperti Qur’an dibutuhkan untuk menjaga agar orang-orang Muslim tetap
bersatu. Qur’an seperti sebuah ‘simbol status’ dari Islam, yang jika
bukan karena buku ini maka Islam akan mati bahkan pada masa Muhammad.
Qur’an itu murni buatan manusia.
Beberapa hal yang bersifat ilahi
dilekatkan pada Qur’an supaya ia bisa memberikan perintah yang bisa
dihormati, sebab ia tidak memiliki kuasa dari dirinya sendiri. Inilah
caranya, bagaimana ketika mengakui klaim-klaim dari Qur’an sebagai
ungkapan langsung dari Yang Ilahi, para manipulator mula-mula telah
menyingkirkan semua kritik, yang kemungkinan akan mengeksposnya. Dalam
Sura 5:101 dan 5:102 Qur’an sendiri melarang kritik. Kita tidak tahu
saat kebutaan religius secara perlahan muncul, tetapi tanpa ragu,
Muslim mula-mula setelah Muhammad sebenarnya lebih liberal dibandingkan
dengan generasi yang kita lihat saat ini. Otentisitas dari banyak ayat
telah dipertanyakan sendiri oleh orang-orang Muslim mula-mula. Banyak
Kharijit, yang merupakan pengikut-pengikut Ali dalam sejarah Islam
mula-mula, menemukan Sura yang menceritakan cerita yang tidak sopan
mengenai Yusuf, sebuah kisah erotis yang tidak mungkin merupakan bagian
dari Qur’an (dikutip dari Warraq, 1998, p.17)
Warraq (1998, p. 14) memiliki pandangan
yang sama dengan Rippin, ”Para sarjana Muslim pada tahun-tahun awal
Islam jauh lebih fleksibel dengan posisi mereka, menyadari bahwa
bagian-bagian Qur’an telah hilang, diselewengkan dan bahwa ada ribuan
perbedaan yang menyebabkan tidak mungkin bisa berbicara mengenai
Qur’an.”
Ada bukti lainnya bahwa pesan-pesan
Qur’anik telah diubah pada masa-masa awal Islam dan tidak ada lagi yang
eksis yang disebut “Qur’an”. Tulisan dari beberapa ayat Qur’anik
menghiasi Mesjid Dome of Rock di Yerusalem, yang barangkali merupakan
monumen Islamik pertama dam merupakan sebuah pencapaian artistik mayor,
dibangun tahun 691 AD (Whelan, 1998, pp 1-14). Tulisan-tulisan ini
secara signifikan berbeda dari teks standar yang ada saat ini (Warraq,
2000, p. 34)
Mingana (mengutip Warraq, 1998. p.80) mengeluhkan, ”Pertanyaan paling penting
dalam mempelajari Qur’an adalah otoritasnya yang tidak boleh ditantang.”
Inilah satu-satunya alasan; investigasi kritikal mengenai teks Qur’an
adalah sebuah studi yang masih belum dewasa. Sebagaimana dikatakan oleh
Rippin (1991, p. ix) yang mengeluhkan, ”Seringkali saya menemukan
individu-individu yang mempelajari Islam dengan latar belakang studi
sejarah Alkitab Ibrani atau Kekristenan mula-mula, dan yang
mengekspresikan keterkejutan pada kurangnya pemikiran kritis yang
muncul dalam teksbook-teksbook pendahuluan Islam. Gagasan bahwa “Islam
dilahirkan dalam terang sejarah yang jelas” kelihatannya masih merupakan
anggapan dari banyak penulis besar mengenai teks-teks seperti itu.” Cook dan
Crone (1977, p. 18) menyimpulkan,”[Qur’an]
sangat kurang dalam keseluruhan struktur, seringkali tidak jelas dan
tidak merupakan sebuah rangkaian; sementara isinya asal-asalan dan
materi-materi yang dibahas berbeda, serta melakukan
pengulangan-pengulangan di seluruh pasal dengan versi yang berbeda-beda.
Dengan dasar ini, bisa diperdebatkan bahwa kitab ini adalah produk
dari sebuah keterlambatan dan pengeditan materi yang tidak sempurna
dari sebuah tradisi-tradisi yang bersifat plural.” Crone (mengutip Warraq,
1998, p. 33) juga menuliskan, ”Qur’an telah menurunkan banyak sekali informasi
palsu.”
Tetapi dalam kaitan dengan Alkitab, kita menemukan perbedaan, sebagaimana yang
diobservasi oleh Rodinson (1980, p. viii),”[Untuk
Alkitab] sikap ilmiah dimulai dengan keputusan untuk menerima sesuatu
sebagai fakta hanya jika sumber itu telah dibuktikan sebagai sesuatu
yang dapat dipercaya.” Orang-orang Muslim secara salah
mengintepretasikan kejujuran orang-orang Kristen yang memperlihatkan
sejumlah pembacaan Alkitab yang bervariasi sebagai kelemahan (Ali &
Spencer; 2003. p. 76-9).
Orang-orang Kristen, seperti halnya
orang-orang Hindu, ingin melihat Kitab Suci mereka melalui sudut
pandang ilmiah dan sejarah. Ketika naskah-naskah tua Alkitab,
perkamen-perkamen atau naskah-naskah Hindu ditemukan, para sarjana
Kristen dan Hindu hampir-hampir saling memanjat bahu masing-masing agar
bisa terlebih dahulu mendapatkan akses kepada teks-teks itu.
Penemuan-penemuan seperti ini membuat mereka merasa sangat tertarik.
Tetapi sayangnya, tidak ada hasrat seperti itu dalam Islam. Kristen dan
Hindu sangat berkeinginan untuk melihat lebih banyak lagi hal-hal yang
bisa disingkapkan mengenai kitab suci mereka, sementara Muslim
menolaknya, bahkan seringkali dengan determinasi yang kuat. Kontras ini
benar-benar sebuah pukulan. Sementara baik iman Hindu dan Kristen
secara kuat didukung oleh bukti-bukti arkeologis dan historis, sejauh
ini tidak ada satu pun eksplorasi arkeologis yang diijinkan untuk
dilakukan di Mekkah dan Medinah, dan tidak ada kemungkinan untuk
melakukannya di masa yang akan datang (Peters, 1986. p. 72-4).
Kritikan Muslim terhadap Qur’an sangat
jarang dan hampir-hampir tidak pernah ada sebagaimana yang dikeluhkan
oleh Sina (2008, p. 6), ”Orang-orang Muslim pada dasarnya tidak punya
kapabilitas untuk mempertanyakan Islam.”
Baru-baru ini saja website-website para mantan Muslim yang melakukan
sejumlah karya yang luar biasa mengenai hal ini. Tentu saja, orang-orang
yang telah mengalami pencerahan seperti mereka akan berhasil
membebaskan saudara-saudari Muslim mereka dari penjara Islamik. Jika
tidak, apa pun kritikan yang dilakukan terhadap Qur’an, semuanya akan
dilakukan oleh para sarjana Kristen. Tetapi orang-orang Muslim
seharusnya tidak menganggap kritik dari orang Kristen sebagai sebuah
tanda oposisi religius. Para sarjana Kristen telah melakukan lebih
banyak lagi kritikan terhadap agama mereka sendiri daripada terhadap
Islam (Sproul & Saleeb, 2003. p. 17; Spencer, 2007, p. 1).
Tetapi sekali penemuan-penemuan Sana’a
dipublikasikan secara detil, Islam tidak akan pernah sama lagi
sebagaimana ia ada selama empat belas abad ini. Islam pasti akan
mengambil sebuah posisi yang asing. Banyak Muslim akan menunjukkan
keraguan terhadap kesakralan Qur’anik dan konsep yang sangat “romantis”
dari Qur’an secara perlahan akan lenyap dan sebuah perkembangan yang
sangat menarik akan bisa diobservasi. Pertanyaan pertama yang akan
muncul di pikiran mereka adalah – versi yang mana yang paling superior.
Tetapi kemudian, tidak mungkin memilih sebuah versi Qur’an dan menolak
versi yang lain berdasarkan pilihan. Sebab keyakinan Muslim juga
menegaskan bahwa siapa saja yang menolak bahkan satu ayat pun dari
Qur’an, sebenarnya mereka telah menolak seluruh pewahyuan. Ini adalah
sebuah kemustahilan logis dan karena riset ilmiah telah meneriakkan
kebenaran; banyak Muslim akan mencari jalan keluar dari hal yang tidak
masuk akal ini dan akan mencoba membebaskan diri mereka dari penindasan
tirani yang hidup di sebuah agama yang palsu.
Ketika mendiskusikan apatisme Muslim
terhadap sains, hukum logika dan hukum alam, Jaki (mengutip Spencer,
2002, p. 127) menulis, ”Apa yang terjadi dalam dunia Muslim hari
ini adalah sebuah konfrontasi, bukan antara Tuhan dan Iblis…tetapi
antara satu Tuhan yang sangat spesifik dan ilmu pengetahuan yang
merupakan sebuah antagonis yang sangat spesifik dari Tuhan itu, yaitu
Allah dari Qur’an, yang merupakan oknum yang sepenuhnya mendominasi
intelektual.” Penemuan Sana’a hanya akan menambahkan bahan bakar
untuk api itu. Hari ini dunia Muslim dikelilingi dengan frustasi. Islam
seharusnya menjadi wahyu terakhir dan orang-orang Muslim seharusnya
menjadi “Manusia terbaik”, tetapi kenyataannya benar-benar
bertentangan. Bangsa-bangsa Muslim adalah bangsa-bangsa yang paling
miskin di dunia (Ohmyrus, 2006, p. 128). Saatnya akan tiba ketika
otoritas keagamaan akan ditanya oleh orang-orang Muslim kebanyakan, dan
mereka akan dituntut untuk menyangkali kritikan-kritikan secara logis,
ilmiah dan masuk akal, bukan dengan kekuatan brutal atau melalui
Fatwa. Sebagaimana yang ditulis oleh Parvez Manzoor, ”Cepat atau
lambat [kami orang-orang Muslim] harus mendekati Qur’an dari
asumsi-asumsi metodologikal dan parameter-parameter yang secara radikal
merupakan hal yang asing dengan hal-hal yang telah disucikan oleh
tradisi kami” (Warraq, 2002, p. 123).
Tetapi naskah-naskah Sana’a juga akan
memprovokasi pertanyaan lainnya. Jika Qur’an adalah sebuah kebohongan,
bagaimana kebohongan ini bisa bertahan selama berabad-abad? Alasannya
adalah bahwa Keilahian yang ditempelkan pada Qur’an bukan hanya sebuah
“Kebohongan Yang Kecil”, tetapi “Sebuah Kebohongan Yang Besar.”
Kebohongan-kebohongan yang besar adalah sesuatu yang sangat ampuh, dan
ia selalu memiliki sebuah efek psikologis terhadap para pendengar.
Semakin besar kebohongan, semakin ia bisa dipercayai. Adolf Hitler
menulis dalam Mein Kamph (1925), ”Massa yang besar dari sebuah bangsa akan
menjadi korban oleh sebuah kebohongan besar daripada oleh sebuah kebohongan
kecil.”
Kebohongan besar sangat meyakinkan karena ia akan menutupi pikiran
sehat pendengar, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sina (2008, p. 179),
orang-orang biasa tidak akan berani untuk menceritakan sebuah kebohongan
besar sebab ia berpikir bahwa hal itu tidak akan dipercayai dan ia
akan menjadi bahan olok-olok. Karena tidak ada seorang pun yang pernah
menceritakan sebuah kebohongan dalam hidupnya, kebohongan-kebohongan
kecil seringkali cepat atau lambat akan bisa dideteksi. Tetapi
kebohongan-kebohongan besar benar-benar aneh karena ia seringkali
membuat para pendengar menjadi kehilangan akal. Ketika kebohongan itu
sangat besar (seumpama raksasa), orang-orang kebanyakan akan
bertanya-tanya bagaimana seseorang memiliki keberanian, yaitu dengan
lancang mengatakan hal seperti itu.
Kebohongan besar selalu mengejakan keajaiban dalam politik. George Orwill
(mengutip Sina, 2008, p. 179) berkata, ”Bahasa
politik….didisain untuk membuat kebohongan terdengar sebagai sesuatu
yang jujur dan pembunuhan dapat dihargai dan membuat angin terlihat
sebagai sesuatu yang padat.” Hari ini, ketika sifat keilahian
Qur’an disebarkan oleh naskah-naskah Sana’a, maka natur spiritual Islam
juga diekspos. Islam tak lebih dari sebuah gerakan politik Arab. Sifat
keilahian ditempelkan pada Qur’an, ketika orang-orang Arab mulai
menduduki bangsa-bangsa di sekeliling mereka dan Islam dipaksakan oleh
mereka dengan kekerasan. Orang-orang Arab tidak hanya memaksakan Islam
pada bangsa-bangsa lain tetapi juga memaksakan keyakinan irasional dari
keilahian Qur’anik ini kepada pemikiran-pemikiran para korban mereka,
sehingga ketika orang-orang Arab telah pergi, orang-orang yang telah
ditaklukkan tidak bisa keluar dari mental perbudakan ini dan kembali
kepada iman mereka yang asli. Ini adalah sebuah keahlian politik yang
langka. Banyak sahabat-sahabat Muhammad dengan jelas mengetahui bahwa
Qur’an adalah sebuah kepalsuan, tetapi mereka tetap tinggal bersama
dengan nabi mereka untuk bisa memperoleh barang rampasan dan menikmati
para wanita. Kita semua tahu, setelah kematian Muhammad, beberapa suku
Arab kembali kepada keyakinan mereka sebelumnya dan penyembahan berhala
pun kembali mekar.
Menyebabkan banyak Muslim menjadi syok;
studi modern dalam bidang Psikologi telah memperlihatkan kebenaran
bahwa Muhammad adalah seorang yang suka memaksa, seorang pria gila yang
menderita Kelainan Personalitas Narsisistik (Narcissistic Personality
Disorder). Narsisistik adalah orang-orang yang diserap oleh dirinya
sendiri dan secara patologis merupakan para pembohong. Artinya, apakah
mereka tidak menyadari kebohongan mereka atau merasa sepenuhnya benar
dan merasa mudah berbohong pada orang lain. Kondisi mental mereka
sedemikian rupa sehingga jarang ada orang yang bahkan memiliki
kapasitas untuk mempercayai kebohongan mereka sendiri (Vaknin, 1999, p.
24).
Dan ya, Adolf Hitler, yang mengetahui
kekuatan dari sebuah kebohongan besar dan telah menyesatkan jutaan
orang Jerman, juga dikenal sebagai seorang Narsisis. Hari ini Hitler
adalah figur sejarah yang paling dibenci di Jerman. Seperti sebuah ilmu
matematika, pastilah Muhammad juga akan memperoleh nasib yang sama.
Tetapi kita benar-benar tidak tahu, berapa juta orang akan mati sebelum
kita bisa menaruh Muhammad di keranjang sampah dengan Allahnya, Quran
dan Islam bersama-sama. Bagi Hitler, ini adalah Sosialisme Nasionalis
(nama lain untuk Naziisme), dan bagi Muhammad ini adalah Islam. Tetapi
pada dasarnya, keduanya adalah dua sisi koin yang sama-seorang
manipulator yang sukses.
Sina (2008, p. iv, 260) memberikan komentar, ”Islam
seumpama sebuah rumah kartu, dipelihara oleh kebohongan-kebohongan.
Yang diperlukan adalah menghancurkannya dengan memberikan tantangan
kepada salah satu dari kebohongan-kebohongan yang membuatnya tetap
berdiri seperti sekarang. Islam adalah sebuah bangunan yang tinggi,
didirikan di atas pasir; satu kali saja anda mengekspos pondasinya, maka
pasir itu akan tergerus dan gedung besar ini akan jatuh karena berat
yang ditanggungnya” dan lagi ”Islam berdiri di atas tanah yang
rapuh. Ia hanya berisi kebohongan. Kita hanya perlu mengekspos
kebohongan-kebohongan dan bangunan raksasa dari teror dan penipuan ini
untuk meruntuhkannya.”
Mari kita lihat, sekali aura kesakralan Qur’an lenyap, kebohongan-kebohongan
lain apa yang akan diekspos?
Pertama; jika ada dua atau lebih dari
dua versi Qur’an, maka akan ada jumlah Allah yang sama. Jadi, jika
hanya ada dua Qur’an yang otentik, apakah Islam masih bisa dianggap
sebagai agama monoteisme? Bagaimana memastikannya, Allah mana yang
memberikan sebuah versi Qur’an? Jika hanya ada satu Allah, maka Qur’an
mana yang otentik?
Kedua; jika kita masih percaya bahwa sebuah Qur’an adalah otentik, maka
bagaimana Allah mengijinkan Qur’an lainnya tetap ada?
Ketiga, apakah masih bisa dianggap
benar bahwa Qur’an (Sura 10:64) yang berkata bahwa firman-firman Allah
tidak akan berubah-ini benar-benar pencapaian yang sangat hebat? Jika
ya, sekarang apa lagi yang akan dilakukan oleh lebih dari sebuah
Qur’an? Jika tidak, bagaimana wahyu palsu seperti ini dicatat dalam
Qur’an? Apakah Setan yang menaruhnya?
Terakhir, Bukhari (4.52.233) mencatat
”Orang-orang tidak beriman tidak akan pernah memahami tanda-tanda dan
wahyu-wahyu kami.” Tetapi kita bisa saksikan, untuk memahami Qur’an
Sana’a, otoritas Yaman mengundang para sarjana Jerman karena tak ada
seorang pun di Yaman yang sanggup mengungkapkan penemuan besar seperti
ini.
Tidak heran jika Sina (2008) menyimpulkan, ”Tak peduli bagaimana anda memandang
Islam, ia tetap akan terlihat sebagai sebuah agama kebodohan.”
Orang-orang Muslim telah menjual jiwa
mereka kepada Muhammad, tetapi bisakah mereka secara logis membersihkan
keraguan-keraguan di atas? Episode Sana’a telah menempatkan mereka
pada sebuah posisi yang canggung, bahwa bahkan alasan yang
berputar-putar atau absurditas logika tak akan bisa menolong mereka.
Bukankah inilah saatnya bagi orang-orang Muslim yang bijaksana untuk
memikirkan ulang iman mereka? Daripada berusaha keras untuk memberikan
alasan terhadap keraguan-keraguan di atas, bukankah lebih bijaksana
untuk setuju bahwa satu milyar lebih orang-orang Muslim telah dibodohi
oleh seorang pemaksa vulgar yang bernama Nabi Muhammad? Bukankah ini
saatnya bagi orang-orang Muslim untuk mencari kebenaran? Sebagaimana
penulis puisi Thomas Gray (dikutip dari Sagan, 1997, p. 12)
menulis,”….kapankah ketidaktahuan merupakan sebuah kebahagiaan, yaitu
ketika kebodohan dianggap sebagai hikmat.”
Untuk melindungi Qur’an dari penghinaan
lebih jauh, otoritas Yaman telah menghalangi Puin dan Bothmer mengkaji
lebih jauh naskah-naskah itu. Kenyataannya, saat ini mereka tidak
mengijinkan siapa pun melihat naskah-naskah itu kecuali fragmen-fragmen
non-Qur’anik yang dengan sangat hati-hati telah diseleksi terlebih
dahulu, yang bisa dilihat di lantai dasar Perpustakaan Dar
al-Makhtutat. Tetapi hal ini sia-sia. Burung sudah keluar dari
sangkarnya dan tak ada gunanya menutup pintu sekarang. Lebih dari
35.000 mikrofilm saat ini sudah ada di luar Yaman sebelum otoritas
Yaman mengetahuinya dan beberapa duplikat juga sudah dibuat. Pihak
otoritas Yaman yakin bahwa saat ini, di beberapa lokasi yang tidak
diketahui di Jerman, sekelompok ahli tanpa henti meneliti
mikrofilm-mikrofilm itu, dan Puin membakar cukup minyak untuk penerangan
malam dalam usaha menyelesaikan bukunya, yang, sekali dipublikasikan,
akan memalu paku lainnya pada peti jenazah Islam. Islam hari ini
benar-benar dalam bahaya.
Tentu saja, dengan menyadari runtuhnya
keilahian di depan mata mereka, banyak orang-orang Muslim merasa
terganggu dan merasa diserang. Para fundamentalis tidak akan menerima
karya Puin dan Bothmer yang sebenarnya mereka kerjakan dengan
obyektifitas akademik, tetapi mereka akan melihatnya sebagai sebuah
serangan yang disengaja terhadap integritas teks Qur’anik (Taher,
2000). Secara natural, kedua sarjana Jerman ini akan berada di garis
depan menghadapi kemarahan mereka. Puin takut dengan kekerasan yang
akan dilakukan oleh orang-orang Muslim ortodoks karena teorinya yang
mereka anggap sebagai “hujatan”, yang ia katakan bahwa hal itu tidak
bisa ia anggap sebagai hal yang enteng. Dengan mengingat apa yang
terjadi pada Salman Rushdie, ia menulis, ”Kesimpulan-kesimpulan
saya telah menyebabkan reaksi kemarahan dari orang-orang Muslim
ortodoks. Mereka katakan bahwa saya bukan sarjana yang bisa membuat
sebuah pernyataan mengenai naskah-naskah ini.” Jika pandangan Puin
diambil dan diserukan melalui media, dan jika tidak banyak Muslim yang
menanggapinya secara rasional, maka semua neraka akan terlepas. Akan
ada sejumlah respon permusuhan dan kerusuhan dan akan menyebabkan
banyak kematian dan kehancuran, mungkin akan ada fatwa lainnya dari
Khomeini dan tentu saja sejumlah ancaman dari Bin Laden kita yang
sangat suka dengan kamera, serta dari saudara-saudara ideologisnya.
Tetapi bisakah mereka menghentikan tersebarnya kebenaran?
UNESCO telah menunjukkan ketertarikan
yang murni terhadap naskah-naskah Sana’a sejak program the Memory of
the World dimulai. Pada tahun 1995, Organisasi ini juga memproduksi
sebuah CD-ROM dalam bahasa Arabik, Inggris dan Perancis yang
mengilustrasikan sejarah dari pengoleksian materi Qur’anik dan
non-Qur’anik. CD-ROM berisi 651 gambar dari 302 fragmen-fragmen
Qur’anik, indeks dengan tulisan, bingkai, dan sebagainya, juga sebuah
introduksi umum untuk koleksi-koleksi naskah-naskah Yaman dan sebuah
deskripsi singkat mengenai perkembangan kaligrafi Arabik (Abid, 1997).
Ursula Dreibholz, seorang ahli
pemeliharaan (pengawetan) yang bekerja untuk proyek Sana’a selama
delapan tahun sebagai kepala konservator merasa sangat frustasi melihat
kekurang perdulian otoritas Yaman untuk melindungi naskah-naskah itu
dengan menggunakan teknologi modern (1983, pp. 30-8). Apakah
perlengkapan keamanan sudah benar, dan apakah perhatian yang diberikan
terhadap naskah-naskah itu sudah memadai untuk mencegah kerusakan lebih
jauh (1996, pp 131-45). Kenyataannya, Dreibholz (1999, pp 21-5)
mengatakan, bahwa ia sangat peduli untuk menciptakan sebuah sistem
penyimpanan permanen yang aman dan dapat dipercaya untuk menyimpan
naskah-naskah ini. Juga, penyimpanan yang buruk akan sulit melindungi
naskah-naskah itu dari serangga dan air. Yang paling penting lagi,
masalah utama adalah kurangnya pencegahan dari kebakaran atau sistem
deteksi, dengan mengingat bahwa dalam sejarah banyak
perpustakaan-perpustakaan penting yang hancur oleh karena kebakaran.
Otoritas Yaman mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang untuk
memasang sistem perlindungan dari kebakaran. Ia benar-benar tidak
mengerti alasan sebenarnya dibelakang sikap apatis otoritas Yaman.
Di sini, para fundamentalis Muslim bisa
melihat sebuah tali perak di awan-awan. Tak seorang pun tahu kapan
sebuah kebakaran yang menghancurkan akan terjadi secara ‘insidentil’
dan menghancurkan semua naskah-naskah Qur’anik itu, yang akan
menyebabkan naskah-naskah itu terbakar. Di balik semuanya, untuk
menyelamatkan Islam, Qur’an harus diselamatkan, dan untuk itu
orang-orang Muslim akan melangkah lebih jauh lagi. Jika perlu, mereka
sendiri akan membakar Qur’an untuk menyelamatkannya dari
analisa-analisa logis. Kesetiaan mereka kepada kebodohan sedemikian
tinggi. Barangkali, otoritas Yaman tidak mau memasang sistem pencegah
kebakaran adalah sebuah persiapan awal untuk sebuah tindakan seperti
itu di masa depan. Jangan pernah menganggap remeh kapasitas destruktif
dari orang-orang fanatik tak berotak.
Referensi
Jurnal:
Abid, Abdelaziz (1997); “Memory of the World”: Preserving Our
Documentary Heritage. Museum International, Vol. 49, No. 1, January 1997 issue.
Blackwell Publishers, Oxford.Dreibholz, Ursula (1983); A treasure
of early Islamic manuscripts on parchment. Significance of the find and
its conservation treatment. AIC Preprints of papers presented at the
11th annual meeting in Baltimore, Maryland, 25-29 May 1983. Washington,
DC.Dreibholz, Ursula (1996); The Treatment of Early Islamic Manuscript
Fragments on Parchment in The Conservation and Preservation of Islamic
Manuscripts, Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, LondonDreibholz,
Ursula (1999); Preserving a treasure: the Sana’a manuscripts. Museum
International. Islamic collections. Vol. LI, No. 3, July 1999 issue.
Blackwell Publishers. Oxford.Whelan, Estelle (1998); Forgotten
Witness: Evidence for the Early Codification of the Qur’an.
Published in The Journal of America Oriental
Society. January to March Issue, 1998. University of Michigan. USA.
Bibliografi:
Ali, Daniel & Spencer, Robert (2003); Inside Islam: A guide for
Catholics. Ascension Press. Pennsylvania.Caner E. M; Caner E.F (2002);
Unveiling Islam. Kregel Publications. Grand Rapids. U.S.ACook,
Michael; Crone, Patricia (1977); Hagarism: The making of the Islamic
world. Cambridge.(Dr) Vaknin, Sam (1999); Malignant Self Love:
Narcissism Revisited. Narcissus Publications, Skopje. Czech
Republic.(Ed.) Warraq, Ibn (1998); The origins of the Koran: Classic
Essays on Islam’s holy book. Prometheus Books. NY.(Ed.) Warraq, Ibn
(2000); The Quest for Historical Muhammad. Prometheus books. NY.(Ed.)
Warraq, Ibn (2002); What the Koran really says – Language, Text and
Commentary. Prometheus books. NY.Guillaume, Alfred (1978); Islam.
Harmondsworth.Mein Kampf; a 1939 English translation by Houghton Mifflin
and edited of verbosity. Reynal & HitchcockOhmyrus (2006); The Left and
Islam: Tweedledum and Tweedledee in Beyond Jihad: Critical
voices from the inside by Shienbaum, Kim and Hasan, Jamal.
Academia Press, LLC, Bethesda.Peters, F.E (1986); Jerusalem and Mecca:
The topology of the Holy City in the near east. NYRippin, Andrew (1991):
Muslims: their religious beliefs and practices. London.Rodhinson,
Maxime (1980); Muhammad (Original in French, translated to English by Anne
Carter). The New Press. NYRodhinson, Maxime (1981); A Critical
Survey of Modern Studies on Muhammad in Studies on Islam ed. M. Swartz. Oxford
University Press, USASagan, Karl (1997); The Demon-Haunted World.
Science as a Candle in the Dark. Ballantine Books. The Random House
Publishing group. NY.Sina, Ali (2008); Understanding Muhammad, A
Psychobiography. Felibri.comSpencer, Robert (2002); Islam Unveiled:
Disturbing questions about the world’s fastest growing faith. Encounter
Books. San Francisco.Spencer, Robert (2007); Religion of
Peace? Why Christianity is and Islam isn’t. Regnery
Publishing, Inc. Washington DC.Sproul R. C & Saleeb, Abdul (2003); The
dark side of Islam. Crossway Books (a division of Good News Publishers).
Wheaton. Illinois.
Sumber Internet:
Taher, Abul (2000): Querying the Koran. The Guardian. Guardian News and
Media Limited. Published on 8th August, 2000. URL:
http://www.guardian.co.uk/Archive/Article/0,4273,4048586,00.html (Last accessed
3rd June / 2009)Sina, Ali (2008): Probing Islam. An internet based
debate between J. A Ghamidi, K. Zaheer and Ali Sina, FFI. URL:
http://www.news.faithfreedom.org/downloads/probing-islam.pdf (Last accessed 7th
February / 2008).Lester, Toby (1999); What Is the Koran? Atlantic
Monthly January 1999 issue. URL: http://www.theatlantic.com/doc/199901/koran
(Last accessed 3rd June / 2009).Wikipedia (2009); Gerd R. Puin, URL:
http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special:Cite&page=Gerd_R._Puin&id=287605376
FREE E-BOOKS
Jawaban 111 KONTRADIKSI ALKITAB Perjanjian Lama
Jawaban 155 KONTRADIKSI ALKITAB Perjanjian Baru
101 Penjelasan tentang TUDUHAN KONTRADIKSI dalam ALKITAB
Perang Suci - Oleh Abd Al Masih
Secrets Behind Burqa - Oleh Rosemary Sookhdeo
Donasi Untuk Allah Membersihkan Nurani
Ilusi Negara Islam - Editor Gus Dur
Mutiara Dari Surga - 1
The Truth About Muhammad - by Robert Spencer
Tuduhan-Ahmed-Deedat-Terhadap-Alkitab oleh Zakaria Boutros
Islam Reviewed oleh M. Ali
The Hidden Life of Prophet Muhammad By Dr. A.A. Ahmed
Rahasia Jalan Yang Lurus
Benarkah Muhammad Sempurna Secara Fisik oleh Ali Sina
Inilah Ismael (Here Comes Ishmael) oleh Faisal Malick
Hidup Dari Ujung Tombakku (Living by the Point of My Spear)
oleh Zaki Ameen
Akar Terror Islam oleh Abul Kasem
Membedah Asal Usul Quran (The Origins of the Koran) oleh Ibnu
Warraq
SON of HAMAS oleh Mosab Hassan Yousef
Mengapa Wanita Berpaling Kepada Islam oleh Rosemary Sookhdeo
Kerudung Yang Terkoyak
Why I'm Not Muslim oleh Ibnu Waraq
Achievement and Heritage of Muhammad oleh: Zaky Rawdat
Sejarah Ka'bah Yang Tak Pernah Diceritakan
Sang Putera dan Sang Bulan oleh Curt Fletemier
Yahudi Menggenggam Dunia oleh William G. Carr
Ismail Saudaraku oleh Umar Tariqas
Mengapa Kami Meninggalkan Islam oleh Susan Crimp dan Joel
Richardson
Siapakah Allah Ini
Islam diakhir Zaman oleh Ellis Skolfield
Islamic Invasion oleh Robert Morey
Ismael Akan Diberkati oleh: Ahmad Agyei
Mesias yang Dinantikan Islam oleh Joel Richardson
The Secret of Qur'an oleh Don Richardson
Yesus dan Muhammad oleh Mark Gabriel PhD
Christ Muhammad and I oleh Mohammed Ghazoli
Kebenaran Tentang Muhammad
Beriman Tanpa Takut oleh Irshad Manji
ARTICLES
Muslim Pop - Oleh Matt Edwards
JAWABAN atas hadiah BMW dari PERTANYAAN INSAN L MOKOGINTA
Batalkan Hari Membakar Quran - Oleh Jochen Katz
60 Juta Dollar Untuk Kepala Pendeta Boutros
Pilih Mana - Puasa Islami Atau Puasa Kristen
Seperti apa Kitab Zabur dan Injil Barnabas
Heboh Film Iran - Tiru film Yesus Nabi Muhammad Diperankan
Aktor Film
Heboh Film YESUS Buatan Iran
Donasi Untuk Allah Membersihkan Nurani
Arsip Gambar Muhammad
Wahyu Mana Yang Asli
Quran Diinterview
Birahi Sexual Nabi Muhammad
MENGENAL ISLAM
A Letter To Gaza - Oleh Nonie Darwis
FQR 6 - Injil Kristus Yang Tanpa Salah
Klaim Islam - Setiap Orang Dilahirkan Sebagai Muslim
FQR 4 - Nama dan Atribut Kristus Dalam Quran
FQR 5 - Perawan Maria - Sebuah Tanda Dari Allah - Ayatollah
Sejati
FRQ 3 - Kehendak Tuhan Adalah Supaya Setiap Orang Bisa
Diselamatkan
FQR 1 - Apakah Anda Tahu Tentang Hikmat Kristus
FQR 2 - Orang Yang Dilahirkan Dari Roh Adalah roh
Hari Semua Orang Menggambar Muhammad
DAFTAR MUSLIM yang Meninggalkan Islam
Pengesahan Mutilasi di Amerika
Hilal-Bin-Sahar- Dewa Bulan Sabit
Islam-Bukan-Agama-bahasa-Indonesia
Menyusui-Pria-Dewasa by Zakharia Boutros
Keunikan-Alkitab-Dibandingkan-Kitab-Suci-Lainnya
Alkitab-Atau-Alquran-Yang-Dipalsukan
Muhammad-Tidak-Buta-Huruf
Tipu-Muslihat-Dalam-Islam
Ayat-Yang-Dipalsukan-Dlm-Quran
Islam-Tidak-Bisa-Membedakan-NAJIS dan DOSA
Islam-Tidak-Menyembah-Tuhan-Yang-Sama-Dengan-Tuhannya-Nabi by
Duladi
Kebohongan-Isra-Miraj
Arab-Adalah-Kota-Neraka
Nabi Muhammad Birahi-Kepada-Bayi-Sodomi
Perkawinan-Islam-dan-Penghalalan-Pelacuran-sbg-Lampr-dr-buku-kehidupan-rahasia-nabi-Muhammad
Teror-Dari-Mulut-Muhammad-Sendiri
ALEXANDER AGUNG, SI KAFIR NABI ISLAM
Fenomena Murtad Dlm 20 Thn Terakhir
Jibril as - Ahli Menyamar
Kemana Mencari Keselamatan
Apa Yang Terjadi Ketika Seseorang Meninggalkan Islam
Tagiyya - Berbohong Ala Islam Oleh Zakaria Boutros
Panggilan Dari Minaret
Pemimpin Muslim UK - Islam Bukanlah Agama Damai
Konflik GAZA berakar pada SYARIAH
Mari, bicara Fatwa Haram
Marilah kita memikirkan kembail soal Burqa!
Hubungan Islam-Machiavelli
Apa yang Sama yang Dimiliki Oleh para Rabbi di Harrow dengan
Para Rabbi di Medinah
Kesalahan Lia Eden sama dengan kesalahan Nabi Muhammad
Digantung di Iran Karena Murtad
Pandangan Islam mengenai Neraka
Anak Ketua Hamas Murtad
Ibn Mas'ud, Saksi Ketidak-beresan Quran
Contoh Moral Kenabian Muhammad Untuk Abad Kini
Islam - Berperang Dalam Dirinya Sendiri
Penjajahan Wanita Dalam Islam
TESTIMONIES
Supremasi Terang Atas Kuasa Kegelapan - Oleh Alhajji Aliyu
KEBOHONGAN PARA WANITA SAUDI ARABIA
Kesaksian Seorang Pemurtad Yang Difatwa Hukuman Mati
Kesaksian Hamran Ambrie
Kesaksian Bassam
Kesaksian Pertobatan seorang Irak-KETEMU-YESUS
Tak-Terbuktinya-Alkitab-Telah-Dipalsukan oleh Zakaria Boutros
Islam-Adalah-Ajaran-Sesat by Duladi
Kerudung Yang Terkoyak
Arifin Zaelani - Alasan Saya Meninggalkan Islam
Kesaksian Saya Meninggalkan Islam
Kesaksian Dr. Mark Gabriel yang Mengejutkan
Mengapa Kami Meninggalkan Islam
Ali Sina - Dari Beriman Menuju Pencerahan
Duladi - Mengapa Saya Benci Islam
Islam Sejati
QUESTION & ANSWERS
ISLAM BERTANYA KRISTEN MENJAWAB by Paulus M
Pilih Mana - Puasa Islami Atau Puasa Kristen
Apa Yang Al Quran Instruksikan Muslim Lakukan Terhadap
Non-Muslim
Tanggapan tulisan Muhammad dalam Perjanjian Lama
Hari Semua Orang Menggambar Muhammad
MENGRITISI PEMIKIRAN DR YAHYA WALONI
Sumber-penulisan-alquran by Zakharia Boutros
Tuduhan-Ahmed-Deedat-Terhadap-Alkitab oleh Zakaria Boutros
Tanggapan-Terhadap-Combat-Kit-Ahmed-Deedat
TIDAK ADA JALAN KEMBALI
Tanggapan atas Combat-Kit2 Ahmed Deedat
Seri-Pelajaran-Alkitab-Amazing-Facts
Masakan Allah Kok Punya ’Anak Allah’
Bagaimana Menilai Sebuah Kitabullah
Tuhan Alkitab Sama Dengan Allah SWT
Wahyu Terkini Jadi Pengukur Wahyu Terdahulu
Injil Digugat Karena Ahmad
Bukankah Alkitab Itu Korup
Tuhan Sendiri Tidak Tahu Bahwa Ia Trinitas
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/