selamat ulang tahun yang ke 82 buat pak umar said
semoga tetap semangat dan kritis dalam menulis

salam buat keluarga pak umar said di prancis


--- In [email protected], "Umar Said" <kon...@...> wrote:
>
> Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr
> 
> yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari  668  820 kali
>  ===========================
> 
> Ulang Tahun ke-82 yang termasuk luar biasa.
> 
> 
> 
> Tulisan kali ini menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan hari ulangtahun
> saya yang ke 82, yang saya anggap agaknya mengandung berbagai aspek yang
> cukup menarik untuk disimak sekadarnya oleh para pembaca. Sebab, dalam
> cerita tentang perayaan hari ulang tahun kali ini, terselip soal-soal yang
> menyinggung persoalan-persoalan yang bukan hanya masalah pribadi saja,
> melainkan  juga berbagai hal yang berkaitan dengan masalah politik,
> perjuangan untuk HAM  persahabatan dan solidaritas yang berkesinambungan,
> dan perjuangan untuk demokrasi.
> 
> 
> 
> Untuk memulai kisahnya, baiklah disebutkan terlebih dulu, bahwa seperti
> biasanya dilakukan selama bertahun-tahun, saya dan istri tidak merencanakan
> mengadakan perayaan apa-apa , kecuali makan bersama sekeluarga, dengan anak
> dan menantu dan cucu (umur 7 tahun).
> 
> 
> 
> Namun, seorang teman wanita Prancis, Danielle DESGUEES bersama suaminya,
> mengusulkan supaya ultah saya yang kali ini dirayakan di rumah mereka
> bersama-sama teman lama lainnya  . Karena itu, pada tanggal 23 Oktober malam
> telah hadir dalam pertemuan yang kecil itu 14  orang, yang terdiri dari
> teman-teman dekat sekali. Untuk memberi gambaran sekedarnya tentang mereka
> yang hadir malam itu dan arti pentingnya, maka berikut ini adalah sedikit
> keterangannya :
> 
> 
> 
> Yang membantu berdirinya restoran INDONESIA
> 
> 
> Danielle DESGUEES adalah sekarang pimpinan suatu badan di Paris yang bernama
> Boutique de Gestion de Paris, yang missinya adalah membantu atau memberi
> nasehat kepada orang-orang yang mau mendirikan atau mengembangkan
> perusahaan-perusahaan mereka. Sampai sekarang sudah ada lebih dari  12 000
> perusahaan di Paris dan sekitarnya yang pernah dibantu dengan berbagai cara.
> Dan di seluruh Prancis sudah ada kurang lebih 100. 000 perusahaan yang
> pernah mendapat berbagai macam bantuan (nasehat, konsultasi, petunjuk,
> kemitraan dll). Oleh karena itu ia mendapat penghargaan yang cukup tinggi
> dan terhormat dari pemerintah Prancis, yaitu  gelar Legion d'honneur.
> 
> 
> 
> Danielle DESGUEES adalah juga seorang yang dalam tahun 1982 (artinya 28
> tahun yl) membantu dalam pendirian atau pembukaan Restoran Indonesia, antara
> lain dengan memperjuangkan didapatkannya subsidi dari pemerintah sebanyak
> 160.000 francs untuk modal restoran kooperasi (dari jumlah 500. 000 francs
> yang dibutuhkan). Sejak itu, sampai sekarang, ia bersama suaminya, François,
> menjadi sahabat restoran koperasi kita. Waktu ia beserta seluruh keluarganya
> (4 orang) vakansi ke Indonesia mereka disambut hangat sekali oleh keluarga
> bung Joesoef Isak di Jakarta dan menginap di rumah mereka beberapa hari,
> dan mulai dari saat itu mereka juga menjadi sahabat dekat.
> 
> 
> 
> Hadir juga pada malam itu bung Suyoso, seorang yang sama-sama dengan saya
> sebagai orang « klayaban » terpaksa hidup di Prancis dengan menciptakan
> kerja sendiri dengan membuka Restoran Koperasi INDONESIA. Ia bertugas
> sebagai wakil manager (menggantikan saya) sejak tahun 1986,dan kemudian
> menjadi managernya.
> 
> 
> 
> Langganan restoran selama 28 tahun
> 
> 
> Malam itu datang juga seorang pegawai kantor pos, Jean Claude, penganut «
> kental » agama Katolik, yang sejak restoran berdiri menjadi pengunjung yang
> luar biasa setianya. Selama bertahun-tahun, ia makan di restoran kita, boleh
> dikatakan setiap minggu. Entah berapa uang yang telah dipakainya untuk makan
> dan minum di restoran kita selama itu, sampai sekarang. Sudah jelas, bahwa
> ia begitu sering mengunjungi restoran kita itu bukan hanya karena makanannya
> saja, melainkan karena ia merasakan adanya hal-hal lainnya yang mengikat
> hatinya.
> 
> 
> 
> Kita semua senang malam itu betemu dengan Jean Mata, seorang aktivis LSM
> yang hidup dalam gerakan ekonomi alternatif. Ia pernah bekerja selama 6 atau
> 7 tahun untuk mengurusi pembukuan atau administrasi keuangan ketika restoran
> kita baru berdiri dalam tahun 1982. Ia pernah mengatakan bahwa ia mendukung
> tujuan-tujuan , yang intinya adalah justru untuk menciptakan persaudaraan
> dan kemanusiaan. Oleh karena itu ia sampai sekarang tetap mempunyai simpati
> yang besar kepada restoran kita beserta para karyawannya.
> 
> 
> 
> Juga hadir dalam pertemuan malam itu Ibarurri, yang bersama almarhum
> suaminya ikut mengumpulkan dana (sumbangan dan pinjaman) dari berbagai teman
> Indonesia di Holland dan Jerman ketika restoran baru dibuka.
> 
> 
> 
> Seorang wanita Prancis (namanya Ghislaine) yang sudah lama sekali  jatuh
> cinta kepada Indonesia, dan karenanya sudah mengunjungi berbagai pulau kita
> sampai  17 kali, juga ikut menghadiri perayaan ultah malam itu. Di samping
> itu, malam itu juga dibikin hangat dengan hadirnya Martin bersama istrinya.
> Martin adalah aktifis politik di Amerika Latin, dan pernah dipenjara selama
> 8 tahun oleh rejim militer Argentina. Istri saya Ninon, dengan sendirinya
> juga ikut serta dalam perayaan itu.
> 
> 
> 
> Bukan perayaan ultah yang biasa saja
> 
> 
> Agaknya, dari komposisi yang hadir dalam pertemuan itu saja – seperti yang
> disebutkan di atas -- sudah kelihatan bahwa perayaan ulangtahun malam itu
> bukan hanya perayaan ulangtahun yang biasa saja,  tetapi mempunyai warna dan
> isi yang lain, yang berkaitan dengan masalah-masalah sejarah perjuangan
> untuk menentang Suharto dengan Orde Barunya, dengan penggalangan solidaritas
> untuk membela HAM, dengan kegiatan untuk mengembangkan gerakan koperasi atau
> ekonomi alternatif.
> 
> 
> 
> Namun, puncak dari « ketidak-biasaan » perayaan ulangtahun malam itu adalah
> hadirnya seorang besar di Prancis, Louis JOINET, seorang ahli hukum yang
> terkenal dan dihormati oleh banyak kalangan, baik di Prancis maupun di luar
> Prancis.  Arti kehadirannya itu sangat penting  -- dan juga menarik – dan
> karenanya bisa diceritakan secara pokok-pokok sebagai berikut :
> 
> 
> 
> Louis JOINET, sekarang usia 76 tahun dan sudah pensiun, adalah mantan
> penasehat Presiden Prancis, François MITTERRAND. Dan karena terkenal sebagai
> ahli hukum yang mempunyai integritas yang tinggi, dan disenangi oleh banyak
> kalangan, ia pernah dipercayai untuk menjabat sebagai penasehat hukum
> (conseiller juridique) oleh 5 (harap perhatikan : lima !) Perdana Menteri
> Prancis secara terus-menerus dan berturut-turut, selama Partai Sosialis
> memegang pemerintahan.
> 
> 
> 
> Selama lebih dari 25 tahun ia adalah wakil Prancis (dan ketua) di badan PBB
> di Jenewa yang membidangi angket mengenai pelanggaran HAM di dunia. Oleh
> karena itu ia sering bepergian kemana-mana untuk mengurusi pelanggaran HAM,
> pemenjaraan sewenang-wenang, penganiayaan dll. Untuk itu ia sudah beberapa
> kali ke Timor Timur, dan juga mengunjungi penjara Cipînang di Jakarta untuk
> bertemu dengan Xanana Gusmao ketika ia masih dalam tahanan. Ia dekat sekali
> dengan Jose Ramos Horta yang dulu sering berhubungan dengan kantor PBB di
> Jenewa.
> 
> 
> 
> Laporan-laporan dia menjadi dokumen internasional dan disiarkan oleh PBB,
> dan ia sudah menulis buku tentang Impunitas yang terjadi di dunia. Sebelum
> menjadi penasehat hukum dari 5 Perdana Menteri Prancis ia dipilih sebagai
> sekjen dari Persatuan Hakim-hakim Prancis.
> 
> 
> 
> Bagaimana Louis JOINET kecantol soal-soal Indonesia
> 
> 
> Lalu, bagaimana ceritanya maka ia sampai « kecantol » kepada soal-soal
> Indonesia ? Cerita singkatnya begini :
> 
> 
> 
> Dalam tahun 1976, sebagai salah satu dari pendiri Komite Timor di Paris saya
> mencari hubungan dengan Louis Joinet, yang waktu itu menjabat sebagai sekjen
> Persatuan Hakim-hakim Prancis. Karena,  ia waktu itu sudah menyatakan
> protesnya kepada rejim Suharto yang mengagresi Timor Timur. Sejak itu,
> hubungan saya sebagai political refugee dari Indonesia dengannya menjadi
> dekat, karena ia mengikuti kejadian-kejadian di Indonesia secara cukup
> teratur. Waktu itu ia juga menjadi tokoh dari badan internasional  Tribunal
> du Peuple, yang punya hubungan dengan Bertrand Russel Foundation yang
> terkenal itu.
> 
> 
> 
> Karena itu, ketika Komite Timor dan Komite Tapol melakukan macam-macam
> kegiatan di Prancis ia juga mengikutinya, suatu bukti bahwa perhatiannya
> terhadap masalah pelanggaran dan kejahatan rejim Suharto adalah besar
> sekali. Dengan sendirinya, perhatian dan solidaritasnya terhadap kami yang
> jadi political refugee di Prancis juga besar sekali.
> 
> 
> 
> Sikap yang mencerminkan pandangannya yang kiri, atau progressif, atau
> humanis ini juga ditunjukkan kepada usaha kolektif kita, Restoran INDONESIA.
> Selama 28 tahun berdirinya  restoran koperasi ini, ia berkali-kali memberi
> bantuan untuk menyelesaikan soal-soal ketika menghadapi persoalan-persoalan.
> Antara lain, yaitu  ketika restoran kita dikenakan larangan bank dan,
> karenanya,  restoran kita tidak boleh menggunakan cheque untuk pembayaran
> apa pun juga. Oleh karena masalah ini tidak datang dari kesalahan restoran
> kita, maka ketika kasus ini dilaporkan kepada Louis JOINET, maka ia segera
> menghubungi Bank de France. Karena urusan ini ditangani oleh Louis JOINET,
> penasehat hukum Perdana Menteri, maka dengan begitu selesailah dengan segera
> persoalannya.
> 
> 
> 
> Bagi pekerja-pekerja restoran kita, sikapnya yang luar biasa simpatiknya
> adalah yang berikut : setiap kali ia melewati depan restoran kita dengan
> mobilnya, ia minta kepada sopirnya untuk berhenti dan menunggunya sebentar,
> karena ia mau sekadar mengatakan « bon jour » (selamat siang) kepada para
> pegawai, termasuk yang bekerja di dapur. Sungguh, jarang ada pembesar yang
> begitu tinggi pangkatnya, yang bertindak seperti itu. Apalagi, ia tahu bahwa
> para pegawai restoran kita sebagian terbesar adalah political refugee dari
> Indonesia, yang dimusuhi oleh penguasa-penguasa negara mereka sendiri.
> 
> 
> 
> Beberapa anecdote tentang pengalaman Louis JOINET
> 
> 
> Pada malam pertemuan itu, Louis JOINET menceritakan berbagai peristiwa,
> termasuk anecdote-anecdote yang menarik tentang « kerjasama » antara dia
> dengan kita. Di antaranya ia menceritakan bahwa suatu waktu ia perlu
> rundingan tentang soal yang pelik sekali dengan seorang. Karena ia tidak
> bisa menggunakan kantornya di gedung Perdana Menteri (namanya gedung
> Matignon) mengingat peliknya persoalan, maka ia minta kepada kami untuk bisa
> menggunakan ruangan bawah restoran sehingga tidak bisa diketahui orang lain.
> Peristiwa ini sering diceritakan kembali oleh Louis JOINET. Tentunya,
> masalahnya adalah pelik sekali, sehingga walaupun sudah lewat puluhan tahun,
> ia masih ingat saja kepada peristiwa itu.
> 
> 
> 
> Ia juga menceritakan bahwa untuk merayakan hari ulang tahun istrinya
> (namanya Germaine) diundang puluhan kawan-kawannya, yang termasuk
> orang-orang penting. (Di antara tamu-tamu yang semuanya bule-bule itu hanya
> kami berdua, dengan istri, yang orang Asia. Dari situ kami dapat mengukur
> perhatiannya terhadap kami, political refugee dari Indonesia)  Louis JOINET
> menceritakan kepada yang hadir malam itu bahwa saya membawa sepasang wayang
> golek sebagai hadiah ulang tahun istrinya, dan bahwa hadirin malam itu
> tertarik sekali kepada adegan (suatu dialog antara suami istri) yang saya
> mainkan sebentar malam itu.
> 
> 
> 
> Siapa menyangka, orang Blitar diundang ke Istana Elysée
> 
> 
> 
> Pada malam pertemuan antara sahabat-sahabat lama itu, saya menceritakan
> betapa besar emosi saya ketika mendapat undangan dari Palais de l'Elysée
> (Istana Kepresidenan) untuk menghadiri malam musik dan jamuan makan. Ketika
> berada di ruangan besar istana dengan karpet dan dekorasi yang serba indah
> itu, saya mengatakan kepada istri saya : »Siapa bisa menyangka bahwa orang
> dari Blitar  dan dari Solok seperti kita ini bisa hadir dalam malam yang
> seperti ini di Istana Elysée ? ». (Ketika kami lihat ke segala jurusan, maka
> nampak bahwa hanya kami berdualah yang berwajah Asia di antara ratusan
> undangan itu).
> 
> 
> 
> Sampai sekarang saya tidak tahu siapa yang mengusulkan nama saya (dan istri)
> dalam daftar orang-orang yang diundang untuk hadir dalam malam musik dan
> jamuan makan itu. Tentu saja, adalah  orang atau orang-orang yang tahu betul
> berbagai kegiatan mengenai persoalan Indonesia. Apa Louis JOINET ?
> 
> Saya tidak mau dan tidak merasa perlu menanyakannya kepadanya, walaupun saya
> bertemu dengannya di Istana malam itu. Saya peluk dia, sambil menangis,
> karena merasa terharu, dengan kehormatan yang berupa undangan itu.
> 
> 
> 
> Itu semua saya ceritakan serba singkat dan pokok-pokok untuk menyampaikan
> bahwa perayaan ultah saya kali ini diwarnai atau diisi dengan berbagai hal
> yang berkaitan dengan kenangan kepada masa-masa persahabatan dalam
> perjuangan untuk menentang rejim militer Suharto, untuk membela perjuangan
> rakyat Timor Timur, untuk memperjuangkan HAM, untuk membela orang-orang yang
> dimusuhi oleh Orde Baru, baik di luar negeri maupun di Indonesia.
> 
> 
> 
> Pertemuan malam itu, walaupun hanya dihadiri oleh belasan orang, menunjukkan
> bahwa perjuangan melawan diktator yang kejam, biadab, dan korup yang namanya
> Suharto mendapat dukungan simpati atau  solidaritas dari berbagai kalangan
> di Prancis ( dan juga di negara-negara lainnya di dunia).
> 
> 
> 
> Malam perayaan ultah saya itu berarti bukan malam ultah biasa, dan tidak
> hanya untuk merayakan sesuatu tentang saya saja. Melainkan, melalui malam
> ini dirayakan juga keindahan dan kebesaran jiwa persahabatan dalam
> perjuangan yang sudah dipupuk dan ditunjukkan selama puluhan tahun. Malam
> itu juga mengandung arti penghargaan atau penghormatan kepada semua
> orang, -- dimana saja, walaupun tidak ikut hadir dalam pertemuan itu --
> yang berjuang menentang Orde Barunya Suharto. Karena itu, patutlah agaknya
> bahwa semua mereka yang berjuang untuk keadilan dan perikemanusiaan juga
> menghargai dan ikut bangga terhadap sikap seperti yang telah ditunjukkan
> oleh Louis JOINET dan Danielle DESGUEES (serta sahabat-sahabat lainnya)
> selama jangka waktu yang begitu panjang..
> 
> 
> 
> Dengan perasaan yang lega dan ingatan indah semacam itulah saya lalui usia
> yang ke-82 tahun ini.
> 
> 
> 
> Paris, 27 Oktober 2010
> 
> 
> 
>   1.. Umar Said
> 
> 
> = = = = = =
> 
> 
> 
> Catatan tambahan :  Berhubung banyaknya ucapan Selamat Ulangtahun yang
> diterima, maka akan ada tulisan tersendiri sebagai tanda terimakasih kami.
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke