Kalau tamu wedok dg lanang dipisahkan tabir Bung Karna gak bisa lihat mana 
cewek yg bisa bikin bandulnya jam 3.00 makane protes.Padahal di L.N saja toilet 
lanang dg wedok kenapa dipisah wong nanti yg mau masuk nunggu kosong dulu,jadi 
gak mungkin berdua dalam satu toilet.La itu berarti perbudakan wanita?Sekarang 
malah Jepang mau bukin gerbong KA wedok dg lanang dipisah,itu perbudakan wanita 
?

mBah harto.

--- In [email protected], "wawan" <selarasmi...@...> wrote:
>
> catatan:
> saya bisa membaca maksud yang menulis ini...
> 
> ini bagus, bertujuan melakukan rasionalisasi kultur islam, dengan menggunakan
> Bung Karno sebagai simbolnya...
> 
> artinya yang menulis dibawah akan memasukan nilai-nilai rasionalisme
> melalui/menggunakan figur bung karno (karena bk adalah figur yang paling
> dihormati oleh orang indonesia)...ini namanya langkah taktis dan 
> cerdik...maklum
> yang menulis adalah jurnalis...
> 
> kalau saya karakternya ganyang dan selesei...hehehe...
> 
> 
> ==================================
> 
> TEMPO Interaktif, Jakarta - Di bulan Ramadhan ini, Komunitas Salihara 
> menggelar
> seri kuliah ramadhan bertema Islam dalam pandangan filsuf dan pemikir besar.
> Seri kuliah ketiga pada Sabtu pekan lalu, membahas Islam dalam pandangan
> Soekarno, yang disampaikan oleh Goenawan Mohamad. Kuliah umum kali ini adalah
> seri terakhir yang sebelumnya telah dibahas Islam dalam pandangan Voltaire dan
> Goethe. Berikut materi kuliah ramadhan yang disampaikan.
> 
> 
> 
> ----
> 
> 
> 
> Bung Karno lahir dan dibesarkan dari keluarga yang tak membaca Al Qur'an 
> sebagai
> bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa, pengikut theosofi.
> Sedangkan ibunya seorang perempuan Bali.
> 
> 
> 
> Pada masa itu, ajaran theosofi berpengaruh cukup berarti di Jawa. Perhimpunan
> theosofi didirikan di New York pada 1875 yang kemudian berpusat di Madras,
> India. Perhimpunan ini mengajarkan semangat pluralis, yaitu ingin membentuk 
> satu
> inti persaudaraan universal yang tak memandang ras, keyakinan maupun gender. 
> Di
> kalangan intelektuil Indonesia, pengikut theosofi yang aktif antara lain Moh
> Yamin, Sanusi Pane, dan Dr. Amir.
> 
> 
> 
> Meski sesekali Bung Karno memakai ajaran India dalam tulisannya, tak nampak
> pandangan theosofi dalam pemikirannya. Bahkan Bung Karno lebih terpikat pada
> pemikiran Karl Marx.
> 
> 
> 
> Bung Karno memang bukan pemikir Islam seperti halnya Moh. Nasir. Bukan pula
> seorang pemikir Jawa. Tetapi lebih dari semuanya. Ia seorang penerus semangat
> modernitas, yang dalam hal ini dibentuk oleh Marxisme. Ketika itu, Bung Karno
> diwawancarai oleh koresponden Antara yang kemudian dimuat dalam Pandji Islam
> tahun 1939. "Saya adalah murid dari Historische School van Marx," katanya.
> 
> 
> 
> Wawancara itu dilakukan setelah diberitakan Bung Karno meninggalkan rapat umum
> Muhammadiyah sebagai protes. Dalam rapat umum ini ada tabir yang memisahkan
> pengunjung perempuan dan laki-laki. Baginya, tabir adalah simbol dari 
> perbudakan
> perempuan. Namun, Bung Karno melihat penggunaan tabir secara historis dan
> disitulah ia menunjukkan pandangan dasarnya tentang Islam.
> 
> 
> 
> Sebagai seorang Marxis, ia memandang tafsir agama sebagai sesuatu yang tak 
> tentu
> (contingent) terhadap sejarah sosial dimana tafsir itu dikemukakan. Pertautan
> tafsir dengan sejarah itu berarti juga pertautan tafsir dengan perubahan. 
> Sebab
> dalam sejarah, kata Bung Karno, ada garis dinamis yang makin lama makin
> meningkat ke arah terang. Sejarah dan zaman terus bergerak. Tak akan pernah
> berhenti.
> 
> 
> 
> Islam bagi Bung Karno, pada awalnya adalah sebuah energi politik pembebasan.
> Tatkala Sarekat Islam mengalami perpecahan organisasi, Bung Karno melihat
> kejadian itu sebagai hal yang menyedihkan. Tetapi ia tetap memandang Islam 
> lebih
> sebagai satu elemen dalam perjuangan antikolonial. Tapi tidak sebagai sumber
> gagasan.
> 
> 
> 
> Ketika ia berbicara tentang Islamisme dalam risalahnya "Nasionalisme, 
> Islamisme
> dan Marxisme", yang diuraikannya terutama bukan pandangan yang ditoreh dari
> Qur'an dan Hadist. Ia lebih banyak menunjukkan semangat dan pemikiran 
> Jamaluddin
> Al Afghani yang menurutnya adalah pertama-tama membangunkan rasa perlawanan di
> hati sanubari rakyat muslim terhadap bahaya imperialisme Barat.
> 
> 
> 
> Bung Karno menganjurkan pilihan rasionalisme. Rasionalisme diminta "kembali
> lagi" duduk diatas singgasana Islam. Kata "kembali lagi" tidak mengacu kepada
> Qur'an dan Hadits, melainkan kepada sebuah zaman ketika pahlawan-pahlawan akal
> hidup bebas. Yaitu zamannya kaum Mu'tazillah, zaman Al Kindi, Al Farabi, Ibnu
> Sina, Ibnu Rusyd. Pada masa itu, orang-orang Islam membuka diri kepada 
> filsafat
> Yunani, matematika Hindi dan sumber-sumber keilmuan lain. Yang kemudian
> melahirkan filsafat, teori aljabar, ilmu kimia, kedokteran dan lainnya. Dan
> ilmu-ilmu itu kemudian dipungut dan berkembang di Eropa.
> 
> 
> 
> Jika kita ikuti argumen Bung Karno tentang kemajuan, sejarah dan perlunya
> perubahan tafsir bahkan hukum, nampak bahwa ia sebenarnya lebih cenderung
> menyambut pandangan yang mengintegrasikan empirisme dengan rasionalisme. Atau
> dengan kata lain adalah pragmatisme.
> 
> 
> 
> Pragmatisme Bung Karno tentu saja tak menafikan iman. Pragatisme itu menilai
> agama bukan benar atau tidak. Melainkan menilai agama dari manfaatnya bagi
> manusia. Itulah sebenarnya dasar pandangan Bung Karno tentang Islam. Baginya,
> Islam akan terus ada bukan karena ditakdirkan abadi dengan ajaran yang kekal,
> melainkan karena ia terus menerus bisa menjadi berharga.
> 
> 
> 
> Dalam masa perjuangan antikolonialisme, harga itu terletak dalam perannya 
> untuk
> menggerakkan manusia untuk menumbangkan apa yang tak adil. Dalam abad modern,
> harga itu terletak dalam kemampuannya jadi bagian zaman bergerak.
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke