http://www.mediaindonesia.com/webtorial/asianagri/index.php?ar_id=Nzg3NQ==
Rabu, 27 Oktober 2010 Pengusaha Kelapa Sawit Desak Mandatory ISPO ANTARA/Saptono ASOSIASI Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mendesak pemerintah untuk menepati janjinya menerapkan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Aturan itu merupakan standarisasi pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan nasional. "Sesuai janji pemerintah, ISPO akan diberlakukan Januari 2011. Kami minta hal ini benar-benar dilaksanakan, sebagai mandatory pemerintah," ungkap Sekjen Apkasindo Asmar Arsyad di Jakarta, Rabu (6/10). Desakan tersebut dipicu oleh diterapkannya standar Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang diterapkan Uni-Eropa. Penerapan aturan itu sama sekali tidak menguntungkan petani kelapa sawit Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Nyatanya, sertifikat RSPO tidak mampu meningkatkan harga CPO di pasaran. Padahal, pengusaha kelapa sawit dijanjikan harga premium jika mengantongi sertifikat tersebut. Namun, pada kenyataannya harga cpo bersertifikat masih dihargai rendah. "Mereka janji memberi harga tinggi untuk cpo Indonesia, jika mengikuti RSPO. Tapi kenyataannya, harga kita masih rendah. Saat ini saja, biofuel dari Eropa tidak memperbolehkan CPO dari Indonesia. Jadi untuk apa kita terus berpatokan pada RSPO," katanya. Tak hanya itu, masih banyak cpo perusahaan yang bersertifikat RSPO malah ditolak negara-negara di Uni-Eropa. Selain itu, jelasnya, RSPO yang diterapkan sebelumnya mempunyai delapan prinsip dan 39 kriteria. Tetapi sayangnya, prinsip dan kriteria tersebut masih sering berubah-ubah tiap tahun. Hal inilah yang mempersulit pengusaha kelapa sawit. "RSPO pun diadopsi dari peraturan Indonesia. Untuk itu, kita harus mempunyai standar sendiri yaitu ISPO. Untuk ISPO hanya ada enam prinsip yang tidak menyulitkan para pengusaha," paparnya. Untuk itu, pihaknya juga menghimbau kepada perusahaan yang belum memiliki sertifikat RSPO untuk tidak membuat sertifikat tersebut. Dan lebih baik, berpatokan pada ISPO. Indonesia sebagai produsen cpo terbesar di dunia yang menguasai 45% pangsa pasar dunia, selain Malaysia (44%), sudah waktunya mempunyai standar sendiri. "RSPO hanya bentuk green colonial, yang tidak ingin melihat negara berkembang maju. Makanya, gerak kita dibatasi oleh RSPO. Untuk itu, pemerintah harus segera menerapkan ISPO," ujarnya. (*) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
