Refleksi : Apa yang tidak akan dipunahkan atau dilenyapkan oleh  negara 
berkekuasaan tukang catut bin garong?

http://www.antaranews.com/berita/1288588423/jumlah-burung-terancam-punah-di-indonesia-tertinggi

Jumlah Burung Terancam Punah di Indonesia Tertinggi

Senin, 1 November 2010 12:13 WIB | Warta Bumi | Masalah Lingkungan | Dibaca 
1143 kali
Bogor (ANTARA News) - Jumlah jenis burung yang terancam punah di Indonesia 
paling banyak di dunia akibat eksploitasi berlebihan, kata Direktur Pelaksana 
Burung Indonesia atau Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, Agus Budi 
Utomo.

"Indonesia berada di puncak klasemen dari sepuluh negara di dunia dengan jumlah 
jenis burung terancam punah global tertinggi yang diakibatkan oleh over 
eksploitasi," kata Agus dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Bogor, Senin. 

Ia mengemukakan bahwa pada 2009 terdapat 117 jenis burung terancam punah di 
Indonesia, 17 jenis di antaranya memiliki status keterancaman tertinggi yaitu 
kritis. 

Tahun 2010 angka ini meningkat menjadi 122 jenis terancam punah, dengan 19 
jenis dalam kondisi kritis.

Burung, selain merupakan indikator bagi kualitas lingkungan, juga merupakan 
tulang punggung dalam menjamin berjalannya proses regenerasi hutan tropis 
secara alami di Indonesia. 

Di sisi lain, kawasan prioritas untuk keanekaragaman hayati di Indonesia 
sebagian besar berupa hutan dan 56 persen kawasan prioritas itu berada di luar 
jaringan kawasan perlindungan.

Agus mengatakan, melihat intensitas ancaman bagi burung-burung di Indonesia, 
upaya perlindungan dapat diprioritaskan pada Daerah Penting bagi Burung (DPB). 
Namun tantangannya, tidak semua DPB masuk dalam jaringan kawasan konservasi dan 
sebagian masuk di kawasan hutan alam produksi. 

Dalam konferensi tentang Konvensi Keanekaragaman Hayati di Nagoya, Jepang, 
terungkap bahwa berdasar studi menyeluruh terhadap vertebrata tengah terjadi 
krisis kepunahan hewan bertulang belakang tersebut.

Agus mengatakan diperlukan usaha bersama untuk melindungi keanekaragaman hayati 
Indonesia yang mulai mengalami krisis kepunahan. 

"Seperlima jenis hewan bertulang belakang diketahui terancam punah saat ini, 
kondisi ini bisa saja lebih buruk kalau saja tidak ada upaya konservasi global 
selama ini," katanya.

Dijelaskannya, studi yang akan dipublikasikan pada jurnal internasional Science 
ini menggunakan data dari 25.000 jenis yang terdapat pada Daftar Merah Jenis 
terancam Punah IUCN (The IUCN Red List of Threatened Species), untuk menelaah 
status semua jenis hewan bertulang belakang di dunia (mamalia, burung, amfibi, 
reptil dan ikan), serta perubahan statusnya selama ini.

"Hasilnya menunjukkan, rata-rata setiap tahunnya 50 jenis mamalia, burung, dan 
amfibi bergerak mendekati kepunahan. Penyebab ancaman kepunahan jenis-jenis ini 
antara lain adalah pembukaan lahan pertanian, pembalakan, eksploitasi 
berlebihan, serta invasi jenis asing," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, sebagian dari Amerika Tengah, wilayah tropis di 
Pegunungan Andes di Amerika Selatan, dan bahkan Australia telah mengalami 
kepunahan jenis akibat jamur yang mematikan pada hewan-hewan amfibi. 

Asia Tenggara, khususnya Indonesia telah mengalami kepunahan jenis yang paling 
dramatis belakangan ini, yang sebagian besar disebabkan oleh kerusakan atau 
berkurangnya habitat hutan alam. 

"Oleh karena itu, restorasi dan pengelolaan hutan alam produksi yang menjaga 
fungsi ekosistem dan produksinya secara berkelanjutan perlu dilakukan," papar 
Agus.

Upaya ini juga vital karena hutan selain merupakan rumah utama bagi keragaman 
hayati dunia, juga membawa manfaat bagi jutaan masyarakat yang tinggal di 
sekitar hutan, tambahnya. 

Selain mengonfirmasikan laporan sebelumnya mengenai kepunahan keanekaragaman 
hayati yang terus berlangsung, studi ini juga pertama kalinya memberikan bukti 
nyata mengenai dampak positif dari upaya konservasi yang dilakukan di seluruh 
dunia. 

Hasil studi menunjukkan bahwa status keanekaragaman hayati bisa turun lebih 
jauh hingga 20 persen, kalau tidak ada upaya konservasi yang dilakukan selama 
ini. 

"Namun upaya lebih besar diperlukan melalui LSM, pemerintah, perusahaan, maupun 
individu yang berkomitmen untuk bekerja sama menghentikan kepunahan dan mulai 
mengarahkan aksinya pada akar penyebab kepunahan keanekaragaman hayati," 
ujarnya.

Studi ini mengetengahkan 64 jenis mamalia, burung dan amfibi yang mengalami 
perbaikan status berkat aksi konservasi. Walaupun demikian studi ini hanya 
menyampaikan perkiraan minimum dari dampak sesungguhnya yang diberikan oleh 
aksi konservasi. 

Terdapat harapan baik, tercatat 9 persen dari jenis-jenis terancam punah yang 
mengalami peningkatan populasi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan sumber daya 
dan komitmennya upaya konservasi telah menunjukkan hasil. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke