Refleksi : Sesuai majalah Forbes 3 Okt. 2010 diberitakan bahwa jumlah warga 
negara Indonesia yang memililiki miliar dollar USA pada tahun 2009 adalah 5 
orang dengan kekayaan US$ 7.4 miliar. Pada tahun 2010 jumlah mereka telah 
menjadi 7 orang dengan jumlah kekayaan US$ 16.3 miliar.

Diantara yang kelas menengah yang meningkat jumlah mereka 30 juta atau 60 juta 
orang, mungkin sekali tidak termasuk penghuni 3 propinsi yang dikatagorikan 
paling miskin [sesuai sensus 2010] dalam wilayah kekuasaan propinsi NKRI yaitu 
Papua, NTT dan Maluku, karena disana tidak ada Starbuck, Coffee Bean, McDonald 
Hamburger etc seperti yang ada di  Jakarta  dan daerah sekitarnya untuk 
penduduk bisa memamerkan kekayaan yang dapat dipakai sebagai indikator kemajuan 
dan pertumbuhan ekonomi. 

Sebagai catatan tambaha, Harian Terbit tgl. 29 Okt. 2010 memuat artikel 
berjudul :"Banyak Penduduk Yang Lapar" . Harian Pos Kupang, tgl. 1 November 
2010, mempunyai berita dengan judul "110 Desa di Flotim rawan pangan". Tentu 
saja yang lapar maupun yang rawan pangan tidak termasuk kelas menengah 30 juta  
atau yang diduga 60 juta orang".



http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=20895

 
      Kamis, 4 November 2010 
     

      EKONOMI
     
     
     
     

Orang Kaya RI Melonjak, Pemerintah Kewalahan


      JAKARTA (LampostOnline): Pendapatan perkapita penduduk Indonesia semakin 
meningkat, bahkan tahun ini sudah menembus US$3.000 atau Rp27 juta. Ironisnya, 
pemerintah tidak siap mengantisipasi lonjakan kelas menengah baru Indonesia.

      "Bayangkan, produk domestik bruto Indonesia saat ini sudah Rp6.400 
triliun atau sekitar US$700 miliar," ujar ekonom Cyrillus Harinowo kepada di 
Jakarta, Rabu (3-11) petang. Dengan PDB sebesar itu, pendapatan per kapita 
Indonesia sekitar US$3.000 per tahun.

      Bahkan, kata dia, masyarakat Indonesia bukan sekedar mengalami 
peningkatan pendapatan. Namun, Harinowo menekankan jumlah orang kelas menengah 
dengan kekayaan bertambah juga meningkat.

      Menurut studi Bank Pembangunan Asia (ADB), jumlah orang mampu atau masuk 
kelas menangah Indonesia meningkat menjadi 30 juta orang. 

      "Namun, perkiraan saya jauh lebih banyak dari itu, bahkan tak lama lagi 
akan mencapai 60 juta orang."

      Mereka inilah yang sekarang mengisi kafe-kafe Starbuck, Coffee Bean, 
penumpang pesawat, konsumen utama mobil, barang-barang elektronik mewah seperti 
AC, laptop dan lainnya.

      Ironisnya, kata Harinowo, pemerintah tidak siap menghadapi lonjakan orang 
kelas menengah baru Indonesia tersebut. "Pemerintah tampak kedodoran dan tidak 
menduga perkembangannya akan seperti ini."

      Buktinya, pertama, bandara Soekarno Hatta sekarang penuh sesak karena 
mereka yang memiliki kemampuan untuk membeli tiket pesawat meningkat luar 
biasa. "Sekarang parkir di bandara saja sudah susah," kata dia.

      Ironisnya, Angkasa Pura yang memiliki duit berlebih juga tidak bisa 
melihat tanda-tanda jaman. "Mereka lebih suka menyimpan duit di deposito 
ketimbang berinvestasi untuk memperluas Bandara Cengkareng."

      Maskapai penerbangan seperti Garuda juga harus menambah pesawat untuk 
menampung lonjakan orang-orang berkemampuan baru Indonesia tersebut.

      Kedua, jalan-jalan di Jakarta sudah semakin macet gara-gara orang yang 
memiliki kemampuan untuk membeli mobil semakin banyak. Tahun ini saja 
diperkirakan 710-740 ribu unit mobil akan terjual. "Bayangkan macetnya Jakarta, 
apa yang terjadi pada 2012 saat penjualan mobil mencapai 1 juta unit."

      Ironisnya, infrastruktur transportasi lainnya juga tidak memadai sehingga 
tidak bisa menjadi alternatif untuk mengatasi kemacetan Jakarta.

      Ketiga, penjualan barang-barang elektronik, seperti televisi, AC, laptop, 
ponsel dan lainnya juga dipastikan meningkat pesat. Jika kapasitas produksi 
tidak ditambah, maka impor barang elektronik akan semakin melonjak sehingga 
menguras devisa Indonesia.

      Demikian halnya dengan kebutuhan listrik. PLN semula membangun pembangkit 
listrik berkapasitas 10 ribu megawatt berbahan bakar batu bara untuk 
menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak. Yang terjadi bukan dipakai 
mengganti, namun semua pembangkit dipakai karena kebutuhan listrik sangat 
tinggi.

      "Dampaknya subsidi menjadi lebih besar karena kapasitas yang diperlukan 
memang besar," katanya.

      Karena itu, dia menyarankan agar pemerintah bisa segera 
mengantisipasinya. Contoh di negara lain, seperti China dan Korea Selatan saat 
pendapatan per kapita US$3.000, maka peningkatan permintaan barang mewah 
meningkat pesat. "Bahkan, laju pertumbuhan ekonomi juga akan semakin kencang." 
VN/YNI/L-1
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke