Tidak selalu mudah memasukkan seorang intelektual ke  dalam kategori 
pengkhianat ataupun pahlawan. sistem nilai dan  kondisi 
politik-kultural dalem sebuah masyarakat perlu  dipertimbangkan untuk 
menilai posisi seseorang dalam konteks sejarah tertentu. Pada umumnya 
pengkhianatan intelektual itu  terjadi manakala bersinggungan dengan 
kekuasaan.

Sekiranya filsuf Martin Heidegger (1889-1976) tidak segera  
mengundurkan diri sebagai rektor Universitas Freiburg pada 1934, padahal 
dia baru saja diangkat pada 1933, barangkali cap  sebagai pengkhianat 
mungkin dapat dibenarkan. bukankah filsuf  ini semula dengan penuh 
semangat mendukung rejim Nazi di bawah  kepemimpinan Adolf Hitler??? 
akibat dukungan ini, Heidegger  masih dilarang mengajar selama beberapa 
tahun pasca Perang Dunia II, gara-gara keterlibatannya dalam  
politik, sekalipun hanya sebentar.

Tetapi sebagai seorang filsuf yang jelas intelektual,  sikap mendukung 
sebuah rejim fasistik ekspansif yang dikutuk  seluruh dunia beradab 
sampai hari ini, memang patut  dipertanyakan. kasus lain yang lebih 
ringan berkaitan dengan masalah  kebudayaan politik Indonesia, adalah 
sikap HB Jassin, Wiratmo  Sukito, dan Trisno Sumardjo yang mohon 
bimbingan dan petunjuk  kepada Presiden Soekarno dalam upaya mereka 
untuk  menyempurnakan pengembangan kebudayaan nasional atas dasar  
filosofi pancasila dengan haluan Manipol-Usdek, merupakan  sebuah 
pengkhianatan intelektual atau keterpaksaan  manusiawi pada saat 
pendukung Manifes Kebudayaan sedang diganyang habis-habisan oleh Lekra 
(lembaga kebudayaan rakyat), di mana pramudya ananta toer sebagai salah  
seorang biang kerok utamanya??? Jika orang memake kacamata item putih, atau 
penganut idealisme mutlak, bisajadi sikap ketiga tokoh ini adalah 
sebuah pelacuran. Tetapi dunia bukanlah item-putih, sehingga sebuah 
tingkat kearifan tertentu sangat diperlukan sebelum orang memberikan 
penilaian yang konklusif terhadap sebuah fenomenon manusia.

dengan pemetahuan yang sedikit ini,saya kepengen mencoba  menelusuri 
jejak-jejak kebudayaan politik Indonesia kontemporer untuk melihat 
sampai di mana dan apa akibatnya jika pengkhianatan kaum intelektual itu emang
bener-bener terjadi.

--- On Fri, 11/5/10, wawan <[email protected]> wrote:

From: wawan <[email protected]>
Subject: [proletar] Re: Tan Malaka di Mata Ilmuwan Belanda Harry A Poeze
To: [email protected]
Date: Friday, November 5, 2010, 2:19 PM







 



  


    
      
      
      

wah...wah...



ini riaupos ngaco...



1. Harry A Poeze itu sejarawan dan bukan ilmuwan...

2. Tan Malaka di tahun 1948 itu dilepas oleh Soekarno karena kedatangan Musso 
dari Soviet, Musso dan Tan Malaka ini meski revolusioner radikal kiri, tapi 
keduanya bertengkar akibat keputusan Musso yang melakukan pemberontakan komunis 
Indonesia di tahun 1926 tidak didukung oleh Tan Malaka.



Maksudnya Soekarno itu agar Musso bisa dinetralisir oleh Tan Malaka...



Soekarno ini kalo dicermati otaknya ya bandit...suka mengadu domba, setelah itu 
ditangkapnya sjahrir oleh Tan Malaka kabarnya ya diotaki oleh Karno ...



belum lagi pembubaran masyumi, dan partai sosialis lainnya (semacam murba)...



karno ini hobbynya main serong kiri kanan...



--- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote:

>

> http://riaupos.com/news/2010/11/05/tan-malaka-di-mata-ilmuwan-belanda-harry-a-poeze/

> 

> Tan Malaka di Mata Ilmuwan Belanda Harry A Poeze

> - 5 November 2010Posted in: Nasional

> 

> AKARTA (RP) - Semangat dan visi Tan Malaka masih terus dihidupkan. Ilmuwan 
> berkebangsaan Belanda Harry A Poeze bahkan menilai tokoh gerakan kiri dan 
> revolusi di Indonesia itu layak digelari pahlawan nasional.

> 

> Tan Malaka merupakan salah satu tokoh legendaris yang dimiliki Indonesia. 
> Banyak pihak bahkan menyejajarkan tokoh kelahiran Sumatera Barat, 19 Februari 
> 1896, itu dengan figur Soekarno, Hatta, maupun tokoh-tokoh nasional era 
> kemerdekaan lainnya, seperti Sjahrir.

> 

> Hanya, nasib dan sejarah berkata lain. Meski terlibat dalam perjuangan 
> melawan kolonialisme, hingga kini Tan Malaka tidak termasuk dalam daftar 
> pahlawan nasional.

> 

> ''Dia itu (Tan Malaka, red) tokoh misterius, pelawan kolonialisme, tapi 
> selalu jadi pecundang," ujar Harry A Poeze, saat peluncuran bukunya tentang 
> otobiografi Tan Malaka, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/11). 
> Hadir dalam acara itu Roy BB Janis, mantan aktivis PDIP.

> 

> Dia menilai, meski termasuk sosok yang hebat dan gigih menentang penjajahan, 
> pemilik nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka itu termasuk tokoh yang selalu 
> terpinggirkan.

> 

> ''Dia layak jadi pahlawan nasional. Dari 120 daftar, namanya (Tan Malaka, 
> red) masih belum ada," tegas Harry.

> 

> Menurut dia, Tan Malaka termasuk tokoh yang menghabiskan sebagian besar 
> hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia. Hal itu terjadi karena 
> kekukuhannya mengkritik pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu.  Namun, 
> dalam pengembaraannya di luar Indonesia, Tan Malaka memainkan banyak peran 
> intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional. 
> Dia sempat aktif dan bekerja di Komintern, sebuah organisasi komunis 
> revolusioner internasional.

> 

> Sesudah dua puluh, Tan Malaka baru bisa kembali ke Indonesia pada 1942. "Itu 
> pun dengan nama samaran karena masih menjadi incaran pemerintah Hindia 
> Belanda," ungkap Harry, mengupas sedikit isi bukunya.  Direktur KITLV Press 
> (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) itu juga 
> mengungkapkan, masa-masa awal kembali ke Indonesia itu merupakan saat-saat 
> dia berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya.

> 

> Di antaranya, Soekarno, Hatta, ataupun Sjahrir. ''Tapi, segera pula mereka 
> tidak sejalan. Tan Malaka memilih jalan perjuangan dan bukan jalan 
> diplomasi," imbuhnya. Karena itu, dia tidak diberi peran dalam proklamasi 
> kemerdekaan Indonesia.

> 

> Keteguhan sikap Tan Malaka terus dipilihnya hingga masa-masa pasca 
> kemerdekaan. Dia mendirikan Persatoean Perdjoeangan yang menjadi sparing 
> partner pemerintah Indonesia saat itu yang lebih memilih jalur moderat.  
> Meski berpandangan sosialis, PKI yang saat itu menjadi partai cukup besar 
> juga tak luput dari kritik. "Dia terus melakukan konfrontasi di parlemen, 
> tapi akhirnya kalah," beber Harry.

> 

> Tidak lama, Tan Malaka dan sejumlah pengikutnya ditangkap dan ditahan tanpa 
> proses sama sekali. Yaitu, sekitar Maret 1946 sampai September 1948. Setelah 
> meletus pemberontakan PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan 
> Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara. "Ini 
> proses politik yang unik, yang tidak pernah ada duanya di Indonesia," 
> imbuhnya.

> 

> Pada 1949, sekitar Februari, Tan Malaka tiba-tiba hilang tak tentu rimbanya. 
> Lewat penelusuran Harry-lah sebuah makam yang diduga berisi kerangka Tan 
> Malaka akhirnya ditemukan. Makam itu terletak di Desa Selopanggung, Kecamatan 
> Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

> 

> Makam itu dibongkar pada September 2009 lalu. Selanjutnya, kerangka tersebut 
> dibawa ke RSCM Jakarta untuk uji deoxyribonucleic acid (DNA). Harry 
> mengatakan, ahli forensik RSCM sekaligus Ketua Tim Forensik Djaja Surya 
> Atmadja gagal melakukan tes DNA terhadap kerangka tersebut. Alasan yang 
> disampaikan tim dokter adalah kerangka sangat rapuh yang diduga terkena air.

> 

> Kerangka tersebut lantas dikirim ke Korea Selatan untuk diteliti lagi. Namun, 
> setahun telah berlalu, hasil uji DNA tidak pernah diumumkan kepada publik. 
> "Harus diungkap sebagai fakta sejarah," katanya.

> 

> Meski demikian, lanjut Harry, terdapat beberapa fakta forensik yang 
> mengindikasikan bahwa kerangka tersebut adalah Tan Malaka. Di antaranya hasil 
> pemeriksaan menyebutkan, kedua lengan bersilang ke belakang. "Ini petunjuk 
> penting karena dia (Tan Malaka, red) ditembak mati dan pada waktu itu 
> kebiasaannya lengan diikat ke belakang. Semua informasi ini cocok dengan Tan 
> Malaka," kata Harry.

> 

> Selain itu, kata Harry, penelitian menemukan tinggi kerangka tersebut antara 
> 1,63-1,65 meter. Berdasar keterangan polisi yang diperoleh Harry, tinggi Tan 
> Malaka adalah 1,65 meter. "Bisa disebutkan kerangka yang ada adalah kerangka 
> Tan Malaka, seorang pejuang yang belum jadi pahlawan," ujar Harry.(dyn/jpnn)

> 

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

>





    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke