Refleksi : Apakah ada yang beragama secara tidak otentik? http://www.gatra.com/artikel.php?id=142579
Beragama Secara Otentik Bagi kita yang terlibat dalam pengembaraan (journey) antar-agama pasti mendengar ungkapan to be religious today is to be inter-religious. Friedrich Max Muller memberikan ungkapan lain yang sangat terkenal: "He who knows one religion knows none.? Dalam konteks masyarakat yang semakin majemuk secara agama (dan budaya), kalimat itu juga menunjukkan bahwa kegagalan di dalam terlibat dengan pluralisme adalah suatu tindakan peminggirin diri (self-marginalization) di dalam konteks sosial kita sendiri. Bahwa tanpa memahami iman tetangga, orang atau komunitas beragama yang hidup dalam masyarakat yang majemuk bahkan tidak dapat memahami dirinya sendiri. Dengan demikian, pemahaman terhadap agama-agama sangatlah penting karena kekuatannya yang luar biasa, yang tak seorang pun dapat mengingkarinya. Kita pun bisa bertanya, apakah kita dapat memahami budaya dan sejarah --politik atau sosial-- tanpa kita memahami agama-agama yang relevan? Hal ini benar adanya, bukan hanya mengenai ?holy Roman Empire? atau ?penaklukan Islam? dalam sejarah masa lampau. Apalagi, dunia sekarang ini bahkan sangatlah religius, sebuah fenomena yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Maka, tidak berlebihan jika kita mengatakan, pada era sekarang ini agama merupakan satu kekuatan yang paling kuat dan bersifat invasif di bumi ini. Teori kemajuan global dan sekularisasi berpendapat bahwa modernisasi akan membawa agama pada posisi yang tidak penting dalam persoalan publik. Tetapi munculnya aktivisme politik dan sosial keagamaan di berbagai kawasan menunjukkan kesalahan prediksi ini. Kini, setelah Bernard Lewis dan Samuel Huntington memperkenalkan ulang agama sebagai suatu kategori yang relevan untuk memahami geopolitik pasca-Perang Dingin di dalam tesis mereka clash of civilizations, maka di Barat banyak orang yang kembali pada diskursus Barat yang lebih tua, yaitu diskursus tentang "ancaman Islam" (the Islamic threat). Agama, sekali lagi, memainkan peran sangat besar. Di Amerika, misalnya, kita tidak akan dapat memahami politik, kecuali kita memahami bahwa agama memainkan peran. K.S. Sandhu, ISEAS, Singapura, mengatakan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, faktor-faktor agama dan etnis telah membingungkan banyak analis sosial karena perannya yang tetap ada. Kenyataan menunjukkan, agama dan etnis tetap ada pada hampir setiap segi kehidupan masyarakan Asia Tenggara. Dalam kondisi seperti inilah kompleksitas etnis, agama, dan bahasa tampaknya makin menantang untuk dipahami dibandingkan dengan masa sebelumnya. Munculnya gerakan interfaith dan intercultural dialogue dalam satu atau dua dasawarsa terakhir ini merupakan bukti bahwa sekarang ini agama-agama dunia berinteraksi dalam skala yang luar biasa besar yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Kini terlihat ada keingintahuan (curiosity) yang meningkat mengenai agama yang dipeluk orang lain --yang kadangkala positif, kadangkala juga negatif. Misalnya, penomena saling membaca kitab suci masing-masing tampak tumbuh lebih populer. Dalam perspektif ini, saya ingin mendukung diktum yang berbunyi bahwa pada masa sekarang ini to be authentically religious one must be authentically interreligious. Argumen dasar bahwa tantangan untuk kerja sama antara agama yang otentik adalah inheren di dalam tantangan menjadi seorang muslim di zaman sekarang ini adalah sangat kuat: konsep keadilan (adl) sebagai satu konsep kedua setelah konsep Ketuhanan Yang Maha Esa (tawhid) adalah satu dari ajaran Al-Quran terpenting. Menurut Al-Quran, Islam sendiri adalah mengenai bekerja untuk keadilan di dalam setiap relasi, di mana manusia menemukan dirinya dalam hubungan dengan Pencipta, sesama manusia, dan dengan semua ciptaan-Nya. Di dalam masyarakat yang bertekstur pluralis seperti Indonesia, kompleksitas identitas agama dan budaya dapat membawa keselarasan atau harmoni. Tetapi, pada saat yang sama, juga dapat membawa pada konflik. Pada masa lampau, Indonesia dengan keanekaragaman etnis, budaya, dan agamanya telah dipandang sebagai satu contoh negara yang harmonis dan toleran, di mana orang-orang dengan latar belakang agama dan budaya yang beraneka ragam dapat hidup bersama secara rukun. Prestasi dan reputasi ini harus dijaga dan dikembangkan, sehingga Indonesia dapat menjadi model bagi dunia. Basam Tibi, penulis buku The Crisis of Modern Islam, misalnya, dalam salah satu tulisannya berpendapat, karena negara-negara pusat budaya Islam tidak punya fondasi budaya, etnis, dan agama yang semacam itu, dan tidak pula memberikan model pengembangan demokrasi serta ekonomi yang sukses, maka pertanyaannya kemudian: apakah Indonesia yang akan menjadi pusat peradaban Islam pada abad ke-21 yang akan datang karena kapabilitasnya yang dapat menjadi model? Bisakah kita mencapainya? Semoga! Hajriyanto Y. Thohari Wakil Ketua MPR-RI [Perspektif, Gatra Nomor 50 Beredar Kamis, 21 Oktober 2010] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
