From: <[email protected]>

Begitu juga Merapi, merapi teh sudah meletus bukan sekali, tetapi berkali-2,
knapa tah Pamarentah tidak CERDAS dan mengantisisapinya misalnya membuatnya
jadi National Park dimana dalam radius tertentu tidak boleh dibangun dan
dihuni penduduk secara permanen. Penduduk asal diberikan penjelasan dan ada
gantiuntungnya pasti mau. Asal jangan ganti untungnya di korup juga, jadi
masyarakat angger weh rugi!! Kalo masyarakat dikasi untung pan siapa yg
nolak untung??
++++
Penduduk di lereng merapi sudah eksis lebih dari ratusan tahun, dan ketika
meletus di 1930 menimbulkan korban yang tidak sedikit.
Permasalahannya bukan larangan untuk tinggal dan tidak boleh tinggal, dalam
hal ini Merapi 'bila' meletus seperti 1930 maka kejadiannnya sudah 80 tahun.
Merapi sudah di kenal di dunia sebagai gunung yang paling aktif karena
terletak di lempengan Asia-Australia, selama bumi mengalami perubahan
lempengannya, akan ikut berubah.
Sama hal nya Jakarta, bila pembangunannya tidak di stop sekarang dalam kurun
waktu puluhan tahun mendatang posisi nya sudah menjadi bibir pantai, karena
penurunan permukaan tanah sampai sekarang tetap berlangsung, apakah
pemerintah menyarankan agar jangan membuat bangunan lagi di Jakarta ?


Mentawai oge sarua, mestinya mah Tsunami teh bisa diprediksi dan
diminimalisir lin? Harusnya mah dipinggir pantai teh ditanami hutan bakau yg
bisa jadi barrier juga utk meminimalisir dampaknya. Lha ini mah gara-2
karorup itu kamana alat-2 utk bisa mendeteksinya? Pantai oge rarusak :((.
+++++++
Khusus Mentawai pada saat sebelum terjadi tsunami sudah di beri peringatan
oleh alat deteksi tsunami, sayangnya masyarakat menganggap enteng alarm tsb,
dan pesisir Mentawai termasuk paling disukai oleh peselancar asing, dimana
dengan ombak yang bisa mencapai 5 meter membuat peselancar menjadi lebih
senang, dan mereka mana ngeh ada alarm ?, sayang berita mengenai peselancar
asing tidak ada dimedia massa.
Alat deteksi dini tsunami sejak peristiwa Aceh sudah di pasang di sepanjang
garis pantai dimulai dari pulau terujung ( we ), sampai dengan ujung jawa
timur, sayangnya tidak sedikit alat deteksi tsb juga hilang kena colong.


Jadi memang ini negara tidak Eucreug oleh karenanya sebenernya bukan Alloh
yg memberi Azab, tapi kita sendiri yg Taledor alias Gagabah!! Bongan
sorangan nana teu maca/ ngarti/ diajar kana hukum-2 Alam / hukumulloh.
Gunung teu meunang dilebur, sagara teu meunang diruksak, buyut teu meunang
dirempak!! Geus puguh urang teh hirup disaluhureun Ring of Fire tea naha
atuh teu tatan-tatan tur waspada?
+++++
Sejak bencana besar terjadi Aceh Merapi, Bantul, Pangandaran, dan
seterusnya, aku bisa pastikan bahwa hubungan masyarakat kecil memiliki jiwa
sosial yang sangat tinggi, saling tolong menolong tanpa pamrih, dan menjadi
berantakan dikarenakan peranan Legislatif, Yudikatif, Eksekutif dgn
birokratnya lebih fokus ke kuasa an masing masing, masyarakat kecil tidak
pernah ber fikir muluk muluk, mereka hidup untuk bertahan hidup sambil
berusaha untuk bisa meningkatkan taraf hidupnya, dan merekalah yang menjadi
korban.


Salam sedih pisan euy... Iraha atuhnya nu dilaluhur teh areling? Inget
sagala nu karandapan ku urang teh bongan sorangan, ayeuna siah maraneh
koruptor bisa melak cangkeng tapi inget isuk jaga ning geto bakal meunang
mamalana!!
++++
yang di atas sepertinya susah eling, karena sekali duduk diatas, ogah turun,
bilamana turun pun karena terpaksa, bukan dari nurani.

Eniwe mengenai Merapi, berdasarkan pengalaman 2006, 'diperkirakan' setiap
saat akan terulang lagi, dan untuk itu dibuat 2 posko, posko pertama di km 4
puncak merapi, dan posko kedua di km 10, karena diperkirakan kemampuan
wedhus gembel tidak akan sampai 6 Km, dan semua menjadi berantakan, ketika
Merapi berubah sifat, dimana bila sebelum nya selalu mengeluarkan lava
sehingga terjadi perluasan kepundan, kali ini kepundannya tidak tahan dengan
tekanan dari lempengan Asia Australia, sehingga batu muda sebesar rumah pun
runtuh, dan dinding² merapi tidak tahan dengan gempuran runtuhnya batu
tersebut, yang kadang dibarengi dengan wedus gembel.

Khusus wedus gembel, sungguh sangat berbahaya, dengan panas 600 C dan
kecepatan sd 200 km/jam, maka benda apapun langsung gosong dengan bentuk tak
berubah.
Khusus Mbah Marijan, beliau sudah tahu bahwa letusan saat ini tidak bisa
ditangani lagi oleh kemampuan dia sebagai juru kunci, biasanya bila Merapi
batuk, Mbah Marijan bermain kendang dan tersenyum ke puncak Merapi, untuk
yang terakhir beliau hanya bisa memerintahkan relawan/teman yang suka
memandu pendaki gunung nyasar, untuk turun sebelum jam 5, sayangnya ada
beberapa orang masih percaya bahwa Mbah Marijan mampu menaklukan Merapi (
aneh keluarga saja di suruh turun, demikian juga relawan remaja, masih ada
yang percaya atas kemampuan Mbah Marijan ).
Mbah Marijan meninggal dengan posisi sujut ke arah Selatan ( entah Yogya
entah laut kidul ), dengan posisi unik, dimana telapak tangan berada sekitar
10 cm dari abu, sedang punggung tangan bersih dan tidak rusak layaknya
korban
lain. dalam hal ini masih menjadi misterius bagi kelompok pencinta Merapi
yang dekat dengan Mbah Marijan, dimana mereka naik jam 8 malam setelah jam 5
terjadi wedus gembel. ( maaf kisah diatas diceritakan oleh teman yang memang
naik keatas setelah terjadi wedus gembel )

Dan untuk mengantisipasi ini pemerintah selalu cepat tanggap ( terima kasih
Pak Surono yang bekerja keras melakukan analisa ), dimana sebelum bencana
datang ( informasi kadang datangnya sangat singkat semisal dari km 4 ke kilo
meter 10 dalam hitungan hari, dan dari km 10 ke km 15 dalam hitungan jam,
sehingga proses evakuasi masih bisa terlaksana dengan korban minimal.

Dan sampai saat ini status merapi masih tetap bahaya, bisa jadi batas
amannya diatas 20 Km, bila lereng selatan Merapi ambrol ( karena lempeng
barat dan timur sudah ambrol ), bisa dipastikan Yogya menjadi kota tidak
aman lagi.

Dan itu semua berdasarkan data mulai dari pandangan mata, sampai dengan
peralatan seismograf yang malah gerakan seismograph di kirim melalui HT ke
seluruh relawan pencinta merapi, sehingga pandangan mata dan getaran gempa
bisa terasakan dari fisik dan HT.

Yang akan menjadi masalah besar, justru pasca Merapi selesai membuang
materialnya  ( 2006 jumlah materialnya diperkirakan 50 juta kubik, dan 2010
meningkat menjadi sekitar 70 juta kubik ), maka penduduk yang akan kembali
ke tempat asalnya akan sangat terpukul dari sisi manapun, rumah hancur, debu
tebal, ternak dan pohon musnah, dan dalam posisi seperti inilah peranan
pemerintah harus tegas dan jelas membantu, jangan seperti kasus lumpur
Lapindo, karena mereka rakyat kecil yang tidak pernah bermimpi tinggi.

Bila ada yang mau memberi bantuan, bantu juga lah pasca bencana, karena
bantuan di saat bencana saja, belum cukup.

sur.




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke