Sumber: http://sejarah.kompasiana.com/2010/09/01/darsono-si-panah-beracun/
Sejarah
Profil Petrik Matanasi:
Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan, tinggal di Jogja.
Kuliah sejarah 7 tahun di UNY. Bukan penulis handal, hanya saja suka menulis
hal-hal yang humanis. Apapun yang saya tulis atau ucap, sulit sekali bagi saya
untuk tidak Historis
Darsono si Panah Beracun
OPINI
Oleh Petrik Matanasi
| 01 September 2010 | 18:51
Darsono berusia 19 tahun ketika bergabung dengan Sarekat Islam Semarang.
Semuanya bermula ketika Darsono hadir dalam persidangan Sneevliet. Darsono
begitu kagum kepada orang Belanda itu. Awalnya Darsono sempat ragu pada
perjuangan Sneevliet membela rakyat. Begitu mengetahui Sneevliet bekerja di
Kantor Dagang bergaji f 1.000 sebulan, Darsono semakin menaruh hormat pada pria
Belanda pembebas kaum miskin Asia itu. Persidangan itu juga mempertemukan
Darsono dengan Semaoen. Darsono diajak Semaoen bergabung dengan Sarekat Islam
Semarang. Darsono yang melihat tidak ada jawaban atas pergulatan dirinya dalam
Islam, Kristen maupun Budha, melainkan sosialisme. Sebuah dunia yang dia pilih
untuk warnai masa mudanya.
Catatan sejarah atas diri Darsono sangat jauh dari cukup. Di diperkirakan 1897
tempat lahirnya tidak diketahui. Ayahnya seorang pegawai negeri, karenanya
Darsono mampu mengenyam bangku sekolah. Darsono akrab dengan kehidupan petani
karena pergaulanya dengan anak-anak petani ketika masih bocah.
Setamat dari sekolah pendidikan pertanian Darsono bekerja di perkebunan tebu.
Sebuah tempat dimana dia melihat kemiskinan dan sistem sosial yang buruk.
Selama
bekerja, Darsono meluangkan waktunya dengan membaca buku-buku yang dia
perolehnya. Masa itu kehidupan kuli-kuli perkebunan yang buruk menjadi hal
biasa.
Setelah usahanya untuk belajar di Sekolah Dokter Hewan gagal, Darsono kembali
ke
Semarang. Sampai akhirnya hadir dalam persidangan Sneevliet dan bertemu Semaoen
yang kemudian menempatkannya dalam redaksi Sinar Djawa mulai 27 Februari 1918
pada bagian telegram.
Menurut Darsono, rakyat Jawa masih bodoh. Untuk menyadarkannya diperlukan
artikel-artikel yang berani. Tulisan yang terlalu ilmiah tidak akan dimengerti
oleh rakyat yang umumnya tidak pernah sekolah. Orang yang berani lebih
diperlukan dari pada orang yang terdidik dan pandai. Cara yang tepat menurut
Darsono adalah hantam kromo bukancara intelektual.
Keterlibatan Darsono dan Mas Marso yang cenderung kiri di Sinar Djawa membuat
beberapa orang pergerakan yang kurang radikal gerah. Sejak 28 Februari 1918
satu
persatu anggota redaksi Sinar Djawa seperti Mohammad Joesoef, Aloei juga
Martowidjojo keluar. SI cabang semarang semakin lama semakin radikal dan
cenderung menyerang golongan moderatnya yang kebanyakan menduduki posisi kunci
dalam SI, termasuk Darsono sendiri.
Artikel Darsono adalah Giftige Waarheidspijlein (Pengadilan Panah Beracun)
menulis: “Selama toemboeh-toemboehan bisa hidoep, SETAN OEANG, jang dengan rapi
dilindoengi oleh pemerintah, soedah membikin sengsaranja ra’jat.”
“Setan Oeang” istilah politik pada zaman pergerakan yang ditujukan kepada para
pemilik modal atau pengusaha. Istilah ini mengacu pada segala bidang di mana
modal dapat berkuasa, seperti pendidikan, perkebunan, ataupun pajak. Politik
etis yang dicanangkan kaum etisi Belanda lebih banyak dimanfaatkan pemilik
modal. Pengadaan sarana irigasi, edukasi dan migrasi lebih menguntungkan
pemilik
modal daripada memperbaiki kehidupan rakyat pribumi. Setiap perusahaan yang
mengeksploitasi hasil bumi tanah Hindia tentunya hanya membutuhkan
tenaga-tenaga
murah. Tidak masuk akal bagi kaum pemilik modal mendatangkan tenaga kasar dari
Eropa. Pastinya tenaga murah pribumi yang dibutuhkan oleh para pemilik modal
alias Setan Oeang (kata Darsono).
Pemerintah kolonial hanya sebagai fasilitator dari “Setan Oeang”. Banyak
sekolah
dibangun untuk menyediakan tenaga kerja murah yang dibutuhkan oleh pemilik
modal
untuk menggerakan produksi mereka di Hindia. Pemerintah telah mengadakan
beberapa sekolah pribumi dengan kurikulum terbatas bagi rakyat pribumi calon
buruh dari usaha milik Setan Oeang. Anak-anak pribumi jelata hanya dapat
menikmati tweede klass (sekolah bumiputra klas dua tanpa bahasa Belanda) yang
biasa disebut Sekolah Angka loro. Sebuah sekolah dengan masa belajarnya 3
tahun.
Dimana mereka hanya dididik untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Lulusan
macam inilah yang dibutuhkan oleh Setan Oeang. Darsono yang geram dengan
kondisi
semacam ini berkata:
“Djika saja berani membilangkan, bahwa hampir semoea sekolahan jang diadakan di
Hindia sini tjuma boeat membesarkan keoentoengan setan oeang asing, itoelah
sebenarnja djuga, itoelah boekan omong kosong. Sekolahan machinist boeat
pabrik-pabrik atau spoor dan tram, kepoenjaan setan oeang asing. Sekolah
opzichter begitoe djoega; sekolah dagang idem; opleiding school boeat ambtenaar
idem; cultureschool di Soekaboemi idem; sekolah dokter setali tiga oeang, dan
begitoe sebagainja."
Umumnya pengadaan sekolah berkualitas dengan standart yang mendekati Eropa oleh
pemerintah kolonial hanya ditujukan kepada elit feodal. Pembatasan pendidikan
non formal bagi rakyat pribumi melalui rapat-rapat umum dilarang Asisten
Residen
di kota Semarang. Pemerintah kolonial berupaya menutup rapat pintu kesadaran
kaum kromo akan pentingnya pendidikan politik. Darsono bereaksi dengan
kecamannya terhadap Asisten Residen Semarang:
” Pada tanggal 9 mei jang laloe di gedoeng Oost java bioscoop Semarang diadakan
Openbare Vergadering oleh ISDV….idzin boeat itoe bermoela toean toean asistent
resident dari kota Semarang mendjawab tidak boleh diadakan…kedoea…minta idzin
lagi didjawab: boleh diadakan, akan tetapi orang jang terpeladjar dari kepala
warga SI sadja jang boleh mengoendjoengi, sedang lain-lainnja orang masih bodo
dilarang mendengarkan itoe vergadering….pengadjaran boeat ra,jat berdjalan
begitoe pelan seperti keong (slak) dia maoe mengelarang si bodo boeat
mendengarkan itoe vergadering jang dapat menambahkan kepandaian dan melebarkan
pemandangannja”.
Pemerintah kolonial enggan membuka sekolah-sekolah tinggi bagi kemajuan rakyat
Hindia. Terlalu mahal bagi pemerintah kolonial untuk mendatangkan
pengajar-pengajar dari Eropa yang bayarannya tinggi. Alasan lain yang lebih
penting karena perkembangan modal tidak menuntut tenaga kerja bumiputra (yang
murah) yang berpendidikan tinggi karena relatif masih bisa diatasi oleh orang
Belanda sendiri yang terkadang didatangkan juga dari Negeri Belanda.
Bergabungnya Darsono dalam barisan kiri Sarekat Islam Semarang ikut mewarnai
perjuangan kaum buruh di Hindia. Golongan kiri di Sarekat Islam Semarang inilah
cikal-bakal PKI yang yang meneriakan kepentingan buruh-tani di Hindia. Ketika
masih di SI cabang Semarang Darsono berusaha memperjuangkan keringanan pajak
rakyat dan membebankan pajak yang lebih besar kepada kaum Setan Oeang. Masalah
ini akan dibawa dalam Kongres Nasional Central Sarekat Islam ke-3 yang diadakan
pada tanggal 29 September-6 Oktober 1918 di Surabaya.
Dengan uang yang dimiliki kaum Setan Oeang memaksa desa-desa menyewakan
tanahnya
untuk perkebuanan dengan memberikan premi tertentu kepada lurah-lurah. Sawah
milik desa yang komunal yang sebelumnya dikelola oleh petani, dijadikan
perkebunan dan menjadikan para penduduk sebagai kuli perkebunan. Dalam hal ini
pemerintah lalai denngan nasib para petani ini. Lurah hanya menjadi bagian dari
sistem saja dan membiarkan warganya sengsara. Semua ini tak lain untuk
meningkatkan produksi gula. Pemerintah hanya bisa mendukung kemauan kaum Setan
Oeang yang hanya mengeruk laba dari keringat tenaga pribumi dan kesuburan tanah
Hindia…”
Serangan Darsono dalam Giftige Waarheidspijlein adalah serangan terhadap
kebijakan-kebijakan kolonial terhadap rakyat tertindas di Hindia. Giftige
Waarheidspijlein ditulis Darsono berdasar literatur yang pernah dibacanya.
Salah
satu bahan tulisan Darsono adalah Het Process Sneevliet (1917) yang menjadi
bacaan wajib kaum pergerakan dan menjadi bacaan terlarang di sekolah-sekolah
pemerintah. Tulisan Clive Day The Policy and Administration of the Deutch in
Java (1904). Kedua bahan ini menjelaskan bahwa kemiskinan yang melanda
mayoritas
pribumi tidak terjadi tanpa sebab, tetapi memiliki proses sejarah yang panjang.
Het Process Sneevliet menyatakan sumber kemiskinan dimulai oleh merkantilisme
VOC (Vereniging Oost indische Compagnie, maskapai dagang Belanda terbesar di
Nusantara sebelum abad XIX).
Devide et Impera (politik pecah belah) VOC berlanjut dengan monopoli
perdagangan
dan pungutan pajak yang mencekik rakyat pribumi. Penguasa lokal dan bawahannya
lebih banyak diam (mendukung) dan hampir semuanya hidup jauh dari derita yang
dialami rakyatnya. Pemerintah kolonial tidak lebih dari panah beracun bagi kaum
kromo yang miskin dengan kebijakan-kebijakan kolonialnya.
Karena tulisan dan kepemimpinannya, Darsono menjadi sosok yang menonjol dan
menjadi orang penting kedua dalam kepemimpinan ISDV di Semarang. Kebiasaannya
membaca buku menjadikan ahli dalam berteori di partai. Rivalitas Darsono dengan
tokoh SI mapan macam Tjokroaminoto atau Abdoel Moeis bukan rahasia umum. Awal
1920 sebuah surat dari Komunis Internasional(Komintern) datang, isinya adalah
menganjurkan bergabungnya ISDV dalam Komintern. Salah satu syaratnya adalah
menggunakan nama terang partai komunis. Sebuah sidang yang panas dengan peserta
40 kemudian menerima perubahan nama tersebut.
Perserikatan Komunis di Hindia pun lahir pada tanggal 20 Mei 1920. Inilah PKI
generasi pertama yang juga terlibat dalam pergerakan nasional. Hanya saja
perenan mereka kurang diakui sebagai kaum pergerakan.
Pada bulan Mei 1921 Ir Adolf Baars dibuang bersama Darsono keluar negeri. Dalam
perjalanan, di Shanghai mereka bertemu Sneevliet yang menjadi wakil Komintern
di
Cina. Mereka lalu menuju Rusia. Ketika terjadi pemogokan besar-besaran di Jawa
banyak tokoh-tokoh kiri ditangkap. Darsono berada diluar negeri ketika
penangkapan itu terjadi. Hal ini membuat pemerintah kesulitan. Pada bulan
November 1921 Darsono menghadiri Kongres Partai Komunis Belanda (Comunist
Partij: CP) dan memberikan pidatonya. Darsono meminta diadakannya kerjasama
antara PKI dengan CP.
Selama menjadi anggota PKI , Darsono pernah dicalonkan sebagai anggota Tweede
Kamer (Majelis Rendah) tahun 1929 oleh Partai Komunis Belanda. Darsono didaftar
urutan 3 dan Tan Malaka didaftar urutan 2, namun keduanya tidak terpilih. Hal
ini mungkin dipengaruhi oleh kunjungan dan pidatonya pada kongres CP November
1921 sebelumnya. Karenanya Darsono juga cukup populer di Belanda. Apalagi
Darsono juga cukup teoritis dalam pergerakan. Walau begitu Semaun dan Darsono
kemudian keluar dari PKI kendati mereka masih memihak kaum yang tertindas.
Banyak juga tokoh PKI angkatan 1920an yang menghilang dari peredaran
perpolitikan pasca kemerdekaan Indonesia.
Darsono mendedikasikan hidupnya membela kaum yang tertindas dengan melawan
Setan
Oeang. Darsono masih percaya kekuatan pena mampu mengalahkan pedang. Tulisannya
Giftige Waarheidspijlein adalah sebuah pengadilan kepada pemerintah kolonial
yang tidak peduli dengan nasib kaum kromo pribumi. Ciri khas Darsono dalam
tulisannya adalah bahasanya yang berani. Baginya bahasa ilmiah tidak dipahami
rakyat tertindas.
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/