http://nasional.kompas.com/read/2010/11/19/16561313/Priyo.Bantu.TKW.Tugas.KBRI
Priyo: Bantu TKW Tugas KBRI Laporan wartawan KOMPAS.com Hindra Liu Jumat, 19 November 2010 | 16:56 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso mengatakan, para anggota DPR RI yang enggan membantu para TKW yang "terdampar" di Dubai kurang memiliki empati. Namun, politisi Partai Golkar ini mengatakan, bukan anggota DPR yang seharusnya membantu para pahlawan devisa, melainkan kedutaan besar RI setempat. Dikatakan Priyo, anggota DPR RI saja terkadang sulit mengurus diri sendiri ketika bepergian ke luar negeri. "Bahkan, untuk urusan travel, anggota DPR masih dibantu oleh petugas agen wisata. Jadi, sudah tentu kedutaan besar RI setempat yang proaktif membantu," kata Priyo ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (19/11/2010). Namun demikian, mantan Ketua Fraksi Golkar di DPR RI ini akan meminta penjelasan kepada para anggota DPR yang tiba ke Dubai setelah melakukan studi banding rumah susun di Rusia. "Kami berterima kasih atas masukan dan informasi dari masyarakat. Nanti kami akan cek dan minta penjelasan," kata Priyo. ++++ http://nasional.kompas.com/read/2010/11/19/14061586/Tak.Ada.Aduan..Apa.yang.Mau.Diperhatikan Anggota DPR Telantarkan TKW Tak Ada Aduan, Apa yang Mau Diperhatikan? Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik Jumat, 19 November 2010 | 14:06 WIB Kompas Images/Dhoni Setiawan Massa dari Gerakan Rakyat Anti Mafia Tenaga Kerja Indonesia (Geram TKI) melakukan aksi di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2009). JAKARTA, KOMPAS.com - Wajar kalau rombongan anggota Dewan yang sedang transit di bandara di Dubai tidak terlalu memerhatikan rombongan warga dan para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang juga mengalami penundaan penerbangan ke Tanah Air. Pasalnya, tidak ada komplain atau aduan yang sampai kepada mereka. " ...kalau tidak ada aduan, ya apa yang mau diperhatikan? " Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi V DPR RI Muhidin Mohammad Said kepada Kompas.com, Jumat (19/11/2010). "Kita salah kalau mereka ditelantarkan. Kalau ada aduan, wajarlah kita harus memperhatikan hak-hak mereka. Tapi kalau tidak ada aduan, ya apa yang mau diperhatikan," tutur politisi Golkar ini. Menurutnya, penundaan waktu penerbangan di Dubai seperti yang juga dialami rombongannya pula saat transit sepulangnya studi banding dari Italia sudah menjadi tanggung jawab penuh pihak penerbangan. Muhidin juga menilai pihak penerbangan telah memfasilitasi para penumpang tersebut dengan sangat baik. Jika memang ada rombongan TKI yang tidak mengerti prosedur dan juga mengalami kendala berbahasa, memang sangat disayangkan. "Ya, TKI kita ini kan ya ampun.... Coba Anda lihat saja langsung ke sana. Kasihanlah... Dari sisi pendidikan terbatas, lalu masuk ke daerah atau kota maju, disangkanya semua dilayani dengan enak," tambahnya lagi. Namun, Muhidin mengaku tidak boleh ada penghinaan atau pelecehan terhadap profesi TKI. Jika memang ada anggota Dewan yang juga dinilai telah melontarkan kata-kata yang bersifat menghina atau melecehkan, Muhidin meminta pihak yang mengadukan perilaku ini untuk menyebutkan nama anggota Dewan yang dimaksud secara terbuka. Dengan demikian, kisahnya tidak bersifat spekulatif. ++++ http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1061/1/dpr%20telantarkan%20tkw DPR Telantarkan TKI Silahkan Laporkan Para Anggota Dewan Itu Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik Jumat, 19 November 2010 | 12:24 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Badan Kehormatan DPR RI Gayus Lumbuun mempersilahkan siapapun yang mendapati perilaku anggota dewan yang tak etis, baik di gedung DPR maupun di luar gedung, di dalam negeri maupun di luar negeri, untuk melaporkannya kepada Badan Kehormatan DPR RI. Gayus juga mempersilahkan masyarakat melaporkan kelakuan rombongan anggota Komisi V DPR RI yang studi banding ke Rusia dan dinilai melakukan perbuatan yang tak etis di Dubai kepada sejumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). "Perilaku anggota DPR yang dianggap tidak etis baik di gedung DPR maupun diluar gedung termasuk ketika berada di luar negeri apabila ada data-data yang jelas dapat diadukan kepada BK DPR," ungkapnya kepada Kompas.com, Jumat (19/11/2010). Berdasarkan laporan dari masyarakat itu, politisi PDI-P ini mengatakan BK tentu akan segera melakukan pengusutan. Barulah setelah itu, BK bisa memutuskan akan memberikan teguran atau menjatuhkan sanksi. Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah anggota Komisi V DPR RI yang melakukan studi banding ke Rusia transit di bandara Dubai sebelum bertolak ke Indonesia. Di sana, mereka bertemu dengan rombongan TKI dan warga lain yang juga akan pulang ke tanah air. Ternyata, pesawat mereka ditunda keberangkatannya karena situasi cuaca di Jakarta yang tidak memungkinkan. Para TKI yang umumnya berpendidikan rendah kesulitan untuk berkoordinasi dengan pihak bandara. Namun, menurut pengakuan sejumlah warga Indonesia lain yang ada dalam kondisi itu, para anggota dewan bukannya menolong malah berperilaku tidak etis, bahkan cenderung menghina rombongan TKI tersebut. ++++ http://nasional.kompas.com/read/2010/11/19/08345518/Saya.dari.Moskow..Tugas.Negara Kisah Rombongan DPR Bertemu TKW (2) Saya dari Moskow, Tugas Negara Jumat, 19 November 2010 | 08:34 WIB AGUS SAFARI Foto sejumlah TKW dan anggota DPR di Dubai. Kiri, seorang anggota DPR tengah berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana di Hotel Holiday Inn, Dubai, Minggu (7/11/2010). Tengah, perempuan yang mengenakan jaket kuning dan berjilbab adalah tenaga kerja wanita Indonesia yang kedua tangannya melepuh disiram air keras. Matanya pun memerah karena di colok majikannya. Ia baru bekerja satu minggu di Madinah dan dipulangkan. Kanan, rombongan anggota DPR tampak berkerumun di pinggir jendela di Hotel Holiday Inn, Dubai, Minggu (7/11/2010). TERKAIT: a.. Rombongan DPR "Telantarkan" TKW di Dubai KOMPAS.com - Seusai keruwetan berurusan dengan administrasi Bandara Dubai (baca: Rombongan DPR "Telantarkan" TKW di Dubai), rombongan penumpang pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 358 yang batal terbang menuju Jakarta akhirnya tiba di Hotel Holiday Inn, tidak jauh dari bandara, Sabtu (6/11/2010). Di sini, para TKW kembali gaduh. Lagi-lagi mereka bingung dengan urusan pembagian kamar. Riny Konig, Adiati Kristiarini, Agus Safari, dan sejumlah orang Indonesia kembali turun tangan mengatur mereka yang kebingungan. Dalam perbincangan dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu, Riny Konig menuturkan, saat mereka tengah sibuk mengoordinasi seratusan TKW, tiba-tiba seorang perempuan menegurnya. "Bu, tolong, dong, dibilangin rombongannya jangan ribut, malu-maluin negara aja, kan enggak enak ribut begitu," tegur perempuan itu kepada Riny. "Rombongan mana, Bu?" tanya Rini. "Itu, rombongan TKW," kata perempuan itu. "Lha, saya bukan TKW, Bu. Saya ini ingin pulang ke Indonesia, berlibur, kebetulan bertemu dengan mereka. Mereka ribut karena bingung Bu, banyak yang bertahun-tahun enggak pulang, kasihan. Ibu mau liburan juga?" tanya Rinny. "O enggak, saya baru pulang dari Moskow, tugas negara," kata perempuan itu yang menurut Rinny hanya tetap berdiri tanpa ikut membantu para TKW yang gaduh karena bingung. Belakangan, Riny tahu perempuan itu adalah anggota DPR yang habis melakukan studi banding di Moskwa, Rusia. Mereka menginap di hotel itu satu malam. Selama satu malam itu pula Riny, Atik, Agus, dan kawan-kawan Indonesia lainnya mendata satu-satu kamar para TKW yang jumlahnya sekitar 150 orang. "Hampir setiap jam kami berhubungan dengan informasi hotel, apa itu untuk membantu mereka urusan kamar, urusan telepon, urusan makan, shuttle bus ke Dubai City untuk menukar uang dan belanja minuman dan snack karena di hotel mahal," terang Riny. Tangan melepuh dan pendarahan Sementara, Adiati menceritakan, di antara para TKW itu ada seorang TKW yang kedua tangannya melepuh disiram air keras oleh majikannya di Arab Saudi. Matanya pun merah karena dicolok oleh majikannya. "Saya lupa namanya. Dia dari Karawang. Baru satu minggu kerja sudah mendapat kekerasan dan dipulangkan. Ia tidak punya bekal uang sama sekali. Cuma bawa tas kecil berisi dua potong pakaian. Ia diam terus, tidak banyak bicara. Kasihan sekali," tutur Adiati. Selain itu, ada pula seorang TKW yang perutnya mengalami pendarahan. Namanya Ipah. Ia sebenarnya sudah memiliki janji dengan seorang dokter di Jakarta untuk operasi pengambilan kista di perutnya pada hari Senin (8/11/2010). Adiati yang mendampingi Ipah selama bermalam di hotel menceritakan, Ipah terus berbaring selama menunggu kepastian terbang. "Tidak ada satu pun anggota Dewan yang terhormat itu menaruh perhatian pada nasib dua TKW ini. Mereka pasti tidak tahu karena memang tidak pernah mau tahu," ucap Adiati kesal. ""Di mata orang DPR, TKW itu enggak ada harganya. Ya, memang beginilah nasib kami, selalu dianggap menyusahkan di negeri sendiri. -- Diah, TKW di Madinah "" Bapak, kan anggota DPR Esoknya, Minggu (7/11/2010), "relawan" Indonesia dan para TKW melakukan "konsolidasi" di lobi hotel. "Kami mendata kembali satu per satu teman-teman TKW. Kami mengingatkan agar masing-masing jangan bergerak sendiri dan memisahkan diri supaya mudah melakukan koordinasi jika ada pengumuman kapan pesawat ke Jakarta akan terbang," ungkap Riny. Ia menuturkan, saat para "relawan" sibuk mendata para TKW, seorang lelaki tampak berdiri menonton. "Spontan saya bilang ke dia, Pak, mestinya Bapak yang ngurusin para pahlawan devisa ini, kan Bapak anggota DPR. Ini di depan mata Bapak jelas-jelas ada rakyat Bapak yang kesusahan, kasihan, kan," kata Riny. "Maaf, Bu. Saya bukan anggota DPR, tetapi terima kasih banyak ya, Ibu dan teman-teman sudah menolong mereka," kata lelaki itu seperti ditirukan Riny. Ia mengetahui kemudian, lelaki itu adalah petugas agen travel yang mengurus perjalanan rombongan anggota DPR. Menurut Rini, lelaki itu kemudian membalikkan punggung, bergabung dengan rombongan anggota DPR yang duduk tidak jauh dari situ. Beberapa orang dari mereka, kata Rini, sempat menoleh saat ia berbicara dengan lelaki dari agen travel tersebut karena berbicara dengan suara lantang. "Mereka, ya enggak ikut membantu tuh, habis itu malah keluar menuju mobil sewaan," ungkap Rini. "Ngapain" cari duit ke luar negeri Sementara itu, salah seorang TKW, Diah, punya pengalaman yang menurutnya tidak mengenakkan saat ia mencoba menyapa satu-satunya perempuan anggota Dewan dalam rombongan tersebut. Ia bertanya kepada perempuan itu apakah sudah ada informasi kapan pesawat akan terbang menuju Jakarta. "Eh, bukannya menjawab, ibu itu malah balik bertanya ke saya dengan ketus, ngapain cari duit ke luar negeri, di dalam aja banyak kok. Saya kaget, kok ditanya baik-baik malah ngomong ketus banget. Saya bilang aja kalo saya emang orang miskin, cari duit ke mana aja yang penting halal," terang Diah saat dihubungi Kompas.com, Kamis (18/11/2010). Diah pun langsung melengos pergi. "Di mata orang DPR, TKW itu enggak ada harganya. Ya, memang beginilah nasib kami, selalu dianggap menyusahkan di negeri sendiri," katanya. Diah sudah empat tahun bekerja untuk sebuah keluarga di Madinah, Arab Saudi. Ia bersyukur mendapat majikan yang baik. "Saya cuti pulang kampung selama dua bulan untuk nengok anak. Majikan saya sayang sama saya. Dia malah nangis nganter saya pulang, minta saya cepet balik lagi ke Madinah," katanya. Mereka pulang duluan Selanjutnya, Minggu sore, seperti diceritakan Agus Safari, mereka mendapat kabar bahwa pesawat akan berangkat pada pukul 01.00 waktu Dubai (Senin, 8/11/2010). Kembali terjadi kegaduhan. "Tidak mudah mengatur seratusan orang. Para TKW itu tersebar. Pelan-pelan kami mengumpulkan mereka di lobi. Tidak semua dapat terangkut oleh bus yang disediakan. Jadi kami berangkat secara bertahap menuju bandara," ujar Agus. Saat itu, Agus merasa heran sebab hingga di bandara ia tidak melihat seorang pun rombongan DPR. "Rupanya mereka sudah pulang duluan naik penerbangan pukul 20.00. Luar biasa tuan-tuan yang terhormat itu, mereka ngeloyor pergi duluan tanpa sedikit pun mengindahkan rakyatnya yang kelabakan ini," kata dia. Studi banding rumah susun Menurut catatan Kompas.com, anggota DPR yang pergi ke Rusia adalah rombongan Komisi V yang tengah melakukan studi banding terkait RUU Rumah Susun. Selain ke Rusia, Komisi V juga melakukan studi banding yang sama ke Italia. Informasi yang dihimpun Kompas.com, anggota rombongan studi banding rumah susun adalah Yasti Soepredjo Mokoagow dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN), Muhidin Mohamad Said (Fraksi Partai Golkar), Roestanto Wahid (Fraksi Partai Demokrat), Usmawarnie Peter (Fraksi Partai Demokrat), Sutarip Tulis Widodo (Fraksi Partai Demokrat), Zulkifli Anwar (Fraksi Partai Demokrat), Riswan Tony (Fraksi Partai Golkar), Eko Sarjono Putro (Fraksi Partai Golkar), Roem Kono (Fraksi Partai Golkar), Irvansyah (Fraksi PDI-P), Sadarestuwati (Fraksi PDI-P), Chairul Anwar (Fraksi PKS), Ahmad Bakri (Fraksi PAN), Epyardi Asda (Fraksi PPP), Imam Nahrawi (Fraksi PKB), dan Gunadi Ibrahim (Fraksi Partai Gerindra). (Selesai) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
