Refleksi : Pemerintah NKRI sekalipun  anggota-anggotanya terdiri dari kaum yang 
menyebutkan diri kaum agama benar, tetapi bukan berarti mereka adalah 
orang-orang benar berpihak kepada kejujuran dan kebenaran, maka oleh karena itu 
bukan saja masalah TKW (TKI) tetapi juga masalah kepentingan buruh di Nusantara 
pada umumnya  masih jauh dari standar perlindungan yang memada sesui 
syarat-syarat konvensi  perburuhan internasional (ILO).   Hal ini  bisa 
demikian, karena para anggota pemerintah rezim NKRI terdiri dari kaum pengusaha 
nepo-kleptokratik neo-Mojopahit yang berkecimpun dalam segala bidang usaha 
termasuk apa yang disebutkan  penjualan  manusia dengan jalan legal, jadi 
mereka tidak akan  mungkin serius mengurus masalah pengaduan yang tidak membawa 
faedah bagi keuntungan mereka. 

Boleh saja mengadu, tetapi harapan besar untuk bantuan sepatutnya hanya akan 
dibalas dengan men-iaya-kan saja. 

http://cetak.kompas.com/read/2010/11/28/03071798/.keluarga.tkw.mengadu


Keluarga TKW Mengadu
Minggu, 28 November 2010 | 03:07 WIB
Banyumas, Kompas - Keluarga dua tenaga kerja wanita asal Banyumas yang hilang 
belasan tahun ini berharap pemerintah bersedia membantu mencari jejak keduanya. 
Mereka mengaku sudah tidak tahu lagi bagaimana melacak keberadaan anggota 
keluarga mereka itu.

"Saya sudah habis-habisan untuk mencari di mana anak saya. Becak untuk kerja 
pun sudah saya jual, tapi semuanya tetap buntu," ujar Rakum (55), ayah Eri 
Supriani (25), tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Kutasari, Kecamatan 
Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (27/11).

 Hal senada dikatakan Muhtarom, kakak salah satu TKW bernama Kuswati.

Hampir 20 tahun adiknya menghilang, tapi tak ada bantuan dari pemerintah untuk 
mencari keberadaan Kuswati.

Pihak pengerah jasa tenaga kerja Indonesia dan dinas tenaga kerja seolah lepas 
tangan. Muhtarom juga pernah menyurati Konsulat Jenderal RI di Jeddah, tapi 
hanya dibalas dengan pemberitahuan bahwa tidak ada TKI yang bernama Kuswati di 
sana.

 "Kami ini kan masyarakat Indonesia. Mengapa sama masyarakatnya pemerintah tak 
mau membantu?" ucapnya.

Perusahaan tutup

Pada Februari 1999, Eri menjadi TKW melalui PT Amira Prima, perusahaan jasa TKI 
yang beralamat di Jakarta Barat. Eri kala itu diberangkatkan sebagai TKW ke 
Malaysia.

Namun, sudah 11 tahun lebih keluarga Eri tak dapat menghubungi gadis yang saat 
berangkat ke Malaysia masih duduk di kelas II sekolah menengah pertama tersebut.

Seorang TKW lain yang tak diketahui keberadaannya adalah Kuswati (kini berusia 
sekitar 38 tahun) asal Desa Kaliwedi, Kecamatan Kebasen, Banyumas. Kuswati 
berangkat ke Arab Saudi pada Oktober 1992 dan hingga kini tak diketahui alamat 
serta kabarnya.

Rakum menuturkan, dia pernah melaporkan ketiadaan kabar putrinya ke kelurahan, 
kecamatan, kepolisian, hingga kantor dinas tenaga kerja setempat. Namun, hingga 
saat ini tak ada tindak lanjut.

Empat kali sudah Rakum mencari anaknya ke Jakarta pada periode 1999-2003. Kala 
itu dia mendatangi lokasi penampungan dan kantor PT Amira Prima.

Alih-alih mendapatkan informasi tentang putrinya, tempat penampungan dan 
perusahaan yang memberangkatkan Eri sudah berganti nama dan mengaku tak 
tahu-menahu mengenai Eri.

"Pengerah tenaga kerja di sini pernah saya ajak bicara di kantor Depnaker sini, 
tapi mereka malah mengatakan anak saya yang tidak benar. Katanya, Eri malah 
pergi dibawa pacarnya. Padahal, itu jelas tidak benar," kata Rakum.

Kantor PT Duta Perwata, perusahaan pengerah jasa TKI di Banyumas yang dulu 
merekrut Eri untuk dibawa ke PT Amira Prima di Jakarta, pun saat ini tak jelas 
lagi.

Padahal, sebagai orangtua, Rakum tak pernah setuju anaknya diberangkatkan 
sebagai tenaga kerja wanita.

"Tapi karena dibujuk dan saat itu saya tak ada di rumah, anak saya akhirnya 
mau. Pulang-pulang anak saya sudah tidak ada di rumah. Dia masih berusia 14 
tahun waktu itu. Waktu saya temui di penampungan, pihak PT tak memperbolehkan 
saya membawa pulang," katanya.

Kini Rakum hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk membantu mencari 
keberadaan putrinya itu.

"Penginnya pemerintah membantu. Tapi, apa mau mereka membantu wong cilik 
seperti kami?" tanya Rakum pesimistis walau masih tetap berharap.(HAN


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke