Refelksi : Kalau NKRI dibawah kekuasaan rezim Abunawas bin Ali Baba mempunyai 
perasaan malu, maka tentu saja tidak akan mengirim warganerganya untuk 
diperlakukan sebagai budak di luarnegeri, teristimewa di negeri-negeri yang 
disebut sahabat di Timur Tengah dan tanah neraka.

http://www.indonesiamedia.com/2010/12/05/pemerintah-bebaskan-biaya-fiskal-mulai-2011-karena-malu/

Pemerintah Bebaskan Biaya Fiskal Mulai 2011 Karena Malu

Posted on December 5 2010 by Suparmi 
Mulai 1 Januari 2011, pemerintah melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak 
akan menghapuskan biaya fiskal perjalanan ke luar negeri. Alasannya karena 
malu. Malu kenapa? 
Direktur Transformasi Proses Bisnis Ditjen Pajak Robert Pakpahan mengatakan, 
dalam era globalisasi saat ini, memalukan jika suatu negara masih menerapkan 
tarif fiskal untuk perjalanan ke luar negeri.

"Malu juga mempertahankan fiskal luar negeri ini (sekarang)," ujar Robert dalam 
acara Sosialisasi Perpajakan di Bogor, Sabtu (4/12/2010).

Robert menjelaskan, biaya fiskal luar negeri ini sudah tidak layak lagi 
diberlakukan karena kondisinya yang berbeda dibandingkan sewaktu mulai 
diberlakukannya fiskal ini.

Dulu, kebijakan ini digunakan untuk menjaring masyarakat untuk bersedia 
mendaftarkan diri sebagai wajib pajak. Namun sekarang, kebijakan tersebut sudah 
dianggap berhasil guna meningkatkan jumlah wajib pajak.

"Jadi kebijakan ini guna menjaring masyarakat secara volunteer mendorong, untuk 
mendaftarkan diri ke kantor pajak. Kan nanti orang mikir kalau punya NPWP bisa 
dibebaskan fiskal, jadi mau daftar," jelasnya.

Selain itu, kebijakan fiskal ini dulunya digunakan untuk menghalangi orang kaya 
menghabiskan uangnya di luar negeri. Serta turut mengembangkan pariwisata dalam 
negeri.

"Awal sekali adanya kebijakan ini untuk merem supaya tidak gampang orang-orang 
kaya menghabiskan uangnya di luar negeri. Selain itu dihalang-halangi 
bertamasya ke luar negeri, sehingga wisata ke dalam saja," ujar Robert.

Namun, pada saat ini, lanjut Robert, tidak layak lagi menghalang-halangi 
seseorang untuk bertamasya ke luar negeri dan wisata Indonesia pun juga 
memiliki daya tarik tersendiri.

"Tapi kita tidak bisa menghalang-halangi pada globalisasi, tapi pasti wisata 
Indondesia punya yang ditonjolkan," jelasnya.

Robert juga mengungkapkan dengan dihapuskannya kebijakan fiskal luar negeri ini 
mampu menghilangkan potensi manipulasi nilai fiskal yang dilakukan antara 
aparat pajak dan masyarakat.

"Insiden dimanipulasi juga, baik dari aparat kami maupun orang bisa 
mempermainkan fiskal tapi praktik ini akan hilang (dengan kebijakan penghapusan 
fiskal luar negeri)," ujarnya.

Robert menyatakan tidak ada kekhawatiran dari pihaknya terhadap penghapusan 
fiskal ini terhadap penerimaan negara. Pasalnya, sumbangan fiskal luar negeri 
tidak begitu signifikan.

"Waktu diterapkan fiskal luar negerti telah berhasil mendapatkan Rp1,5-3 
triliun per tahun. Sumbangan ke pemerintah memang ada tapi tidak terlalu 
signifikan," pungkasnya.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke