http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=110958


Kemandirian ekonomi Indonesia
      Tanggal :  29 Dec 2010 
      Sumber :  Harian Terbit 


Oleh Bahrullah Akbar


PROFESOR Sarbini Sumawinata (1983) menulis, "sejarah ekonomi kita adalah 
sejarah tanpa perubahan." Pernyataan demikian memang sangat satir dan terkesan 
hiperbolis. 

Namun, apabila dikaji secara mendalam, perkembangan perekonomian Indonesia 
sejak kemerdekaan hingga reformasi saat ini belum menunjukkan perubahan yang 
berarti. Hal ini bukan berarti sejarah kemerdekaan kita statis, justru 
sebaliknya sangat dinamis. Akan tetapi, gelombang dinamika sejarah kita selalu 
kembali ke titik semula. Akibatnya, sekarang kita berdiri pada titik yang tidak 
ada perubahan dibandingkan dengan titik permulaan. Khususnya bila melihat dari 
segi pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan 
rakyat banyak.

Kalau kita membandingkan struktur ekonomi pada zaman kolonial dan masa 
permulaan kemerdekaan dengan struktur ekonomi sekarang, beberapa hal 
seolah-olah menunjukkan adanya perubahan struktur. Khususnya bila kita melihat 
sumbangan sektor pertanian terhadap GNP dan GDP, seolah-olah nampak perubahan 
struktur ekonomi yang besar. BPS (2010) mencatat sumbangan sektor pertanian 
pada Triwulan I Tahun 2010 sebesar 16.0 persen. 

Sementara, sektor ekonomi yang lain tercatat Sektor Industri Pengolahan sebesar 
25,4 persen, Sektor Perdagangan-Hotel-Restoran sebesar 13,9 persen, dan Sektor 
Pertambangan-Penggalian 11,2 persen, serta Sektor Konstruksi sebesar 10,0 
persen. Secara keseluruhan kelima sektor tersebut mem punyai andil peranan 
sebesar 76,5 persen dalam PDB.

Akan tetapi, kalau kita selidiki lebih lanjut, beberapa hal menunjukkan semua 
kenyataan tersebut tidak menunjukkan adanya perubahan yang fundamental terhadap 
kesejahteraan rakyat. Sebab, menurut Profesor Sarbini Sumawinata (1983), 
membangun ekonomi bukan semata-mata menciptakan struktur ekonomi yang sehat dan 
memuja angka-angka pertumbuhan. 

Namun, perlu diingat pentingnya pro duktifitas masyarakat. Apabila dilihat dari 
sudut ini, maka yang lebih penting dari melihat sumbangan sektor ekonomi pada 
GDP adalah produktifitas tanaga kerja yang bekerja pada sek tor-sektor ekonomi. 
Dengan kata lain, proporsi pembagian angkatan kerja (man power) pada beberapa 
bidang ekonomi juga menjadi alat ukur keberhasilan pembangunan ekonomi.

Seperti kita pahami, proporsi pembagian angkatan kerja ini biasanya digolongkan 
dalam tiga bidang usaha meliputi, (1) bidang usaha primer, yang meliputi usaha 
pertanian, pertambangan dan seluruh industri ekstraktif; (2) bidang usaha 
sekunder, yang meliputi usaha industri manufaktur; dan (3) bidang usaha tertier 
yang meliputi jasa-jasa. Dari sudut tersebut, maka pergeseran angkatan kerja 
dari bidang usaha primer ke sekunderyang sesungguhnya berarti peningkatan 
produktifitas yang terbesartidak ada artinya. Ini terlihat pada masih 
sedikitnya angkatan kerja yang tertampung di bidang industri, khususnya 
industri manufaktur. Dengan kata lain, terlihat bahwa merosotnya proporsi 
angkatan kerja dari bidang usaha primer ternyata ditampung oleh bidang usaha 
tertier (jasa-jasa). 

Kalau kita teliti lebih lanjut, ternyata lapangan kerja yang menampung angkatan 
kerja "pelarian" dari bidang primer adalah justru lapangan kerja yang sangat 
tidak produktif.

Yaitu, usaha-usaha kecil atau apa yang dikenal dengan "sector informal" atau 
lebih jelas lagi self-employed workers. Contoh, penjual bakso, warteg, pedagang 
kaki lima (PKL), tukang parkir, dan lain-lain yang umumnya produktifitasnya 
rendah, sehingga pendapatannya pun rendah sekali. Jadi, dapat kita simpulkan 
bahwa struktur ekonomi kita, dilihat dari peningkatan produktifitas, tidak 
menunjukkan perubahan yang berarti.

Struktur ekonomi yang timpang tersebut jelas akan menghasilkan kesenjangan 
dalam berbagai bidang kehidupan. Pada masa kekuasaan Orde Baru, negara telah 
mencetak 25% orang kaya baru yang melebihi rata-rata orang kaya Malaysia, 
bahkan masuk dalam jajaran terkaya dunia (Suharto, 2008). 

Mereka muncul di sela-sela ketidakadilan dan kesenjangan sosial yang 
menjadi-jadi. Kemudian, sejak krisis ekonomi tahun 1999, angka kemiskinan terus 
menukik menjadi 37,17 juta jiwa, bahkan kini menjadi 40 juta jiwa.

Lebih lanjut, menurut majalah Forbes (2009), di antara nama-nama orang kaya 
kelas dunia terselip lima nama orang kaya dari Indonesia yang memiliki harta di 
atas US$1 miliar. Mereka adalah Michael Bambang Hartono dan Robert Budi 
Hartono, dua bersaudara pemilik Grup Djarum. Kemudian Sukanto Tanoto, pemilik 
imperium bisnis Raja Garuda Mas (RGM) Grup; Martua Sitorus, pendiri Wilmar 
International; serta Peter Sondakh, pendiri Grup Rajawali. Mereka pula yang 
kini menjadi lima orang terkaya di Indonesia.

Gagasan dan realiasi kemandirian ekonomi nasional sampai kini memang masih jauh 
panggang dari api. Karsa untuk membangkitkan kemandirian itu kerap terhalang 
tembok tebal kekuasaan. Baik itu kekuasaan yang ber asal dari dalam negeri 
(internal), kekuasaan ekonomi-politik neoliberalisme (eksternal), ataupun 
penggabungan dari keduanya. Kekuasaan ekonomi-politik kolaboratif ini menjadi 
sa ngat dahsyat karena dukungan jaringan, kapital, serta lembaga-lembaga 
penopang baik dari dalam maupun luar negeri (MNC/TNC).

Tak ayal, di tengah kepungan globalisasi ekonomi saat ini, rakyat dibiarkan 
sendiri bergelut dengan pasar (market) tanpa intervensi dari negara. Rencana 
pencabutan subsidi BBM yang marak akhir-akhir ini merupakan fakta aktual 
ketidakberdayaan negara berhadapan dengan pasar (market). 

Belum lagi serangkaian perjanjian free trade yang mulai diberlakukan Januari 
2010 (misalnya ACFTA). Di tengah kepungan tersebut, seharusnya negara lebih 
proaktif membantu rakyat untuk bangkit dan mandiri dan bukan sebaliknya, yakni 
melakukan pencabutan subsidi serta membiarkan rakyat berjalan sendiri.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain kecuali bahwa kita harus mendesain ekonomi 
nasional yang lebih mengikuti kaidah-kaidah prorakyat yang menitikberatkan pada 
pemerataan dan kesejahteraan guna menghasilkan keadilan. Ekonomi nasional harus 
mewujudkan good governance yang prinsip-prinsipnya adalah aksesibilitas, 
transparansi dan akuntabilitas dalam semua aspek, termasuk (renegoisasi) 
kontrak karya. Kita harus kembali pada ajaran kemandirian (Trisakti Bung 
Karno), untuk mencapai peri kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang bebasm 
(liberty), adil (equality, justice), dan sejahtera (prosperity). Semoga 
terwujud.  (Penulis adalah kandidat doktor Universitas Padjadjaran (UNPAD) 
Bandung)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke