Jumat, 24 Desember 2010 10:58
Neo Nasionalisme dari Lapangan Hijau?
Oleh: AHMAD DAVID
ADAKAH sebuah nasionalisme baru tumbuh subur dari lapangan hijau?
Semula abai dan cuai. Betapa rapuh dan getas hal tersebut. Koor semangat
dan teriakan dukungan, kibaran bendera, nyanyian kebangsaan, kostum berlambang
seekor burung gagah sebagai sebuah isyarat. Mungkin sebuah ikhtiar membangun
'mercu tanda' dari serangkaian pencaharian identitas baru. Sekaligus 'perekat'
dari rasa keterpurukan dan ketidak-percayaan diri yang hampir paripurna
melingkupi gerhana persada Nusantara.
"Si Kapiten" Firman Utina anak Manado. Markus Horison bujang Medan. Maman
si ujang Sunda. Okto mutiara hitam dari Papua. Irfan Bachdim berdarah separuh
Malang-Belanda. Bambang Pamungkas dari Jawa bagian Tengah. Gonzalez, si wajah
Latin dari negeri Uruguay nun jauh dibenua Amerika bagian Selatan serta
pemain-pemain lainnya. Menyulam pernak-pernik hiasan warna-warni dalam tenunan
potret "Mini Indonesia" hari ini.
Sebuah mozaik keberagaman yang teruntai indah. Bak mutu manikam zamrud
khatulistiwa. Negeri bahari yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Dari
Mianggas sampai Rote.
Jangan lupakan sentuhan 'maestro' Alfred Riedl dari Austria yang telah
mengubah prestasi sepakbola negeri semeranjana yang pernah diasuhnya. Lelaki
berwajah dingin miskin ekspresi ini bak maestro musik klasik, Wolfgang Amedeus
Mozart (27 January 1756 - 5 December 1791). Komposer besar yang lahir di kota
Salzburg. Menghibur kemurungan dunia dengan sentuhan 600 musik klasik yang
hidup pada paruh kedua abad 18.
Sentuhan Riedl ini sudah terasa sejak awal konserta kejuaraan piala AFF
Suzuki 2010 dimulai. Dia berani memilih darah-darah muda, menggabungkan antara
pemain senior dan junior. Sekaligus melebur jadi kekuatan luar biasa.
Pendekatannya detail dan rinci.
Dari sisi teknik hingga non teknis. Namun, disiplin dan tegas. Seorang
Boaz Salosa yang memiliki keterampilan dan tenaga itu menepi dari timnas
lantaran tak disiplin. Suntikan pemain naturalisasi Gonzalez dan Irfan Bachdim
bak asupan 'vitamin' yang menambah vitalitas dan kreatifitas luar biasa di
lapangan hijau.
Corak permainan kesebelasan berjuluk Garuda Merah Putih ini menyerang
dengan memadukan benteng pertahanan yang tangguh. Terbukti 15 gol lahir dari
penyerang haus gol dan hanya kemasukan 2 gol. Itu pun di babak penyisihan Grup
A.
Kesebelasan tangguh di Asia Tenggara, merasakan bagaimana dahsyatnya
gigitan Garuda. Harimau Malaya membahang kepanasan dicengkeram 5-1. Tim kuda
hitam semacam Laos tak luput dimangsa setengah lusin gol tanpa balas.
Kesebelasan Gajah Putih yang digdaya selama belasan tahun di kancah
persepakbolaan Asia Tenggara tumbang mengenaskan dengan sepasang gol Bepe.
Pasukan Azkal yang dihuni delapan pemain naturalisasi yang bermain di klub-klub
daratan Eropa tak ketinggalan dilumpuhkan dengan pola permainan Timnas Garuda
yang memiliki pola seimbang; Menyerang dan bertahan yang sama-sama tajam dan
tangguh.
Kembali ke nasionalisme baru yang bertumbuh subur dari lapangan hijau.
Seolah sepakbola melebur perbedaan pandangan dalam ragam bidang dari anak-anak
bangsa. Persoalan dalam dan luar negeri yang selama ini carut-marut, seakan
tertutupi dengan kemeriahan euforia yang menjalar hebat dari pelbagai penjuru.
Dari Istana raja hingga gubuk jelata. Dari kota sampai kampung-kampung
terpencil. Sialnya, kaum politisi yang buntu penciuman seolah menemukan
'kantong-kantong suara' demi kepentingan politik belaka.
Satu sisi hadir kerinduan kepada zaman kejayaan generasi Ramang, Maulwi
Saelan, Aang Witarsa, Djamiat, dan Tan Liong Houw yang membuat dunia tercengang
setelah menahan imbang tim kuat Uni Soviet di Pra Olimpiade Melbourne 1956.
Kini Ramang, Maulwi Saelan, Aang Witarsa, Djami'at dan Tan Liong Houw;
Insha Allah menjelma Firman Utina, Okto, Gonzalez, Bachdim, Ridwan, Bepe,
Maman, Markus dan kawan-kawan.
Pada partai puncak yang bakal melahirkan sejarah dan juara baru. Kembali
Garuda bermuka-muka dengan "Harimau Malaya"?
Tentu dua partai laga tandang dan kandang ini akan bertempur seru.
Apalagi percikan gesekan antara dua negeri serumpun ini kerap-kali memanas?
Semoga permainan yang menjunjung sportifitas dan kejujuran dikedepankan dari
kedua belah pihak. Juga tanpa merusak dan menghina simbol-simbol negara kedua
belah pihak.
Dan ini diperjuangkan sekumpulan anak-anak muda yang datang dari aneka
latar belakang dan perbedaan dalam segala hal. Namun, berazzam hendak mengikat
simpul kolektifitas ingatan nasionalisme baru. Jika terwujud 'pernikahan'
sejarah dan juara baru yang bukan sekadar ditandai kenduri perjamuan dan
bagi-bagi medali, piala, hadiah bonus saja. (*)
*) Ahmad David Kholilurrahman, Penyair Melayu Jambi-Indonesia
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/