sepakbola kagak suka, musik kagak demen, ya ngga apa2 sih sebenernya.
cuman jangan merasa kalo aktifitas paling bermanfaat itu cuman 
push up, jogging sama ngeprol doang dong, sampe menganggap 
aktifitas yg ngga disukai itu dianggap ngga bermanfaat.

lagian apa pernah si juspik nulis sesuatu yg menarik di sini?
tiap hari cuman cerita cuaca di leiden, jumlah push up, dan 
lamanya jogging doang. itupun pake bumbu ngibul. 
soalnya ngga ada bukti dia bisa push up puluhan kali, atau 
jogging lebih dari 2 menit. 
iya, ngga ada bukti, kalo ngga ada bukti artinya pasti ngibul.

iya lho, tiap hari dia cerita begituan melulu di sini.
lagaknya sih sekolah di fakultas sastra, tapi secuilpun dia 
kagak punya kemampuan menulis dgn topik yg menarik.

setelah hampir semua member prol dia maki2 dan dia musuhi, 
mulai deh merasa kesepian.
pelan2 pantat kimhook dia jilatin, yg dijilatin mulai merasa keenakan.
abis itu lubang pantat wawan yg dikilik kilik pake ujung lidahnya.
wawan mulai kegelian dan bisa jadi mulai menikmati jilatan juspik.
lumayan nambah temen seperjuangan 2 orang pikirnya.

ngomong2, tarif marlene sejam brapa pik? nenek peot mah gratis kali yak.

--- In [email protected], "Jusfiq" <kesayangan.al...@...> wrote:
>
> 
> Kapasitas berfikir rezameutia yang sudah gila dan mikir pake kontol itu jelas 
> amat terbatas: ngedongeng, ngomong tentang sepak bola, ngoceh sedikit tentang 
> musik,  menyebar dusta dan fitnah serta pamer fikiran yang busuk, nista lagi 
> menjijikkan.
> 
> Nulis dia jelas nggak bisa.
> 
> Lalu dia bajak tulisan orang.
> 
> Tulisan dibawah dibajaknya dari karangan Taufiq Ismail.
> 
> http://anginsepoi.wordpress.com/2008/01/22/kisah-dibalik-lagu-ketika-tangan-dan-kaki-berkata-chrisye/
> 
> 
> --- In [email protected], "rezameutia" <rezameutia@> wrote:
> >
> > KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA
> > 
> > Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, 
> > "Bang,saya punya sebuah lagu.  Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, 
> > tapi saya tidak puas.  Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" 
> > 
> > Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan 
> > mesti selesai.  Dia bilang sebulan.  Menilik kegiatan saya yang lain, 
> > deadline sebulan itu bolehlah. 
> > 
> > Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik 
> > diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan 
> > diisi dengan suku kata.  Chrisye menginginkan puisi relijius.
> > 
> > Kemudian saya dengarkan lagu itu.  Indah sekali.  Saya suka betul.  Sesudah 
> > seminggu,tidak ada ide.  Dua minggu begitu juga.  Minggu ketiga inspirasi 
> > masih tertutup. Saya mulai gelisah.  Di ujung minggu keempat tetap buntu.  
> > 
> > Saya heran.  Padahal lagu itu cantik jelita.  Tapi kalau ide memang macet, 
> > apa mau dikatakan.  Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya 
> > dan saya mau bilang, "Chris, maaf ya, macet.  Sori." 
> > 
> > Saya akan kembalikan pita rekaman itu. 
> > 
> > Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 
> > 65 yang berbunyi, "A'udzubillahi minasy syaithonirrojim.  Alyauma nakhtimu 
> > 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu 
> > yaksibuun", saya berhenti. 
> > 
> > Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka 
> > akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang 
> > telah mereka lakukan." 
> > 
> > Saya tergugah.  Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!  
> > Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke 
> > larik-larik lagi tersebut.  
> > 
> > Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa 
> > masuk pas ke dalamnya. Bismillah.  Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah 
> > penulisan lirik itu selesai. 
> > 
> > Lagu itu saya beri judul "Ketika Tangan dan Kaki Berkata".  Keesokannya 
> > dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai".  
> > Chrisye sangat gembira.  Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi 
> > lirik tersebut. 
> > 
> > Berikutnya hal tidak biasa terjadilah.  Ketika berlatih di kamar 
> > menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis 
> > lagi, berkali-kali.
> > 
> > Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ?  Sebuah 
> > Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat 
> > Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang 
> > menggetarkan sekujur tubuh saya. 
> > 
> > Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu.  Liriknya 
> > benar-benar mencekam dan menggetarkan.  Dibungkus melodi yang begitu 
> > menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! 
> > 
> > Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu.  Baru dua baris, air mata 
> > saya membanjir.  Saya coba lagi.  Menangis lagi.  Yanti sampai syok!  Dia 
> > kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. 
> > 
> > Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki 
> > Berkata.  Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada 
> > kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. 
> > 
> > Sepanjang malam saya gelisah.  Saya akhirnya menelepon Taufiq dan 
> > menceritakan kesulitan saya.  "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat 
> > Yasin ayat 65..." kata Taufiq. 
> > 
> > Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya.  Karena sebagaimana 
> > bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.  Walau 
> > sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan 
> > saat mencoba merekam di studio. 
> > 
> > Gagal, dan gagal lagi.  Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas.  
> > Gila!  Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya 
> > merasakan hal seperti ini.  Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
> > 
> > Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu.  Erwin Gutawa yang sudah 
> > senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung 
> > mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda 
> > lagi. 
> > 
> > Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, 
> > menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.  Dengan 
> > susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. 
> > 
> > Dan tidak ada take ulang!  Tidak mungkin.  Karena saya sudah menangis dan 
> > tak sanggup menyanyikannya lagi.  Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu 
> > itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak 
> > terulang! 
> > 
> > Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, 
> > rasanya ingin berlari!  Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting 
> > dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan.  Kekuatan spiritual di 
> > dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan.  Itulah pengalaman batin saya 
> > yang paling dalam selama menyanyi.
> > 
> > Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. 
> > 
> > Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan 
> > luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya.  Bukan main.  Saya tidak 
> > menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari 
> > Akhir di hari kiamat kelak. 
> > 
> > Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin 
> > Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin 
> > biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan 
> > menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya.  Demikian 
> > sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
> > 
> > 
> > http://www.youtube.com/watch?v=sHOQHgOtBfc&feature=related
> > 
> > 
> > 
> > =================
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke