La Rose Djajasupena - Belanda
 
Aku membaca Koran Metro, harian yang dibagikan secara gratis di station ataupun 
kantin tempat aku bekerja belum lama ini. Disebutkan, sejak memasuki tahun 2009 
ada 17,500 Nederlanders menjadi daklozen (tunawisma).

Menurut Centraal Bureau voor de Statistiek, kebanyakan tunawisma adalah 
laki-laki berumur antara 30-50 tahun. Sedangkan tunawisma perempuan berusia 
antara 18-30 tahun. Sedangkan menurut Diana Kroeze dari Leger des Heils Noord 
di Groningen dan Leeuwarden, 85% laki-laki yang menjadi tunawisma umurnya 
rata-rata 39 tahun. Dalam beberapa hari ini, mereka hidup dalam kedinginan 
karena tinggal di luar, tidak punya rumah.

Menjadi tunawisma di Belanda dan tunawisma di Indonesia sangat berbeda. Di 
Indonesia, seseorang menjadi tunawisma karena memang hidupnya sudah miskin dari 
sananya. Atau, mereka terlahir dari orangtua yang sudah menjadi tunawisma 
karena terjerat kemiskinan selama hidupnya. Apakah tunawisma di Indonesia 
memang sudah di takdirkan menjadi miskin? Waaah, aku sendiri kurang tahu deh.

Kebanyakan para tunawisma di Belanda tidak punya teman dan familli yang mau 
menampung mereka. Umumnya, mereka menjadi tunawisma karena masalah yang mereka 
ciptakan sendiri. Misalnya, ia seorang junkie, banyak hutang, punya masalah 
dengan justitie (seperti kriminil). Masalah-masalah tersebut membuat mereka 
kehilangan rumah dan pekerjaannya. Ada juga yang punya psychiatrische problem.

Sejak dilahirkan ke dunia, mereka sebenarnya tidak dilahirkan untuk menjadi 
miskin. Setiap bayi yang lahir di Belanda mendapat uang tunjangan. Besarnya 
disesuaikan umur si anak tergantung keperluan dan kebutuhan anak sampai mereka 
berumur 18 tahun.

Setelah mereka dewasa, jika belum bekerja, mereka bisa meminta uang tunjangan 
sosial ke pemerintah. Atau mereka meneruskan sekolah sampai selesai kuliah dan 
mendapat pekerjaan.

Semua orang di Belanda sama. Tidak ada yang kaya atau pun miskin. Masing-masing 
mempunyai uang dan mendapatkan uang, walau penganguran sekalipun. Para 
penganguran mendapatkan uang lebih dari cukup untuk kebutuhan hidupnya. Cukup 
untuk membayar rumah, listrik, gas, dan makan. Malah, mereka masih mendapat 
uang liburan setiap tahun, sekitar satu bulan gaji. Hanya, mereka tidak bisa 
mempergunakan uang dan hidupnya secara normal. Jadi salah sendiri kalau sampai 
seperti itu.

Meskipun kebutuhan hidup ditunjang oleh pemerintah, ada saja yang 
menyalahgunakan pemakaiannya. Uang yang seharusnya cukup untuk membayar rumah, 
listrik, gas, dan makan digunakan untuk membeli drugs, alkohol, dan berbuat 
kriminal. Akibatnya, mereka tidak bisa membayar sewa rumah dan listrik tepat 
waktu. Akhirnya, mereka menunggak iuran selama beberapa bulan hingga diusir 
dari tempat tinggalnya. Setelah keluar dari rumah, tidak mudah untuk 
mendapatkan rumah kembali karena bagian perumahan sudah tidak percaya lagi 
untuk menyewakan rumahnya kepada mereka.

Melihat tunawisma di Belanda di jalanan atau station tidak membuatku merasa 
kasihan. Aku pun tidak mau memberi uang satu sen pun. Karena, para tunawisma 
ini sebenarnya bisa bekerja kalau mereka mau. Mereka bisa bekerja di pabrik, 
misalnya, atau di bagian cleaning service. Pokoknya mereka bisa mengerjakan 
apapun yang mereka bisa asalkan tidak memiliki masalah dengan dirinya sendiri, 
terutama masalah drugs dan malas.

Tidak ada satu orang pun yang akan mengasihani mereka, biarpun saudara kandung 
sendiri. Mereka mempunyai kehidupan sendiri yang tidak ingin diganggu. Sebab, 
mereka menjadi tunawisma akibat kesalahan sendiri. Apabila sudah terjadi 
seperti itu, mereka sudah menjadi urusan pemerintah, bukan urusan saudaranya 
atau pun temannya.

Selama menjadi tunawisma, mereka bisa tinggal di rumah penampungan, mendapat 
makanan enak dan uang saku setiap minggu dari pemerintah. Semua kebutuhan 
mereka akan ditanggung agar para tunawisma bisa kembali hidup normal seperti 
semula. Tetapi semua itu membutuhkan waktu yang sangat lama, bisa sampai empat 
atau lima tahun. Mereka akan mendapatkan terapi dari yayasan sebelum akhirnya 
kembali ke kehidupan normal.

Tunawisma, Drugs, dan Hutang
Drugs dan hutang selalu jadi pokok masalah besar dengan tunawisma ini. Sebelum 
mereka menjadi benar-benar bangkrut dan menjadi tunawisma , pemerintah 
sebenarnya sudah menolong mereka agar terlepas dari jeratan hutang-hutangnya. 
Karena, setiap warga yang bermasalah dengan hutang, urusannya akan diambil alih 
oleh pemerintah dan dibantu untuk mengatasi hutang-hutangnya dengan bunga 
sangat rendah.

Mereka yang mempunyai hutang dibebaskan dari hutang pokok. Paling tidak, mereka 
hanya dianjurkan membayar 10% dari hutang-hutangnya itu. Bukankah itu sudah 
sangat membantu karena mereka tidak diharuskan membayar 100% hutangnya.

Pihak Bank pemerintah akan mengontak langsung para kreditor dan bernegosiasi 
agar hutang-hutang mereka yang bermasalah bisa dibayar cukup 10% dari seluruh 
hutangnya. Kalau pihak kreditor keberatan, maka masalahnya akan dibawa ke jalur 
hukum. Tetapi, pada mumnya, para kreditor akan setuju. Kalaupun sampai dibawa 
ke jalur hukum, kebanyakan sih para kreditor kalah. Mereka mau tak mau harus 
menerima para debitur untuk membayar hutang sesuai kemampuannya.

Kalau pihak kreditor setuju, pihak bank pemerintah yang akan membayar langsung 
semua hutang-hutang tunawisma yang sudah disepakati. Dan pihak yang berhutang 
akan mencicil ke bank pemerintah dalam jangka tiga tahun dengan jumlah cicilan 
sekecil mungkin.

Kalau mereka yang sudah di tolong oleh bank tidak taat dengan aturan-aturan 
yang sudah di tetapkan oleh bank, semua penghasilannya akan diambil langsung 
oleh bank. Mereka hanya mendapat uang makan setiap minggu dari pihak bank. 
Jadi, bank yang akan mengelola dan mengatur semua urusan keuangan para 
kreditor, mulai bayar sewa rumah, listrik, gas sampai semua masalah hutangnya 
beres.

Tunawisma yang kehilangan rumah akibat drugs dan alkohol umumnya susah diatur. 
Akhirnya, mereka malah terlibat kriminal, masuk penjara dan kehilangan rumah 
tinggal serta pekerjaannya. Setelah keluar dari penjara, sangat susah dan butuh 
waktu agar bagian perumahan bersedia memberi mereka rumah sewaan.

Akhirnya, mereka menjadi tunawisma yang luntang-lantung di jalanan sampai ada 
pihak dari pemerintah yang mengatasi masalah mereka lagi. Tetapi, meskipun 
tidak memiliki tujuan, selama mereka mempunyai BSC/Sofi nummer (security 
number), mereka bisa mengajukan untuk meminta uang tunjangan sosial ke 
pemerintah. Jumlahnya memang sedikit mereka tidak memiliki rumah dan alamat 
yang jelas, selain biasanya hanya beralamat di postbox di kantor pos.

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/26/2211/nasib_tunawisma_di_belanda




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke