Bersyukurlah ada Gayus hingga rakyat banyak bisa menilai apa yang terjadi dalam 
sistem pemerintahan di Indonesia dialam demokrasi sekarang ini. Apakah tidak 
aneh kalau Gayus yang mampu keliling-keliling di LN selama dalam masa tahanan 
bukannya menghilang, tapi malahan kembali pulang ke Indonesia? Dalangnya pasti 
sangat kuat.


--- In [email protected], "Jusfiq" <kesayangan.al...@...> wrote:
>
> 
> Indonesia yang dikuasai bedebah...
> 
> --
> 
> Mafioso Gayus
> 08 Januari 2011 00:00 WIB      
> 
> TIDAK ada lagi kata yang tepat untuk mengungkapkan kejengkelan kita terhadap 
> kelakuan Gayus Tambunan. Dalam status ditahan, Gayus bebas berkeliaran di 
> luar. Tidak cuma pelesiran ke Bali, tapi bisa bolak-balik ke luar negeri 
> menggunakan nama palsu Sony Laksono.
> 
> Polisi disogok, hakim disumbat, jaksa disuap, dan terakhir keimigrasian 
> dilumpuhkan.
> 
> Kehebatan Gayus melumpuhkan semua institusi penegak hukum di Tanah Air lahir 
> dari kehadiran dia dalam lingkungan mafia pajak. Dengan uang berlimpah dari 
> perannya 'membantu' urusan pajak korporasi, dia menjadi raja kecil. Bila si 
> raja teri mampu memorak-porandakan benteng penegak hukum, bisa dibayangkan 
> betapa dahsyatnya kemampuan raja-raja kakap.
> 
> Kemampuan raja-raja mafioso menyumbat mulut aparatur yang rakus dan mati rasa 
> dengan uang, itulah yang menyebabkan para mafioso menciptakan kadernya di 
> lingkungan birokrasi. Itulah yang menyebabkan krisis moralitas. Orang baik 
> dan jujur dianggap berbahaya dan harus disingkirkan dengan berbagai cara.
> 
> Kalau benteng-benteng keadilan dan kebenaran sudah menjadi organisasi yang 
> bertekuk lutut di hadapan mafioso, matilah penegakan hukum. Sirene bahaya 
> seharusnya dibunyikan dengan lengking dan bertalu-talu.
> 
> Kasus Gayus yang amat memalukan haruslah pula dijadikan bukti untuk mengakui 
> bahwa kejahatan, korupsi, dan kebohongan sudah melekat dalam perilaku 
> birokrasi, khususnya lembaga penegak hukum. Argumen bahwa yang jahat itu 
> orang bukan lembaga, semakin hari semakin terbantahkan.
> 
> Maaf kepada hakim, polisi, dan jaksa yang baik dan benar yang konon masih ada 
> dan banyak. Tetapi kehebatan dan kejujuran kalian tidak cukup kuat untuk 
> menjadi mainstream antikorupsi.
> 
> Kejengkelan terhadap tindakan Gayus hanyalah kejengkelan masyarakat madani. 
> Yang menganggap negara ini dalam bahaya karena krisis kepercayaan terhadap 
> penegakan hukum hanya hidup dan bergejolak di luar lembaga pemerintahan.
> 
> Tidak ada sense of crisis yang meledak di kalangan birokrasi dan para 
> pemangku kekuasaan melihat sepak terjang Gayus. Tidak seperti erupsi Merapi 
> yang menyebabkan para pemimpin berebut kesempatan meneriakkan tanda bahaya. 
> Tidak ada rapat kabinet darurat, misalnya, yang digelar Presiden Susilo 
> Bambang Yudhoyono menanggapi kasus Gayus.
> 
> Presiden masih berbahasa standar. "Usut tuntas kasus Gayus." Perintah yang 
> terlalu datar untuk sebuah kasus yang teramat gawat. Kepolisian masih berkata 
> standar juga. "Kami mengumpulkan fakta hukum, yang berkembang tidak secepat 
> dan searah dengan opini dan nurani publik."
> 
> Kendati belum cukup mengobati kerisauan publik, apa yang dilakukan Jaksa 
> Agung Basrief Arif mencopot jaksa di Bojonegoro karena meloloskan joki untuk 
> napi Kasiem memberi contoh tentang sense of crisis.
> 
> Kasus Gayus tidak boleh dipagar hanya pada soal jalan-jalan ke Bali dan luar 
> negeri. Yang jauh lebih berbahaya bagi negara adalah kasus mafia pajak yang 
> terbukti melumpuhkan seluruh harkat dan martabat Republik.
> 
> Publik jengkel dan mulai capek. Di tengah kehabisan kata-kata mengekspresikan 
> kejengkelan, seorang seniman berteriak lantang tentang negeri para bedebah. 
> Kita semua terbelalak!
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke