Refleksi : Diberitakan bahwa ayah ibu Ani ini yaitu jenderal Eddhy Sarwo 
mempunyai peranan penting dalam pembantaian masal pada tahun 1965/1966. 
Diperkirakan paling kurang satu juta manusia disembelih. Demi demokrasi 
berazaskan HAM dimana sebagai calon presiden  maka sepatutnya masalah 
pembantaian tsb menjadi perhatian umum.

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/07/193621/68/11/Ibu-Ani-Dinasti-dan-Demokratisasi


Ibu Ani, Dinasti, dan Demokratisasi 

Jumat, 07 Januari 2011 00:00 WIB      3 Komentar 
Penulis : Abd Rohim Ghazali Peneliti senior PRIDE Indonesia; penasihat The 
Indonesian Institute


Pengalaman menunjukkan jika ingin terpilih menjadi presiden, perlu waktu lama 
untuk sosialisasi agar meraih popularitas yang tinggi. Apalagi dalam kondisi 
masyarakat yang relatif kurang percaya--bahkan apriori terhadap elite-elite 
politik seperti sekarang-- upaya-upaya khusus untuk mengembalikan kepercayaan 
itu sangat dibutuhkan agar popularitas yang muncul dibarengi juga dengan 
elektabilitas. Tanpa popularitas dan elektabilitas, jabatan presiden hanya 
sebatas angan-angan. 

Sebagai seorang istri Presiden yang sudah berjalan selama lebih dari satu 
periode, Ibu Kristiani Herawati Susilo Bambang Yudhoyono (Ibu Ani) tentu paham 
betul dengan syarat-syarat menjadi (calon) presiden. Oleh karenanya, sangat 
wajar jika namanya mulai dimunculkan dari sekarang. Salah besar, sebagian 
kalangan yang mengatakan pemunculan nama Ibu Ani masih terlalu dini. 

Selain didesak waktu, ada dua hal yang meniscayakan Ibu Ani maju sebagai 
capres. Pertama, untuk menjaga kontinuitas trah kekuasaan SBY. Ungkapan iklan 
produk salah satu merek furnitur, "kalau sudah duduk, lupa berdiri" memang 
sangat tepat menggambarkan betapa kekuasaan itu nikmat, baik dalam pengertian 
positif maupun negatif. Jika bukan karena undang-undang yang membatasi, tentu 
sulit mencari orang yang secara sukarela mau melepaskan kenikmatan itu. 

Kedua, ada fenomena yang kian mentradisi bahwa penguasa yang berakhir dari 
jabatannya, kemungkinan besar akan menghadapi masalah hukum. Maka tak sedikit 
mantan penguasa, terutama pejabat eksekutif, yang masuk penjara. Penyebabnya 
bisa karena mantan pejabat itu benar-benar secara sengaja korupsi, atau bisa 
juga karena jeratan birokrasinya yang koruptif sehingga secara tak sengaja atau 
'dipaksa' korupsi. 

Presiden SBY dan keluarganya tentu sadar betul dengan fenomena ini. Untuk 
mencegah kemungkinan buruk (jeratan hukum) setelah habisnya masa jabatan 
presiden, cara yang paling efektif adalah dengan memperpanjang jabatan itu, 
dengan menyiapkan pengganti dari kerabat yang paling dekat. Dan sejauh ini, Ibu 
Ani dinilai paling siap, dibandingkan saudara-saudaranya yang popularitasnya 
masih sangat rendah, atau anak-anaknya yang masih terlalu muda. 

Jika keluarga SBY gagal mempertahankan jabatan kepresidenan, bukan tidak 
mungkin, nasib yang kini menimpa keluarga Soeharto, kelak akan dialami pula 
oleh keluarga SBY. Maka, mimpi buruk itu, sebelum benar-benar terjadi, harus 
dicegah sejak dini. 

Penguatan politik dinasti 

Sepanjang 2010, boleh dikatakan merupakan tahun penguatan politik dinasti di 
Tanah Air. Disebut penguatan karena sebelum tahun 2010, politik dinasti sudah 
berkembang. 

Tokoh-tokoh politik yang berpengaruh di negeri ini seperti Soekarno, Soeharto, 
Habibie, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Agung Laksono, dan Hatta Rajasa, 
memiliki anggota keluarga (saudara, anak, kerabat) yang menduduki jabatan 
politik. 

Untuk di tingkat daerah, sejumlah gubernur tak mau kalah dengan para pejabat di 
tingkat pusat dalam membangun politik dinasti. Sebut saja seperti Gubernur Atut 
Chosiyah di Banten, Gubernur Syahrul Yasin Limpo di Sulawesi Selatan, Gubernur 
Alex Noerdin di Sumatera Selatan, dan lain-lain. 

Pada tahun 2010 politik dinasti diperkuat dengan tampilnya para istri 
menggantikan suami, seperti (1) Sri Suryawidati menjadi Bupati Bantul 
menggantikan suaminya, Idham Samawi; (2) Widya Kandi Susanti menggantikan 
suaminya, Hendi Budoro, sebagai Bupati Kendal; (3) Anna Sophanah menjadi Bupati 
Indramayu menggantikan suaminya, Arianto MS Syafiuddin (Yance); dan (4) 
Haryanti Sutrisno, menggantikan suaminya, Sutrisno, menjadi Bupati Kediri. 

Selain itu, ada juga anak yang menggantikan ayahnya seperti Bupati Kutai 
Kartanegara, Kaltim, Rita Widyasari yang menggantikan Syaukani Hasan Rais, dan 
Wali Kota Cilegon, Banten, Tubagus Imam Ariyadi yang menggantikan Tubagus Aat 
Syafaat. 

Maka, jika benar Ibu Ani akan menggantikan suaminya, tentu akan menjadi titik 
kulminasi bagi penguatan politik dinasti di Tanah Air. Selain itu, kemunculan 
Ibu Ani tentunya akan menumbuhkan rasa nyaman bagi para istri yang sudah 
berhasil menduduki jabatan yang ditinggalkan suaminya. 

Menghambat demokratisasi 

Ada yang berpendapat, politik dinasti tak ada masalah dalam sistem demokrasi. 
Bahkan ada yang mengatakan, antara keduanya tak bisa dikaitkan secara langsung. 
Seorang istri tak bisa disebut menggantikan jabatan suaminya, atau anak 
mewarisi jabatan ayahnya. Karena baik istri maupun anak, memperoleh jabatan itu 
lantaran dipilih langsung rakyat. Disebut politik dinasti jika istri atau anak 
itu mendapat jabatan karena ditunjuk atau ditetapkan, bukan dipilih. 

Pendapat ini, menurut saya, bisa benar, bisa juga salah. Benar jika demokrasi 
semata-mata dilihat secara prosedural. Tetapi salah karena secara substantif, 
politik dinasti bertentangan dengan demokrasi. Setidaknya ada tiga argumen yang 
bisa dikemukakan betapa politik dinasti bertentangan dengan demokrasi, atau 
setidaknya menjadi hambatan yang serius bagi demokratisasi. 

Pertama, politik dinasti mengabaikan prinsip-prinsip pemilihan umum yang fair. 
Para kerabat yang menggantikan posisi incumbent sudah pasti akan mengambil 
manfaat, sekurang-kurangnya popularitas. Pemanfaatan yang paling berbahaya 
terjadi jika otoritas dan fasilitas incumbent disalahgunakan secara maksimal 
untuk memenangkan para kerabat. 

Kedua, politik dinasti akan menjadi hambatan serius bagi terealisasinya hak-hak 
politik rakyat yang seharusnya memiliki akses dan kesempatan yang sama dalam 
(memperoleh dan memanfaatkan jabatan) politik. Dan, ketiga, politik dinasti 
juga bisa merusak sistem kaderisasi partai politik. Penguatan 
institusionalisasi politik kepartaian menjadi terhambat karena peluang 
kader-kader terbaik partai diambil alih para kerabat yang baik dari segi 
kuantitas kaderisasi maupun kualitas sebenarnya belum memenuhi persyaratan. 

Demikianlah, kemunculan Ibu Ani sebagai capres bisa dipahami sebagai fenomena 
penguatan politik dinasti di Tanah Air. Wajar terjadi, namun harus tetap 
dikritisi. Wallahualam! 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke