HADIAH TAK TERNILAI Untuk Anda…http://www.buktidansaksi.com/blogs
HADIAH TAK TERNILAI

Untuk Anda…

Selamat Tahun Baru! Inilah realisasi 
janji kami untuk memberikan dua hadiah surprise kepada Anda yang 
berpartisipasi dalam memberikan komentar terhadap isu gambar nabi 
Muhammad diakhir tahun.

Yaitu berupa dua buah lukisan-langka secara online.

Kenapa begitu bernilai? Ya, pertama-tama
 karena lukisan ini langka, dan berkaitan dengan sosok Nabi yang 
dimuliakan, dan yang sekaligus menghadirkan sebuah renungan paling dalam
 atas kontroversinya yang terdampak, yang belum terselesaikan …
Mari kita bersama membuka hadiahnya, dimulai dengan yang pertama:
 
Nabi Muhammad waktu Remaja
 
(A). Lukisan wajah nabi Muhammad remaja
Muhammad Remaja, hasil lukisan seorang artis wanita Iran: Oranous Ghasemi.

Oranous adalah seorang Muslim yang tinggal di Teheran. Ia menjual lukisan 
ikonik ini secara online. Tampaknya hal ini melanggar hukum Islam dan Iran. 
Sebagian Muslim marah karena lukisan tersebut dianggap menghujat Nabi. Namun
 sebagian Muslim beranggapan bahwa lukisan ini tidak menghina kenabian 
Muhammad, sebab sipelukis hanya menggambarkan seorang Muhammad remaja 
saja, yaitu sebelum dikunjungi oleh malaikat Jibril. Ini berarti bahwa 
lukisan tersebut – dalam konteksnya — bukanlah lukisan terhadap seorang 
Nabi Muhammad, melainkan seorang anak muda Muhammad. Tak ada unsur 
hujatan apapun yang dapat dikaitkan kepada si pelukis.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana Muslim Indonesia melihat masalah pelukisan 
Muhammad pribadi, sebagai manusia dan nabi?

Kita lemparkan isu ini sebagai forum diskusi bebas kita disini, secara beradab. 
Pertama-tama — kilas balik dari Al-Quran dan Hadis.
 Apakah teks-teks suci Islamik menyatakan bahwa penggambaran image 
Muhammad atau para nabi lainnya (termasuk nabi Ibrahim, Musa dan Isa 
dll) adalah terlarang? Adakah yang mengharamkannya secara shahih dan dan
 apa alasannya? Yang kita ketahui hanyalah terbatas pada beberapa 
pelarangan tradisional berkenaan dengan kenabian, dengan alasan khusus 
untuk mencegah peng-idola-an Nabi. Jadi bukan gambarnya, melainkan 
pengkultusannya! Tetapi karena pengidolaan demikian bisa dan telah 
terjadi juga lewat pemujaan oral dan tulisan – semacam bacaan puitis 
atau kaligrafi khusus — maka tentu alasan pelarangan tersebut menjadi 
lemah, jauh dari ke-shahih-an.
Pada tahun 1999, Ahli seni Islam Wijdan 
Ali, menulis sebuah ikhtisar ilmiah mengenai tradisi Muslim dalam 
menggambarkan Muhammad. Ikhtisar ilmiah ini bisa di download di sini 
(here) dalam format pdf berikut begitu banyak lukisan-lukisan sosok 
Muhammad. Dalam karangan itu, Ali mendemonstrasikan bahwa larangan 
menggambar Muhammad tidak muncul hingga akhir abad ke 16 atau 17, 
kendati ada klaim-klaim palsu dari media bahwa orang-orang Muslim 
senantiasa dilarang untuk membuat gambar Muhammad.
Lukisan Muhammad

Illustration showing Mohammed (on the right) preaching his final

sermon to his earliest converts, on Mount Ararat near Mecca;

taken from a medieval-era manuscript of the astronomical treatise

The Remaining Signs of Past Centuries by the Persian scholar al-Biruni;

currently housed in the collection of the Bibliotheque Nationale, Paris

(Manuscrits Arabe 1489 fol. 5v). This scene was popular among

medieval Islamic artists, and several nearly identical versions of this

drawing (such as this one [shown in detail below] and this one) were

made in the Middle Ages.

Tetapi bahkan belakangan ini, kita 
mendengar bahwa Dewan Fiqih dari Muslim World League (salah satu NGO 
Islamik terbesar, berkedudukan di Mekah,) mengeluarkan statemen perang 
terhadap pembuatan film tentang Muhammad dan para Sahabatnya (!) bukan karena 
takut pengidolaan, melainkan takut akan pelecehan dan penghujatan Islam:

“Potret demikian akan menyebabkan pelecehan dan devaluasi dari 
tokoh-tokoh Islam, dan memakainya secara beralasan untuk mengolok-olok 
Islam”. (Darul Ihsan Media Desk)

Tampak dilemma terbesar Islam disini 
adalah bahwa haram-halalnya sebuah penggambaran fisik Muhammad 
tergantung pada rentang waktu sejarah dan kekuasaan dibaliknya, bukan 
pada ke shahihan pembenaran dari ayat-ayat sucinya. Kita tahu bahwa 
penggambaran sebuah pesan berawal dari otak (imaginasi) setiap manusia, yang 
kemudian dituangkan secara oral (lukisan-kata) dan non-oral yang umumnya 
dituangkan secara tulisan gambar atau tulisan-huruf  (seperti yang kita 
saksikan pada zamannya nabi Muhammad), dimana pesan dan kesan “digambarkan” 
lewat goresan gambar, termasuk tulisan Arab.  Dan lewat rentang sejarah yang 
berjalan, dunia kemudian menyaksikan lagi visualisasi dalam bentuk image film 
atau cinematic depictions!
 Jadi sebuah ide gambar Muhammad yang mau diwujudkan dalam pelbagai cara
 goresan, lukisan atau image itu sesungguh-nya tidak pantas 
didiskriminasikan haram-halalnya sepanjang ide-dasarnya sama baiknya! 
Yang jauh lebih membedakan sesungguhnya adalah tafsir prejudices
 (prasangka) oleh otoritas Muslim yang berbeda waktu, kuasa dan mood 
dibaliknya. Tetapi, oleh otoritas Islam yang bersangkutan, pergeseran 
semacam ini sering diartikan sebagai suatu kemajuan, ketika essensinya 
justru berupa suatu  kemunduran…

Kita telah melihat betapa terbukanya 
deskripsi tentang Muhammad secara fisik sebelum abad 16. Tak ada pihak 
Islam manapun yang mengganggu gambarnya, sipelukisnya, sipenadah, atau 
tempat penyimpanannya. Disamping itu dunia juga menemukan banyak 
statemen dari para sahabat Nabi sendiri tentang “pelukisan” deskripsi 
fisik Muhammad dalam teks tulisan Hadis dan Sirat, yang
 tentu saja bermula dari oral. Banyak detail tentang kehidupannya 
sehari-hari, tampang fisiknya, makanan favoritnya, pakaian yang dipakai,
 senyum dan dampaknya kesekeliling yang melihat dia, semuanya 
digambarkan dalam apa yang disebut “shamail” (bentuk 
luar). Bahkan ditulis dan dibingkaikan secara artistic untuk memenuhi 
selera pemujaan! Jikalau sudah demikian, maka atas alasan apakah yang 
masih masuk akal untuk menggantikan status gambar Muhammad yang tadinya 
HALAL, kini mendadak menjadi HARAM, sepanjang spirit penggambarannya 
memang tidak dimaksudkan untuk menghujat sosok yang digambari? Bukankah 
setiap Muslim rindu akan Nabinya sedemikian sehingga bertubu-tubi 
menaikkan shalawat nabi setiap harinya? Kita petikkan penggambaran Nabi 
secara tekstual, dari otoritas sahabat Nabi yang terdekat, Ali (ra) dan 
Aisyah (ra).

Ketika Ali mendeskripsikan tampang Nabi, ia berkata: “Tubuhnya
 tidak terlalu tinggi ataupun terlalu rendah, melainkan berukuran sedang
 saja. Rambutnya tidak terlalu keriting maupun lurus, melainkan campuran
 keduanya… Ia berkulit putih kemerahan, mempunyai mata hitam yang lebar 
dan bulu mata yang panjang. Sendi-sendinya dan bidang bahunya 
menonjol…Diantara kedua bahunya terdapat sebuah tanda bercak kenabian… 
Ia memiliki dada yang lebih bagus ketimbang pria lainnya, mengucapkan 
kata-kata jujur melebih selainnya, mempunyai sifat teramat lemah lembut 
dan keturunan yang paling terhormat. Siapa yang melihatnya berdiri akan 
mengaguminya mendadak, dan siapa yang berbincang dengan dia akan 
menyukainya. Mereka yang mendeskripsikan dirinya berkata bahwa mereka 
belum pernah melihat seorang lainpun seperti dia, sebelum atau 
sesudahnya” (Hadis Tirmidhi, no.1524).
Aisyah (ra) meriwayatkan: “Rambut 
Rasulullah yang diberkati itu lebih panjang dari rambut yang mencapai 
lubang telinga, tetapi lebih pendek dari bahu”  (Hadis Tirmidhi).
Bahkan teks Ali (ra) tersebut dibingkaikan seperti gambar dibawah ini dan tidak 
ada siapapun yang memprotesnya.
(http://www.theprophetmuhammad.org/appearance.html)
 
Text Quran

A text in which Ali (ra) describes the physical and moral beauty and 
the perfect behavior of the Prophet (saas), as well as the love and 
respect people feel for him.
Kedua – respons Muhammad tentang penggambaran tampang nabi-nabi. Bagaimana 
Muhammad sendiri memperlakukan “lukisan” nabi lainnya? Ini bisa dijadikan tolok 
ukur
 kias yang shahih! Dan ternyata beliau justru ikut terlibat dalam urusan
 “melukis” tampang para nabi lainnya (!) khususnya melukis sosok Musa 
dan Isa Al-Masih dalam otaknya, mimpinya, dan pernyataannya. Jikalau 
gambaran tampang nabi-nabi boleh dilukiskan oleh seorang nabi lainnya 
untuk diinformasikan kepada umat manusia, maka masih haram-kah gambaran 
semacam itu bila diteruskan oleh manusia? Kenapa gambaran-gambaran 
otentik tersebut bahkan samasekali tidak mengesankan orang Yahudi, 
Nasrani, maupun Muslim sendiri, sehingga tidak tampak memberi dampak 
apapun terhadap mereka dan kita? Jawaban yang masuk akal hanyalah: “Itu 
hanyalah side-message yang tidak berdampak kepada Allah”, tak usah dibikin 
ribut oleh manusia dengan pelbagai fatwa yang saling tarik menarik!
Nabi saw bercerita: “Pada suatu 
malam waktu saya tidur dekat Ka’bah saya bermimpi. Ketika itu saya 
melihat ada seorang laki-laki kemerah-merahan warna kulitnya, amat bagus
 sekali, rambutnya terurai antara bidang bahunya dengan tersisir baik, 
kepalanya menitikkan air licin berkilat …dan ia bertawaf di Ka’bah. Saya
 bertanya: “Siapakah ini?” Mereka menjawab: “Inilah Almasih anak 
Maryam”. (HS Bukhari 1499).
Diriwayatkan dari Ibn Abbas: Nabi 
berkata: “Pada suatu perjalanan malam saya ke Surga, saya melihat 
tampang Musa yang tinggi, rambut yang ikal kecoklatan, seperti salah 
satu lelaki dari suku Shan’awa, dan saya melihat Yesus, seorang yang 
tingginya sedang-sedang dengan warna wajah yang moderat putih cenderung 
kemerahan, dan rambut yang lurus lemas…” (Shahih Bukhari 4:54:462).
Diriwayatkan dari Abu Huraira: Rasul
 Allah berkata, ““Pada suatu perjalanan malam saya ke Surga, saya 
melihat tampang Musa yang kurus dengan rambut lurus lemas, tampak 
seperti salah satu lelaki dari suku Shanua; dan saya melihat Yesus yang 
berperawakan sedang dengan muka kemerahan seolah ia baru keluar dari 
kamar mandi…” (Shahih Bukhari 4:55:607).
Ketiga: absennya sensitivitas timbal-balik (resiprokal) yang adil terhadap 
Kristiani.

Muslim selalu berkata: “Kami selalu menghormati Yesus, kenapa kalian 
Kristen tak menghormati Muhammad?” Inilah retorika yang amat salah dan 
menyesatkan banyak orang yang kurang tahu. Muslim sama sekali tidak 
menghormati ‘Yesus Anak Tuhan’, melainkan menghormati ‘Isa anak Maryam’. Islam 
menajisi Yesus sebagai Anak Allah, melecehi keilahian Yesus sampai-sampai 
melaknati orang
 Nasrani (sura 9:30, 4:171). Islam menyangkal Salib Kristus dan 
mengkafiri Kristen/ Ahli Kitab. Sebagai orang kafir, Kristen dikenakan 
pelbagai ketidak-adilan, mulai dari dalam mendirikan gereja, beribadat, 
menginjil, bernyanyi, bahkan sampai berbuat kebaikan yang dicap sebagai 
alat kristenisasi.
 
Nabi Isa
HEBOH FILM “YESUS” BUATAN IRAN Sebuah
 film Yesus yang dituturkan dari perspektif Islam telah diluncurkan di 
Iran, menyebabkan berbagai reaksi dari komunitas Kristen dan Muslim. 
Diramu dari sumber-sumber Al-Quran, Injil kanonik ditambah dengan Injil 
Barnabas yang berada diluar Alkitab. Direktur film ini adalah orang  
Iran bernama Nader Talebzadeh, melihat filmnya sebagai jawaban Islam 
terhadap film sejenis “The Passion of the Christ”, karya besar Mel 
Gibson, namun yang dikatakannya sebagai sebuah “kesalahan”. (Wikipedia, 
The Messiah – Iranian film). 
Sementara Muslim melarang pihak 
non-Muslim untuk memvisualisasikan Muhammad dan para sahabatnya, namun 
Muslim membiarkan dirinya menikmati film Yesus yang dikreasikan dari 
pelbagai sumber yang digado-gadokan (Quran, Injil Kanonik, Injil palsu 
Barnabas) yang sangat menyakitkan hati kaum Kristiani, karena 
mencampur-adukkan sosok Kristus (dengan Isa Islamik dan Isa ala 
Barnabas) secara tidak bertanggung jawab, kecuali menghujat. Inikah ujud
 visualisasi Yesus yang dibolehkan bagi Muslim, sementara mereka 
memerangi visualisasi dari pihak non-Muslim yang selalu dianggap 
menghujat Muhammad?
Golden Rule absen 
disini. Semua pihak yang menuntut dan memperjuangkan keadilan sejati 
seharusnya memberlakukan sebuah rumusan yang paling universal: “Lakukanlah 
kepada orang lain apa yang Anda sendiri mau diperlakukan”.
 Inilah kritik terbesar ketika Islam yang selalu menuntut penghormatan 
dan keadilan, namun ia sendiri mengosongkan Golden Rule ini dari 
syariatnya yang Islam! Globalisasi bangsa-bangsa yang memimpikan satu 
hidup berdampingan secara damai sejahtera tanpa mengadopsi rumusan 
“kerjasama-doktrinal” yang paling universal dan measurable seperti 
Golden Rule ini, hanyalah dunia yang akan saling menghujat dan berperang
 dalam soal-soal yang sepele sekalipun! Semisal soal gambar menggambar. 
Buktinya?
 
Ilustrasi Muhammad
Lihatlah gambar sekenanya yang di atas; 
maka apapun yang dilukiskan disitu akan otomatis dianggap menghujat 
jikalau saya katakan kepada Anda bahwa  itu adalah gambar Muhammad!
Keempat – Fatwa yang membuat dunia terhenyak.
 
Vuvuzela di World Cup
Dunia – Islam dan non-Islam — dibingungkan dengan simpang siurnya 
ribuan fatwa dari pelbagai ulama di pelbagai belahan dunia setiap tahun.
 Breaking news tutup tahun melaporkan bahwa fatwa yang
 dikeluarkan oleh Uni Emirat Arab saja pada tahun 2010 melebihi 350.000 
fatwa, atau rata-rata 30.000 fatwa sebulan, atau 1.000 fatwa sehari. 
Termasuk apakah haram atau halal mengecat tubuh dengan bahan emas, atau 
bolehkah saudara tiri berjabat tangan dengan saudara mereka lainnya dari
 ibu yang beragama Kristen. Juga menfatwakan larangan makan bawang putih
 sebelum ke masjid, karena Muhammad terganggu dengan baunya (Shahih 
Bukhari 1:12:814 dll). Bahkan untuk turnamen sepak bola (merujuk pada World Cup 
musim panas di Afrika Selatan), suara terompet vuvuzela juga
 dikenakan fatwa, “Siapa pun yang membawa atau memperdagangkannya, harus
 memastikan bahwa kekuatan suara vuvuzela tidak boleh lebih dari 100 
desibel demi menghindari kerusakan orang yang mendengarnya.
(lihat gambar di atas, dan baca lebih lengkap di 
http://www.dailymail.co.uk/news/article-1342140/Love-vuvuzela-dont-nap-Muslim-scholars-issue-350-000-New-Year-fatwas.html#ixzz19Z1rmXgN).
Namun simpang siur fatwa dan ketetapan untuk visualisasi Muhammad juga terjadi.

Karena bermunculan fatwa-fatwa, maka sutradara asal Iran, Majid Majidi, 
berpacu dengan waktu untuk memproduksi film layar lebar tentang Nabi 
Muhammad saw, dan sejarah nabi waktu untuk memproduksi film layar lebar 
tentang Nabi Muhammad saw, dan sejarah nabi secara umumnya. Semua 
kericuhan ini turut memperlihatkan betapa penggambaran Nabi telah 
diprinsip-prinsipkan seolah soal hidup-matinya sebuah Islam.
HEBOH TIRU FILM YESUS: NABI MUHAMMAD DIPERANKAN  OLEH AKTOR FILM MAJID MAJIDI  
 
MAJID MAJIDI
Namun langkah Majid Majidi terbentur dengan beberapa fatwa terbaru 
yang dikeluarkan oleh Al-Azhar yang mengharamkan visualisasi Rasulullah 
saw dan para shahabat yang mulia. Koran Kuwait “Al-Wathan” menegaskan
 bahwa telah ada kesepakatan di antara sumber-sumber fiqih rujukan 
setingkat dunia Islam tentang larangan visualisasi pribadi Nabi Muhammad
 saw, bahkan menurut undang-undang Kuwait dianggap sebagai tindak 
kriminal.
Sebelumnya, Ketua Persatuan Ulama Dunia 
 DR Yusuf Qardhawi telah membolehkan visualisasi adegan-adegan shahabat 
nabi sesuai dengan ketentuan syariat kecuali para Nabi,
 Istri-istri Nabi, Khulafa Rasyidin, dan tiga orang shahabat yang 
dijamin surga (yaitu Abu Ubaidah, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin
 Awwam) karena kedudukan khusus mereka di kalangan para shahabat. Namun 
Mufti Besar Saudi menentang pendapatnya dengan tidak membolehkan 
visualisasi para shahabat secara keseluruhan walaupun dengan karikatur 
sekalipun. [abu roidah/Alarabiya.net].  Fatwa dari para Ulama — seperti 
halnya dengan Keputusan Hukum dari para hakim — sering terbukti salah, 
tidak masuk akal, lucu, inkonsistent, sepele atau mubazir karena tidak 
relevant. Dan fatwa terhadap visualisasi Nabi bisa-bisa termasuk kedalam
 total dari defisiensi itu semua!
Kelima — tampaknya semakin kita men-taboo-kan penggambaran nabi nabi,

semakin kita jauh masuk dalam kegelapan spiritual dan kebodohan.

Hikmat dan perilaku santun resiprokal memang diperlukan manusia dalam 
penayangan, namun penggambaran nabi yang wajar dalam bentuk apapun tidak
 pantas disangkutkan dengan iman, rukun, ibadah, pahala, murka atau 
laknat yang Tuhan pedulikan. Setan-lah yang mengkisruhkan substansinya 
sampai keluar porsi seperti kasus “hidup-mati”. Sebaliknya para ulama 
Muslim agaknya justru tidak usah bersusah-susah melarang pelukisan 
gambar diri Muhammad. Soalnya Muhammad sendiri telah menggariskan bahwa 
hanya manusia baik-baik saja yang dapat menggambar dirinya dengan benar 
(dan itu tidak dilarang!), sebaliknya setan dan antek-anteknya tak akan 
 mampu menyentuh gambaran tersebut. Dan ini ditegaskan berkali-kali  
oleh Bukhari dalam Shahihnya:
Narasi  Anas:  Nabi berkata, “Siapa saja yang telah melihat aku dalam mimpinya, 
maka pastilah ia betul melihat sosok saya, sebab  tak ada Setan yang dapat 
memalsukan tampang saya.” (S.Bukhari 9:87:123 /124/125/126).
Akhir kata:
Setelah Muhammad wafat, tampaknya tak 
ada otoritas Muslim yang dapat memutuskan apa yang dibolehkan dan apa 
yang tidak boleh tentang gambar Muhammad. Namun ulama Islam selalu bisa 
merujukkan dan memparalelkan isyu ini dengan kasus pengumpulan mushaf 
Al-Quran sendiri, dimana tadinya Zaid bin Tsabit menolak keras ide 
pengumpulan Al-Quran dalam satu mushaf dengan menolak bujukan Abu Bakar 
dan Umar: “Bagaimana kalian akan melakukan suatu pekerjaan yang tidak 
dilakukan oleh Rasulullah saw?” Memang Muhammad selama hidupnya tidak 
melakukan dan tidak memerintahkan atau memberi contoh kepada siapapun 
untuk mengumpulkan ayat-ayat lepas Quran menjadi satu mushaf komplit, 
namun akhirnya apa yang ditinggalkan kosong oleh Muhammad ternyata 
pantas juga untuk diisi oleh umat.
Kini, melebihi nabi-nabi lainnya, 
Muhammad justru memberi contoh dengan menjadi “pelukis gambar dan 
karikaturist ” nabi-nabi tertentu. Beliau adalah satu-satunya nabi yang 
tidak risi bermimpi dan berimajinasi tentang wajah dan tongkrongan Nabi 
Musa dan Isa misalnya.
“Saya melihat Nabi-nabi Isa, Musa, 
dan Ibrahim. Isa merah kulitnya, kriting rambutnya, lebar dadanya. Dan 
Musa kemerah-merahan, tinggi besar, tiada keriting rambutnya, 
seolah-olah beliau dari kaum Zuth.”

(HS. Bukhari no.1498).
Jikalau Muhammad tidak pantang untuk 
melukiskan tampang Isa dan Musa untuk disebarkan kepada umatnya, 
bukankah para ulama lebih bebas bertindak ketimbang Zaid yang akhirnya 
meloloskan juga pengumpulan “mushaf-Muhammad”, kini gambar Muhammad?
Akhirnya, Muhammad pulalah yang tercatat pernah “mengekalkan” gambar Isa di 
Ka’bah! (namun yang kini entah bagaimana nasibnya):
Sejarawan Al-Azraqi (w. 837) setelah 
mempelajari bukti-bukti  penggalian arkeologis menulis sbb, ‘Mereka 
memasang di Ka’bah gambar-gambar para nabi, pohon-pohon dan malaikat. 
Anda bisa melihat gambar Ibrahim, Yesus dan malaikat.’ Setelah 
penaklukan Mekah tahun 632 M, Muhamad memasuki daerah keramat dalam 
Ka’bah itu, lalu memerintahkan diambilnya air dari sumber Zamzam. Ia 
kemudian meminta selembar kain kasar dan memerintahkan agar kain 
tersebut dibasahi untuk menggosok/menghilangkan semua gambar. Namun, 
Muhamad menaruh tangannya pada gambar-gambar Yesus dan mengatakan 
‘Hapuskan semuanya kecuali gambar-gambar dibawah tangan saya.’’ (Al-Azraqi, 
Akhbar Makkah, Vol 1, p.165).

Maka masihkah ulama ngotot dan sembrono 
memberi fatwa dihadapan ruh Muhammad bahwa gambar Nabi junjungannya itu 
mutlak HARAM dilukiskan?
NB. Ini adalah diskusi tentang (A). Lukisan wajah nabi Muhammad remaja.

Akan disusulkan dengan (B). Lukisan nabi Muhammad sedang bergandengan

tangan dengan para nabi lainnya.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke