Refleksi : Apakah akan ada perbaikan? Mungkin ataukah tak mungkin? Siapa yang 
memungkinkan adanya perbaikan hidup dan pembangunan bidang kesehatan?

http://www.pos-kupang.com/read/artikel/57207/editorial/opini/2011/1/11/quo-vadis-pembangunan-kesehatan-ntt


Quo Vadis Pembangunan Kesehatan NTT?
Oleh Ermi Ndoen, Staf Dinkes NTT, Anggota Forum Academia NTT (FAN)
Selasa, 11 Januari 2011 | 15:38 WIB

HARIAN Pos Kupang 24 Desember 2010 memberikan kejutan 'kado natal' dan mungkin 
'kado HUT 52" Provinsi NTT yang kurang menggembirakan dengan headline berita di 
halaman depan "IPKM Manggarai Terendah." IPKM singkatan dari Indeks Pembangunan 
Kesehatan Masyarakat. IPKM adalah suatu indikator komposit yang dipakai untuk 
menggambarkan keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. IPKM 
dirumuskan dari data berbasis komunitas yang berasal dari tiga survai berbasis 
komunitas yaitu riset kesehatan dasar (riskesdas), survai ekonomi nasional 
(susenas) dan survai potensi desa.

Kado kejutan ini memberi gambaran kondisi kesehatan masyarakat di 
kabupaten/kota di NTT, yang jika dibandingkan dengan kabupaten lain di 
Indonesia, masih sangat memrihatinkan. Kondisi ini tentu sangat disayangkan 
jika kita mengacu pada "Delapan Agenda Pembangunan NTT' yang menempatkan 
pembangunan bidang kesehatan sebagai salah satu agenda prioritas untuk tahun 
2009-2013.

Mengacu pada laporan IPKM yang dirilis di tahun 2010 lalu, dari 440 
kabupaten/kota yang diukur, peringkat tiga besar kabupaten/kota 'tersehat' 
adalah Gianyar, Bandung dan Kota Denpasar. Sementara itu, kabupaten/kota dengan 
IPKM terendah adalah Aceh Jaya. Di lain pihak, posisi IPKM kabupaten/kota di 
NTT cukup memrihatinkan. IPKM Kabupaten Manggarai menempati  urutan ke 431 dari 
440 (10 besar kabupaten/kota dengan IPKM terendah). Walaupun begitu, kita 
sedikit terhibur dengan prestasi IPKM yang diraih oleh Kota Kupang yaitu 
menempati urutan ke 32 nasional.

IPKM pada dasarnya menjawab tiga pertanyaan penting: bagaimana status kesehatan 
dan faktor penentu kesehatan? Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan 
kesehatan? Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik di suatu daerah?
IPKM sangat berkorelasi dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang selama ini 
dipakai sebagai untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara 
maju, negara berkembang atau negara terbelakang oleh PBB (UNDP). Terdapat tiga 
indikator untuk mengukur IPM yaitu : status kesehatan yang diukur dengan umur 
harapan hidup (UHH) saat kelahiran, status pengetahuan yang diukur dengan angka 
melek huruf dan lama sekolah serta standar kehidupan yang layak diukur dengan 
logaritma natural dari produk domestik bruto per kapita.

Data UNDP tahun 2010 menempatkan Norwegia sebagai negara dengan IPM tertinggi 
di dunia disusul Australia, New Zealand dan Canada. Indonesia sendiri hanya 
berada pada posisi 109 dari 169 negara dan tergolong dalam kategori negara 
berkembang dengan indeks pembangunan manusia menengah. Dibandingkan dengan 
negara ASEAN lainnya, posisi Indonesia masih kalah dari  Singapura (27), Brunei 
(37), Malaysia (57), Thailand (92) dan Philipina (97). Posisi Indonesia hanya 
sedikit lebih baik dibanding Vietnam (113), Timor Timur  (120) dan Laos (122).  

Sementara data yang dipublikasikan BPS menunjukkan bahwa dari 33 provinsi di 
Indonesia, IPM NTT berada pada peringkat 31, sedikit di atas NTB dan Papua. 
Provinsi dengan IPM terbaik adalah DKI Jakarta disusul Sulawesi Utara dan Riau.
Kembali ke IPKM,  terdapat 24 indikator kesehatan yang dipakai dalam 
perhitungan IPKM. Ke-24 indikator tersebut dinilai berkorelasi dengan UHH, 
sebagai salah satu variable dalam menghitung IPM. Indikator-indikotor tersebut 
antara lain: prevalensi balita gizi buruk dan kurang, prevalensi balita sangat 
pendek dan pendek, prevalensi balita sangat kurus dan kurus, prevalensi balita 
gemuk, prevalensi diare, prevalensi pnemonia, prevalensi hipertensi, prevalensi 
gangguan mental, prevalensi asma, prevalensi penyakit gigi dan mulut, 
prevalensi disabilitas, prevalensi cedera, prevalensi penyakit sendi, 
prevalensi ISPA, proporsi perilaku cuci tangan, proporsi merokok tiap hari, 
akses air bersih, akses sanitasi, cakupan persalinan oleh nakes, cakupan 
pemeriksaan neonatal-1, cakupan imunisasi lengkap, cakupan penimbangan balita, 
ratio Dokter/Puskesmas, dan ratio bidan/desa.

Dari berbagai ke-24 indikator tersebut, tercatat bahwa cakupan persalinan 
tenaga kesehatan (nakes) di NTT masih sangat rendah dengan range terendah 
adalah 17.38% (Manggarai) dan tertinggi 83.25% di Kota Kupang. 

Data IPKM juga menunjukkan ada ketimpangan yang menyolok rasio ketersediaan 
dokter per puskesmas dan bidan per desa antara kabupaten/kota. Di NTT sebagian 
besar dokter dan bidan terkonsentrasi di Kota Kupang. Indeks rasio dokter di 
Kota Kupang menurut IPKM adalah 21.45 sangat tinggi jika dibandingkan dengan 
kabupaten lain yang hanya berkisar antara 0.58 (Kabupaten Kupang) dan 2.4 
(Sumba Barat).


Dari segi penyakit menular, Kabupaten Alor muncul sebagai kabupaten dengan 
kasus diare tertinggi dibanding kabupaten lainnya. Sementara ISPA dan pnemonia 
merupakan masalah di Manggarai Barat dan Manggarai. Data imunisasi lengkap 
anak-anak menurut IPKM berkisar antara 6.02% (Rote Ndao, terendah) dan 69.75% 
(Sikka, tertinggi). 

IPKM juga menggambarkan beban penyakit tidak menular sebagai bagian dari 
masalah kesehatan yang harus diperhatikan. Transisi epidemiologi penyakit 
sekarang menunjukkan bahwa beban masalah kesehatan tidak hanya berasal dari 
penyakit menular, namun dengan perubahan gaya hidup masyarakat, penyakit tidak 
menular juga merupakan masalah serius untuk ditangani. Beberapa masalah 
penyakit tidak menular menurut IPKM yang menjadi masalah antara lain penyakit 
sendi yang tertinggi di Lembata, asma di Sumba Barat dan hipertensi di 
Manggarai Barat. Yang mengejutkan, walaupun Kota Kupang memiliki angka IPKM 
terbaik, namun Kota Kupang memiliki indeks masalah disability atau kecacatan 
terburuk dibanding  kabupaten lainnya.

NTT merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi gizi kurung dan buruk 
tertinggi di Indonesia. Data IPKM menggambarkan balita gizi kurang dan buruk 
NTT sebesar 18.3%, dibanding 15% untuk angka nasional. Sementara balita 
stunting atau balita pendek mencapai 46.8% dibanding angka nasional yang hanya 
36.8%. Prevalensi gizi kurang dan buruk tertinggi menurut kabupaten/kota adalah 
Rote Ndao (40.8%), sementara balita pendek dan sangat pendek adalah TTU (59.7%).

Sebagai catatan tambahan, menurut UNHCR balita kurus yang masih merupakan 
masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi 
kurus lebih dari 5%; dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10.1% - 15.0% 
dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15%.

Fakta lain yang cukup mengejutkan dari IPKM ini adalah munculnya penyakit gigi 
sebagai penyakit rakyat yang ditunjukkan dengan 72% masyarakat mengalami caries 
gigi. Masalah caries gigi ini bahkan lebih tinggi dari masalah diare, 
hipertensi, asma dan pnemonia. Tingginya permasalahan gigi di masyarakat 
didukung oleh hasil SKRT-Surkesnas 2001 dimana sakit gigi menduduki urutan 
pertama (60%) dari 10 penyakit yang di keluhkan masyarakat.

Fakta menarik lain yang perlu mendapat perhatian adalah tingginya konsumsi 
rokok di kalangan masyarakat NTT. Provinsi NTT telah terkenal sebagai salah 
satu provinsi termiskin di Indonesia. Ironisnya, konsumsi rokok di NTT lebih 
tinggi dari rata-rata nasional, bahkan lebih tinggi dari DKI Jakarta, Kepri dan 
Jatim yang terkenal sebagai 'provinsi kaya'. Pengeluaran untuk rokok di NTT 
bahkan lebih tinggi dari pengeluaran untuk pendidikan anak dan bahkan untuk 
biaya kesehatan. Kota Kupang memiliki konsumsi rokok tertinggi di NTT, 
sementara terendah di Kabupaten Kupang.

Masalah kesehatan mental di NTT juga termasuk salah satu yang tertinggi secara 
nasional, di bawah Sulteng, Gorontalo dan Jabar.  Manggarai kembali muncul 
sebagai kabupaten dengan masalah kesehatan mental tertinggi di NTT. 
Kebiasaan cuci tangan sebagai salah satu indikator perilaku sehat di NTT juga 
rendah. Kabupaten dengan kebiasaan cuci tangan terendah adalah Kabupaten 
Kupang, sementara angka cuci tangan tertinggi di Kota Kupang. 

Tidak semua indikator IPKM bisa dibahas di sini karena keterbatasan tempat. 
Akan tetapi terlepas dari pro kontra IPKM dan prestasi pembangunan kesehatan 
tiap kabupaten yang tergambar dari indikator-indikator tersebut, patut disadari 
bahwa IPKM merupakan satu-satunya indikator yang dibangun dari data berbasis 
komuniti dan bukan berasal dari data fasilitas kesehatan. Indikator IPKM 
menggambarkan kondisi kesehatan yang ada di masyarakat. 

Sedikit kritik yang mungkin perlu diperhatikan adalah tidak munculnya beberapa 
permasalahan kesehatan yang bersifat lokal spesifik dalam IPKM. Sebagai contoh 
masalah malaria, TB dan demam berdarah yang sering muncul di NTT tidak bisa 
tergambar dalam IPKM. Semua ini disebabkan karena indikator IPKM disusun secara 
nasional dengan tujuan untuk bisa membandingkan status kesehatan antar 
kabupaten/kota dengan lebih obyektif, sehingga tidak terlalu sensitif terhadap 
permasalahan kesehatan lokal. Ke depan mungkin perlu ditambahkan beberapa 
indikator lokal untuk memotret kondisi kesehatan lokal.

Namun pada akhirnya patut disyukuri  bahwa kehadiran IPKM sangat bermanfaat 
bagi pemerintah daerah untuk menentukan ke mana arah kebijakan pembangunan 
kesehatan. Kehadiran IPKM selain menentukan peringkat pembangunan kesehatan 
kabupaten/kota, IPKM dapat menjadi acuan pemerintah daerah (Pemda) membuat 
program intervensi yang lebih tepat. IPKM dapat dipakai sebagai bahan evaluasi 
pemda agar terpacu menaikkan peringkat kesehatannya. IPKM juga bermanfaat dalam 
merumuskan daerah dengan masalah kesehatan berat/khusus (DBKBK), dasar 
penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari pusat ke daerah, dan membantu 
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KMPDT) dalam membangun 
kabupaten/kota.

Pertanyaan terakhir, Quo Vadis Pembangunan Kesehatan NTT? Jawabannya, 'marilah 
berpotret pada IPKM masing-masing kabupaten'. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke