http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=83571:relevankah-pemberian-gelar-raja-batak-bagi-sby&catid=78:umum&Itemid=131
Relevankah Pemberian Gelar Raja Batak Bagi SBY?
Oleh : Drs. Osberth Sinaga, M.Si
Bekelompok massa yang masih cinta dengan nilai-nilai habatahon
(keBatakan) melakukan aksi protes dan long march di tugu Raja Sisingamangarja
XII Medan dengan tujuan yang sama, "tolak gelar Raja Batak bagi SBY.
Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana muncul kemudian, mengapa mereka
menolak memberikan gelar itu pada pemimpinnya? Apa yang salah dengan pemberian
gelar tersebut? Tentu mereka punya alasan yang logis yang bisa
dipertanggungjawabkan secara sosial dan moral kepada nilai budaya keBatakan.
Apa yang dilakukan oleh sekelompok massa tersebut dalam pandangan saya
sebagai akademisi adalah sesuatu aksi yang natural dan tidak punya maksud
apa-apa. Tujuannya hanya satu, menjaga nilai -nilai kearifan lokal sebagai
pedoman hidup bagi masyarakat. Adanya wacana pemberian gelar Raja Batak pasca
peresmian museum Batak sedunia kepada SBY di Balige memang patut kita
sayangkan. Setidaknya argumentasi yang dibangun pun bisa diterima oleh publik,
bahwa penganugerahan gelar tersebut sarat dengan kepentingan politis.
Memberikan gelar tentu tidak sembarangan. Sebagai contoh yang sangat
sederhana, untuk mendapat gelar kesarjanaan prosesnya saja sangat ketat dan
rumit. Ada proses perkuliahan, ujian semester, mengerjakan skripsi, sampai pada
tahap meja hijau dan wisuda. Semua proses itu harus dilalui baru berhal
mendapatkan gelar kesarjanaan. Dapat kita lihat prosedural yang ditempuh sangat
ketat dan itu adalah upaya menempa mental mereka agar kelak bisa menajdi
manusia pekerja keras dan bermental dengan baik dalam aktivitas kehidupan
mereka.
Kemudian kita dapat melihat, untuk meraih gelar Nobel prosesnya lebih
hebat dan lebih keras lagi. Prestasi yang membawa manfaat bagi kehidupan adalah
prasyarat mutal yang bisa ditawar-tawar. Peraih nobel adalah orang-orang
pekerja keras yang terus bergelut dalam satu bidang dan bidang itu membawa
kebaikan bagi masyarakat atau dunia. Muhammad Yunus misalnya dari Bangladesh
meraih nobel ekonomi karena berhasil membantu perekonomian masyarakat miskin di
Banglades melalui Graamen Banknya. Yunus dengan segala upaya jerih payahnya
mampu membantu ribuan masyarakat miskin Bangladesh. Inilah cikal bakal Yunus
memperoleh gelar nobel ekonomi.
Di Myanmar kita pernah mengenal sosok Aung Sang Suu Ky yang tanpa lelah
berjuang untuk proses perdamaian dan demokratisasi di Myanamr. Penjara dan
ancaman militer bukan sesuatu yang menakutkan bagi Suu Ky. Kemudian Aung Sung
Suu Ky berhasil memperoleh gelar nobel perdamaian. Kemudian Amartya Sen
berhasil meraih nobel ekonomi dengan konsep pembangunannya. Sen mengemukakan
perlunya memperhatikan hak asasi manusia dalam pembangunan ekonomi. Konsep
kebebasan dalam ekonomi sangat perlu agar masyarakat bisa sejahtera. Teori
Amartya Sen ini sangat ampuh dalam membangun masyarakat dan digunakan oleh
pemerintahan India.
Dari nama-nama peraih gelar nobel di atas dapat kita lihat tindakan
mereka sangat berguna bagi kemanusiaan dan tidak ada motif-motif yang lain.
Semunya itu atas dasar kasih dalam menolong sesama. Hati nurani lebih
ditonjolkan daripada keuntungan finanasial semata. Gelar tentu bukan tujuan
mereka, tujuan mereka adalah bagaimana supaya sesama dapat hidup lebih layak
dengan kesejahteraan yang lumayan. Walaupun pada saat yang bersamaan tindakan
mereka menjadi titik tolak mendapatkan hadian nobel sebagai penghargaan dari
Alfred Nobel.
Mental Feodalisme
Kembali dalam konteks pemberian gelar Raja Batak kepada SBY, apa
urgensinya dengan pembangunan budaya Batak? Apakah pemberian ini sebagai bentuk
dari bangkitnya kembali mental feodalisme pada era Orde Baru dimana setiap
berjumpa dengan pemimpin selalu melakukan pendekatan asal bapak senang (ABS).
Setidkanya definisi raja harus kembali kita pahami dalam kultur Batak. Dalam
masyarakat Batak Toba misalnya semua marga atau paling kecil semua person
adalah anak ni raja dan boru ni raja. Artinya secara teritorial, raja di tanah
Batak yang diartikan dalam semua marga tidak punya wilayah dan kekuasaan.
Panggilan raja dalam masyarakat Batak lebih kental nuansa kulturnya
dengan tujuan saling menghormati sesama. Seseorang dipanggil Raja tidak lebih
hanya untuk memberikan penghormatan yang tinggi dan pada hakikatnya semua orang
Batak adalah anak Raja. Jadi Raja dalam kultur orang Batak jangan diterjemahkan
sebagai seorang pimpinan, itu lebih dekat dengan penghormatan.
Berarti dalam tradisi budaya Batak Toba misalnya toleransi sangat tinggi.
Kehidupan mereka lebih banyak di atur dengan adat dalihan natolu. Dalihan
natolu ini dalam budaya Batak Toba ada unsur. Hula-hula, dongan tubu, dan boru.
Semuanya itu akan mengalami rotasi. Artinya semua orang Batak Toba suatu saat
akan bisa menajdi hula-hula, dongan tubu, dan boru. Ini adalah bentuk
kesetaraan dimana semua saling menghormati.
Tatanan dalihan natolu ini harus kembali dipertahankan oleh orang Batak.
Kita bukan tidak setuju dengan simbolis pemberian Raja Batak kepada SBY. Ini
akan sangat melukai hati masyarakat Batak Toba. Parahnya lagi pemberian itu
karena kepentingan politis dari pihak tertentu. Janganlah kita mengorbankan
nilai kebudayaan yang punya falsafah yang sangat tinggi hanya karena kekuasaan.
Ditengah -tengah kritik kepada SBY karena permasalahan bangsa yang sangat besar
dan menuntut ketegasan SBY, saatnya kita berpikir jernih dan mengkaji ulang
pemberian gelar itu.
Menghormati pemimpin adalah wajib hukumnya, tetapi menyanjung pemimpin
setinggi langit tentu menjadi masalah besar. Bahkan dengan mengorbankan
nilai-nilai Ke- Batakan yang punya nilai kemanusiaan yang tinggi. Siapapun
dalam kultur budaya Batak pasti disebut dengan Raja, itu panggilan raja
tujuannya untuk menghormati dan bukan memuji-muji.
Menolak pemberian gelar Raja Batak kepada SBY adalah tindakan yang bijak.
Relevansinya dengan pembangunan budaya Batak Toba juga tidak ada. Dalam hal ini
pemimpin bisa belajar kepada peraih gelar hadiah nobel. Mereka tidak pernah
bercita-cita meraih gelar hadiah nobel tetapi nobel itu datang sendiri karena
prestasi mereka mengangkat nilai-nilai kemanusiaan. Kalau SBY mampu membawa
negeri ini kearah yang lebih baik, sejahtera secara ekonomi, hukum tegak,
kemiskinan nihil, adanya jaminan hidup maka semua suku akan berlomba untuk
memberikan gelar budaya pada SBY. Ini tidak, bangsa kita terus dirundung
masalah yang jauh dari nilai keadilan dan nilai kemanusiaan.
Penulis adalah: Dosen FIS UNIMED Medan/ Ketua PKMI I Medan/Ketua Umum
Sinaga Sedunia dan Ketua Umum ISDA Se-Indonesia.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/