http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/27/198896/68/11/Kudeta-Moral-Agamawan


Kudeta Moral Agamawan 
Kamis, 27 Januari 2011 00:00 WIB    
 
Politik niscaya mengusung nilai etis moral. Keadilan, kesejahteraan, kebaikan, 
dan kebenaran menjadi serangkaian nilai utama yang melandasi praktik politik 
(kekuasaan). Perilaku politik kekuasaan harus diletakkan di atas kerangka nilai 
fundamental ini. Ketiadaan basis etik menyebabkan kekuasaan kehilangan 
legitimasi moral. Dalam bahasa sederhana, kekuasaan dalam keadaan ini 
sebenarnya tidak ada! Itu salah satu pesan sentral yang terungkap dalam catatan 
kritis tokoh agama menyikapi penyelenggaraan kekuasaan rezim Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) pada hari-hari awal tahun 2011 ini. 

Media Indonesia (21/1) menurunkan berita utama berkaitan dengan keteguhan sikap 
dan pendirian tokoh agama nasional. Meskipun mereka sudah melakukan dialog 
langsung dengan Presiden SBY beberapa hari lalu, sikap kritis mereka tidak akan 
berkurang. Tidak mereda. Bahkan, sikap kritis para tokoh agama akan semakin 
tajam jika rezim SBY tidak memberikan klarifikasi berupa langkah konkret 
menyelesaikan sekian banyak persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang 
mengancam kehidupan bersama sebagai bangsa. 

Mengatakan bahwa pemerintah tidak jujur dalam mengungkapkan pencapaian kerja 
memang menunjukkan indikasi kebohongan kekuasaan. Di situ ada permintaan kecil 
bahwa pemerintah sebaiknya bicara apa adanya! Barangkali itu lebih cocok! Kalau 
belum sepenuhnya berhasil, harus dikatakan secara terang benderang kepada 
rakyat kapan penyelesaian persoalan yang ada. Dan, jika janji tenggat waktu itu 
tidak terpenuhi, apa sanksi yang harus diberikan kepada institusi politik yang 
bertanggung jawab atas penyelesaian persoalan yang ada. Ambil contoh, 
janji-janji yang berseliweran berkaitan dengan pemberantasan mafia hukum dan 
korupsi selama ini, yang ternyata pada akhirnya lenyap tanpa bekas. Mau apa 
dengan semua janji kosong seperti itu! 

Komitmen 

Negara belum mampu mengadili ketimpangan politik dan ekonomi yang menempatkan 
rakyat pada posisi tidak menguntungkan. Kenyataan hilangnya sebuah pendirian 
politik untuk membela posisi rakyat di antara hantaman-hantaman ekonomi yang 
semakin tidak ramah merefleksikan negara yang terlalu sibuk dengan urusannya 
sendiri. Angka dalam data bisa menyebutkan kesejahteraan yang meningkat. 
Tingkat pengangguran yang mengalami penurunan. Kebebasan menyatakan pendapat 
yang semakin terbuka. Pemerintah bisa mengatakan semua itu secara leluasa, 
namun kondisi di lapangan, sering kali berbicara hal sebaliknya. 

Maka, meskipun pemerintah dengan sistematis menyampaikan data keberhasilan 
politik pembangunan, pandangan kritis tokoh agama tidak bisa disangkal juga. 
Bahwa data pemerintah belum tepat dan belum lengkap untuk menggambarkan 
kualitas kesejahteraan sosial yang semakin baik dan meningkat. Ini merupakan 
koreksi dan peringatan bahwa apa yang terungkap dalam data yang disampaikan 
pemerintah tidak sepenuhnya memiliki hubungan positif dengan keadaan nyata di 
tengah masyarakat. 

Dengan mudah argumentasi keberhasilan dalam sudut pandang pemerintah dapat 
dipatahkan karena para tokoh agama, yang berbicara tanpa sembunyi-sembunyi pada 
awal tahun 2011 ini, hidup di tengah masyarakat. Menjadi bagian dari masyarakat 
yang mengalami berbagai jenis kesengsaraan. Mulai dari harga kebutuhan pokok 
yang semakin tidak terjangkau, biaya kesehatan yang tidak kenal kompromi, biaya 
sekolah anak yang menguras isi dompet keluarga, keterhukuman sosial kelompok 
minoritas. Para tokoh agama juga berbicara berdasarkan data konkret. Melampaui 
deretan angka-angka statistik yang terpampang di atas lembaran-lembaran kertas 
yang rapuh. 

Michael Backman (1997), saat beberapa negara di Asia termasuk Indonesia sedang 
menghadapi kegilaan rezim kekuasaan yang sedang menuju keruntuhan, menulis 
sebuah buku kritis dengan judul The Asian Eclipse: Exposing the Dark Side of 
Business in Asia. Rezim Orde Baru pada waktu itu juga sedang gencar menutup 
sisi gelap penyelenggaraan kekuasaan. Banyak borok yang disembunyikan di 
belakang laporan keberhasilan pembangunan. Menyimpan kebohongan. Sisi gelap 
kekuasaan berusaha ditutup rapat-rapat agar tidak menjadi aib yang mengancam 
status quo rezim berkuasa! 

Dalam terang pemikiran ini, betapa tidak, kita sedang menghadapi ekspresi 
komitmen tokoh agama untuk menyentuh dan membongkar dark side praktik 
pembangunan sekarang ini. Usaha mereka terasa memiliki gaung yang kuat karena 
kelompok agamawan ini tidak memiliki afiliasi ke dalam kelas penguasa politik. 
Tidak terhindarkan bahwa para tokoh agama sedang merintis pekerjaan sulit dan 
penuh risiko. Menantang arus besar kekuasaan. Ini tidak ada hubungannya dengan 
sensasi politik selain pengungkapan tanggung jawab sosial agama mengoreksi 
perilaku kekuasaan yang cenderung menyimpang dari opsi fundamental memakmurkan 
rakyat. 

Dialektika 

Sebelum terjadi pertemuan antara tokoh agama dan rezim penguasa, di banyak 
media massa, banyak pejabat negara yang memberikan penjelasan kepada publik. 
Terlepas dari mekanisme pertahanan diri semacam ini, tentu yang dibutuhkan 
adalah keterbukaan menerima masukan dan kritikan. Menjauh dari kelompok kritis 
apalagi kekuatan yang tidak memiliki target politik praktis seperti para tokoh 
agama ini akan merugikan proses sipilisasi demokrasi di Indonesia. 

Para tokoh agama menyentuh soal paling sensitif. Menyampaikan kritikan terbuka 
kepada para penguasa yang lalai mempercepat datangnya kemakmuran sosial. Negara 
sedang terjebak dalam virus egoisme destruktif. Negara yang diam di hadapan 
ketidakadilan sosial. Negara yang membiarkan penindasan atas kelompok 
minoritas. Negara yang tidak hadir di tengah kekacauan sosial. 

Pada puncak ketidakberdayaannya, negara yang seharusnya memberikan garansi bagi 
terpenuhinya hak-hak sosial, ekonomi, dan politik seolah kehilangan momentum 
untuk menunjukkan kesungguhan membela rakyat. Economist (2/3/2002) dalam sebuah 
analisis menulis dengan judul menarik The Short Arms of The Law untuk 
melukiskan keterbatasan hukum dalam banyak kesempatan. Negara seperti 
kehilangan kekuatan saat berhadapan dengan para mafia hukum. Negara kehilangan 
manfaat sosial. 

Ironisnya, pada saat penguasa berusaha untuk 'membela diri' terhadap koreksi 
langsung dan tegas para tokoh agama, publik bisa dengan segera membenarkan 
sikap kritis para tokoh agama. Proses hukum Gayus dengan segala jaringan 
persoalannya menghadirkan sebuah olokan memalukan bagi proses hukum di 
Indonesia. Terlebih lagi bagaimana perlakuan hukum atas kasus Gayus yang 
menginjak rasa keadilan publik. 

Agaknya, dengan kejadian ini, penguasa politik kita, seharusnya lebih banyak 
membangun refleksi serius. Tidak perlu memberikan banyak klarifikasi 
verbalistik pada saat praktik hukum justru menjauh dari keindahan pidato dan 
janji di podium kekuasaan. Para tokoh agama tentu tidak sedang membangun 
permusuhan, selain proses dialektis konstruktif terhadap penyelenggaraan 
politik kekuasaan di Indonesia. Para tokoh agama sedang mengisi banyak 
kekurangan dan keterbatasan yang ada selama ini, ketika pemerintah belum 
memperhatikan nasib rakyat secara mendetail. Ini sisi positif yang harus 
dihargai dan dijaga penguasa. 

Konstruktif 

Sekarang, jelas terlihat juga bagaimana komunitas warga kehilangan daya politik 
untuk menandingi dominasi para penguasa politik dan ekonomi. Masyarakat tidak 
mempunyai kekuatan untuk mengendalikan kekuasaan. Kelakuan politik semacam ini 
serta-merta menghancurkan sumber daya demokrasi di negeri ini. Para tokoh agama 
menyadari kecenderungan jahat semacam ini. Suara kritis mereka dalam hari-hari 
ini telah menggedor kesadaran publik akan dark side politik kekuasaan. Serentak 
mengumpulkan keberanian politik untuk melakukan perlawanan sengit dan tanpa 
lelah atas gejala kelaliman atas nama demokrasi. 

Ini senada dengan gagasan Eduardo Canel bahwa demokrasi 'akar rumput' harus 
menjadi titik berangkat proses transformasi politik ke arah keadilan dan 
keadaban. Komitmen para tokoh agama bermanfaat untuk menyelamatkan sumber daya 
demokrasi dari kehancuran dan pembusukan akibat dominasi kelas penguasa. Ada 
peringatan keras akan penyimpangan moral penyelenggaraan kekuasaan. Para tokoh 
agama sedang melakukan kudeta moral atas rezim berkuasa. Ini menjadi energi 
konstruktif untuk kehidupan publik, sekaligus bisa menghancurkan kekuasaan, 
manakala pertobatan politik tidak kunjung datang! 

Oleh Max Regus 
Alumnus Pascasarjana Sosiologi UI 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke