Ini norak. 

Selama ini tokoh-tokoh World Social Forum (WSF) seperti 
Presiden Lula, Marry Robinson, Rigoberta Menchu dkk 
mengakui gerakan WSF diilhami 'Spirit of Bandung'. Lalu, 
ngapain presiden Indonesia malah nongkrong di WEF (World 
Economic Forum)? 

Baru sekali ini si laron kesasar. Salah pilih lampu. 
Dia pilih berbangga jadi figuran di WEF ketimbang jadi 
bintang di WSF. 

'Menjijikkan' pasti terlalu halus untuk menyebut kelakuan 
si beye ini. 

--- kasturi_sukiadi@... wrote: 

> Yaah jangan bandingkan Si Gendhu dengan Bung Karno ! 
> Kata. (Prokem)Arek Suroboyo 50 th yl :" Adoh kawat Cak!" 
> Salam keprihatinan Tjuk KS
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> -----Original Message-----
> 
> Robert de Niro Lebih Populer Ketimbang SBY
> Thursday, 27 January 2011
> INILAH nasib negara yang tidak banyak pengaruhnya terhadap politik 
> dan ekonomi dunia. Meski membawa rombongan besar, sedikitnya 60-an 
> orang, kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Davos,
> Swiss,untuk menghadiri World Economic Forum (WEF) 2011,sama sekali
> tidak diperhatikan media setempat.
> 
> Pantauan SINDO di Swiss menunjukkan hal itu.Koran dan televisi Swiss
> lebih sibuk meliput kedatangan mantan Presiden Amerika Serikat (AS)
> Bill Clinton, Bono Vox, aktor Robert de Niro, Chen Deming (Menteri
> Perdagangan China), Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, atau Kanselir
> Jerman Angela Merkel. Presiden SBY yang akhir-akhir ini 
> popularitasnya menanjak di Tanah Air gara-gara "keluhannya" soal 
> gaji, di Swiss jauh kalah pamor dengan Presiden Meksiko Felipe 
> Calderon atau Presiden Yunani Georgios Papandreou. Tak satu pun 
> media di Swiss yang mendengar agenda Presiden SBY dan rombongan 
> besarnya itu selama mengikuti WEF 2011 di Davos. Stefan, salah 
> seorang kameraman televisi Swiss di Zurich,mengaku kaget dengan 
> besarnya rombongan Presiden SBY.
> 
> Dia sama sekali tak mengira bahwa negara seperti Indonesia 
> mengirimkan delegasi dalam jumlah 60-an orang. Dia lebih sibuk 
> mengabadikan kedatangan Bono Vox, Robert de Niro,Clinton,atau 
> Sarkozy di Bandara Zurich. Sejak Selasa (25/1) Bandara Zurich 
> memang cukup sibuk menerima kedatangan para pebisnis, ekonom, 
> akademisi maupun kepala negara yang akan mengikuti WEF. Di sektor 
> tertentu, dalam hitungan menit,mendarat pesawat-pesawat pribadi 
> yang membawa pemimpin politik dan ekonomi dunia. Delegasi Indonesia 
> sebenarnya sudah mendarat sejak Selasa (25/1) malam di Bandara 
> Zurich, Swiss. Bagian pengisi acara Indonesia Co Co Night yang 
> keberatan disebutkan namanya mengaku sudah berada di Davos pada 
> Selasa (25/1) malam."Kami datang terpisah, tapi rombongan kami 
> sekitar 20 orang," ungkapnya.
> 
> Bersama kloternya, termasuk penggesek biola Hendry Lamiri dan 
> pemetik harpa Maya Hasan. "Serta rombongan penari, ada tiga macam 
> tarian tradisional yang akan kami pentaskan," tuturnya. Delegasi 
> kesenian ini tampil di Hotel Schweizerhof,Kamis (27/1) malam. 
> "Paginya, sangat pagi, sekitar pukul 04.00 kami sudah check out dan 
> menuju bandara,"ungkapnya. Di sisi lain, rombongan 15 wartawan 
> mendarat di Zurich, Rabu (26/1). Sebagian besar akan diinapkan di 
> Hotel Movenpick Zurich. Sementara yang lain bersama delegasi 
> pemerintah menginap langsung di Davos. Jarak Zurich–Davos agak 
> jauh, yakni sedikitnya tiga jam perjalanan darat. Wartawan akan 
> diangkut bus tiap hari ke Davos.
> "Mereka (wartawan) pagi-pagi ngebis ke Davos, malamnya kembali ke
> Zurich lagi,"tuturnya. Saat ini, cuaca di Swiss "kurang" mendukung
> bagi masyarakat Indonesia. Delegasi kesenian mengaku kedinginan
> menghadapi cuaca Davos. Berada di ketinggian 1.500 meter dari
> permukaan laut, suhu Davos bisa anjlok di bawah angka nol.
> 
> Malam hari bisa sampai minus 10 derajat Celcius.Cuaca yang kurang
> bersahabat itu tidak mengendurkan niat beberapa orang dari delegasi
> kesenian untuk melihat Kota Swiss lainnya."Kami mungkin akan ke
> Zurich,lihat-lihat kota itu siangnya,"tuturnya. Seperti biasa,yang
> ditanyakan adalah soal suvenir khas Swiss,cokelat, dan jam tangan.
> Kemasyhuran cokelat dan jam tangan Swiss ini membuat negara Swiss 
> yang tak memiliki sumber daya alam melimpah seperti Indonesia, bisa
> mengeruk devisa negara lain tanpa susah payah.(*)
> 
> LAPORAN KORESPONDEN SINDO
> KRISNA DIANTHA
> dari Davos
> 
> http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/378563/ 






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke